Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Venus Micellia: Awal Mula Kisah Pilar Ksatria


__ADS_3

"Eh?!" Micellia terkejut, ia mundur beberapa langkah.


"T–Tuan... apa hukuman saya sangat berat sampai harus dibawa ke istana kekaisaran?" cicitnya.


Saat itu Venus menyuruhnya untuk ikut saja. Micellia tak berani bicara macam-macam. Ia hanya berusaha untuk tetap tenang meski banyak pasang mata menatapnya.


Kemudian sampai pada bagian taman istana. Dua orang tengah beradu pedang kayu untuk latihan. Venus mendekati mereka dan berbisik agar Micellia tak mendengarnya.


Setelah itu, Venus pergi begitu saja meninggalkan Micellia dengan dua orang lelaki di taman. Keduanya sama-sama kekar sampai gadis itu mundur ketakutan. Ia mulai berburuk sangka pada Venus.


"Ah, siapa nama nona?" tanya salah seorang berbaju merah.


Micellia dengan masih ada rasa hormatnya membungkuk. "Saya Micellia de Broof, Tuan," ujarnya terbata.


"Baiklah Nona Micellia, Nona ambil pedang ini dan kita berlatih dengan melawan satu sama lain," ucap si baju merah.


Micellia yang takut itu menjadi bingung. Ia hanya menuruti apa yang pria itu katakan sembari mencari cara untuk kabur. Lebih tepatnya, ia mengawasi situasi sekitar.


"Kenapa berlatih pedang?" gumamnya.


Latihan dimulai tanpa menahan diri. Keduanya seperti benar bertarung meski menggunakan pedang kayu. Setelah 15 menit lamanya, latihan berhenti lantaran Micellia sudah tidak kuat.


Gadis itu terduduk di tanah sembari terengah-engah. Ia bahkan berpikir kalau latihan hanyalah kedok untuk menyiksanya perlahan. Ia menganggap ini adalah hukuman untuknya yang lancang merebut pedang.


"Tetapi siapa pria yang mengajakku kemari? Kenapa dia meninggalkanku di sini?" pikirnya.


"Nona saya minta maaf telah menyerang Nona. Saya hanya melaksanakan perintah," ujar pihak lawan.


Kemudian datang 5 orang pelayan wanita menghampiri mereka. Salah satu maju dan membungkuk sopan. Ia berbisik pada si pria baju merah.


"Begitu, kah? Nona Micellia, Nona bisa ikut dengan mereka. Saya tidak berhak bicara lebih lagi, percaya saja pada mereka," ucapnya.


Micellia sudah tak ada tenaga untuk melawan. Ia kemudian pasrah saja saat dibawa rombongan pelayan itu. Sekilas, ia melihat sepasang mata tengah memicing dari arah istana.


"Nona, Anda bisa melepas pakaian Anda dan mandi di sini. Tenang saja, airnya hangat dan sudah diberi ramuan herbal," ucap salah satu pelayan setelah mereka memasuki sebuah ruangan.

__ADS_1


Micellia tak paham, "Kenapa? Ada apa? Apa saya harus bersih sebelum dihukum berat?" tanyanya.


Pelayan-pelayan itu tak menjawab dan hanya melakukan tugas mereka. Micellia lagi-lagi pasrah saat ia harus mandi dan tubuhnya dibersihkan oleh pelayan. Kalau boleh jujur, ini adalah mandi ternikmat seumur hidupnya.


"Apa ini yang dinamakan kenikmatan sebelum mati?" pikirnya.


"Nona, Anda bisa berbaring di sini," ujar salah seorang pelayan di dekat kursi panjang.


Micellia yang baru saja mengeringkan diri setelah mandi itu menunduk takut. Pelayan itu menyuruhnya lagi. "Anda harus dipijat relaksasi. Saya tahu, setelah latihan otot-otot tubuh menjadi kaku dan lelah," ucapnya pada Micellia.


Gadis itu menurut saja, "Benar, mungkin ini yang terakhir kalinya," batinnya.


"Anda harus merasa rileks, Nona. Kalau tidak, ini tidak akan bekerja dan Anda tetap merasa lelah setelah dipijat," ucap sang pelayan ketika ia tahu bahu Micellia menegang.


"Se–sebenarnya, apa yang sedang terjadi? Apa saya sangat dihukum berat? Apa ini semacam keinginan terakhir?" tanya Micellia sedih.


"Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan. Saya hanya melaksanakan perintah dari Yang Mulia Pangeran Ketiga," sahut orang yang sedang memijatnya.


"Setelah ini, Anda akan menghadapnya langsung. Maka dari itu, Anda harus terlihat segar dan cantik di hadapan Yang Mulia," imbuhnya.


"Memangnya ada orang yang dihukum harus dandan seperti ini?" pikirnya saat ia mengamati cermin.


...>>><<<...


"Nona Micellia memasuki ruangan!"


Tak ada siapapun di ruangan yang besar dan luas itu. Hanya seorang pria tampan berjubah putih tengah berdiri di dekat jendela. Ia memandang sendu ke arah luar yang langsung menuju taman istana.


Dirinya menoleh dan menatap Micellia yang menunjukkan wajah takut. Gaun berwarna peach itu sangat cocok untuk Micellia. Venus mengedipkan matanya berulang kali.


"Kau sangat cocok dengan gaun rupanya," pujinya tanpa basa-basi.


Micellia menautkan kedua tangannya di bawah. Ia sangat takut dan ingin pergi dari sini. "Apa aku akan menjadi wanita bayaran!?" pikirnya.


"Maaf kalau aku membuatmu takut. Kau santai saja—"

__ADS_1


"Maaf, Tuan... saya mohon ampun telah lancang atas kejadian di jalan tadi! Saya mohon jangan hukum berat saya!" Micellia tiba-tiba bersimpuh di depan Venus.


Pria itu menghela napasnya sedikit kasar. Ia menyadari telah membuat kesalahan sehingga Micellia memikirkan hal buruk. Dipanggilnya salah satu kasim istana untuk membantunya menjelaskan sesuatu.


"Nona, yang ada di hadapan Nona saat ini adalah Yang Mulia Pangeran Ketiga. Nona tidak perlu takut, kekaisaran tidak pernah menghukum orang tanpa alasan," ujar kasim paruh baya itu.


Tetap saja Micellia takut. "Saya mohon ampun– eh...?"


Ia membelalak dan mendongakkan kepalanya. "Pangeran? Pangeran Ketiga?" gumamnya tak percaya.


"Benar, maaf tidak memberitahumu. Kalau aku memberitahumu tadi kau pasti tidak akan ikut denganku," ucap Venus sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Micellia kembali bersimpuh, "Salam bagimu cahaya bintang kekaisaran, Yang Mulia Pangeran Ketiga Venus de Woove," ucapnya membuat Venus malu-malu.


"Iyah... sudah kubilang santai saja," sahutnya.


Kasim mendapati hal menarik terjadi di hadapannya. Ia tersenyum gemas di balik lengan yang ia gunakan untuk menutup wajah. Selama puluhan tahun ia mengabdi untuk Venus tak pernah ia temukan peristiwa semacam ini.


Baru kali ini seorang Venus tersenyum di depan wanita. Maka dari itu, kasim itu terus menyembunyikan senyum gemasnya. Ia mundur sedikit dan menahan diri untuk tidak menginterupsi.


Venus mengulurkan tangannya pada Micellia. "Berdirilah, gadis cantik sepertimu tidak boleh bersimpuh di depanku," ujarnya lembut dengan tatapan khasnya.


Micellia menerima uluran tangan itu dengan ragu. "Maafkan saya tidak mengenali Yang Mulia Pangeran Ketiga di jalan tadi. Saya sungguh minta maaf...!" ucapnya terbata.


Venus menggeleng, "Tidak mengapa. Aku malah senang kau tak mengenalku tadi. Dengan begitu, kau bisa ada di sini sekarang," ujar Venus.


"Maaf membuatmu takut. Aku hanya ingin mengujimu di latihan pedang bersama prajuritku," ungkap Venus.


"Tinggalah di sini, Nona Micellia. Hidupmu akan ditanggung kekaisaran... tidak, mungkin aku yang akan menanggungnya sebagian besar nanti," pintanya pada Micellia.


"Aku ingin mengangkatmu menjadi ksatria kekaisaran. Kau akan berada dalam pengawasanku sendiri. Langsung perintah dariku tanpa perantara jenderal yang lainnya," ujar Venus dengan serius dan tegas.


Ia memerintah kasim tadi untuk mengurus keperluan Micellia di istana. Venus meraih tangan Micellia lembut. Ia mencium punggung tangan gadis itu dan tersenyum.


"Aku kagum caramu memegang pedang. Baru kali ini aku melihat perempuan sepertimu," ucapnya.

__ADS_1


"Bersediakah kau menjadi ksatriaku, Nona?"


__ADS_2