
Drap! Drap! Drap!
Arzen berlari secepat angin dengan wujud serigalanya. Ia memastikan tak ada siapapun yang meihatnya untuk berubah wujud menjadi manusia. Lelaki itu tiba di rumah Lucy tepat dini hari sebelum ayam jantan berkokok.
Ia tak bisa langsung memberitahu mereka sekarang. Tentu saja karena Lucy dan Loofyn masih tidur. Arzen tak bisa masuk karena dikunci dari dalam.
Ia memutuskan untuk duduk sejenak di teras rumahnya. Sekalian ia menajamkan inderanya untuk mendeteksi bahaya. Suasana yang tenang membuatnya lebih waspada karena musuh bisa saja menyerang ketika ia lengah sebentar.
Dunia manusia sepi saat dini hari tetapi masih ramai saat tengah malam. Jalanan juga tidak segelap di dunianya. Lampu di sini sepertinya seratus kali lebih terang daripada lampu di istana.
"Mungkin aku bisa menanyakannya pada penyihir tentang benda bernama listrik itu," gumamnya.
Arzen kembali merapalkan mantra untuk menambah kekuatan sihir pelindung di rumah Lucy. Ia sudah seperti petugas keamanan yang celingukan sana-sini mencurigai sesuatu. Pria itu kembali duduk dan menunggu sampai semburat jingga terbit dari timur.
Hingga akhirnya tuan rumah terbangun dan membukakan pintu. "Maaf, kau pasti sangat lama menunggu. Kukira kau akan lama ternyata hanya tiga hari, ya?" tanya Lucy.
Ia mempersilakan Arzen masuk dan menghangatkan tubuhnya. Ia menyeduhkan teh hijau untuk pria itu. Lucy langsung bergegas membukakan pintu ketika ia merasakan aura Arzen.
"Kau tahu, Shinre Jade-nya berkedip. Kupikir kau dalam bahaya lalu aku inisiatif keluar dan menemukanmu," ujarnya.
Arzen menyesap tehnya sedikit demi sedikit. Selimut tebal milik Lucy sangat berguna. Terlebih aroma feromon gadis itu yang menempel di selimut.
Arzen dengan malu-malu menghirupnya dan mengingat baunya. "Wangi," gumamnya.
"Ah, bukan ini tujuanku kemari." Ia menggelengkan kepalanya.
"Lucy," panggilnya.
Perempuan yang baru saja mencepol rambutnya itu menoleh, "Ya?"
Blush!
Pipi Arzen memerah karena tak sengaja melihat tengkuk gadis itu. Ia cepat-cepat mengendalikan pikirannya. "Ah, anu... ada hal yang harus kukatakan padamu," ucapnya terbata.
Lucy segera menghampiri Arzen. Gadis itu duduk berhadapan di sofa. "Ada apa?"
Suasana mendadak serius sedikit tegang. Arzen tak ingin membuat perempuan itu khawatir dan gelisah. Namun ia harus mengatakannya yang sebenarnya terjadi.
"Kau dan Loofyn harus ikut aku ke dunia magis," ucap Arzen.
"Apa terjadi sesuatu dengan Loofyn? Atau keadaan istana yang membutuhkanmu dalam waktu yang lama?" tanya Lucy.
Arzen menggeleng, "Ada rumor yang mengatakan pasukan misterius tengah dikirim untuk mengejar dan menangkapmu beserta Loofyn," ungkapnya.
__ADS_1
Deg!
Lucy terkejut mendengarnya. Jelas posisinya sebagai manusia biasa dalam bahaya. Apalagi saat ia menyadari tak bisa melindungi Loofyn karena tak memiliki sihir.
"Dengar, aku bisa saja membawa Loofyn dan melepaskannya darimu. Tetapi aku tak mau memaksa anak kecil yang membutuhkan sosok ibu dalam hidupnya," jelasnya.
Arzen menunduk sedih, "Karena itu sama saja merampas ibu mereka. Aku tak mau melakukan itu," lirihnya.
Ia berkata begitupun sebenarnya Lucy juga tak mau berpisah dengan Loofyn seperti ini. Malah, ia tak mau berpisah dengan Arzen dan Loofyn. Hanya saja ia menyembunyikan perasaannya dari Arzen karena ia belum memastikannya.
"Tak apa, Arzen," ucapnya. Ia meraih tangan lelaki itu, "Aku akan ikut denganmu," katanya.
"Baiklah. Kemasi barang pentingmu," perintah lelaki itu.
Lucy mengangguk, ia segera pergi ke kamar. Surat-surat penting ia satukan dalam tas darurat. Tas yang biasa ia gunakan anti air dan anti api untuk berjaga-jaga jika terjadi bencana.
"Tak usah bawa baju, aku sudah menyediakannya di sana," celetuk Arzen.
Lucy hanya membawa jaket tebalnya dan hoodie milik Loofyn. Ia hanya membawa satu tas selempang berisi botol susu Loofyn dan tas dokumen dan barang yang dibutuhkan. Ia juga menggendong Loofyn dengan gendongan bayi yang berada di dadanya.
"Apa sudah cukup?" tanya Lucy.
Arzen mengangguk, "Lucy, aku tidak tahu apa yang terjadi setelah kita menyeberangi dunia lain," ujarnya.
Mereka keluar seperti ingin bertamasya agar tak menimbulkan kecurigaan tetangga. Lucy mengunci pintunya dan membawa kunci rumahnya. Pagi hari yang tenang ini terpaksa mereka abaikan karena harus bergegas.
Arzen sengaja pergi ke taman untuk mengubah wujudnya. "Naiklah, kita akan pergi ke bukit," ajaknya.
Lucy menggendong Loofyn yang masih tidur. Mereka semua menuju ke bukit. Di bukit inilah Arzen akan membuka gerbangnya.
Lucy menelan salivanya serat. Sejujurnya ia sendiri masih meyakinkan diri. Namun ia mencoba memercayakannya pada Arzen.
"Pegang tanganku, jangan dilepas." Arzen mengulurkan tangannya.
Lucy menyambutnya dan menggenggamnya erat. Arzen mulai berkonsentrasi untuk membuka gerbang. Ia merapalkan mantra setelah memastikan tak ada gangguan di sekitar mereka.
"Eclipse o Magical Magis Gate!"
ZWOOOSHH!
Lingkaran sihir terbentang di bawah kaki mereka. Perlahan menghisap keduanya sampai habis dari ujung kaki sampai kepala. Mereka menghilang bak ditelan bumi.
Lucy merasa takjub meski sedikit ketakutan. Ia berani membuka matanya saat berada di lorong sihir. Sebenarnya mereka berada di lorong ruang dan waktu.
__ADS_1
"Badanku utuh," batinnya.
Ia memeluk erat Loofyn sedangkan tangan yang lain digenggam oleh Arzen. Proses teleportasi pertama kali membuatnya mual entah karena apa. Ia hanya bisa memejamkan matanya dan berharap cepat sampai.
"Selamat datang putriku."
Suara lembut itu tiba-tiba terdengar. Seperti seseorang sedang berbisik di telinga Lucy. Ia membuka matanya dan menoleh siapa yang berbicara.
"Tetapi ini di lorong ruang dan waktu, apakah ada orang yang menyusup?" pikir Lucy.
"Lucy kita akan segera mendarat," ujar Arzen.
Gadis itu semakin mengeratkan pegangannya. Dalam hitungan detik Arzen berhasil mendarat di kamarnya sendiri. Ia sempat waspada kalau mereka mendarat di luar.
"Ah, bahkan sampai saat ini aku belum bisa mengendalikan tempat mendarat," gumamnya.
Ia sendiri berpikir mengapa bisa tepat berada di atas bukit Kota Luxeas ketika menyeberang ke dunia manusia. Arzen akan memikirkannya lain kali. Saat ini ia sedang membawa Lucy ke tempat tidurnya.
"Maaf Arzen, aku mual dan pusing setelah menyeberang," gumam Lucy masih dengan mata terpejam.
Arzen mengangguk, "Kau istirahat dulu," katanya.
Ia melepaskan gendongan dan menidurkan Loofyn di samping Lucy. Pria itu juga menyiapkan air sendiri untuk Lucy minum. Ia ingin melakukannya sendiri tanpa pelayan.
Mulai dari menyiapkan baju yang cocok untuk Lucy. Sampai makanan untuk Lucy setelah bangun tidur nanti. Ia juga belum memberitahu kedatangannya pada Venus.
"Arzen," panggil Lucy.
Pria itu segera mendekat. Ia bersimpuh di samping tempat tidur. "Apa ada yang sakit?" tanyanya cemas.
Lucy menggeleng, "Tidak, aku sudah lebih nyaman. Terima kasih," ujarnya.
"Syukurlah."
"Arzen, apa kau mendengar sesuatu saat menyeberang tadi?" tanya Lucy.
Arzen menggeleng, "Mendengar apa? Kita kan hanya beberapa detik lalu mendarat ke sini," balasnya.
Lucy jadi memikirkannya, "Aku merasa seseorang sedang berbisik padaku tadi," ujarnya.
"Benarkah? Kau bisa tanyakan pada penyihir di menara nanti," kata Arzen.
Lucy mengangguk, "Baiklah. Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?"
__ADS_1