Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Remaja yang Jatuh Cinta


__ADS_3

"Apa kau yakin akan menyembunyikan ini dari Lucy, kak?" tanya Venus untuk terakhir kalinya.


Ia sudah sering menanyakan hal itu. Arzen pasang surut dalam keraguan. Kali ini ia yakin dan mengangguk mantap.


"Jangan beritahu apapun. Aku akan menunggu waktu yang tepat," katanya.


Venus hanya bisa pasrah menerima permintaan Arzen. Ia yakin Arzen pasti punya alasan untuk menyembunyikannya dari Lucy. Keduanya berada di paviliun yang tak jauh dari paviliun utama.


"Aku akan menikahinya."


Uhuk!


Venus hampir menyemburkan teh yang ia minum. Padahal ia sudah menduga ucapan itu dari Arzen. Tetapi tak menyangka ia akan mendengarnya langsung hari ini.


"Kau yakin? Apa kau yakin, kak?!" tanya Venus tak percaya.


Arzen mengangguk, "Kau sudah menerimanya jadi apalagi yang harus dipermasalahkan?"


"Dia manusia yang bukan dari dunia ini, kak. Apa tidak ada akibatnya di kemudian hari nanti?" Venus khawatir.


Tentu saja Arzen tahu maksud kekhawatiran Venus. Namun bukan berarti ia bertindak gegabah untuk menikahi Lucy. Ia melakukannya dengan persiapan yang matang.


"Aku sudah memikirkan semuanya jauh hari, Venus. Kalau memang ada musuh atau pihak yang tak suka tinggal kutebas saja," ucap Arzen serius.


"Jadi, kalau kau punya anak mereka akan menjadi ras half-blood?" tanya Venus.


Arzen mengangguk, "Bukankah memang begitu kalau werewolf menikah dengan manusia?" Ia balik bertanya.


"Yah, kurasa tidak hanya berlaku untuk bangsa kita. Bangsa yang lain juga pasti begitu kan kalau dalam pernikahannya melibatkan ras yang berbeda?" tanya Arzen yang diangguki oleh Venus.


"Apa kau kecewa karena keturunan kekaisaran ada yang half-blood?" tanya Arzen.


Ia menambahi, "Keturunan pure-blood darimu akan kuizinkan menjadi pewaris," katanya.


Venus mendongak terkejut, "Tidak, bukan begitu. Ah, padahal kita belum menikah tetapi sudah mendiskusikan soal pewaris," katanya.


"Yah, lagipula pewaris tahta akan jatuh di tangan Loofyn, bukan?"


Venus mengangguk membenarkan pernyataan itu. Suasana kembali hening sampai suara napas sendiri terdengar. Pria itu kembali memikirkan Arzen dan Lucy kedepannya.


"Bagaimana kalau suatu saat nanti Lucy ingin kembali ke dunianya?"


Arzen menghela napas, "Tentu saja aku ikut. Ini ibarat dunia manusia adalah kampung halaman Lucy. Seharusnya tempatku mengunjungi mertua kalau mereka masih hidup," ujarnya.


Venus baru tahu kalau Lucy juga yatim piatu seperti ia dan Arzen. Pangeran putih itu kembali duduk dengan rileks. Ia akan mencoba tenang menanggapi keputusan Arzen.

__ADS_1


"Bagaimana kalau suatu hari nanti dia mengetahuinya?" tanya Venus.


"Bukankah memang akan tahu setelah kuberitahu?" balas Arzen.


Tidak, bukan itu yang dikhawatirkan oleh Venus. Ia takut Lucy tak akan menerimanya. Ia takut gadis itu akan meninggalkan kakaknya.


"Kau mengkhawatirkan aku, Venus? Tak apa, aku akan membuatnya jatuh cinta padaku," ucap Arzen dengan bangga.


Venus merasa saat itu juga hembusan angin menerpa mereka. Ia melihat sosok yang berbeda dari kakaknya. Ia berbeda dari Arzen yang suram beberapa tahun yang lalu.


"Jadi, bagaimana rasanya?" tanya Venus.


"Apa?"


"Bagaimana rasanya jatuh cinta?"


Arzen tersenyum sembari menghadap ke taman. Sebenarnya ia sedang menatap seorang gadis di paviliun utama. Dari belakangnya saja Venus sudah tahu kalau kakaknya sangat bahagia sekarang.


"Berhenti menggodaku! Kau sendiri bagaimana? Micellia bisa-bisa kabur mengingat sifatmu yang menjengkelkan seperti ini," ledek Arzen.


Venus menatapnya datar. Padahal sedetik yang lalu baru saja terjadi suasana haru. Arzen malah menghancurkannya dengan meledek dirinya.


"Aku tak perlu kau cemaskan. Aku sudah membuat pergerakan. Tetapi aku akan menunggumu terlebih dahulu," ujar lelaki itu.


Arzen benar-benar senang meledek adiknya itu. Ia akan puas mendapat tatapan datar dari Venus. Karena tak banyak yang tahu tentang Venus selain penampilan anggunnya.


"Berisik!" gerundel Venus yang langsung mengundang tawa Arzen.


Pangeran putih itu berjalan menghampiri paviliun utama. Ia meminta izin Lucy untuk mengajak pergi Micellia. Lucy mengizinkannya dan berakhir ia menikmati sepi dengan Loofyn yang masih tidur.


Arzen berjalan dengan perlahan menuju paviliun itu. Ia membiarkan Lucy menikmati hembusan angin yang membawa terbang kelopak bunga daisy. Ia juga menikmati harumnya bunga-bunga lain yang ada di taman ini.


"Apa kau menikmati suasananya, Lucy?" Arzen menyandarkan tangannya.


Lucy menoleh, "Tentu saja. Aku jadi ikutan mengantuk saking sejuknya taman," ungkapnya.


Arzen kemudian duduk di samping gadis itu. "Loofyn juga tidur rupanya."


"Apa rasa kantuk anak menular ke ibunya?" canda Arzen.


Lucy tertawa dengan matanya yang sayu. "Logika macam apa itu? Lagipula aku bukan ibunya," ucapnya.


Perlahan ia menutup matanya karena tak kuat menahan kantuk. Napasnya juga mulai teratur dan damai. Akhirnya, ia tertidur di pundak Arzen.


"Tidurlah, aku akan menjagamu di sini," bisik pria itu.

__ADS_1


Lucy tak bisa membalasnya lagi. Ia sudah terlalu ngantuk dan suasananya mendukung. Para pelayan dipanggil untuk membersihkan meja serta membawakan selimut tipis untuk Loofyn.


Ia menggunakan jubahnya untuk menyelimuti Lucy. Arzen bersandar di paviliun untuk menemani mereka berdua tidur. Ia tersenyum melihat hidung mancung Lucy.


"Astaga, bahkan saat tidur pun tetap cantik," gumamnya.


Ia tersenyum lagi, "Kau memang bukan ibu kandungnya. Tetapi kau tetap menjadi sosok ibu bagi Loofyn," ucapnya dalam hati.


"Ah, aku jadi ikut mengantuk," celetuknya.


Sekali angin berhembus pelan menerpa mereka. Arzen ikut memejamkan matanya di samping Lucy. Ia tidur dengan posisi duduk menyandar paviliun.


"Rasanya seperti mimpiku sangat indah."


...>>><<<...


"Micellia, apa yang kau pikirkan?" tanya Venus sesaat mereka berada di dalan lorong menuju Istana Barat Westolf.


Perempuan itu tak yakin harus mengatakannya. Venus berhenti sejenak dan menghampirinya. "Katakan saja daripada mengganggu pikiranmu," bujuknya.


"Saya tidak yakin, Pangeran. Tetapi saya rasa saya seperti 'mengenali' Lucy jauh sebelum ini," ungkapnya.


Venus menghela napas, "Ternyata kau juga merasakannya, ya? Memang pantas kau menjadi panglima utamaku. Instingmu kuat," pujinya.


"Eh? Jadi Pangeran juga memikirkan hal yang sama dengan saya?" Venus mengangguk.


"Aku sangat yakin, gadis itu bukan manusia biasa. Aku merasakan ada yang berbeda dengannya dibanding manusia di rakyat kekaisaran," jelasnya.


Micellia nampak berpikir, "Atau mungkin karena dia berasal dari dunia lain?" bisiknya.


"Bisa jadi seperti itu. Aku pun baru pertama kali melihat makhluk dunia lain," sahut Venus.


Keduanya juga merasa penasaran tentang Lucy. Manusia yang berasal dari dunia yang lain itu seperti entitas tidak dikenal. Venus jadi merasa tertarik untuk mengetahui lebih jauh lagi.


"Dia bisa menyeberangi gerbang teleportasi tanpa masalah. Apakah semua makhluk bisa melakukannya?" tanya Micellia.


Venus menggeleng tidak tahu, "Aku pun tidak tahu, Micellia. Bagaimana kalau kita tanyakan pada penyihir di menara?"


Micellia mengangguk, "Saya bisa mencarinya di perpustakan juga. Mungkin ada buku yang bisa menjelaskan ini semua," ujarnya.


"Anu, apa Yang Mulia Kaisar tidak menceritakan sesuatu?" tanya Micellia hati-hati.


Venus menggeleng, "Aku yakin kakak belum menyadarinya," ujarnya.


Ia berkata dalam hati, "Yah, tentu saja karena yang dipikirkannya hanya cara mencintai gadis itu. Dasar, memangnya dia remaja muda yang sedang jatuh cinta?!"

__ADS_1


__ADS_2