
"Kau bisa membuat kue?"
Arzen terlihat terkejut. Ia menyaksikan bagaimana Lucy mengulen adonan dan mencetaknya. Kemudian memanggangnya hingga matang dan harum.
"Tentu saja bisa. Semua orang bisa melakukannya kalau mereka berlatih," sahut Lucy saat ia menarik loyang dari oven.
Kalau dipikir-pikir ada benarnya. Lucy pernah membuat kue ulang tahun Loofyn tahun lalu. Seharusnya Arzen tidak lagi heran.
Tidak, justru ia kagum sekarang. Apalagi melihat usaha dan hasil yang bagus. Kue kering itu terlihat menggodanya.
"Kenapa bisa wangi seperti ini?" tanya Arzen.
"Aku menambahkan vanila dan mentega. Itu yang membuat harumnya seperti ini," ujar Lucy.
Gadis itu sedang menyiapkan kotak makanan dan satu plastik krim. Ia akan menghiasnya dan memasukkanya dalam kotak stainless steel. Ia menyicipinya sepotong untuk memastikan rasanya sudah pas.
"Mau mencoba menghias?" Lucy menyerahkan piping bag berisi krim pada Arzen.
Lelaki itu mengangguk. Percobaan pertama ia hampir membuat krimnya meledak karena terlalu kuat menekan. Hal itu berhasil dicegah karena Lucy memberinya peringatan.
"Jangan pakai tenaga, tetapi pakai perasaan," tuturnya.
Arzen mengernyit, "Perasaan?"
"Iya. Biar lebih mudah, coba kau bayangkan kue ini untuk siapa? Kau mau siapa yang akan memakan kue ini?"
Arzen kembali mencobanya. Kali ini ia benar-benar mempelajarinya. Ia berhasil menghias kue itu meski belum serapi Lucy.
Kue yang bentuknya bintang ia beri krim berwarna kuning. Lucy memberinya pujian. "Akhirnya, lihat kalau kau pakai perasaan kuenya baik-baik saja, kan? Kau tidak mengacaukannya," pujinya.
Arzen mengangguk, "Ini untukmu," katanya sembari menyerahkan kue itu.
"Eh?"
"Aku memikirkanmu saat menghiasnya. Makanya hasilnya rapi karena aku ingin memberikannya padamu," ujarnya tulus.
Lucy merasa tersentuh. Ia menerimanya langsung dari tangan Arzen. Pipinya bersemu merah sama seperti lelaki itu.
"Terima kasih," gumamnya dan Arzen mengangguk.
"Papa mama merah!" celetuk Loofyn membuat keduanya salah tingkah.
Lucy terkekeh dan melanjutkan menghias kue. Mereka membagi dua bagian kue untuk dihias. Lucy menghias kue yang akan ia masukkan ke dalam kotak.
"Mama aku mau," ujar Loofyn sembari mengulurkan tangannya.
Arzen memberinya kue dengan krim putih. Loofyn berterima kasih dan pergi dari meja makan. Anak itu kembali menonton televisi sembari menikmati kuenya.
"Jadi, kau akan pergi sebentar lagi?" tanya Lucy.
__ADS_1
"Benar. Aku sudah bersiap. Kurasa Loofyn sudah biasa aku tinggal," balas Arzen.
Lucy mengemasi kotak berisi kue tadi ke dalam tas kain. "Kalau begitu, berikan ini pada adikmu," ucapnya.
"Eh? Untuk apa memberikan anak itu makanan?" protes Arzen.
Lucy menatapnya serius, "Berikan saja! Jangan dimakan, ini khusus untuk Venus! Kecuali Venus ingin berbagi denganmu itu urusannya," tekannya.
Ia memberikan satu kotak lagi, "Punyamu yang ini, aku sudah menyiapkannya."
"Baiklah. Apa aku sudah boleh pergi?"
Lucy mengangguk, "Hati-hati selama perjalanan, Arzen," pesannya.
"Tentu saja."
Lucy mengantarnya sampai ke pintu. Namun Arzen malah berhenti melangkah dan menoleh ke belakang. Ia tiba-tiba menghambur memeluk Lucy.
Cup!
"Aku bisa gila kalau tidak menciumu," katanya dengan senyum jahil.
Ia pergi begitu saja meninggalkan Lucy yang mematung. Perempuan itu memegang bibirnya yang dikecup singkat. Arzen akhir-akhir ini senang sekali menggodainya.
"Dasar serigala...!"
...>>><<<...
Hari menjelang malam dan burung-burung kembali ke sarangnya. Ia mengawasi kanan kiri untuk memastikan keamanan saat ia membuka portal. Setelah dirasa aman ia mulai bersiap.
"Eclipse o Magical Magis Gate!"
ZWOOOSHH~
Sebuah lingkaran bercahaya muncul di bawahnya. Mantra yang tertulis berputar di tanah yang ia pijak. Perlahan tubuhnya terserap sampai hilang seluruhnya.
Arzen berhasil melakukan teleportasi tanpa gangguan. Ia sedang menuju ke dunia magis dan melakukan pendaratan. Ia masih berpikir bagaimana bisa proses yang ia rasa hanya sekian menit ini bisa memakan waktu 3 hari di dunia manusia.
"Hm? Ini pertama kali aku bisa langsung mendarat di kamarku sendiri," gumamnya.
Ia menyapa seluruh ruangan dengan tatapannya. Masih rapi dan terawat. Sepertinya selalu dibersihkan setiap hari.
"Keadaan istana sepertinya sedang tenang," pikirnya.
Ia keluar dari sana dengan pakaian khas kerajaannya. Membuat para prajurit dan pelayan yang berjaga terkejut. Mereka langsung melakukan hormat pada kaisar mereka.
"Kalian tahu di mana Venus?" tanya Arzen pada salah satu pelayan.
"Saya rasa Pangeran Venus ada di ruangannya. Apa perlu saya panggilkan?"
__ADS_1
Arzen menolak, "Tidak perlu. Aku akan menemuinya langsung. Terima kasih." Ia pergi dari sana.
Ia berjalan sepanjang lorong menuju kamar adiknya. Dari arah kanan persimpangan terlihat Venus berjalan ke arahnya. Tentu saja dengan Micellia yang menjadi pengawal pribadinya.
"Kakak!" panggil Venus membuat Arzen berhenti melangkah.
Micellia berdiri agak jauh dari mereka. Ia menunduk memberi salam kehormatan menyambut kedatangan kaisar. Venus tak mengizinkannya pergi dan itu sedikit membuatnya canggung.
"Ah, kau sedang bersama Micellia rupanya. Baguslah, tadi aku ingin menemui kalian berdua," katanya.
Venus dan Micellia saling berpandangan. "Kapan kakak datang? Biasanya kakak datang malam," ucapnya.
"Hm, benar juga. Sebenarnya di dunia manuia tadi malam, lho," katanya.
"Ayo kita pindah taman permaisuri," ajaknya.
Dua orang itu menurut dan mengekor di belakang Arzen. Sesampainya mereka di taman, Arzen mengajak mereka duduk bersama. Pelayan langsung menghidangkan minuman sesuai perintah Arzen.
"Tinggalkan kami," perintahnya.
"Kenapa membubarkan semua pelayan, kak? Kalau memang rahasia kenapa kita membicarakannya di taman terbuka seperti ini?" tanya Venus tak mengerti.
Arzen bersandar pada kursi dan menghela napasnya. "Ah, aku sudah lama tidak duduk di sini dengan ibu," ujarnya.
Ia benar-benar menikmati suasana asri taman permaisuri. Sesuai namanya, ini adalah taman yang dibangun khusus oleh kaisar sebelumnya untuk ibu Arzen. Sangat luas dan tak pernah luntur cantiknya sejak awal pembuatan.
"Aku hanya ingin bersantai hari ini. Apa tidak boleh?" tanya Arzen.
Micellia tiba-tiba berdiri, "Kalau begitu, saya akan berjaga di luar—"
"Siapa yang mengizinkamu pergi, Micellia? Santai saja denganku," ujar Arzen.
Gadis itu kembali duduk dengan ragu. "Maaf, Yang Mulia," lirihnya.
Arzen mengeluarkan kotak titipan Lucy. Ia menyerahkannya pada Venus. "Itu dari Lucy, ia membuatnya khusus untukmu. Terimalah," katanya.
"Lucy?" gumam Venus dengan heran.
Arzen mengangguk, "Aku akan memperkenalkan dengan resmi suatu hari nanti," ucapnya malu-malu.
Venus menatapnya datar, "Apa dia remaja yang sedang jatuh cinta?" batinnya.
Ia membuka kotak pemberian Lucy. Harum semerbak malah membuatnya waspada. Namun ia tetap membukanya karena terasa menggoda.
"Ini kue kering," ucap Venus.
Ia menatap kagum pada setiap keping kue kering yang ada di dalam. Tersusun indah seperti kotak perhiasan. Arzen tersenyum puas melihatnya.
"Hah, sebentar lagi kau pasti mengagumi manusia yang menjalin kontrak denganku," ujarnya.
__ADS_1
Venus menatapnya tak percaya, "Kau menjalin kontrak batin dengan manusia?!"