
"Karena proyek kali ini sukses besar, saya mengucapkan terima kasih atas partisipasi dan kerja sama rekan-rekan semuanya," ucap Sean yang disambut tepuk tangan meriah dari para karyawan.
Ia mengadakan pesta kecil-kecilan di kantor untuk merayakan keberhasilan kali ini. Banyak dari mereka saling mengucap selamat satu sama lain. Kerja sama GX Company dan LX Fashion sukses bahkan sampai mendapat penghargaan mancanegara.
Di sini lah Lucy, Sean, dan Hera berdiri. Mereka saling berbincang mengenai proyek barusan. Klien sangat puas dan investor pun mulai bertambah.
"Nona Lucy terima kasih atas kerja kerasnya," ucap Sean. Lucy membungkuk sopan, "Terima kasih kembali, pak," balasnya.
"Yah, saya tidak salah menaruh kepercayaan pekerjaan pada Anda, nona," ucap Sean.
"Anda terlalu memuji, pak. Semuanya berkat kerja keras tim kita yang kompak." Lucy menyesap soda lemonnya.
Sean melirik Lucy, "Lagi-lagi nona minum yang bukan alkohol," katanya. "Oh, mana suami nona? Tadi saya lihat ada di samping nona kalau tidak salah," sambungnya sembari celingukan mencari keberadaan Arzen.
"Dia sedang pergi ke toilet," ujar Lucy seadanya.
Sedangkan di tempat Arzen kini berada, sebuah toilet pria. Ia menyudahi perkaranya dan berbenah. Ia keluar dari sana dan berjalan di sebuah koridor yang sepi. Toiletnya lumayan jauh dari hall acara.
"Hm, apakah di pesta ada alkohol? Lucy tidak boleh meminumnya," pikirnya.
Tuk! Tuk! Tuk!
Seseorang datang dari arah belakang. Arzen tak menggagasnya dan tetap fokus pada langkah kakinya. Ia berusaha mengancingkan kancing di lengannya yang terbuka.
"Permisi," panggil orang yang ada di belakang Arzen.
Ia menoleh dan melihat seorang wanita berkemeja merah bercelana hitam. Sesaat ia tahu siapa yang ada di depannya. Karen, wanita yang selalu mengganggu Lucy-nya selama di kantor.
Arzen langsung mengalihkan pandangannya lagi. Ia enggan menatap Karen dan kembali berjalan. Bukan Karen kalau menyerah begitu saja setelah diabaikan.
"Sombong sekali!" batinnya.
"Permisi! Apa Anda juga akan pergi ke ruang acara? Bolehkah saya ikut bersama Anda? Rekan saya sudah pergi lebih—"
__ADS_1
Arzen menatapnya tajam, "Maaf, saya tidak mengenal Anda. Silakan duluan," ujarnya cepat.
Ia menghela napas saat harus mengalah demi wanita itu. Kalau ia yang jalan lebih dulu, Karen pasti mengikutinya dan mendekatinya. Ia sudah tahu tabiat buruk wanita yang satu ini.
"Apa dia ini suka menyebar rumor miring?" pikirnya.
"Kenapa tidak pergi bersama saja? Sambil berbincang ringan mungkin," ucap Karen.
Ia sengaja tak menutup dua kancing atas kemejanya. Hal itu membuat belahan dadanya sedikit terekspos. Bahkan ia sengaja menggunakan dalaman dengan aksen gliter agar berkilau dan menarik perhatian.
Sayang sekali, Arzen tak tertarik pada apapun selain Lucy. Ia mengabaikan hal itu dan menatap datar Karen. Wanita itu menatapnya dengan kerlingan mata dibuat sedih.
Arzen menghela napas, "Pergi saja lebih dulu. Saya tidak suka berjalan dengan wanita selain pasangan saya," ujarnya tegas.
Karen tersenyum miring, "Apa Anda pergi bersama Lucy?" Caranya menyebut nama Lucy membuat Arzen geram.
Wanita itu berjalan mendekat bahkan berniat memojokkannya. "Apa Anda tidak tahu ada rumor apa di kantor selama ini tentang wanita itu?" bisiknya.
Arzen tak mengerti apa yang dimaksud oleh perempuan itu. Lebih tepatnya apa yang diinginkan Karen dengan menjelek-jelekkan Lucy. Ia begitu berambisi sampai susah-susah membuat rumor tak berdasar.
"Katanya, CEO di sini, lho," imbuhnya.
Ia semakin maju dan hampir menempelkan tubuhnya pada Arzen. Ia sengaja agar pria itu tergoda dan menyerangnya. "Kalau aku tak bisa menyingkirkanmu dari Sean, aku akan merenggut orang yang kau sukai," batinnya memikirkan Lucy.
Sayangnya ia salah lawan main kali ini. Ia tak tahu siapa Arzen dan hanya memperlakukannya dengan trik yang sama. Raut wajah Arzen berubah dingin dan menatap jijik ke arah Karen.
Ia mendorong gadis itu sampai sempoyongan. "Sepertinya kau salah lawan kali ini, nona," ucap Arzen.
Auranya membuat Karen bergedik ngeri. Ia tiba-tiba merasa merinding sekujur tubuh. Baru kali ini ia mendapat tatapan mengerikan seperti itu.
Apalagi kedua netra kelabu Arzen berkilat. Ia bisa saja menyerangnya dengan sihir. Lagi-lagi ia mengutamakan Lucy, ia menahan sihir petirnya agar tak ia arahkan ke manusia.
Ia menatap lekat Karen seperti hendak memangsanya hidup-hidup. "Kau tahu kenapa aku membiarkanmu sampai saat ini? Kenapa aku tak memberimu pelajaran saat kau menyebar rumor bodoh itu?"
__ADS_1
"Itu karena Lucy yang memintaku untuk melepaskanmu!"
PATSS!
Arzen menghempaskan pundak yang ia cekal tadi. Karen hampir jatuh karena kalah kuat dengan pria itu. Arzen berpaling dari sana dengan hati yang penuh dengan amarah.
"Jaga sikapmu atau kau akan kehilangan posisimu saat ini," ucap Arzen lalu pergi dari sana.
Sepertinya ia terlalu marah sampai tangannya tak sengaja mengeluarkan kilat petir. Ia tak peduli apakah Karen akan menyadarinya atau tidak. Ia ceritakan pada orang lain pun tidak akan ada yang percaya.
Malah ia akan dianggap gila atau mabuk. Arzen bersyukur di dunia manusia makhluk sepertinya dianggap fiksi. Itu berarti tak akan ada yang mengusik apalagi memusuhi dunia magis seperti beratus tahun yang lalu.
Di tempatnya, Karen berdiri dengan tubuh yang gemetar. Ia tak mengira akan mendapatkan tatapan dengan aura pembunuh yang kuat. Ia kalah sebelum bertindak melancarkan rencananya.
Ia dilanda syok sampai ke dalam. Napasnya terengah-engah padahal tidak sedang lari. Arzen mungkin benar akan membunuhnya kalau ia bertindak lebih tadi.
Ia mengakui kalah telak. Meski dalam hati geram dan kesal karena tak bisa menyingkirkan Lucy. Seharian ini sebenarnya ia kesal karena Lucy kembali akrab dengan Sean.
Sudah begitu ia melihat Lucy bersama orang yang lebih memukau daripada Sean. Rupanya orang itu adalah Arzen yang baru saja ia dekati tadi. Ia kesal dengan Lucy yang semudah itu dikelilingi oleh Sean dan Arzen.
Bahkan Sean sama sekali tak meliriknya meski ia sudah naik satu tingkat lebih tinggi. Tangannya mengepal kuat seolah bersiap meninju karung samsak. Ia menjambak rambutnya frustasi.
"Kenapa hanya kau...?! Padahal aku sudah berusaha sedangkan kau hanya numpang paras!" gerutunya merutuki Lucy.
Ia menghentakkan kakinya ke lantai. Tak sadar tingkahnya direkam oleh kamera pengawas di salah satu sudut lorong. Tindakannya membuat petugas CCTV syok bersama-sama.
Ia bahkan tidak jera dan berjalan tergesa-gesa mengejar Arzen. Lelaki itu sudah sampai di depan pintu ruangan yang digunakan untuk pesta. Karen yang tadi tersenyum antusias kembali pudar.
Di depan matanya, Arzen merangkul Lucy. Yang lebih membuatnya sakit hati adalah saat Sean tersenyum di sana. Lagi-lagi ia tertinggal satu langkah dari Lucy.
Mereka tampak bahagia, dan itu membuat Karen sakit hati. "Seharusnya aku yang ada di sana," gumamnya tidak jelas.
Ia menggeleng-geleng dan meracau. Padahal belum menyesap alkohol sedikitpun, tetapi langkahnya seperti orang mabuk. Ia terus mengutuk Lucy dalam hati dan mengatakan bahwa hanya ia yang pantas berada di antara orang-orang itu.
__ADS_1
"Jal*ng sialan!"