
"Mari bersulang atas kerja keras tim kita selama seminggu ini!"
Sean Vandear, CEO perusahaan tempat Lucy bekerja mengangkat gelasnya. Ia memimpin pesta makan-makan hari ini sebagai perayaan suksesnya proyek mereka. Karyawan yang menghadiri ikut mengangkat gelas mereka menyambut seruan Sean.
"Wah, CEO kita memang terbaik!" sahut salah satu dari mereka.
Sean hanya tersenyum rendah hati. Di sampingnya, Lucy tengah minum jus jeruk. Ia tak suka minum 'minuman' seperti yang lain.
Sean menyodorkan gelasnya di depan gadis itu. "Apa kau tak ingin sesekali meminum ini?" tanyanya.
Lucy menggeleng, "Terima kasih atas tawarannya, pak. Seperti yang bapak sudah ketahui, saya tidak bisa minum," tolaknya halus.
"Baiklah, saya menyerah. Ah, terima kasih untuk kerja samanya beberapa hari ini. Nona Lucy pandai mengatur jadwal sampai after party seperti ini berjalan lancar," pujinya.
Lucy mengangguk sopan, "Terima kasih kembali, pak..." Keduanya lanjut berbincang mengenai proyek selanjutnya.
Dari agak jauh, karyawan dan karyawati mengamati keduanya. Mereka sudah tak asing dengan keakraban CEO dan sekretarisnya itu. Lucy sudah menjadi sekretaris kepercayaan Sean selama kurang kebih 3 tahun lamanya.
"Kalau dilihat-lihat, mereka cocok juga, ya?" ujar salah satu karyawan.
Yang lain menimpali, "Benar, CEO kita sangat pilih-pilih soal pasangan. Tetapi, Nona Lucy terlihat yang paling akrab dengan beliau," katanya.
"Mereka sama-sama single apa salahnya mencoba lebih dekat?" tambah yang lain.
Si A si B dan yang lainnya kemudian menjadikan Lucy dan Sean bahan bincangan hari ini. Banyak dari mereka mengatakan keduanya seperti pasangan serasi. Sean yang berkarisma bersanding dengan Lucy yang selalu elegan tetapi tetap sederhana.
"Sudah kuduga mereka sangat cocok!"
Sean yang mencuri-curi dengar itu hanya bisa tersenyum. Ia memang pernah suka pada Lucy, tetapi ia tak mengambil tindakan lanjut. Sesuatu dalam dirinya menganggap Lucy seperti adiknya sendiri.
"Saya ingin tahu apa pendapat nona Lucy tentang obrolan mereka," celetuk Sean menarik perhatian Lucy hingga membuat gadis itu menoleh sebentar.
__ADS_1
Hera, direktur keuangan yang tak jauh dari sana pun ikut curi-curi dengar. Wanita dengan kepribadian agak nyentrik itu menghampiri mereka. Ia menyenggol dan menggodai Lucy seperti biasanya.
"Eeh? Saya juga ingin tahu apa pendapat dan isi hati nona Lucy saat ini," bujuknya.
Hera terus meluncurkan tatapan menyelidik dan senyum jahilnya. Sean hanya bisa terkekeh melihat Lucy yang kelabakan digodai Hera. Rekan kerjanya itu memang ada saja tingkah yang membuatnya terhibur.
Dahulu sebelum ia bekerja dengan Hera dan Lucy, hari-hari kerjanya monoton. Ia hanya berangkat untuk bekerja lalu pulang atau tinggal di kantor saking sibuknya. Sekretaris sebelumnya tidak cukup baik memanajemen waktu sehingga ia harus keteteran sana-sini.
"Nona Hera sudah hentikan, Anda membuat nona Lucy tertekan," ujarnya sembari terkekeh.
Hera tertawa mendengarnya. Memang benar Lucy sekarang hanya tersenyum canggung. Mereka bertiga memutuskan untuk beradu gelas sebagai pengalihan topik sementara.
"Huft, astaga bapak sama nona Lucy selalu saja bahas pekerjaan kalau sudah bertemu. Padahal ini after party harusnya santai saja!" ujar Hera setelah sedikit merah usai menenggak minumannya.
Lucy menyahut, "Lantas saya harus membicarakan apa dengan pak Sean?"
Hera mengerucut bibirnya, "Uuh, apa kalian tidak ada pergerakan sama sekali? Padahal obrolan tim sudah sangat jelas terdengar," gerutunya.
"Direktur keuangan... Anda ternyata sependapat dengan kami!" seru salah seorang, sebut saja si A.
Hera kembali tertawa dan mengacungkan jempolnya. "Astaga, pendukungku banyak sekali. Sepertinya kita harus membuat fansclub Secy, Sean Lucy!" ujarnya diakhiri dengan tertawa.
Mereka semua tak menyadari bahwa ada dua orang yang tidak setuju dengan itu. Perempuan di sudut ruangan melipat tangan di depan dada. Ia ingin sekali membuang ludah dan melampiaskan kekesalannya.
"Ck, memangnya apa bagusnya dia?! Make up seperti orang sakit begitu dibilang cantik!" gerutunya dalam hati.
Memang tak seperti dirinya yang mengenakan lipstik merah. Lucy selalu menggunakan make up natural. Ia menjaga penampilan agar tetap sederhana dan mengutamakan kerapian daripada bersolek.
Perempuan itu tak lain adalah Karen Heldiva. Ia memainkan rambutnya yang panjang. Mengelus-elusnya seolah ingin orang-orang tahu bahwa ia baru saja pulang dari salon kemarin.
Namun, tak ada yang melihatnya sama sekali. Mereka semua sangat sibuk dengan 'selebriti' hari ini. Hal itu tentunya membuat Karen semakin kesal.
__ADS_1
Otaknya memutar cara untuk menarik perhatian CEO. Sejak dulu melamar, ia selalu tertarik pada Sean. Apalagi mengetahui pria itu belum menikah bahkan pacaran sekalipun.
"Ah, Lucy terus persoalannya... apa mereka kehabisan topik?!" gerundelnya dalam hati.
Sedangkan di sisi yang lain, seorang pria selalu menatap Lucy. Ia hampir tak berkedip menyaksikan wanita itu berbicara pada Sean. Di tangannya menggenggam gelas wine yang hampir pecah karena ia menggenggamnya sangat kuat.
"Lucy hari ini sangat cantik..." batinnya.
Ia ingin sekali tersenyum pada perempuan itu. Namun, ia urungkan karena tidak ingin dianggap sebagai pria gila. Selama hampir 2 tahun ia selalu menatap Lucy seperti itu.
Kemejanya berwarna biru cerah, secerah hatinya kalau bertemu Lucy. Terkadang ia merasa sedikit kesal ketika Sean menghampiri Lucy dan berbicara pada gadis itu. Meski begitu, ia senang sebab setiap kalo proyek ia selalu satu tim dengan Lucy.
"Hah, akhir-akhir ini mereka dekat. Bahkan lebih banyak berbicara daripada dengan timnya," batinnya.
Ia menyuap sesendok puding cokelat. "Selalu saja ada orang itu kalau aku ingin menyapanya," helanya pasrah.
"Mungkin besok aku bisa mencobanya!"
"Mengapa tidak dilamar saja, pak!?" Hera tiba-tiba memekik karena dirinya sudah sedikit mabuk.
Direktur keuangan itu tidak bisa menoleransi kadar 'minuman' dalam gelasnya. Alhasil, wajahnya memerah dan matanya sedikit berat. Beruntung ia membawa pacar dan akan membawanya pulang ke rumah.
Terlepas dari itu, pria yang selalu memandang Lucy itu geram. Ia hampir memecahkan gelas hanya dengan tangan kosong. Pria itu tak suka ketika Hera mulai membicarakan masalah asmara.
Tentu saja ia tahu Lucy akan menolak secara halus. Hanya saja, ia tak suka jika orang yang disukai digodai orang lain. Apalagi saat Sean tersenyum menanggapi candaan Hera.
Ia merasa sakit dalam benak tetapi tak juga bertindak. "Ck!" Yang bisa ia lakukan adalah berdecak berulang-kali. Ia memutar bola matanya malas.
"Dasar... CEO itu hanya ingin mempermainkan Lucy!" batinnya tak terima.
Ia berbalik badan dan pergi dari sana. After party berada di lantai paling atas perusahaan. Jadi, ia bisa bersandar pada pembatas karena tak oleh pada kaca jendela.
__ADS_1
Ia menghela napasnya, "Mungkin aku harus melamarnya."