Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
About Kindness and Heartwarming Scene


__ADS_3

Hari ini keadaan di istana kekaisaran tenang dan damai. Meski Serena menginap beberapa hari di istana, tak ada keributan yang timbul. Jika biasanya ia akan mencari masalah dengan salah satu penghuni istana kali ini ia benar-benar hanya diam saja.


Gadis itu mengurung diri di kamar selama 2 hari berturut-turut. Sebenarnya saat Lucy mengantarkan makanan spesial sebagai permintaan maaf, Serena jadi banyak diam. Ia sudah mendengarnya dari pelayan yang berjaga di sana.


Lucy tak menduga Serena akan menghabiskan makanan yang ia buat. Walau hingga hari ini Serena belum berbicara padanya ia jadi sedikit lega daripada sebelumnya. Ia mengiriminya surat pun belum dibalas, entah sudah dibaca atau belum.


Hari ini Lucy dan Loofyn bermain di taman yang ada paviliunnya besarnya. Saat itu Serena baru saja selesai mandi dan berdandan rapi. Ia melintasi lorong yang menghubungkan Westolf dan Eastolf dan tak sengaja melihat Lucy dan Loofyn tengah bermain.


Ia memandangnya cukup lama dengan tatapan kosong. Bibirnya terbuka tetapi tak satupun patah kata terucap. Ia bahkan menyuruh dayangnya untuk tidak mengikutinya hari ini.


"Aku sedang ingin menyendiri," katanya lalu dayang itu pergi.


Hari ini Serena tak semencolok biasanya. Jika sehari-hari ia muncul dengan gaun banyak renda dengan warna kentara. Hari ini ia menggunakan gaun polos bahkan hanya memakai anting-anting dan cincin.


Ia seperti bukan Serena karena hilangnya khas nyentrik penampilannya. Riasannya juga sederhana, hanya memoles bedak dan lipstik. Tak ada bulu mata palsu atau celak alis yang biasanya senada dengan warna gaunnya.


Kalau ada Venus lewat, ia pasti akan diledeki orang sakit yang baru keluar dari rumah tabib. Beruntungnya Venus dan Micellia tak ada di istana. Mereka berdua pergi menilik desa di barat kekaisaran.


"Mama, ada bibi," ucap Loofyn yang menunjuk ke arah Serena.


Saat itu Serena menyadari ia ketahuan mengintip. Ia kira ia hanya melamun, tetapi ternyata ia menatap kedua orang di sana. Ia cepat-cepat mengalihkan pandangannya dan berlalu.


Karena itu, ketika Lucy menoleh ia hanya melihat sekilas gaun jingga yang dikenakan oleh Serena. "Sebentar, mama mau bicara sama bibimu. Loofyn tunggu di sini dan duduk manis," pintanya yang langsung diangguki oleh anak itu.


Ia berlari mengejar Serena yang sudah hampir belok di persimpangan. "Nona Serena, tunggu!" serunya.


Serena tak menoleh, hanya melirik dari ekor matanya. Ia juga tak berlari atau menghindar ketika Lucy semakin dekat. Akhirnya, ia berbalik badan saat Lucy meraih tangannya untuk digenggam.


"Apa? Kau mau memarahiku karena menggangguku ketika kalian bermain? Kau mau meledekku karena aku lewat seperti mayat berjalan? Kau mau mengolokku karena ditolak oleh Loofyn?" berondongnya dengan tatapan datar.


Lucy sedang mengatur napasnya untuk berbicara. Ia menggeleng, "Tidak, nona. Saya mendatangi nona karena ingin meminta maaf," ujarnya.


"Tidak perlu. Kau sudah mengatakannya saat mengirimiku makanan dan surat, kan?" ketus wanita itu.


"Tetap saja, saya harus menemui nona langsung untuk meminta maaf dengan benar," sahut Lucy.


ia membungkuk dalam, "Saya minta maaf atas kejadian hari yang lalu, nona Serena."


Mata Serena melebar sekilas. Ini pertama kalinya seseorang meminta maaf padanya. Apalagi dengan perasaan yang tulus dan membungkuk dalam seperti Lucy.


Ia memalingkan wajahnya, "Buat apa kau minta maaf kalau Loofyn tetap saja tak menerimaku?" gumamnya.

__ADS_1


Lucy mendongak, "Tenang saja! Loofyn bukan anak yang seperti itu. Aku yakin ia hanya bingung karena sudah lama tidak pulang ke sini," ujarnya.


Ia menarik tangan Serena. "Ikut saya. Saya bisa membujuk Loofyn untuk berbaikan dengan nona," ujarnya yakin.


Serena pasrah saja mengikuti langkah kaki Lucy. Ia berada di lorong dan menunggu Lucy membujuk anak itu. Ia melihat bagaimana usaha seorang manusia mampu membujuk anak werewolf.


"Kau tak ingin menimbrung?" tanya Arzen yang baru saja melintas.


Serena mendesis, "Bukan urusanmu. Lagipula, gadis itu menyuruhku untuk menunggu di sini," ujarnya.


Arzen tak ingin ikut campur. Ia melihat dari kejauhan dan akan selalu mengamati Lucy. Bibirnya membentuk garis senyum.


"Baiklah, aku akan melihat saja kali ini," putusnya.


Lucy berlari dari taman menghampiri Serena. "Nona Serena ayo ikut dengan saya," ajaknya.


"Hei, kau bahkan tidak menyapaku," gerutu Arzen setelah mereka berdua menjauh.


Serena menunduk ragu, "Aku sebaiknya tak perlu—"


"Tenang saja. Kalian harus berbaikan! Aku tak mau mendidik Loofyn jadi anak durhaka yang tidak menghormati bibinya!" sela Lucy menyemangati Serena.


"Loofyn, lihat mama mengajak siapa?" Ia menyapa anak yang sedang duduk di paviliun itu.


Lucy mengangguk, "Benar! Loofyn main sama bibi dulu, ya? Mama harus menyelesaikan sesuatu," katanya.


Loofyn terlihat ragu dan hanya menatap mereka berdua. "Dengar, mama tahu Loofyn anak manis yang baik hati. Kalau Loofyn anak yang baik maka harus berteman dengan semua orang," tuturnya.


"Mama dan papa akan senang kalau Loofyn mau berteman dengan bibi Serena."


Loofyn menatap Serena. "Main sama bibi?"


Lucy mengangguk, "Bibi Serena sedih kalau Loofyn tidak mau main sama bibi. Apa Loofyn anak baik kalau membuat orang lain sedih?"


Loofyn menggeleng dan merangkul Lucy. Serena menghela napas, "Sudahlah, sepertinya memang tidak bisa. Anggap saja ini karmaku," sesalnya.


Lucy menggeleng dan menahan Serena. Ia kembali membujuk Loofyn tetapi bukan dengan kata-kata. Tangannya mengusap lembut kepala anak itu.


"Bibi Serena orangnya baik, lho. Mama akan senang kalau Loofyn mau menuruti mama dan bermain dengan bibi," bisiknya.


Serena menatap sedih, alisnya bertaut. "Sudahlah, Lucy. Tak perlu dipaksa biar aku pergi saja—"

__ADS_1


Sret!


Ia tertahan karena Loofyn menarik gaunnya. Ia menyembulkan wajahnya dan menatap Serena. "Aku mau main sama bibi," katanya.


Lucy tersenyum senang. Ia segera meninggalkan mereka berdua di paviliun taman. Kemudian berhati-hati dan mengamati dari jauh.


"Ekhem, kau tak menyapaku?" Rupanya Arzen masih berdiri di sana.


Lucy memukulnya pelan, "Diamlah. Kita lihat saja mereka dari sini," bisiknya.


Di depan sana Serena masih bertatapan dengan Loofyn. Anak kecil itu juga menatapnya lucu. "Bibi mau main?"


Serena mengangguk pelan. Loofyn mengambil bolanya, "Mau main?" tanyanya lagi.


Serena mengangguk lagi. "Apa kau membenciku, Loofyn?" tanyanya lirih.


Loofyn menggeleng, "Tidak. Fyn tidak benci," balasnya.


"Apa kau mengenalku, Loofyn?" Serena kembali bertanya dengan tatapan kosongnya.


Loofyn mengangguk, "Bibi!" Ia menunjuk perempuan itu dengan riang.


"Bibi ena!" (Bibi Serena) panggilnya.


Saat itu Serena tahu, pertahanannya diruntuhkan oleh makhluk imut di hadapannya. Air mata lolos begitu saja dari sudut matanya. Ia menangis di depan anak kecil yang tak tahu apa-apa.


"Ah, kakak... bahkan aku bisa melihatmu dari wajahnya," gumamnya.


Loofyn menggeret gaun Serena. "Bibi nangis," katanya.


"Tidak. Ini kelilipan!" elaknya.


Namun ia tak bisa berbohong. Air matanya terus deras membasahi pipi dan gaunnya. Loofyn yang melihatnya juga ikut menangis.


"Huwee bibi nangis...!" isaknya.


Lucy ikut terharu melihat dua orang di sana saling berpelukan. Ia yakin baik Serena maupun Loofyn menangis saling melepas rindu. Ia menyeka air mata yang belum lepas.


"Astaga, kenapa aku ikut terbawa perasaan..." ujarnya.


Arzen menepuk kepala Lucy. "Karena kau memang begitu. Syukurlah usahamu berhasil, aku percaya padamu kau bisa melakukannya," pujinya.

__ADS_1


"Huwee..."


"Hei, kenapa kau ikut menangis?!"


__ADS_2