Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Kontrak Batin Makhluk Magis


__ADS_3

Lucy menghentikan kegiatannya ketika suara itu muncul. Suara bariton yang khas seolah membisik ke ruang rungunya. Ia tahu siapa pemilik suara itu meski tanpa wujud.


"Tidak bisa."


Lucy menghembus kasar, "Apa?"


Sraah~


Arzen membuka tabir pelindung dan menampakan diri di depan Lucy. Saat itu juga Loofyn berlari menuju perempuan itu. Ia bahkan tak mengubah wujudnya menjadi manusia.


Lingkaran sihir berwarna kelabu itu mengitari Arzen. Ia berubah menjadi manusia dalam beberapa detik. Ia juga mengubah Loofyn menjadi batita 1 tahun.


"Kenapa kau ke sini?" ketus Lucy. Ia masih merasa dongkol dengan masalah sebelumnya.


Arzen memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Ia menghela napas mencoba tenang. Pria itu mencari cara untuk menjelaskan keadaannya dan Loofyn pada Lucy.


Ia menunjuk Loofyn yang ada di pangkuan Lucy. "Anak itu tidak bisa pergi begitu saja darimu," katanya.


Lucy mengernyit tak mengerti. "Kenapa tidak bisa?!"


"Anak itu sudah mengikat kontrak batin denganmu."


Angin berhembus di antara mereka. Suasana hening dengan sedikit tegang mulai menghampiri. Dua orang dewasa terlihat sangat serius, sedangkan anak kecil itu terus mencari kenyamanan di pangkuan Lucy.


Cring!


Sesuatu bersinar muncul tiba-tiba setelah Arzen mengibaskan tangannya. Ia memperlihatkan apa yang selama ini tersembunyi dari mata manusia. Lucy melihat seberkas cahaya ada di dada kirinya.


"Ini, kau apakan jantungku?!" Lucy mendekam dadanya ketakutan.


Arzen menunjuk Loofyn yang juga memiliki sinar itu. "Loofyn mengikat kontrak batin denganmu," katanya.


Lucy menggeleng, "Aku tidak mengerti..." lirihnya.


Serigala dewasa itu menghembuskan napasnya pelan. "Di sini bukan tempat yang tepat untuk membahas masalah ini. Pulanglah," katanya.


Lucy menggeleng, "Tidak. Aku akan pulang kalau hatiku sudah tenang," sahutnya kembali murung.


"Sampai kapan?"


"Ha?" Lucy tidak mengerti.


"Aku tanya, sampai kapan? Butuh berapa lama agar hati manusia bisa tenang?" Arzen mengulangi pertanyaannya.


"Aku sudah hampir tenang kalau kau tak datang ke sini. Kedatanganmu mengacaukan suasana!" Lucy berkata demikian dengan kesal.


Ia menatap lurus mata pria yang berdiri di depannya. Loofyn yang mendengar suara Lucy yang sedikit meninggi itu beringsut. Ia tetap di sana tetapi dengan kedua tangan yang menutup telinga.

__ADS_1


"Lihat, kau membuatnya takut," tegur Arzen.


Lucy mengelus kepala Loofyn, "Maafkan aku, kalau ayahmu tidak memulainya duluan ini tidak akan terjadi," ucap Lucy.


Arzen menyelimuti mereka dengan tabir pelindung. Lingkaran sihir yang cukup menyilaukan menutupi hampir sebagian tubuhnya. Ia kembali menjadi wujud makhluk magis bersama dengan Loofyn.


"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang tenang," katanya.


Loofyn berputar di tempat dengan senang. Ia menggigit ujung celana Lucy. Serigala kecil itu mengajaknya untuk ikut naik ke punggung Arzen.


Rasanya seperti dihipnotis oleh mata kelabu serigala besar itu. Lucy mengangguk dan menurut saja. Ia mengikuti Loofyn duduk di atas bulu-bulu perak yang lembut.


"Aku tak mengira akan selembut ini bulunya," batin Lucy ketika tangannya meraba.


Arzen tersenyum, ada rasa bangga dalam hatinya. Ia kemudian berlari dengan arah berlawanan dari rumah Lucy. Dengan kaki dan cakar yang kuat, ia membelah angin dan berlari dengan sangat cepat.


"Loofyn, kita mau ke mana?" tanya Lucy yang tentu saja tidak akan dijawab oleh serigala kecil itu.


Meskipun Arzen berlari kecepatan tinggi, Lucy sama sekali tak merasakan adanya tekanan. Ia seperti duduk di atas permadani halus yang terbang dengan santai. Tubuhnya tak terpontang-panting oleh angin.


Setelah melalui beberapa pemandangan alam, sampailah mereka di sebuah bukit. Cukup jauh dari pemukiman dan tinggi di atas permukaan laut. Tak banyak pohon yang menjulang tinggi, hanya semak belukar.


"Astaga, ini di mana?!" pekik Lucy.


Arzen belum menyuruhnya turun. Serigala itu masih harus menyusuri hutan agar bisa sampai ke tempat yang ia maksud. Sebuah puncak di bukit yang menyajikan indahnya panorama Kota Luxeas.


Arzen tak kembali ke wujud manusia. Ia tetap menjadi serigala meski tanpa tabir pelindung. Tak ada yang akan mencurigainya di atas bukit ini karena hanya ada hewan-hewan di hutan.


"Bagaimana kalau ada manusia yang lewat daerah sini?" tanya Lucy.


"Tidak akan, aku sudah memasang perisai sihir jarak jauh. Loofyn berlari ke hutan pun, manusia tak akan bisa melihatnya," jawab pria itu dengan tenang.


Lucy berjalan-jalan di sekitar menikmati sejuknya alam. Arzen tak berbohong dengan perkataannya, pria itu benar-benar menemukan tempat yang tenang. Ia bebas menghirup udara segar di atas sini.


"Jadi, apa yang akan kau bicarakan?" tanya Lucy menatap mata kelabu serigala besar itu.


Arzen kembali menyibak sihir, membuat dada Lucy dan Loofyn kembali bercahaya. Warnanya merah, seolah ada batu ruby bersarang di jantungnya. Lucy penasaran sejak kapan ia mempunyai berkas cahaya seperti ini.


"Ini namanya shinre jade, shin berarti jantung dan re adalah merah," ujar Arzen.


"Kalau tidak ada rasa percaya dari makhluk magis, manusia tidak akan bisa melakukan kontrak batin."


Lucy melihat ke arah Loofyn. Serigala kecil itu menatapnya penuh harap. Bola mata biru gelap itu terlihat memukau.


Ia mengelus Loofyn, "Kau percaya padaku? Meski kau tak mengenalku?" tanyanya.


"Wauf!"

__ADS_1


Lucy mencium pipi lembut Loofyn. Serigala itu berubah menjadi manusia kecil dengan ekor dan telinga serigala. Ia nampak kebingungan melihat ekor dan telinganya sendiri.


"Lucunya." Lucy tersenyum melihat Loofyn berlari memburu ekornya sendiri.


Arzen juga menjelaskan aturan mengenai kontrak antara manusia dengan makhluk magis. "Alasan aku tak bisa membawanya langsung adalah..."


"Kalian bisa mati karena shinre jade akan mencekik jantung masing-masing."


Lucy membelalak melihatnya. Ia menggunakan tangan untuk menutup mulutnya yang menganga. Tak hanya terkejut tetapi juga takut.


"Bagaimana bisa..." lirihnya.


Arzen menghela napas, "Maaf, seharusnya aku menjelaskannya padamu. Aku akan mencari cara untuk membawa pulang Loofyn," ucapnya.


"Bukan berarti aku peduli padamu! Aku tidak ingin Loofyn mati konyol karenamu!" Arzen tiba-tiba bersikap acuh pada Lucy.


Gadis itu menyipitkan matanya tak percaya. Padahal sedetik yang lalu ia berpikir sisi lembut Arzen. Sedetik kemudian dibantahkan oleh sifat angkuh pria itu.


"Dasar serigala!" gerutunya.


"Apa kau benar tidak melihat siapa yang mengantarnya ke rumahmu?" Pertanyaan itu keluar dari bibir Arzen.


Ia tak mengerti mengapa ibu Loofyn meninggalkannya di rumah manusia begitu saja. Beruntung Lucy mau merawatnya dan Loofyn tidak berubah wujud. Ia tak tahu harus bagaimana kalau Loofyn terlantar di hutan rimba.


Lucy mengangguk yakin, "Aku sangat yakin aku tidak melihat siapapun malam itu. Hanya Loofyn dan keranjangnya."


"Aku juga bertanya-tanya, siapa yang mengantarnya ke rumahku tengah malam begitu. Apa para ibu sampai hati melakukan hal itu pada anaknya?" gumam Lucy berpikir.


Arzen membayangkan sosok wanita dalam kepalanya. Wanita itu adalah ibu Loofyn. Kenangan hari itu terus membuatnya merasa bersalah.


"Apa Loofyn datang dengan luka-luka di tubuhnya?"


Lucy menggeleng, "Dia sangat bersih dan sehat. Tidurnya nyenyak sewaktu aku bawa ke dalam rumah," ujarnya.


Arzen menghembuskan napasnya, "Sebenarnya di mana dia?" batinnya.


Lucy menyadari raut sedih serigala besar di sampingnya. Arzen berulang kali menghela napasnya seperti berusaha melepaskan sesuatu. Pikirannya tidak jernih dan ia butuh kejelasan atas tragedi ini.


Entah dari mana ia mendapat keberanian. Tangannya terulur menyentuh surai lembut Arzen. Membuat pria itu sedikit terkejut dan menoleh ke arahnya.


"Aku tak tahu apa yang sudah kau lalui, tetapi aku tahu rasanya ditinggal pasangan yang sangat kau cintai," ujarnya lembut.


Ia membagi perasaan tenang pada serigala besar. Padahal kemarin ia terlihat angkuh seperti tak terkalahkan. Namun, sekarang terlihat murung seperti hati yang mudah rapuh.


Arzen menatap Lucy dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Gadis itu hanya tersenyum lembut dan hangat. Ia membagi hati manusianya pada makhluk magis seperti Arzen.


"Apa kau ditinggal mati oleh pasanganmu?"

__ADS_1


__ADS_2