Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Tindakan Karen


__ADS_3

"Jadi, selama ini dia merayu CEO?"


"Pantas saja selalu dekat-dekat begitu. Padahal Pak Sean terlihat tertarik padanya, tetapi dia hanya ingin uangnya saja, ya?"


"Eh? Kemarin Pak Sean marah ke dia, kan? Pasti kecewa sekali dengan perempuan itu."


"Oh iya, ruangan mereka kan khusus di lantai 5, selama ini tidak ada yang berani ke sana, kan?"


"Wah, apa mereka melakukan sesuatu di sana?"


Waza~ waza~ waza~


Seorang wanita berambut sepinggang tersenyum miring di balik dinding. Ia menyembunyikan bibirnya dengan telapak tangan. Membiarkan orang-orang di kantor bergosip tentang dua orang.


"Sekarang, mari kita lihat bagaimana raut wajah cantikmu kalau mendengar mereka, Lucy!" batinnya.


Ia hanya berdiri tanpa ingin menengahi. Bersedekap tangan di depan dada dan memasang raut wajah polos seolah tak tahu apa-apa. Padahal dalam hatinya, ia sangat puas.


"Dia pasti di marahi Pak Sean karena merusak dokumen kemarin!"


"Benar, padahal sangat penting. Dia ceroboh sekali rupanya. Sudah begitu masih ingin membela diri."


"Kasihan Nona Karen bajunya yang mahal harus kotor. Padahal saat itu harus bertemu dengan klien!"


Mereka kompak menoleh ke arah pintu masuk. Karen ada di sana sedang menatap mereka. Berbondong-bondong karyawati menghampirinya dan mencemaskannya.


"Aduh, kemarin bagaimana, Karen?" tanya seorang gadis.


Yang satu lagi menimpali, "Apa tidak apa-apa membatalkan pertemuan klien?"


"Bagaimana, apakah bajumu diganti?"


Karen menahan senyumnya. Ia memijat pelipisnya seolah pusing, "Hm, bagaimana, ya? Dia menolak menggantinya," ujarnya dan semua sontak terkejut.


"Apa?! Apa dia tidak minta maaf padamu?!"


"Hmm, sudah sepertinya. Yah, tidak apa-apa asal jangan sampai pacarku tahu. Aku takut di khawatir padaku dan pekerjaannya di luar negeri terganggu," ujar Karen dengan nada sedih.


Mereka semua bersimpati pada Karen. Padahal ia hanya menumpahkan kopi tetapi banyak sekali perhatian yang tersita. Ia belum puas kalau Sean belum berpaling dari Lucy.


"Dasar, kalau begini mudah caraku menaiki jabatan sekretaris..." pikirnya.


Singkat cerita saat kantor sudah tiba waktu istirahat. Lucy mengemas barang dalam totebag dengan rapi. Ia keluar dari ruangan dan menuju lantai 5 dengan lift.

__ADS_1


Ia menyapa baik setiap melintasi orang-orang. Namun ia heran karena sikap mereka agak berbeda dari biasanya. Lucy tak ambil pusing dan lanjut berjalan mencari seseorang.


Ia bertemu dengan sekumpulan karyawati yang sedang istirahat. "Permisi, apa ada Nona Karen di sini?" tanyanya sopan.


Perempuan yang ia tanyai menoleh, "Tidak tahu, mungkin ke kantin," jawabnya acuh tak acuh.


Lucy ingin kembali bertanya di mana meja Karen. Namun, sepertinya orang itu tak ada di ruangan. Ia juga berpikir sebaiknya diberikan langsung karena lebih sopan.


"Kalau begitu saya akan menemuinya nanti saja. Terima kasih," pamitnya.


"Ck!"


Decakan itu keluar dari perempuan yang ia tanyai persis setelah ia berbalik. Lucy terlanjur mendengarnya, ia merasa itu ditujukan untuknya. Ia memilih pura-pura tidak dengar daripada harus menoleh.


"Lihat, dia mencari Karen. Apa belum puas mengganggu Karen?" celetuk salah satu dari mereka.


"Gayanya saja yang sekretaris. Sok cantik!"


"Apa pakaian sekretaris sangat pendek seperti itu? Atau jangan-jangan ingin menggoda Pak Sean?"


Meski sudah berjalan agak jauh, Lucy masih bisa mendengarnya. Ia melirik ke arah rok abu-abunya. Padahal menutupi lutut, bagaimana bisa dibilang sangat pendek oleh mereka.


Ia tak ingin menggubrisnya. Ia hanya menekankan kepercayaan diri bahwa kemarin ia sudah meminta maaf. Ia juga sudah membinatu kemeja Karen sampai seperti semula.


Dari kejauhan ia melihat Karen sedang berjalan sendirian. Ia menenteng kopi dan senyuman liciknya. Lucy mencoba menghampiri dan menyapanya.


Ia memberikan totebag itu kepada Karen. Namun, apa yang dilakukan oleh perempuan rambut panjang itu. Bukannya menerima malah menyeringai dan mendengkus.


"Apa kau bisa membersihkan hatiku yang sakit sama seperti kemeja itu?" tanyanya meremehkan.


Lucy mengernyit, "Apa yang—"


"Padahal itu baju kesayanganku, tetapi kau mengotorinya. Aku sakit hati karena itu hadiah spesial," ujar Karen.


Ia menyeret Lucy ke toilet wanita. Tak akan ada yang melihat mereka bertentangan saat ini. Kebetulan sekali koridor tengah sepi dan CCTV rusak.


"Apa yang nona Karen lakukan?" Lucy melenguh ketika kakinya terinjak sepatu sendiri.


Luka memar terbentuk karenanya saat ia berusaha menjaga keseimbangan ketika ditarik oleh Karen. Wanita di depannya ini tak lagi tersenyum manis. Ia berubah nyalang memelototi Lucy.


"Kau pikir aku akan menerimanya begitu, saja?!"


Karen menghempaskan Lucy, "Berhenti mendekati Pak Sean!" bentaknya.

__ADS_1


"Saya tidak mengerti apa yang Anda katakan—"


"Aku menyukai Pak Sean!" sahut Karen.


Lucy semakin tak paham. Apa gunanaya Karen memberitahu hal pribadi padanya. Karen malah menyeret dan membentaknya.


"Jangan pura-pura tidak tahu! Kau selalu saja berada di dekatnya. Kau kira aku tak tahu kalau selama ini kau selalu merayunya?!" bentak Karen. Ia bebas melakukannya sebab toilet kantor kedap suara.


"Tak mungkin juga karyawan bisa mencapai jabatan sekretaris hanya dalam waktu 3 bulan!"


Kenyataannya Lucy sudah bekerja di sini selama lebih dari dua tahun. Mungkin 3 tahun lebih beberapa bulan kalau dihitung dari magang. Karen tak ingin melihat fakta.


"Kau penjilat! Beraninya merayu Sean demi jabatan!" pekik Karen.


Ia merebut totebag itu dari tangan Lucy. Kemudian melemparkannya ke dalam bilik toilet duduk. Ia melemparkan kopinya tepat mengenai kemeja yang ada di dalam totebag.


Hal itu membuat Lucy memekik tertahan. Ia terkejut dan membelalak melihatnya. Entah berapa tenaga yang ia keluarkan untuk menghilangkan noda di kemeja putih.


Belum lagi usaha dan waktunya untuk mencari kemeja yang mirip dengan kemeja aslinya. Namun, sekarang tepat di hadapannya Karen menumpahkan kopi seperti kejadian kemarin. Lucy segera menghampirinya dan mengeceknya.


"Nona Karen apa yang Anda lakukan?! Ini kemeja Anda ada di sini dalam keadaan bersih—"


"Aha? Apa aku peduli? Ambil saja, aku sudah tidak butuh karena sudah tersentuh oleh tanganmu!" cerca Karen.


Lucy ingin menangis tetapi ia harus tetap tenang. Karen melemparinya dengan tisu yang sudah diremas. Cup kopi juga dilempar hingga mengenai kepalanya.


Plak!


Saat Lucy berbalik, tiba-tiba saja Karen menamparnya dengan keras. Lucy merasakan panas dan perih di pipi kirinya. Karen menatapnya nyalang.


"Aku tak akan membiarkan seorang pun mendekati Sean!" bisiknya penuh penekanan.


Blam!


Karen menutup dan mengunci bilik toilet dari luar. Ia menggunakan sapu untuk menghalangi pintu agar tak bisa terbuka. Seringaian terlukis di wajahnya.


"Bisa apa kau di dalam sana sampai udara bersihnya habis?" ujarnya.


Brak! Brak!


"Nona Karen keluarkan saya! Saya akan mencari kemeja aslinya! Tolong keluarkan saya! Saya mohon!" Lucy berteriak dan menggedor dari dalam sana.


Karen tidak peduli dan tak sedikit pun menggubrisnya. Ia keluar dari sana setelah cuci tangan. Tidak, ia mengambil air bekas pel dan diguyurnya dari atas.

__ADS_1


Kini, seluruh tubuh Lucy basah kuyup dan kotor. Bau air bekas pel juga menggantikan parfumnya. Penampilannya benar-benar parah padahal sore nanti akan ada rapat penting.


Karen tersenyum puas dan pergi dari sana. Ia meletakkan peringatan toilet rusak agar tak ada yang datang. Itu artinya tak akan ada yang menyelamatkan Lucy sampai seseorang memperbaiki toilet yang 'rusak' itu.


__ADS_2