Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Daging Burung Jenjang


__ADS_3

Lucy menghela napasnya melihat Arzen. Ia pergi ke halaman belakang setelah menidurkan Loofyn. Gadis itu dibuat pusing dengan tingkah laku tidak biasa tamunya ini.


"Apa yang akan kau lakukan pada burung itu? Hah, dari mana kau mendapatkan burung jenjang sebesar itu?" tanya Lucy.


Arzen meliriknya dari sudut mata. "Aku akan memakannya," ujarnya kesal.


"Tunggu, jadi kau berencana untuk menjadikannya menu makan malam?" tanya Lucy dengan terkejut.


Arzen mengangguk, "Dasar manusia, tidak bisa berterima kasih!" decihnya.


Lucy menampilkan raut tidak setuju. Ia berkacak pinggang, "Apa maksudmu, ha? Kalimat itu tidak pantas diucapkan oleh makhluk angkuh sepertimu!" katanya.


"Hah, sudahlah. Aku terlalu lelah untuk berdebat dengan hal di luar nalar," ujarnya kemudian.


Ia berjongkok di samping Arzen. Matanya mulai memperhatikan pria itu. Ia tahu ada luka meski sempat tertutup oleh sebagian rambut Arzen yang memanjang.


"Bagaimana kalau kau obati dulu lukamu? Aku lihat ada banyak—"


"Sudah sembuh."


"Eh?"


Arzen menoleh padanya. Rompi yang membuatnya setengah telanjang itu memperlihatkan hampir seluruh tubuh bagian atasnya. Lucy terkejut karena sama sekali tak ada satupun luka di sana.


"Eh? Apa aku salah lihat? Tadi di sini ada luka, di sini keluar darah, di sini..." ucap Lucy sembari menunjuk di mana letak luka yang ia maksud.


"Hah, memangnya aku manusia sama sepertimu yang tidak bisa menggunakan sihir?! Payah, luka sekecil itu tak akan bisa melukai makhluk kuat sepertiku!" ujar Arzen dengan aksen bangganya.


Lucy menyipitkan matanya. Ia merasa menyesal telah menanyakan keadaan pria itu. Makhluk magis memang seharusnya tak diberi kemanusiaan.


"Hm, baguslah. Kau boleh bagus dalam sihir, tetapi kau sangat buruk dalam hal itu!" Lucy menunjuk ke arah bangkai burung jenjang.


Arzen menghampiri buruannya, "Aku akan memakannya sendiri kalau kau tak mau," katanya.


"Eh? Kau akan memakannya mentah-mentah?!"


Arzen mengangguk, "Terlalu lama kalau aku harus kembali ke duniaku dan menyuruh juru masak di istana menghidangkannya untukku," ujarnya dengan sedikit polos.


Lucy tak bisa bohong bahwa ia mual. Ia memang bisa makan salmon mentah, tetapi tidak dengan burung mentah. Tangannya menutup mulut dan hidung agar ia tidak jadi muntah.

__ADS_1


"Kau mau?" tanya Arzen.


"Kau gila?!"


"Kalau tidak mau tidak perlu berteriak seperti itu. Dasar manusia, berani sekali membentakku!" geram Arzen.


Ia menilik di balik jendela, "Mana Loofyn? Aku akan makan ini dengannya. Dia belum makan malam—"


Lucy menghadang Arzen yang hendak masuk dengan tangannya. "Tidak akan kubiarkan orang gila macam-macam dengan anak kecil. Apalagi sampai mengajaknya makan itu!"


"Kau membiarkan anakku kelaparan, ha?!" sergah Arzen.


"Aku sudah memberinya makan dengan makanan normal! Dia sudah tidur setelah menyusu. Kau dilarang mengganggu!" Lucy menatap marah pada pria serigala itu.


Perempuan itu menggelengkan kepalanya. Ia memijat pelipis berusaha untuk tetap tenang di kala situasi membingungkan ini. Padahal seharusnya ia cuti dengan bersantai-santai malah dihadapkan oleh pria aneh ini.


"Letakkan itu, aku akan berbuat sesuatu," ujar Lucy.


Ia menyingkap rambutnya ke belakang telinga. "Akan aku buat hasil buruanmu tidak sia-sia," katanya dengan yakin.


Ia meminta dan mengajari Arzen untuk membersihkan burung itu sebelum diolah. Sementara itu, ia pergi ke dapur mengambil banyak bumbu. Lucy juga membawa panggangan dari dalam gudang.


"Kau bisa mengangkat itu?" tanya Arzen melihat Lucy memasang alat panggangan itu.


Arzen mencoba untuk mengangkatnya. Baginya memang tidak berat karena ia laki-laki dan juga makhluk magis. Karena dari penampilannya, ia mengira alat pemanggang itu berat jika diangkat.


"Mau kau apakan burung jenjangnya?" tanya Arzen melihat Lucy menaburi bumbu pada daging burung yang sudah bersih.


"Kau duduk saja di sana. Ah, atau kau bantu aku ambil kayu bakar di dalam gudang. Tidak perlu banyak, mungkin 3 balok sudah cukup," ujar Lucy.


Arzen yang dasarnya tidak suka diperintah itu menurut. Ia mengikuti rasa penasarannya pada Lucy si manusia. Pria itu berdiri di dekat Lucy dan mengamati setiap proses yang dilakukan olehnya.


"Kau mewarnai daging burung?" tanya Arzen.


Lucy menoleh kaget, "Kau... sepolos ini?"


Arzen masih menatapnya tak mengerti. Lucy ingin menepuk jidat kalau tangannya tidak kotor. Ia menghela napas seolah bertanya ke mana sisi berkarisma Arzen pergi.


"Apa kau tidak pernah melihat kokimu masak?" tanya Lucy.

__ADS_1


Arzen menggeleng, "Untuk apa? Aku hanya perlu duduk setelah hidangan matang," ujarnya.


"Dasar serigala!" decih Lucy.


"Hei, apa maksud—"


Lucy menyela, "Dengar! Inilah pentingnya kau menghargai sebuah proses sekecil apapun itu. Yang aku lakukan ini bukan mewarnai, tetapi memberi bumbu."


"Kalau tidak diberi rempah, burung ini tidak akan ada rasanya!" lanjutnya.


Arzen mengangguk saja. Selama hidup di istana, ia hanya tahu kalau masakan yang ia makan sudah ada rasanya dari alam. Ia hanya perlu memasak sampai matang dan aman untuk dimakan.


"Jadi ini alasan kenapa daging panggang yang kumakan berwarna cokelat," pikirnya.


"Aku tak tahu ada serigala bodoh seperti ini," gumam Lucy yang masih bisa didengar oleh Arzen.


Kalimatnya membuat pria itu ingin menerkam Lucy hidup-hidup. Ia bisa saja menurunkan hujan badai dari dunia magis untuk memberi pelajaran kepada manusia. Hanya saja, ia bukan tipe orang yang suka menghamburkan energinya secara percuma.


"Nah, kita tunggu beberapa menit sebelum dipanggang." Lucy menutup daging marinasi di sebuah wadah agar bumbunya meresap.


Arzen menyatukan alisnya bingung, "Kenapa ditinggal?"


Lucy memutar bola matanya dengan malas. "Hah, kau ini hanya tahu akhirnya saja daripada prosesnya. Bumbunya biar meresap ke dalam daging, kalau tidak begitu hanya manis di luar," ujarnya menjelaskan.


"Kau bersihkan dirimu di kamar mandi sebelum makan." Ia memerintahkan Arzen untuk sekedar cuci tangan atau mandi sekalian.


Arzen menolak dengan mengatakan bahwa ia telah menggunakan sihir untuk tetap bersih. Luka-lukanya memang sudah hilang tak berjejak. Namun, Lucy bersikeras menyuruh pria itu menggunakan air untuk membersihkan diri.


"Aku tahu kau bukan kucing yang takut air, cepat basuh dirimu!" perintahnya tegas.


Pria itu menurut saja. Ia hanya menggunakan air untuk membasuh muka dan tangan. Pria itu sempat penasaran dengan botol-botol berisi cairan wangi di kamar mandi Lucy sebelum akhirnya memilih cuek dan keluar dari sana.


"Sudah? Baguslah, kau terlihat lebih—" Ucapan gadis itu terhenti ketika ia berbalik badan dan menemukan Arzen sedang menyibak rambutnya yang basah.


Otot-otot dan perut seperti lekuk roti itu terpampang jelas di hadapannya. Arzen melepas rompinya yang basah dan mengibaskannya agar cepat kering. Pria itu sedang malas menggunakan sihirnya.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?!" tegur Arzen mengetahui Lucy terus menatapnya.


Perempuan berusia 25 tahun itu mengerjapkan matanya. Ia berbalik dan menggeleng, "Tidak ada. Sudahlah, cepat pakai bajumu dan bantu aku memanggang daging!"

__ADS_1


"Aku kepanasan dan harus melepas baju agar mana dalam tubuhku tidak meledak," ujar Arzen.


"Terserah kau! Pokoknya cepat bantu memanggang daging burung ini kalau kau ingin makan malam!"


__ADS_2