
"Benar, gejolak aneh itu pasti bukan karena Lucy. Tetapi sesuatu dari dunia magis yang memanggilku," pikirnya.
Beberapa waktu yang lalu setelah ia keluar untuk menenangkan diri, tiba-tiba gejolak aneh datang lagi. Ia berusaha merasakannya meski tidak nyaman. Seperti cahaya merah yang samar-samar mulai ia lihat di dadanya.
Dari situlah Arzen berpikir, ini sama sekali tak ada hubungannya dengan Lucy. Sebenarnya ia ragu mengambil kesimpulan seperti itu. Karena rasanya ada sedikit perbedaan yang tak ia ketahui.
Setelah berbincang dengan Lucy, pria itu memutuskan untuk kembali ke bukit. Ia sudah meminta agar Lucy menjaga Loofyn sampai ia kembali. Arzen tak tahu berapa lama waktu yang ia butuhkan untuk urusan di dunia asalnya.
"Benar, anggap saja seperti itu!" putusnya.
"Eclipse o Magical Magis Gate!"
Swooshh!
Sebuah lingkaran besar menyala di atas tanah yang ia pijak. Lingkaran bertuliskan mantra sihir itu berputar mengitarinya. Warna yang semula ungu perlahan berubah menjadi lebih gelap.
Arzen memejamkan matanya dan perlahan tubuhnya turun. Ia seperti dihisap oleh lingkaran sihir itu. Bibirnya sudah berhenti mengucap mantra dan tiba-tiba ia menghilang tanpa jejak.
Langit yang gelap seperti mendung tanpa kemunculan matahari. Asap hitam di kejauhan dan juga bau miasma yang menyengat menjadi pemandangan di dunia ini. Arzen yakin dirinya sudah sampai di dunia magis tempat asalnya.
"Ini terlalu damai untuk disebut keadaan normal," gumamnya.
Zraaa~
Ia mengubah wujudnya menjadi serigala besar. Melindungi dirinya dengan mantra angin agar tak kasat mata. Dengan kaki-kakinya yang kuat ia berlari kencang laksana bayu.
"Apa yang dilakukan orang-orang istana pada rakyatnya?" Ia menggeram saat melintasi jalan desa.
Banyak bangunan hancur dan jalanan rusak. Anak-anak terlantar bahkan tidur di samping mayat orang tua mereka. Lingkungan menjadi kumuh dan menjijikkan.
Ia berdiri di bangunan paling tinggi di desa. Sebuah menara pengawas yang sudah ditinggal tentaranya. Ia mengedar sejauh mata memandang.
"Padahal aku baru empat hari pergi, tetapi keadaan di sini menjadi sangat parah," ucapnya.
Ia berlari menuju istana yang megah tak jauh dari sana. "Apa Venus dan yang lainnya baik-baik saja?" batinnya khawatir.
Drap! Crak!
Banyak tombak menyambut tepat saat ia mendarat di depan gerbang benteng istana. Ia merasa kesal para prajurit tak mengenali penguasanya sendiri. Ia mengeluarkan cakarnya membuat para prajurit itu gemetar.
__ADS_1
Dikibasnya cakar hingga mendatangkan angin yang cukup kuat. Hembusan angin itu sanggup melepas topi dan tombak yang mereka bawa. Sebuah permata berwarna keunguan menyala di dada Arzen.
"Bo–bodoh! Itu Yang Mulia Pangeran Kedua, Arzen de Woove!" seru salah seorang prajurit paling belakang.
Seseorang di dekatnya memukul dada prajurit yang berteriak. "Bodoh! Sekarang sudah bukan Pangeran Kedua lagi! Yang Mulia Kaisar Arzen de Woove dari Wolfeuxeas!" serunya.
Sontak yang lainnya terkejut. Mereka segera memberi jalan dan menunduk takut. Arzen menghembuskan napasnya kasar.
"Maafkan kami, Yang Mulia!" seru mereka dengan kompak.
Arzen hanya melenggang masuk ke dalam benteng megah itu. Ia mengamati beberapa sudut tembok sudah retak. Ia tahu batu yang digunakan oleh benteng ini bukan sembarang batu.
"Shiro stone bisa retak berarti musuh yang menyerang bukan sembarang musuh," gumamnya.
Ia berjalan lagi menuju jembatan pembatas benteng dengan istananya. Di bawah benteng itu keluar miasma yang baunya sangat menyengat. Arzen sampai harus menggunakan sihir angin pelindung agar tak terganggu oleh bau miasma.
"Kenapa ada mayat manusia?" Ia bertanya setelah melirik apa yang ada di bawah jembatan itu.
Seharusnya berisi sungai yang sangat jernih sampai bisa melihat dasarnya. Namun sekarang dipenuhi miasma dan mayat-mayat musuh. Arzen semakin mempercepat langkahnya.
Ia terkejut melihat taman kerajaan hancur. Ladang bunga bukan lagi berisi bunga. Ceceran darah yang mulai mengering memenuhi setiap petaknya.
Zwwooosshh!
Ia mengeluarkan sihir cahaya bulan untuk membersihkan taman. Sedikit kesulitan karena harus menyingkirkan mayat-mayat itu ke satu sudut sebelum dikuburkan. Ia akan memanggil orang untuk melakukan pemakaman yang layak bagi para prajurit.
"Apa yang sedang terjadi 3 hari ini?" gumamnya.
"Lebih tepatnya 9 hari, kak."
Seseorang menyahut dari arah istana. Ia berdiri di ujung tangga dengan jubah tanda kebesarannya. Setelah sekian detik bertatapan, lelaki itu turun menghampiri Arzen.
"Apa maksudmu, Venus?"
Pria berjubah putih itu menghela napas. "Seperti yang kubilang, kau pergi selama 9 hari. Apa kau kabur?"
Arzen menggeram, "Hah, kau pikir aku siapa?"
"Kau bahkan tidak dikenali oleh para prajuritmu, kak," ujar Venus.
__ADS_1
Arzen mendelik pada Venus. "Kau memang selalu seperti itu ya, adikku."
Venus hanya diam. Ia menatap taman yang sudah dibersihkan oleh Arzen. Hanya menghela napas lalu kembali menuju istana.
Di belakangnya, Arzen mengikuti masih dalam bentuk serigalanya. Ia memandang kanan kiri jalan masuk istana. Dari banyaknya bekas goresan, ia tahu berapa banyak musuh yang masuk dan seberapa kuat mereka.
"Berapa yang meninggal?" tanya Arzen.
"Sekitar 1200 orang termasuk anak-anak dan perempuan," jawab Venus dengan santai. Ia memang selalu seperti itu, datar dan dingin.
Ia tetap menjawab demikian meski tahu Arzen akan sangat marah kalau ada anak-anak yang terlibat. Ia bisa mendengar decak kesal dan gemuruh dendam dari arah belakang. Arzen bisa saja menyerangnya karena dianggap tak becus melindungi kekaisaran.
"Tamu terakhir?"
Venus berhenti tanpa menoleh. "Raja Mezalto VI dari Kerajaan Mazareth."
"Cih, manusia itu memang tak ada jeranya!" decak Arzen hampir melayangkan cakar angin ke dalam istananya.
"Terserah kau mau apa, jangan mengacaukan istana. Ada banyak pasien di ruang utama," ucap Venus kemudian pergi meninggalkan Arzen.
Pria itu menatap punggung sang adik yang telah berlalu. Ia tak heran kalau ruang utama sampai jadi kamar pasien akibat kekacauan ini. Raja Mezalto VI itu gemar membabi buta di istana orang kalau keinginannya tidak terpenuhi.
"Apa aku harus menggencarkan seluruh pasukan untuk menghancurkan Kerajaan Mazareth?" pikirnya.
Ia menggeleng, "Aku bisa dihukum Dewi Bulan kalau begitu," katanya.
Serigala berbulu perak itu memilih untuk duduk di lorong masuk istana. Ia merasa lelah setelah menyeberang dua dunia yang bertentangan. Karena itu, ia sempat kepikiran ucapan Venus sebelumnya.
"Ya–Yang Mulia, bersediakah Anda menuju tempat istirahat di istana timur?" Seorang pelayan werewolf perempuan datang menghampiri.
Terdapat sebuah handuk tersampir di lengannya. Ia menunduk setelah Arzen menoleh menyahuti panggilannya. Serigala itu kemudian berdiri dan mengangguk.
"Baiklah. Ah, aku ingin beristirahat setidaknya dua jam. Kalau bisa jangan sampai ada yang masuk ke istana timur siapapun itu," perintahnya.
"Yang Mulia...?"
"Kau boleh menaruh beberapa prajurit untuk berjaga di gerbang depan dan belakang saja. Selebihnya tidak perlu. Aku ingin waktuku sendiri!"
Pelayan itu membungkuk sopan, "Hamba laksanakan, Yang Mulia!"
__ADS_1