Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Pertengkaran di Taman, Peter dan Lucy


__ADS_3

Peter begitu terkejut mendengar pernyataan Lucy barusan. Ia harap ia salah dengar meski ia sudah bersiap sebelumnya. Perempuan di hadapannya menolak dengan tegas.


"Maaf Peter, aku tidak bisa menjadi kekasihmu."


Peter berusaha tenang meski hatinya sedikit terombang-ambing. "Sudah kubilang, jangan terburu-buru. Kau bisa memikirkan dulu beberapa waktu lalu—"


"Tidak, Peter. Aku merasa aku harus menjawabnya saat ini juga," potong Lucy.


"Aku tak mau memberimu harapan palsu," katanya.


"Palsu katanya..." batin Peter tak percaya.


Lucy meneguhkan hatinya. Saat ini, ia selalu kepikiran Arzen dan Loofyn. Bukan karena terpaksa merawat mereka berdua.


Hanya saja, Arzen selalu menyita perhatiannya. Ia mengakui selama ini selalu memikirkan lelaki itu. Tanpa ia sadari hari-harinya dipenuhi oleh kehadiran Arzen.


Hidupnya semula hanyalah sebagai pekerja kantoran. Monokrom dan statis, hanya ada pekerjaan lalu pulang untuk tidur. Ia tak ada pikiran untuk menjalin hubungan bahkan berkencan.


Namun, kedatangan Arzen seolah membuat hidupnya berwarna. Pria itu mampu membuatnya membuka hati dan mengisi hari-hari monokromnya. Karena itulah, ia memutuskan untuk menolak pernyataan Peter.


"Aku sudah ada orang spesial," ucapnya lembut.


Ia bahkan merasa bahagia mengucapkannya sendiri. Terbesit rasa malu-malu mengakuinya secara gamblang pada orang lain. Bsia dibayangkan semburat merah pada kedua pipinya saat ini.


Tak seperti Lucy, seketika raut wajah Peter berubah. Lelaki itu perlahan mundur dan menggeleng. Ia ingin berharap itu adalah dirinya meski bukan dalam kenyataan.


"Orang spesial katamu..." gumamnya tak percaya.


"Maaf baru memberitahumu saat ini," ucap Lucy.


Peter kemudian menunduk dan terkekeh. "Ahah, lucu sekali ini," racaunya.


Ia mendongak menatap Lucy, "Jadi, maksudmu rumor itu benar adanya?"


Senyum gadis itu perlahan pudar, "Apa maksudnya, Peter? Rumor—"


"Orang spesial yang kau maksud adalah CEO, kan?! Tanpa kau beritahu pun aku sudah pasti tahu!" Peter menggeram, ia berang pada Lucy.


Sikapnya berubah drastis membuat Lucy terkejut. Sedetik yang lalu ia adalah pria yang lembut dan manis pada Lucy. Tetapi sekarang seperti ingin menyergap gadis itu.


Senyum miris dan tawanya membuat merinding Lucy. Suaranya yang semula halus berubah menggertak. Lucy dibuat berpikir apakah ia berjalan dengan kelinci atau harimau tadinya.

__ADS_1


"Tak perlu mengelak, Lucy! Seharusnya kau katakan sedari awal bahwa kabar itu benar!" ujarnya.


Sejak tadi nada bicaranya tinggi. Hal itu membuat Lucy sakit hatinya. Ia memang pernah dimarahi karena kesalahannya. Namun tak pernah dibentak dan dipojokkan seperti ini.


"Apa maksudmu, Peter? Tenanglah ini di taman," bujuk Lucy.


Peter menggeleng, "Kau sengaja menutupinya, kan? Tentu saja karena kau tak ingin semua orang di kantor mengetahui aibmu!" pekiknya.


"Hah, seharusnya aku berhenti setelah mendengar rumor itu. Aku tak menyangka kalau itu benar," racaunya sendiri.


Lucy kebingungan menghadapi Peter. Sedangkan tatapan orang yang berlalu lalang sudah menusuk. Ia dibuat kalang kabut oleh perubahan sikap drastis rekan kerjanya ini.


"Aku sudah tidak lagi heran. Kalian selalu bersama setiap hari. Bahkan setiap kali aku melihat, lelaki itu selalu ada di sampingmu. Hah, benar-benar pria yang posesif padamu, ya?" ujar Peter dengan nada mengejek di akhir kalimat.


Lucy terpojokkan karena di belakangnya ada pohon besar. Ia juga tak bisa berlari seenaknya. Meski begitu, Peter adalah rekan kerjanya yang sudah membantu banyak selama di kantor.


"Benar juga. Untuk apa aku mengencani orang yang sudah berumah tangga anak satu?"


Kalimat itu sukses membuat mata Lucy membelalak lebar. "Sudah kubilang, itu tidak benar!" hentaknya.


"Lalu apa, ha?! Kau menutupi apa lagi? Kau malu memiliki hubungan gelap dengan atasanmu sendiri, ha?" balas Peter.


Perkelahian di antara keduanya tak terelakan. Lucy sudah mencoba untuk bersabar. Namun Peter gemar menyulut api menjadi kobaran besar.


Ia menatap tajam Peter. "Tarik kembali ucapanmu barusan," ucapnya dengan tegas.


Ia tak lagi menampilkan senyum manisnya. Tatapan tajam dan nada bicaranya menjadi lebih dingin. Ia tak bisa diam saja saat seseorang menginjak harga dirinya.


Apalagi menuduhnya menjalin hubungan gelap dengan CEO. Padahal Sean sudah mengumumkan klarifikasi berita tidak benar itu. Ia tak tahu apakah Peter tak membacanya atau tak percaya padanya.


"Padahal sebelumnya kau mendukungku dan memberiku semangat untuk sabar menghadapi rumor..." gumam Lucy.


Ia menatap lekat Peter, "Kini aku menyesalinya! Aku kira kau teman tetapi sama saja seperti orang-orang!" ujarnya.


"Kutegaskan sekali lagi, aku tak memiliki hubungan apapun dengan CEO selain masalah bisnis!"


Ia maju selangkah menggertak Peter. "Aku bahkan belum pernah menikah dan tak memiliki anak dari hubungan gelap yang kau maksud, Peter!" bisiknya penuh penekanan.


"Aku tak tahu bagaimana bisa kau berubah memercayai rumor miring itu," gumamnya.


Lucy jadi berpikir bahwa Peter dan Karen bekerja sama menyebarkan rumor itu. Ia menggelengkan kepalanya berusaha menepis pikiran buruk. Namun, sikap Peter padanya saat ini justru mendukung pemikirannya.

__ADS_1


"Lalu siapa orang spesial yang kau maksud, ha?!" hardik Peter membuat Lucy terkejut.


Gadis itu menciut karena suara Peter terlalu keras padanya yang perempuan. Ia tak pernah melihat Peter semarah ini. Ia berjinjit perlahan mundur dan terpojok di pohon.


"Siapa yang ada dalam foto itu, ha?!" teriaknya sekali lagi.


Lucy membungkam mulutnya, "Aku harus melindungi mereka berdua. Aku tak ingin keberadaan mereka terganggu di dunia ini," pikirnya saat ia ingin mengucap nama Arzen.


Peter kembali terkekeh meledek, "Haha, lihat! Kau sekarang tak berkutik," katanya.


"Memang sulit ya mengendalikan rumor yang benar itu," katanya. Padahal kemarin ia sendiri yang tak percaya pada omongan-omongan itu.


"Sudah kubilang itu bukan r—"


"Lalu apa, Lucy?!" sahut Peter.


Lelaki itu mengurung Lucy dengan tangannya, "Hah... kau berbuat sejauh ini unguk menolakku, hm? Bagus Lucy, aku akan mengikuti permainanmu," bisiknya tepat di telinga gadis itu.


Lucy merasa merinding sekujur badan. Ia benar-benar berbeda dari Peter yang biasa ia lihat. Atau jangan-jangan ini adalah sifat yang asli, pikirnya.


"Apapun yang terjadi aku tak boleh menyeret Arzen dan Loofyn...!" pikir Lucy.


"Peter, kumohon tenangkan dirimu!" pekiknya pada lelaki itu.


"Apa? Kau mau menyuruhku untuk tenang dan mendengarkan kejelasan dari rumor itu? Atau mau membeberkan bagaimana kisah cinta kalian yang selama ini disembunyikan dari publik?" Peter memberondong Lucy tanpa memberi kesempatan untuk gadis itu menjawab.


Lucy menatap nanar Peter. Hari semakin sore dan ia belum juga pulang. Ia khawatir pada Arzen dan Loofyn di rumah.


Namun pria ini malah mengungkungnya dengan kedua lengan. Rasanya ingin menangis saja Lucy meski ia tahu itu tak akan menyelesaikan masalah. Gadis itu memberanikan diri menatap mata Peter.


"Aku tegaskan sekali lagi, Peter. Dengarkan aku baik-baik!" sentaknya.


"Aku tak ada hubungan apapun dengan CEO kantor kita! Aku tak ada hubungan gelap yang kau maksud. Entah dari mana kau dapat kabar itu, aku tak tahu kau sebodoh itu untuk mempercayainya daripada bertanya lebih dulu padaku!" bebernya dalam satu tarikan napas.


Ia berdecih, "Hah, untuk apa aku harus menjelaskannya padamu yang tidak juga paham," sarkasnya.


"Jadi, siapa maksudmu orang spesial itu, hm?" tanya Peter.


Lucy tersenyum miris, "Untuk apa aku mengatakannya padamu? Apa untungnya? Apa setiap hubungan harus diumbar ke muka umum? Kalau kau tahu siapa orangnya apa yang akan kau lakukan, hm?" berondongnya.


Sepertinya itu malah menyulut api kesabaran Peter. Ia di puncak emosi karena syok akan penolakan dan mengharapkan Lucy dalam hatinya. Ia menatap nyalang Lucy dengan tangan terangkat.

__ADS_1


"Lucy, kau—"


GREPP!


__ADS_2