
Lucy membelalak lebar setelah mengetahui siapa yang ada di depannya. Pantas saja dari tadi terasa familiar meski ia sudah sangat lama tidak berjumpa. Hubungan ibu dan anak sangatlah kuat karena itu ia bisa mengenali siapa wanita itu.
"Ibu?"
Wanita itu tersenyum, "Benar. Apa kau tak merindukanku?" Ia merentangkan kedua tangannya.
Lucy langsung menghambur. Meski dalam mimpi pelukannya terasa sampai ke dunia nyata. Ia sangat merindukan hangatnya pelukan seperti saat ini.
Gadis itu menangis dan memeluk erat wanita berjubah putih itu. Entah bagaimana caranya ia bisa bermimpi bertemu dengan ibunya yang sudah lama meninggal dunia. Bahkan di dunia nyata pun air matanya ikut menitik.
"Apa ini benar ibu? Tetapi Bagaimana bisa?" tanya Lucy.
Ibunya hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban. Diajaknya ia ke suatu tempat tempat yang sangat damai hingga keduanya bisa duduk berdampingan. Lucy masih tak menyangka bahwa sosok yang ada di sampingnya adalah ibunya.
Ia menerka-nerka di manakah ia berada saat ini. Bahkan memegangi seluruh tubuhnya. Seperti yang wanita itu katakan, semuanya terasa fana.
"Apa aku sudah meninggal lalu bisa menyusul ibu?" tanya Lucy sedih.
Ibunya malah tertawa melihat anaknya yang panik mengira dirinya sudah meninggal. "Tentu saja belum. Jalanmu masih panjang, anakku," ujarnya.
"Lalu ini apa? Kenapa bisa bertemu dengan ibu?" tanya Lucy lagi.
"Seseorang yang sangat baik mengabulkan permintaanku untuk menemui putriku sendiri. Apa aku tidak boleh bertemu dengan anakku sendiri?"
Wanita itu tersenyum hangat, "Apa sedang terjadi sesuatu di sana? Wajahmu terlihat muram," tanyanya.
Lucy mengangguk. Ia teringat kalau dirinya sedang berada di dunia magis. Ia menceritakan apa yang sedang terjadi.
Ia menceritakan semuanya kepada sang ibu. Bahwa di dunia sana sedang terjadi pertempuran besar. Peperangan yang merenggut banyak korban jiwa dan pertumpahan darah di mana-mana.
Gadis itu menangis karena sedih. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi. Ia sangat menutupi dirinya karena tidak bisa membantu.
"Apa kau menangisi seseorang, Lucy?" tanya sang ibu.
Lucy menatapnya heran, "Ba–bagaimana ibu bisa tahu?"
"Ohoho, tentu saja karena selama ini aku selalu mengawasimu dari atas sini," ujarnya dengan nada bercanda.
Dibelainya rambut Lucy dengan sayang. Sang Ibu menatap nanar raut wajah sedih anaknya. Ia menghela napas panjang.
"Apa kau mencintainya, Lucy?" tanya ibunya.
Lucy malah menunduk, "Aku tidak yakin, bu," cicitnya.
Kemudian ia menceritakan semua yang ia rasakan selama ini. Apa yang ia alami bersama Arzen selama di dunia manusia maupun di dunia magis. Sang ibu menjadi pendengar yang baik baginya.
__ADS_1
Ia menatap raut wajah anaknya yang antusias menceritakan pria itu. Ia mendapati ceritanya naik turun penuh lika-liku tetapi juga menarik. Sang ibu tersenyum melihat bagaimana raut wajah Lucy ketika menceritakan tentang Arzen.
"Anakku sudah besar, ya? Bahkan ada seseorang yang selalu ada di sampingmu," ucap ibunya.
Lucy menoleh, "Benar," gumamnya.
"Kau bahkan sudah bisa membuka hatimu sampai jatuh cinta pada seseorang," ucap ibunya sembari mengelus pipi Lucy.
Gadis itu tiba-tiba menangis tersedu. "Ibu aku takut," isaknya lalu meringkuk.
"Aku takut terjadi sesuatu padanya. Aku takut dia terluka saat perang. Aku takut hal buruk terjadi, bu," rengeknya.
Ibunya turut sedih dan memeluk Lucy. Ia menenangkan anak semata wayangnya. Anak yang ia tinggalkan ketika umurnya masih sangat muda.
"Maafkan ibu meninggalkanmu sendirian di dunia yang keras ini," bisiknya.
Lucy membalas pelukan ibunya dengan erat. "Aku ingin membantunya, bu. Tetapi aku hanya manusia biasa yang tak punya kekuatan apapun," rengeknya lagi.
"Mereka sangat kuat sampai kekaisaran harus bersatu hanya untuk menyerang satu kerajaan!" adunya.
"Aku harus bagaimana?"
Ibunya mengajak ia berdiri, "Lihat ibu, nak. Kau anak ibu tentu saja bisa mengatasi masalah ini," ucapnya.
Lucy sangat tidak yakin. Ia menganggap ibunya hanya memberinya semangat agar tidak frustasi. Hatinya benar-benar kalut sekarang.
Lucy berhenti menangis dan mulai mendengarkan sang ibu bercerita. Ia mulai bertanya-tanya bagaimana sang ibu bisa mengetahuinya. Ia menduga apakah legenda itu sampai ke dunia manusia juga.
Diceritakan manusia itu sangat hebat. Ia bisa melawan iblis merah yang terkenal sangat kejam dan sangat kuat. Mau seluruh kerajaan bersatu untuk melawannya pun tidak akan sanggup.
Lalu suatu hari di dunia magis saat ia sedang berjalan-jalan menyusuri hutan. Tanpa sengaja ia memasuki sarang iblis merah itu. Karena dianggap menyusup iblis menyerang manusia suci itu.
Lalu pertarungan pun tak terelakkan. Dengan gesit manusia itu mulai menyerang iblis di bagian titik vitalnya. Ia menggunakan tongkatnya untuk menembakkan cahaya suci yang bisa membakar Iblis Merah.
Rupanya iblis itu sering berbuat onar mengganggu kedamaian dunia. Segel yang dibuat oleh penyihir agung pun lepas. Dan iblis itu berencana untuk menyerang penduduk di dunia magis.
Sayangnya ia sedang bernasi buruk karena harus bertemu dengan manusia suci. Saat itu habis sudah riwayatnya. Meski ia tak bisa dibunuh begitu saja ia bisa disegel oleh manusia itu.
Mantra suci dihafalkan lalu dengan cepat mengurung iblis itu di sebuah goa yang jauh dari kekaisaran saat ini. Peristiwa itu terjadi sekitar 5000 tahun yang lalu. Mendengarkan hal itu pun Lucy teringat pada buku yang barusan ia baca sebelum tidur.
Saat itu juga ia menyadari bahwa saat ini ia sedang bermimpi. Namun ia tak bisa terbangun begitu saja entah karena apa. Masih banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada ibunya.
"Kenapa ibu bisa tahu dengan sangat jelas? Padahal di dalam buku tidak ada satupun catatan sejarah yang menceritakan bagaimana peristiwa itu terjadi," ujarnya heran.
Wanita itu tersenyum lebar, "Karena ibu adalah manusia itu."
__ADS_1
Lucy membelalak tak percaya. Mulutnya terbuka saking terkejutnya ia mengetahui hal itu. Ia tak menyangka bahwa ia adalah anak dari manusia legendaris yang menjadi buah bibir di dunia magis.
"Tunggu... apa?" Lucy masih tak percaya.
Ibunya terkekeh, "Aduh, aku jadi malu menceritakan diri sendiri. Maaf kalau ibu terkesan sombong dengan menceritakan kisah ibu sendiri," ujarnya.
"Astaga, mereka terlalu melebih-lebihkan cerita dalam buku. Makanya ibu yang meminta mereka untuk menghapus semua karangan itu," imbuhnya.
Ia tak menyadari bahwa anaknya telah menitikkan air mata saat ini. Lucy berharap seandainya ibunya masih hidup dan bisa menolong mereka. Namun tetap saja yang namanya orang meninggal tak bisa hidup kembali.
"Ibu, ayo minta pada Dewa agar ibu hidup lagi untuk sebentar saja," isaknya.
Ibunya menjitak kepala Lucy, "Bicara apa kau ini? Mana bisa orang meninggal kembali hidup?! Kau mau menyalahi aturan seperti musuhmu?" omelnya.
Wanita itu menghela napas, "Itu gunanya aku menemuimu di sini," katanya.
Lucy membelalak, "Apa ibu yang berbicara padaku di lorong waktu saat itu?!"
"Benar," jawab ibunya dengan raut wajah polos.
Ia berkacak pinggang, "Astaga, kukira kau tidak dengar," omelnya lagi.
"Sudahlah. Jadi, kau mau tetap di sini atau kembali ke duniamu?" tanya sang ibu.
Lucy meyakinkan dirinya, "Tentu saja kembali! Aku ingin membantu Arzen semampuku meski harus membayar nyawa!" tegasnya.
Ibunya terlihat senang, "Aku bangga pada putriku." Pundak anaknya ditepuk berulang kali.
Kemudian ia melepaskan jubahnya yang putih beraksen emas. Ia melipatnya dan memberikannya pada Lucy. Gadis itu menerimanya dengan heran.
"Kau mau mengakhiri kekacauan yang disebabkan iblis itu, kan?" tanyanya.
Lucy mengangguk, "Tentu saja, bu."
"Sekarang kau tahu siapa dirimu, kan?"
Lucy mengangguk yakin, "Aku selamanya anak ibu."
"Bagus, kalau begitu sekarang pulanglah dan bantu kekasihmu itu," ujar ibunya menggodai Lucy.
Belum sempat Lucy membalas perkataan ibunya, tiba-tiba kabut putih memisahkan mereka. Tiba-tiba kepalanya pusing dan tubuhnya seperti tersedot ke dalam lorong. Sang ibu terlihat menjauh darinya dan melambaikan tangan.
"Ceritakan pada ibu nanti, ya!"
Lucy mengulurkan tangannya, "Tidak, tubuhku tersedot lubang apa ini?! Ibu tolong!"
__ADS_1
"Ibu!"