Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Before Calamity


__ADS_3

"Karena itu, kakekku menentang pernikahan mereka," pungkas Arzen.


Lucy jadi campur aduk perasaannya setelah mendengar cerita dari lelaki itu. Kisah cinta kaisar dan permaisuri sebelumnya tidak mulus. Banyak pertentangan yang harus mereka hadapi.


"Meski begitu, kisah cinta mereka indah sekali. Aku berharap juga ada orang yang mencintaiku seperti kaisar mencintai permaisuri," ucap Lucy.


Arzen melihat gadis itu. Ia merapikan anak rambut yang mengganggu. Diselipkannya ke belakang telinga hingga ia nampak jelad wajah Lucy.


"Aku tidak yakin aku bisa seperti ayahku," celetuk Arzen.


Lucy mendengarnya langsung merona di pipi. "Begini saja sudah cukup," cicitnya.


"Apa?"


Lucy menatap Arzen, "Aku suka Arzen yang menjadi dirinya sendiri."


Deg!


Arsen merasa dirinya dibawa melayang. Hatinya berdesir saat Lucy menatapnya lembut. Ia tak bisa menyembunyikan raut wajah senangnya.


Tiba-tiba ia memegangi kedua pundak gadis itu. "Lucy, apa kau yakin?"


Lucy mengangguk. Arzen menaruh kepalanya di pundak gadis itu. Ia menghela napasnya lega di sana.


"Apa kau yakin ingin diriku sendiri?" tanyanya dan Lucy mengangguk.


"Apa kau yakin? Aku sangat kasar dan tidak kenal ampun. Aku juga angkuh dan harga diriku setinggi langit. Aku tak suka diatur tak suka dikekang," ungkapnya.


Lucy mengangguk, "Kalau kau memang seperti itu memangnya kenapa? Kalau aku masih mencintaimu itu semua tidak berarti, kan? Tak ada yang mengalahkan rasa cinta di hati seseorang," tuturnya.


Arzen tersenyum kini ia tahu bagaimana rasanya jatuh cinta pada orang yang tepat. Kini ia tahu mengapa ia jatuh hati pada gadis itu. Ia kembali mengecek leher Lucy dengan lembut.


"Lucy, tiba-tiba aku merasa takut," katanya.


Lucy menyahut heran, "Kenapa?"


"Aku takut sedang bahagia seperti ini malah membuatmu jauh dariku. Aku takut suatu hari nanti kamu pergi dariku. Aku takut kamu akan pergi meninggalkanku di saat aku menjadi diriku yang terburuk," ungkapnya dengan suara parau.


Lucy mengelus pipi Arzen, "Jangan takut. Aku pun takut kalau kau melakukan semua itu padaku," ucapnya.


"Aku takut tetapi aku mencoba percaya padamu," pungkasnya.


Arzen kembali tersenyum, "Ah, apa kau keturunan malaikat sampai bisa selembut ini?"


"Sembarangan. Kau ini tidak sedang minum tetapi bisa mabuk, ya?" canda Lucy.


Arzen terkekeh, "Benar, aku dimabuk dirimu."


Ia kembali duduk setelah berlama-lama menyandar gadis itu. Ia menangkup wajah gadis itu dan membawanya mendekat. Kedua manik mata saling bertatap sendu.

__ADS_1


"Aku sangat mencintaimu," ucap Arzen dalam hati sebelum akhirnya ia mengulum bibir Lucy.


Gadis itu tak bisa menolaknya. Arzen melakukannya dengan sangat lembut. Ia membalas pagutan itu dengan senang hati.


Sejenak mereka melepaskan ciuman mereka . Keduanya aling bertatapan mengambil napas. Sedetik kemudian mereka kembali berciuman mesra.


"Aku menginginkanmu," batin Arzen.


Mereka melepaskan ciuman dan saling melempar senyum. Arzen berdiri dan merogoh saku celananya. Ia menghadap Lucy dengan membawa sebuah cincin berlian.


"Lucy, maukah kau men—"


BRAK! BOOM!


"Arzen!" Lucy memekik dan memeluk erat pria itu.


Mereka tak sadar menjatuhkan cincin berlian itu entah ke mana. Arzen segera memeluk erat Lucy ketika terdengar sebuah ledakan dari arah luar. Padahal Istana Permaisuri letaknya sangat jauh dari benteng depan.


Arzen melihat bagaimana seisi istana kalang kabut keluar untuk menyaksikan apa yang sedang terjadi. Para prajurit pun segera berkumpul melindungi mereka berdua. Tiba-tiba dari arah depan seorang pelayan berlari tergopoh-gopoh.


"Apa yang terjadi?!" pekik Arzen sambil memeluk Lucy yang ketakutan.


Pelayan itu panik, "Yang Mulia Anda harus segera menyelamatkan diri!"


"Serangan musuh melempar peledak ke depan benteng, Yang Mulia!"


Ia membawa Lucy di punggungnya. "Pegangan yang erat aku akan mengantarkanmu ke tempat aman!"


"Selamatkan seluruh warga istana ke tempat yang aman!" perintahnya sebelum ia pergi dari sana.


Arzen berdecak kesal. Tiba-tiba saja kericuhan mengganggu momennya. Pria itu berlari menuju Eastolf untuk menjemput Loofyn dan Serena.


Tepat sekali, ia melihat serigala berwarna dengan surai oranye yang tubuhnya lebih kecil dari Arzen. Itu adalah Serena yang sudah berubah wujud. Wanita itu memang memiliki beberapa helai rambut berwarna jingga.


"Serena!" panggil Arzen.


Serigala betina itu menoleh, "Arzen! Lucy! Apa yang terjadi?"


Arzen menggeleng. Tak ada waktu untuknya menjelaskan, karena ia sendiri pun belum tentu tahu apa yang sedang terjadi di luar sana. Ia mengarahkan agar Serena mengikutinya ke tempat persembunyian yang aman.


"Bibi! Fyn takut!" rengek Loofyn yang berada di punggung Serena.


"Bertahanlah, sebentar lagi sampai!" sahut Serena.


Arzen membawa mereka ke menara sihir. Di sana adalah tempat netral yang tidak memihak bangsa manapun. Namun kuasa mereka berada di bawah kekaisaran.


"Tunggu di sini. Jaga Loofyn, aku akan segera kembali!"


Setelah menurunkan Lucy dan Loofyn, kedua serigala itu pergi. Algre selalu pemimpin menara segera membawa mereka masuk ke dalam. Para murid penyihir bersatu membuat perlindungan di perbatasan.

__ADS_1


"Astaga apa yang sedang terjadi?!" tanya Lucy.


Algre menggeleng, "Sudah pasti musuh kita adalah Kerajaan Hwooxeas," katanya.


Lucy tak mengerti. Ia tak lagi bertanya dan hanya memeluk anak itu. Ia benar-benar ketakutan sampai seluruh badannya gemetar.


"Tenang, mama di sini," bisiknya pada Loofyn.


"Kalian akan aman di sini," ujar Algre.


Sementara itu di luar tepatnya di Istana Kekaisaran, Arzen dan Serena berlari mencari Venus dan Micellia. Dua orang itu belum nampak sejak pagi tadi. Rupanya mereka sudah ada di depan istana utama.


"Kakak, syukurlah datang tepat waktu!" pekik Venus.


"Katakan apa yang sudah terjadi?! Kenapa ledakannya terdengar sampai Istana Permaisuri?!"


Venus menjelaskan apa yang baru saja terjadi. Ia melihat dari jauh ketika pulang bersama Micellia dari kunjungan desa. Ada segerombolan pasukan yang membawa meriam lalu menembakkannya ke depan gerbang benteng.


"Di sana berkibar bendera Kerajaan Hwooxeas!" ucap Micellia.


Arzen menggeram, "Datang juga mereka."


"Apa warga sudah diselamatkan?" tanya Arzen.


Micellia mengangguk, "Saya sudah mengatur pasukan untuk membawa mereka ke tempat yang aman, Yang Mulia!"


"Bagus, sekarang kita hadapi dulu apa yang ada di depan sana," ujar lelaki itu.


Ia menoleh pada Serena, "Kau tidak boleh ikut. Pergilah bersama Lucy dan Loofyn!" perintahnya.


"Tidak! Aku juga ingin melawan mereka! Aku ingin membalaskan dendam kakak—"


"Serena dengarkan aku!" sahut Arzen menyela kalimat gadis itu.


Serena terkesiap. Arzen menatapnya, "Aku harus melindungimu karena itu kau harus pergi bersama mereka!" pekiknya.


"Arzen, kenapa?!"


"Karena aku sudah berjanji pada kakakku dan kakakmu! Karena itu pergilah, Serena!" Arzen berlari meninggalkan serigala betina itu.


Serena melebarkan matanya yang mulai berkaca-kaca. Ia menahan tangisnya lalu berlari dari sana. Ia kembali menuju menara sihir.


"Dasar pengecut, bahkan hari inipun aku tak bisa membalaskan dendam kakakku!" batinnya.


>>><<<


Sementara itu kaisar di surga:


"Dasar tidak tahu sopan santun anak satu ini! Bisa-bisanya berciuman di depan lukisanku dan permaisuri!" >_<)/

__ADS_1


__ADS_2