Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Rekan Kerja Sejak SMA Lucy


__ADS_3

"Lucy, selamat pagi! Wah kau selalu berangkat sepagi ini?"


Seseorang menyapa dari arah belakang. Gadis itu menoleh dan tersenyum. "Selamat pagi juga, Peter. Kau juga berangkat sepagi ini rupanya," balasnya menyapa.


Pria itu adalah rekan kerja Lucy, Peter Brownstone. Dia adalah manajer pemasaran di perusahaan. Mereka sebenarnya pernah satu kelas saat SMA.


"Ini pertama kalinya kita berjumpa setelah kelulusan," celetuk Peter.


"Tidak juga, kita kan satu kantor selama dua tahun," sahut Lucy.


Peter mengusap tengkuknya, "Meski begitu, kita tidak pernah saling menyapa seperti ini. Kau lebih sering bertemu dengan CEO daripada aku," ucapnya melirih di akhir kalimat.


Suasana menjadi hening ketika mereka memasuki lift. Lucy tak mengatakan apapun untuk menanggapi. Ia tak punya topik menarik untuk dibicarakan, begitu juga dengan Peter.


Namun, ketika lift mulai berjalan, Peter menolah pada Lucy yang berdiri jauh darinya. "Bagaimana kalau kita makan siang bersama nanti? Sudah lama sejak masa-masa sekolah," ujarnya.


Lucy nampak berpikir, "Boleh juga, kabari aku nanti," sahutnya menerima tawaran Peter.


Dalam hati, pria itu ingin berteriak senang. Ia tak menyangka kalau gadis itu akan menerima tawarannya. Karena selama ini, ia hanya bisa memperhatikannya dari jauh tanpa bisa menyapa.


Ia tak bisa bukan berarti tak mau. Lucy selalu dikelilingi oleh orang penting di perusahaan. Tak heran sebab jabatannya adalah sekretaris CEO.


Gadis itu jarang sekali turun ke lantai bawah karena terus berada di dekat ruangan CEO. Ruangannya sendiri berada di lantai 7, sedangkan ia berada di lantai 4. Terpaut 3 lantai untuk bisa menyambangi Lucy.


"Aku tahu ini telat, bagaimana kabarmu dan hari-harimu selama ini?" tanya Peter.


Lucy menghela napas ringan, "Yah, cukup tenang dan sedikit ringan," ujarnya.


Di kepalanya ia membayangkan keadaan rumah saat ini. Pasti berantakan lagi karena ada dua makhluk magis yang siap mengacak-acak seisi rumah. Ia menduga kalau sekarang Arzen dan Loofyn tengah memakan sesuatu dari kulkas.


"Begitu, ya? Pantas saja kau terlihat senang akhir-akhir ini. Tidak suram seperti dulu," sahut Peter dengan bercanda di akhir kalimat.


Lucy terkekeh, "Benarkah? Baguslah, aku juga jadi semangat untuk bekerja," ujarnya.


Mendengar itu sebenarnya Peter sedikit tidak suka. Ia mengira kalau Lucy semangat sebab selalu bersama Sean, CEO mereka. Ini adalah kesempatan langka bisa bersama Lucy tanpa ada Sean.

__ADS_1


Ting!


"Eh? Kau turun di lantai 4 juga, Lucy?" tanya Peter saat mereka melangkah keluar dari lift.


Lucy mengangguk, "Ada berkas yang harus ku fotocopy. Mesin di atas sedang diperbaiki," katanya.


"Mau aku bantu? Kebetulan aku masih senggang. Orang-orang belum banyak yang datang, jadi belum sibuk," ujar Peter menawari bantuan.


Ia tak mengerti kalau Lucy adalah wanita independen. Ia tak akan meminta bantuan kecuali darurat atau memang perlu. Lucy selalu mengerjakan semuanya sendiri.


"Terima kasih sudah menawari, tetapi aku masih bisa melakukannya sendiri." Gadis itu menuju mesin fotocopy dan meninggalkan Peter di dekat pintu masuk.


Peter hanya bisa memandang Lucy. Lagi-lagi dari kejauhan dan membiarkan gadis itu melakukannya sendiri. Ia merasa seperti pecundang karena tak bisa melakukan hal kecil untuk Lucy.


Kalau dilihat-lihat, gadis itu memang cekatan. Ia melakukan semuanya dengan rapi. Pekerjaannya sudah seperti teman baik, jarang sekali ia melihat Lucy melakukan kesalahan.


"Apa aku tak bisa melakukan sesuatu untukmu?" tanya Peter.


Lucy tak menoleh tetapi menyahut, "Hm? Kurasa tidak ada. Terima kasih sudah bertanya," jawabnya.


"Hah, akhirnya selesai sebelum jam rapat," gumam Lucy.


Peter masih berdiri di dekat mejanya. Ia selalu memperhatikan Lucy. Setiap gerakannya selalu menarik perhatian Peter.


"Apa kau ada waktu akhir minggu nanti, Lucy?" tanya Peter yang juga sudah mulai bekerja.


Lucy menoleh, "Entahlah, aku belum melihat jadwal. Ada apa?"


"Eh, tunggu...! Memangnya aku bisa pergi meninggalkan serigala-serigala itu di rumahku!?" batinnya.


Ia membayangkan bagaimana keadaan rumah bila ditinggal seharian. Saat pulang kerja yang tidak sampai sore saja sudah tidak karuan. Ia kerap menahan jengkel melihat barang-barang berserakan di lantai.


Arzen selalu kena marah tetapi tidak kapok juga. Ia tak bisa memarahi Loofyn karena masih anak-anak dan belum mengerti. Lucy menghela napasnya, ia merasa tengah mengurus dua orang bayi.


"Dasar, namanya saja kaisar! Aslinya bayi besar!" gerutunya.

__ADS_1


"....cafe di depan museum. Bagaimana, apa kau mau ke sana, Lucy?"


Lucy hanya mendengar kalimat akhir Peter. Ia tak fokus pada cerita panjang Peter karena memikirkan dua serigala di rumahnya. Lucy selalu kepikiran mereka ketika sedang bekerja.


"Eh? A–aku sepertinya tidak bisa, Peter. Masih ada yang harus aku selesaikan. Maaf aku tidak bisa pergi akhir pekan, terima kasih sudah mengajakku," sahutnya gelagapan saat ia tersadar dari lamunan.


Pikirannya kembali ke masa sekarang. Ia menggeleng berusaha menghempas Arzen dan Loofyn yang mengganggu fokusnya. Sejak kedatangan mereka, ia harus membagi perhatian dan pikirannya.


Peter terdiam sejenak melihat Lucy yang masih menghitung berkas. Ia tahu Lucy tak benar-benaf mendengarkannya. Raut wajah gadis itu seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ah, ditolak, ya?" batinnya kecewa.


Lucy mengangkut berkasnya yang banyak itu. "Aku sudah selesai, sampai ketemu di jam makan siang, Peter!" pamitnya lalu menuju lift.


Peter tak menyahut. Ia hanya mengangguk dan tersenyum tipis, "Yah, setidaknya dia tidak menolak ajakan makan siangku," gumamnya.


Sedangkan di dalam lift, Lucy kembali memikirkan apa yang sedang dibicarakan Peter tadi. Samar-samar ia mendengar kata 'cafe' dan 'museum' di akhir kalimat. Benar begitu pun, ia tetap tak bisa pergi.


"Ah, maaf Peter. Ada dua serigala yang mencegahku untuk pergi di akhir pekan," helanya lelah.


Ia segera masuk ke ruangan setelah sampai di lantai 7. Berkas segunung itu harus ia selesaikan sesuai tenggat waktu yang tertera. Banyak dari mereka sudah mepet dan masih harus direvisi.


"Astaga, apakah aku harus kerja rodi malam ini?" pikirnya.


Lucy menelungkupkan kepalanya di meja. "Haaah...." Ia menghela napas berat berharap penatnya juga ikut lepas.


"Mau tidak mau harus kubawa pulang beberapa," pasrahnya sembari memilah berkas.


Ia akan membawa pulang berkas dengan tenggat waktu tiga hari ke depan atau lebih. Sisanya kurang dari tiga hari akan ia kerjakan saat ini juga. Padahal masih pagi buta tetapi ia harus kerja lebih awal dari yang lain.


"Pagi ini jadwal rapat dengan klien asing. Lalu, siangnya dengan investor. Malamnya dengan perusahaan C– apa?! Sampai malam?!" Ia terkejut sampai hampir memekik.


Badannya tegak 90 derajat di kursi ketika ia membaca jadwal. Matanya melotot tak ingin percaya. Hari ini ia harus bekerja sampai malam dan pulang ketika sudah sangat larut malam.


"Hah... semoga masih ada taxi jam malam nanti..."

__ADS_1


__ADS_2