
Arzen yang baru saja menidurkan Loofyn merasakan firasat tidak enak. Ia tak melihat ada tanda bahaya pada Shinre Jade Lucy. Namun ia merasa gadis itu sedang dalam masalah.
"Mungkin ada masalah dengan pekerjaannya. Kalau itu aku yakin Lucy bisa mengatasinya," pikirnya.
Ia berusaha berpikir positif dan percaya pada Lucy. Tubuhnya tak bisa berbohong. Ia terus mondar-mandir di depan pintu rumah.
"Masalah pekerjaan, kan...?" pikirnya sekali lagi.
Benaknya benar-benar merasa tidak nyaman. Rasanya seperti melihat pasanganmu dibawa serigala lain. Arzen berdecih hanya dengan membayangkannya.
Druk! Druk! Druk!
Ia menoleh ke belakang saat terdengar suara langkah kaki. "Ah, Loofyn, aku membangunkanmu, ya?" ucap Arzen.
Anak itu menggeret kaki Arzen dengan tatapan sedih. "Mama mana?" tanyanya.
Arzen lupa kalau Loofyn juga terhubung Shinre Jade dengan Lucy. Sudah pasti ia ikut khawatir dengan gadis itu. Ia segera menggendong Loofyn.
"Loofyn tidur lagi, ya? Papa cari mama dulu," ujarnya tetapi Loofyn menggeleng.
"Cari mama," rengeknya.
Arzen mengangguk, "Iya, makanya Loofyn tidur, ya? Biar papa yang—"
Loofyn menahan tangisnya. Bibirnya mencebik lucu dan menarik perhatian Arzen. Lelaki itu menghela napasnya.
Ia mengajaknya untuk duduk sejenak. "Loofyn jadi anak baik, ya? Nanti kalau Loofyn ikut dimarahin mama bagaimana?" bujuknya.
"Mama khawatir sama Loofyn, jadi mama mau Loofyn di rumah saja, ya?"
Melihat ketidaksetujuan Loofyn, Arzen menghela napasnya. "Kalau begitu, Loofyn main dulu sama kakak sebelah, ya?"
Mendengar hal itu Loofyn seakan melupakan apa yang tengah terjadi. Insting anak-anaknya lebih mendominasi. Ia begitu antusias begitu mendengar kata main.
Arzen menghela napasnya lega. "Kalau begitu, sembunyikan ekor dan telingamu," pintanya yang langsung dituruti oleh anak itu.
Pria itu bersiap mengenakan mantel bulu. Loofyn dengan hoodie kuningnya sudah siap. Ia kembalii meminta izin untuk menitipkan Loofyn sementara.
"Ah, maaf saya harus pergi lagi. Saya titip anak saya sementara waktu," ucapnya tidak nyaman.
Ibu tetangga itu tersenyum ramah, "Tidak apa-apa, Loofyn anak yang baik," ujarnya.
Wajah Arzen kentara cemas meski ia tersenyum. Ibu tetangga itu mengerti dan tak menanyakan banyak hal. Setelah itu Arzen pergi dari sana dengan berlari secepat mungkin.
Waktu menjelang malam tetapi masih banyak orang berlalu-lalang. Ia tak mungkin menarik perhatian dengan muncul tiba-tiba menggunakan sihirnya. Arzen mengandalkan penciuman dan langkah kakinya yang cepat kali ini.
"Lucy, kau!"
__ADS_1
Matanya berkilat tajam ketika telinganya menangkap suara yang familiar itu. Ia melesat seperti angin langsung di belakang seorang gadis. Ia membelalak melihat Lucy terpojok di pohon dengan seorang pria yang mengungkungnya.
"Kau membuat kesalahan besar pada makhluk alpha sepertiku," gumamnya.
GREP!
Peter terbelalak melihat siapa yang mencekal tangannya. Lucy yang sudah memejamkan matanya itu perlahan menoleh. Ia terkejut sejak kapan Arzen berada di belakangnya.
"Apa dia mengikutiku lagi hari ini?" batinnya.
"Siapa, kau?! Tak perlu ikut campur urusanku dengan gadis ini!" sergah Peter.
Arzen maju mendorong Peter untuk melepaskan kungkungannya pada Lucy. Tentu saja soal tenaga manusia kalah dengan makhluk magis. Arzen masih mencekal kuat tangan Peter.
"Kau mau sok jagoan, ya? Aku harus membenarkan Lucy—"
Arzen menatapnya tajam, "Jangan berani menyebut namanya dengan mulut kotormu," bisiknya.
Peter menelan salivanya sulit. Ia baru saja merasakan perasaan mencekam sekujur tubuh. Arzen memang sengaja melepas sebagian kecil aura alpha-nya.
Ia tak suka Lucy disentuh pria lain. Apalagi orang yang senang main fisik seperti Peter. Arzen terus menggenggam tangannya.
"Aku bisa saja mematahkannya tetapi kurasa Lucy tidak akan suka," pikirnya.
"Ah, kau orangnya, ya?" cebik Peter.
Lucy segera melerai mereka. "Peter jangan!" Ia berteriak untuk memberi peringatan.
Grepp! Kreett!
"Akh!" pekik Peter ketika Arzen mengeratkan genggamannya.
Ia merasa tangannya bisa putus kalau hal ini dibiarkan. Arzen menatapnya lekat, "Sudah kubilang jangan berani menyebut nama gadis milikku," tekannya.
"Mi–mi–milikku...!" gumam Lucy salah tingkah.
Ia menggeleng, bukan saatnya ia memikirkan hal itu. Ia harus menghentikan Arzen atau Peter bisa patah tulang. "Arzen berhenti!" teriaknya.
PATSS!
Saat itu Arzen menghempas keras tangan Peter. Membuat rekan kerja Lucy terhuyung dan terkapar di tanah. Ketika ia mendongak langsung disambut tatapan mata kelabu Arzen yang penuh kilat amarah.
"Ck...!"
Peter berdecak dan berusaha berdiri. Ia langsung berlari dan pergi dari sana. Langkah kakinya terhuyung sebab masih sakit akibat terjerembab tadi.
Arzen sebenarnya tak suka melepaskan 'mangsa' yang menyakiti miliknya. Ia menatap tajam sampai punggung itu menghilang dari pandangannya. Kilat matanya masih belum mereda.
__ADS_1
"Arzen..." panggil Lucy.
Zraaa...!
Ia tak sengaja memberikan tatapan itu pada Lucy. Saat ia menyadarinya Lucy sudah terkejut. Arzen menunduk menghindari tatapan gadis itu.
"Ma–maafkan aku," gumam pria itu.
"A–aku datang karena instingku bilang kau dalam bahaya!" jelasnya kemudian.
Tangannya mengambang di udara. Ia ingin meraih pundak gadis itu tetapi sepertinya Lucy masih trauma akibat Peter tadi. Arzen akan menunggu izin dari Lucy.
"Aku akan jujur. Aku tak suka orang lain menyentuhmu, Lucy," tegasnya.
"Instingku murni mengatakan kau dalam bahaya. Aku sangat marah dan kesal melihat orang tadi memegangmu, mengurungmu, dan menghardikmu," ujarnya khawatir.
Lucy hanya diam saja mendengar penjelasan Arzen. Ia jadi seperti seorang anak yang dimarahi orang tuanya. Beruntung hanya ia berdua dengan Arzen yang ada di taman.
Bibir Arzen bergetar kali ini, "A–apa kau menyesali kedatanganku dan Loofyn dalam hidupmu, Lucy?" tanyanya hati-hati.
Ia mencoba menebak karena mendengar sedikit yang Peter bicarakan tadi. Ia takut Lucy menjawab 'iya' dari mulutnya. Namun sekarang, ia lebih tergores ketika bulir air mata turun dari kedua mata gadis itu.
"Maaf, Arzen... aku mau sendiri dulu," gumamnya. Sebenarnya ia sedang gundah kacau hatinya.
Pikirannya tidak stabil untuk memikirkan situasi barusan dengan dingin. Lucy menunduk menyembunyikan raut wajahnya. Arzen menangkup kedua lengan Lucy erat.
"Jangan begini... aku tak bisa membiarkanmu sedih sendirian," katanya.
"Kau tadi melihatnya sendiri, kan? Aku tak sampai mematahkan tangannya. Aku tak sampai membunuhnya karena kau tak suka aku bertindak kasar," bebernya membujuk gadis itu.
Lucy menggeleng, "Tolong, Arzen. Aku sedang kacau di dalam sini," ujarnya.
"Aku tak ingin menyakitimu, Arzen. Minggir sebentar," sambungnya.
Arzen menggeleng dan tetap berada di depan Lucy. Hal itu membuat perasaan Lucy meluap bersama air matanya. Ia bingung sendiri dengan apa yang ia pikirkan dan apa yang ia rasakan.
"Tolong, Arzen..." Ia tak lagi bisa membendung air matanya.
Lucy terisak di dekapan Arzen. Pria itu memeluknya hangat di dalam mantel berbulu. Mengelus dan mengecup kepala Lucy dengan lembut.
Ia jadi berpikir apakah Lucy benar menyesali kedatangannya. Memang seharusnya makhluk dunia lain tak mencampuri urusan manusia di dunia ini. Arzen memikirkannya selama ini ketika ia ingin membuka teleportasi.
"Lucy," panggilnya.
"Apa karena aku dan Loofyn ada kau jadi tidak bisa berkencan dengan orang lain?" tanyanya.
Lucy menggeleng dan semakin terisak.
__ADS_1
Arzen berhenti mengelus kepala Lucy. Ia memegang pundak gadis itu lembut. Menarik napasnya dalam sebelum mengatakan sesuatu.
"Aku bisa melepaskan Shinre Jade dan pergi bersama Loofyn kalau kau mau."