Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
"Ada Apa Denganku?" -Lucy


__ADS_3

"Jadi, seharian ini kau mengikutiku?" tanya Lucy penuh selidik.


Arzen mengangguk polos. Lucy menghela napasnya, "Tidak ada lain kali. Kasihan tetangga mengurus Loofyn kalau begini terus caranya," katanya.


Keduanya berjalan di trotoar menuju perumahan. Arzen ketahuan oleh Lucy ketika gadis itu keluar dari kantor. Ia sengaja menepi ke tempat sepi dan menegur Arzen.


"Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?" tanya Arzen.


Lucy menghela napas, "Firasatku saja."


"Apa yang kau lakukan, hm? Kenapa membuntutiku begitu?" tanya Lucy.


Arzen tak menjawab. Lucy sudah tahu semuanya meski ia mengelak. Gadis itu menepuk lengannya.


"Kalau ini ada kaitannya dengan pelaku, berhentilah. Jangan melakukan apapun untuk membalasnya," ujar Lucy.


Arzen tak terima, "Tetapi dia sudah mengurungmu sampai masuk rumah sakit!" protesnya.


Ia menatap nanar Lucy. Tangan gadis itu kemarin ditusuk jarum untuk mengalirkan infus. Ia tak ingin melihatnya lagi.


"Sudahlah. Aku bersyukur kau datang tepat waktu. Lihat, berkatmu aku jadi sehat," kata gadis itu.


Ia tak memperlihatkan kesedihannya. Raut wajahnya berbeda dari yang kemarin. Malam itu Lucy sangat pucat tetapi hari ini sangat segar bugar.


"Aku tahu, kau mengaliriku mana sihirmu, kan? Tak kusangka ternyata bisa berguna di dunia manusia," ujarnya.


Lucy tersenyum, "Terima kasih, Arzen."


Kedua mata pria itu melebar berbinar. Lucy mengulum senyum cantiknya lagi. Hal itu membuatnya merasa lega.


Arzen ikut tersenyum dan mengangguk. "Aku akan mengikutimu kali ini," gumamnya.


Sebenarnya ia ingin sekali menghabisi Karen. Kalau perlu ia mengirim wanita itu ke dalam kotak kegelapan. Namun, gadis yang di depannya ini meminta padanya untuk tidak melakukan itu.


Ia yakin, Lucy bukan sekedar manusia. Mana ada orang tidak dendam dengan orang yang menjahatinya. Arzen kembali menaruh kagum.


"Kau melamun? Sudah kubilang lupakan saja kejadiannya," tegur Lucy.


Arzen mengalihkan tatapannya, "Ah, itu... sebenarnya aku berencana—"


"Kutraktir es krim dan berhentilah," sahut Lucy.

__ADS_1


"Setuju."


Keduanya berjalan bersama menuju minimarket. Mereka membeli es krim untuk Loofyn dan tetangga juga sebagai ramah tamah. Keduanya pulang dengan mode tak terlihat Arzen.


"Permisi, terima kasih sudah menjaga Loofyn. Ini hanya makanan kecil untuk anak Anda. Terima kasih sudah berteman baik dengan Loofyn," ucap Lucy sembari memberikan es krimnya pada ibu tetangga.


Mereka menerimanya dengan antusias. Loofyn kembali ke pelukan Arzen. Mereka pulang dan istirahat di ruang tengah.


"Kalian mandi duluan saja," ujar Lucy ketika ia mendaratkan bokongnya di sofa.


Gadis itu merebah melepas penat sepulang kerja. Punggungnya pegal-pegal ia sandarkan pun tak lekas pulih. Arzen yang melihat itu mendekat.


"Mau coba sihirku?" Ia memunculkan cahaya kekuningan dari tangannya.


Lucy ragu-ragu meski hanya melihatnya. Ia mengangguk, "Hmm, baiklah. Tolong, ya?"


Telinga dan ekor Arzen mencuat ke atas. Ia tak dapat menyembunyikan rasa senangnya saat Lucy minta tolong padanya. Ekspresinya memang datar, tetapi detak jantungnya tidak bisa berbohong.


Ia mencoba mengobati pundak dan punggung Lucy dengan sihirnya. Perlahan ia arahkan sedikit demi sedikit. Arzen menelan kegugupannya melihat tengkuk gadis itu.


"Lunaria Healing." Ia mengucap mantra sihir cahaya bulan penyembuh.


Lucy perlahan merasakan efeknya. Rasanya seperti rasa sakit dan pegalnya terangkat. Padahal Arzen tak menyentuhnya pundaknya untuk memijat.


Arzen menyudahi sihirnya karena dirasa sudah cukup. Lucy bisa bergerak lebih bebas sekarang. Ia melepas blazer dan meletakkan tasnya di rak dalam kamar.


"Kalian mandi saja duluan, aku akan memasak makan malam biar sekalian kotor," ujarnya yang langsung dilakukan oleh dua serigala itu.


Lucy segera mengeluarkan bahan masak. Malam ini ia memilih sup krim ayam. Ia tak meraciknya ala rumahan, melainkan membeli yang siap masak.


"Sudah selesai? Makan saja duluan selagi aku– kyaaa!" Lucy menjerit ketika ia menolehkan wajahnya.


Arzen dan Loofyn menatapnya terkesiap. Mereka berdua tak tahu mengapa gadis itu tiba-tiba berteriak. Wajah Lucy juga memerah saat disembunyikan dengan kedua tangannya.


"A–a–apa yang kau lakukan, Arzen!?" pekiknya.


Arzen menangkat kedua telinganya, "Katamu suruh mandi. Aku sudah mandi," ujarnya.


Lucy menatap tajam, "Kenapa hanya pakai handuk?! Mana bajumu?!" pekiknya lagi.


Arzen terpaksa menutup kedua telinga Loofyn. Ia mendengus dan meminta Loofyn masuk ke dalam kamar Lucy lebih dulu. Ia berjalan menghampiri Lucy.

__ADS_1


"Apa maksudmu berteriak di depan Loofyn, ha?" omelnya.


"Itu salahmu! Aku terkejut karena kau keluar setengah telanjang begitu!" sahut Lucy.


"Memangnya kenapa? Aku sudah biasa begini di istana," sahut Arzen.


Ia malah semakin mendekat membuat degup jantung Lucy tak karuan. Aroma maskulin sehabis mandi menyeruak menyusup indra penciuman gadis itu. Ia yakin bisa pingsan kalau Arzen tak berhenti sekarang juga.


"Kau ini kenapa menutup wajahmu terus?" Arzen semakin mendekat.


"Berhenti... ini tidak bagus untuk jantungku," gumam Lucy.


Ia tak bisa berbohong, tubuh atletis Arzen sangat memukau. Lekuk otot perut terlalu menggoda matanya. Pria itu sepertinya benar tak menyadari perbuatannya bisa membuat seorang wanita kejang.


"Bodoh...! Cepat pakai baju atau tidak makan malam hari ini?!" Lucy mendorong Arzen menjauh darinya.


Arzen menyipitkan matanya, "Aku bisa mendengarmu tak perlu sampai berteriak. Loofyn bisa ketakutan dan menangis," katanya.


Lucy menatap Arzen dengan berkaca-kaca. Arzen tak menyadari sikapnya saat ini tak baik untuk Lucy. Gadis itu tak bisa melepad pandangan dari pesona pria itu.


"Apa kau terbiasa memperlihatkan itu pada orang-orang di sana?" lirih Lucy sembari mengalihkan matanya.


"Kenapa? Aku seorang kaisar, siapa yang melarangku?"


Entah mengapa Lucy jadi sedikit sedih. Ia sedikit menundukkan kepalanya. "Berarti banyak wanita yang melihatmu seperti itu, ya?"


"Eh?"


"Tidak ada! Lupakan! Cepat pakai baju dan makan malam, aku akan mandi!" Lucy cepat-cepat mengalihkan topik pembicaraan.


Gadis itu buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Meninggalkan Arzen yang bingung dan Loofyn yang menatap keduanya polos. Ia tak langsung mandi, melainkan bersandar di belakang pintu.


"Lucy, jangan lama-lama biar kita bisa makan bersama. Loofyn tidak mau menyentuh piringnya kalau tidak ada dirimu," ujar Arzen dari luar.


Lucy tak menyahut. Ia mulai membasuh dengan air hangat dari shower. Berusaha melupakan apa yang ia rasakan tadi ketika Arzen bilang ia terbiasa setengah telanjang di istana.


"Hah, aku kenapa bersikap seperti itu, ya?" pikirnya.


Ia menyesal telah memekik pada pria itu. Arzen sepertinya benar-benar tidak tahu tindakannya tadi sangat berbahaya. Bahkan saat ini, wajah Lucy masih memerah.


Ia jadi gemar menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Jantung yang berdetak tenang jadi bergemuruh. Sesak cemas menumpuk di dadanya.

__ADS_1


"Aku ini sebenarnya kenapa?"


__ADS_2