Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Keadaan Perang Semakin Runyam


__ADS_3

Lucy terduduk lemas begitu membaca surat itu. Ia menyandar di samping kasur setelah ditarik Serena karena ia akan berlari turun tadi. Lucy hampir bertindak gegabah dengan pikiran ingin menyusul lelaki itu ke medan perang.


"Maafkan aku harus menarikmu sangat kencang tadi. Karena aku pikir kau akan melompat dan menuruni anak tangga itu untuk menghampiri Arzen," ucap Serena.


Lucy menggeleng, "Tidak, aku seharusnya berterima kasih padamu. Kalau kau tidak menarikku aku mungkin akan bertindak gegabah," balasnya.


Surat yang ia baca tadi adalah surat dari Venus. Lelaki itu sepertinya tengah beristirahat saat menulis surat. Dan surat itu sepertinya ditulis secara diam-diam dari Arzen.


"Ini Venus, keadaan kami semakin terpojok oleh musuh. Jangan bertindak gegabah dan tetap berada di menara sihir sampai bala bantuan datang. Jaga diri kalian dan doakan kami menang."


Begitulah tulis di secarik kertas itu. Surat itu diantar oleh salah satu prajurit langsung ke menara sihir. Prajurit itu juga menceritakan bagaimana kondisi saat ini di medan perang.


Lucy lemas mendengarnya. Apalagi mengetahui kalau arzen berada di garda paling depan. Lelaki itu berhadapan langsung dengan ganasnya musuh.


"Apa yang harus aku lakukan?" rintih Lucy meringkuk memeluk lututnya.


Serena ikut sedih melihatnya. Ia mencoba untuk memeluk gadis itu berharap memberikannya ketenangan. Padahal ia sendiri juga gemetar ketakutan karena ia hampir melihat kejadian yang sama seperti yang menimpa kakaknya.


"Kalau kau bertindak ceroboh, bagaimana dengan Loofyn? Arzen akan memarahiku karena tak bisa menjagamu," bisik Serena.


Benar, saat ini ada anak kecil yang harus dilindungi. Mereka tak hanya mengamankan diri sendiri tetapi juga melindungi seorang anak kecil yang tak tahu apa-apa tentang perang ini. Kalau saja ia tadi tak dicegah pasti masalahnya tambah runyam.


...>>><<<...


"Yang Mulia! Saya mendapatkan laporan dari menara!" seru pasukan yang berlari dari kejauhan.


Prajurit itu segera memberikan surat dari Algre pada Arzen. Mereka semua tercengang melihat isinya. Tak menyangka bahwa musuh kali ini lebih kuat daripada beberapa tahun yang lalu.


"Apa maksudnya ini? Jadi mereka membuat perjanjian dengan Iblis Merah?!" pekik Venus.

__ADS_1


Arzen menghirup napas dalam, "Sial. Ternyata dia mendapatkan kekuatan dari sana untuk membuat pasukan undead," desisnya.


Ia tak menyangka pertempurannya akan sesulit ini. Yang mereka lawan bukan hanya kuat secara fisik atau sihir bakat alami. Tetapi mereka melawan kekuatan iblis secara tidak langsung.


Arzen mengadakan rapat darurat bersama seluruh pemimpin pasukan. Kalau terus menyerang tanpa tahu apa-apa sama saja dengan menghabisi diri sendiri. Meskipun seluruh kerajaan di bawah kekaisaran bersatu untuk melawan musuh.


Kerajaan Eleuxeas, werewolf dengan petir andalannya akan diarahkan dari barat. Mereka akan memancing perhatian Galven agar pasukan Wolfeuxeas bisa menyerang dari timur. Sedangkan pasukan Kerajaan Elfasteuxeas mengandalkan pasukan elf unggul mereka untuk menyerang monster yang dipanggil oleh Galven dan antek-anteknya.


"Kerajaan Faireuxeas akan berada di belakang untuk menyembuhkan pasukan yang terluka," cetus lelaki itu.


Komando yang sudah mendapat tugas langsung kembali ke pasukan mereka. Sisanya tetap berada di sini untuk menerima perintah. Mereka adalah Kerajaan Dwarfeuxeas, Gigantouxeas, dan Eagleuxeas.


Sebenarnya masih banyak kerajaan yang lain di bawah kekaisaran. Tetapi yang barusan disebut adalah kerajaan besar dan memiliki kekuatan militer yang kuat meski tak sebesar Wolfeuxeas. Bangsa Dwarf, Gigant atau manusia besar, dan Bangsa siluman burung bersatu membela kekaisaran.


"Pasukan Dwarfeuxeas, kami percayakan senjata pada bangsamu," ucap Arzen.


Pemimpin pasukan kurcaci itu mengangguk, "Siap, Yang Mulia," sahutnya kemudian pergi.


"Apa dia berniat menjadikan dunia ini kiamat dengan perjanjian iblis itu?!" geram Arzen.


"Ini akan menjadi pertempuran yang lebih besar daripada hari itu!" timpal Venus dengan menggebu-gebu.


Meski peluh mereka sebesar biji jagung, tak menghalangi semangat untuk melawan musuh. Mencapai kedamaian yang diinginkan semua orang adalah tujuan utama. Lagipula sudah sepatutnya menumpas siapa saja yang berani membuat perjanjian dengan iblis.


"Dia sampai menggunakan Zamrud Hitam Mata Iblis untuk membangun kekuatan," gumam Arzen cemas.


Zamrud yang dimaksud merupakan artefak kuno yang terlarang. Penggunaannya sudah sangat lama beribu tahun yang lalu. Bahkan saat kekaisaran Wolfeuxeas baru didirikan artefak itu sudah dilarang.


Siapa saja yang menyentuh atau membawanya akan dihukum pasung. Masalah itu diserahkan pada penyihir agung untuk disegel. Sehingga sampai saat ini bangsa penyihir berada di pihak netral tetapi menentang kejahatan.

__ADS_1


"Tak kusangka mereka bisa melepaskan segel legendaris itu," pikir Arzen.


Ia tak bisa meminta penyihir agung itu menyegel kembali karena sudah meninggal setahun yang lalu. Konon katanya, ada yang bisa menyegel artefak itu selain penyihir agung. Namun keberadaannya sampai saat ini masih belum jelas bahkan hampir dilupakan.


Dia adalah manusia suci legendaris. Penyihir agung bilang ia pernah bertemu dengannya. Namun manusia suci itu sangat mahir bersembunyi sehingga sulit dicari.


"Apa kita tidak bisa menemukan jejak manusia suci itu?" celetuk Arzen yang didengar oleh Venus.


Pria itu seperti mengetahui sesuatu. Ia sengaja menyembunyikannya sendirian karena masih belum yakin. Tak ia sangka Arzen akan menanyakan hal itu.


Sebenarnya Venus sudah menyelidikinya jauh hari bersama Micellia. Keduanya mondar-mandir ke perpustakaan dan menara sihir untuk mencari bukti keberadaan manusia suci itu. Mereka hanya mendapatkan ciri-ciri yang ada pada manusia itu.


Tak ada catatan sejarah yang menunjukkan di mana mereka tinggal, apa yang mereka makan, dan bagaimana kehidupan mereka. Semuanya terasa seperti kisah dongeng yang dikarang oleh penyair. Tetapi bukti-bukti yang tak sengaja ditinggalkan menguatkan dugaan bahwa mereka ada.


Bahkan penyihir agung sendiri yang menceritakan bagaimana pertemuannya dengan manusia suci itu. Mereka pernah berperang bersama melawan kekuatan penjahat. Bahkan manusia suci itu bisa melawan iblis hanya dengan seorang diri.


Venus berdegup kencang karena ragu ingin menceritakannya pada Arzen atau tidak. Micellia pun hanya diam saja. Entah sampai kapan mereka akan menyimpannya dari Arzen.


"Apa sebaiknya kita beritahu?" tanya Micellia.


Venus menggeleng, "Jangan. Belum tentu itu benar, aku tidak mau membebani gadis itu. Kalau salah semuanya bisa rumit," ujarnya.


Micellia mengangguk paham. Keduanya memutuskan untuk tidak berbicara apapun. Meski dalam hati ada rasa ingin membantu Arzen.


"Apa kau memberitahu gadis itu?" tanya Venus dan Micellia menggeleng.


Mereka beranjak dari sana dan membicarakan hal itu agar Arzen tak mendengarnya. Venus tak ingin memberi harapan palsu pada kakaknya. Begitu juga ia tak ingin berharap pada gadis yang tak tahu apa-apa tentang dunia ini.


"Venus, aku akan kembali ke pasukan. Jaga barak ini sementara," ucap Arzen lalu pergi dari sana.

__ADS_1


"Aku akan melawannya sendiri meski harus menyerahkan nyawa!" tekadnya.


__ADS_2