
Lucy berlari menuruni anak tangga yang sangat banyak itu. Melingkar mengikuti struktur bangunan menara. Ia bahkan sudah berani melompati beberapa untuk mempersingkat waktu.
Kemudian ia berjalan anggun sebelum keluar dari menara. Algre memberinya sesuatu untuk meningkatkan kekuatan Lucy. Serena dan Loofyn mendukung gadis itu dan melambaikan tangan sebelum Lucy pergi dari sana.
Ia berbeda dari Lucy yang sebelumnya. Terlihat lebih cerah dan kuat. Ia langsung pergi setelah menerima surat kabar pasukan kekaisaran terdesak mundur oleh musuh.
Ia berdiri di atas menara Eastolf. Matanya yang lebih tajam itu mampu menemukan di mana Arzen berada. Lelaki itu tengah terluka parah di hadapan musuh.
Galven membabi buta menyerang mereka. Pasukan undead sudah tak terkendali jumlahnya. Negeri ini di ambang kehancuran.
"Venus pergilah! Bawa pergi Lucy dan semuanya!" pekik Arzen.
Venus tak bisa melakukannya. Ia tak bisa meninggalkan kakaknya yang terluka parah. Apalagi di hadapannya muncul monster panggilan.
Lingkaran sihir terlarang terbentang di atas Galven. Raja Hwooxeas itu tertawa terbahak-bahak menyaksikan apa yang ada di hadapannya. Sedikit lagi ia menghantam hancurlah Arzen beserta pasukannya.
"Hahahaha! Ini akibatnya kalau kalian meremehkanku!" serunya.
Prajurit kekaisaran banyak yang berguguran. Mereka sudah tak sanggup berperang. Bahkan bala bantuan pun dirasa tak cukup.
"Apa ada kata-kata terakhir, Arzen?!"
Arzen tak dapat bergerak. Ia bersimpuh dengan punggung dan kepalanya mengucur darah segar. Baru kali ini ia menerima luka yang begitu parah.
Efek healing tak bisa menyembuhkan luka seberat itu. Matanya sudah berkunang-kunang. Sebentar lagi ia akan tersungkur ke tanah.
"Lucy, maafkan aku..." batinnya.
"Selamat tinggal, Arzen!" Galven melayangkan tombak apinya ke arah lelaki itu.
ZRAATT!
Tiba-tiba seseorang datang menghalangi hujaman tombak itu di depan Arzen. Jubahnya mampu menangkis serangan Galven. Membuat semua yang ada di sana ternganga.
Termasuk Galven yang berdecak kesal. "Siapa kau?! Beraninya mengacaukan seranganku!" erangnya.
"Paralyze!" Ia mengunci Galven sementara.
Ia berbalik menatap Arzen. Ia berlutut dan mengusap pipi pria itu. "Arzen, maaf aku baru datang," bisiknya.
Arzen langsung mendongak dan membelalak terkejut. "Lucy?! Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau berpakaian serba putih? Kau mau ke mana?" racaunya.
Lucy menenangkan lelaki itu. "Jangan bergerak. Kau terluka." Ia menyalurkan mana untuk lelaki itu.
"Venus, bawa Arzen menepi dan segera obati dia!" pintanya.
"Lucy kau mau ke mana?! Apa yang kau lakukan di sini?!" pekik Arzen.
__ADS_1
Lucy hanya tersenyum. Ia berbalik menghadap Galven yang sudah lepas dari sihir pelumpuh Lucy. Mereka saling menatap tajam.
"Kau akan menerima akibatnya," seru Lucy.
Arzen tak bisa tenang di tempatnya. Ia memaksakan diri untuk berdiri. Ia ingin menarik Lucy agar gadis itu tak melawan Galven.
"Lucy kembali! Musuh terlalu kuat karena dibantu oleh iblis!" pekiknya.
Lucy mendengarkan hal itu meski tak menyahut. Ia tengah fokus untuk menyerang Galven. Dengan satu tumpuan ia melompat tinggi.
"Helio Javeline!"
BLARR!
Tombak menghujam kereta perang Galven dan membuatnya oleng. Lucy tak membiarkan sedikitpun orang itu mendapat kesempatan. Ia terus menghujani panah cahaya matahari.
"Helio Dust!" Kali ini serbuk yang sanggup melelehkan besi turun dari langit.
Arzen dan pasukan yang lain tercengang melihat apa yang terjadi. Mereka menerka sejak kapan Lucy menjadi sekuat ini. Arzen lah yang paling terkejut.
Sedangkan Venus dan Micellia menghela napas. Dugaan mereka terbukti benar tentang Lucy yang bukan manusia biasa. Gadis itu menyimpan sesuatu yang besar dalam tubuhnya.
"Kau pengacau!" erang Galven yang langsung memerintahkan undead untuk mengepung Lucy.
Gadis itu benar terkepung sampai membuat Arzen hampir serangan jantung. Lelaki itu sampai dikekang oleh para prajurit untuk tetap diam. Mereka melarang Arzen sesuai perintah Lucy.
"Helio Dust!"
Pasukan undead berhasil disingkirkan. Galven benar-benar dibuat kewalahan oleh Lucy. Gadis itu berbeda dengan Lucy yang ada di dunia manusia.
Ia lebih gesit dan anggun saat bergerak menyerang musuh. Tatapan bagai elang mengincar titik vital Galven. Ia tak menyerah meski serangannya digagalkan oleh pasukan yang melindungi Galven.
Pertarungan sengit antara Lucy dan Galven terjadi. Arzen tak tinggal diam, "Pasukan berkumpul!" serunya.
"Jangan diam saja dan cepat bantu dia dengan mengalihkan pasukan undead!" perintahnya pada pasukan yang tersisa.
"Siap, Yang Mulia!" Mereka langsung menghambur menghalau pasukan undead itu.
Sehingga, Lucy lebih bisa fokus menyerang monster panggilan Galven. Ia menemukan kalung artefak terlarang itu. Seringaian terlukis di wajah Lucy.
"Bagus, Helio Jave– akh!"
BUAG!
"Lucy!" pekik Arzen ketika tubuh gadis itu terpental jauh.
Lucy lengah karena membiarkan ekor kadal api itu berkibas mengenainya. Gadis itu tersungkur di tanah. Jubah putihnya tetap bersih meski ia terkapar.
__ADS_1
"Aku lengah," gumamnya.
Gadis itu berlari ke atas bukit. "Kau akan menerima akibatnya karena telah melakukan perjanjian dengan iblis!" pekiknya pada musuh.
Galven tak peduli. Ia tertawa terbahak-bahak mendengar seruan Lucy. "Peduli apa?! Kau hanya hama kecil yang perlu disingkirkan!" katanya.
Galven sama sekali tak tahu siapa yang tengah ia hadapi sekarang. Ia tak tahu kalau kekuatan gadis itu lebih kuat bahkan dari Arzen. Lucy mengangkat tombaknya.
"Cepat serang gadis itu!" pekik Galven.
"Helio Blare!" Seketika petir menyambar Galven membuat lelaki itu mengerang kesakitan.
Sebagai balasan, Lucy kembali terimbas ekor kadal api yang dipanggil oleh Galven. Ia terjatuh dan hampir terjun dari atas bukit. Beruntung ia membawa tombak pemberian Aden.
Lucy kembali menyerang dengan sihir cahaya matahari. Ia berhasil membakar monster kadal panggilan itu. Membuat Galven mulai panik.
Bulan purnama menampakkan wujudnya. Besar dan terang. Arzen berdecak melihatnya.
"Sial, Galven akan lebih kuat karena werewolf menyerap cahaya bulan sebagai kekuatan!" gerundelnya.
Galven semakin tertawa puas. "Bagus! Keroco seperti kau akan menyesal. Bahkan langit berpihak kepadaku!"
Ia merentangkan kedua tangannya menyerap cahaya bulan. Mana sihir kembali terisi secara perlahan. Tentu saja Lucy tak tinggal diam.
Gadis itu berdiri di atas bukit. Menodongkan tombaknya ke arah bulan purnama yang membesar. Mulutnya komat-kamit membaca mantra sihir.
"Eclipse Seleno!"
SYAATT
Galven berhenti tertawa saat bulan purnama tertutup piringan hitam. Itu adalah gerhana bulan. Mantra sihir Lucy sanggup melakukannya.
Galven geram dan mengerang marah. Arzen terkagum-kagum pada Lucy. Mantra yang gadis itu gunakan adalah sihir tingkat tinggi.
"Sepertinya kita tak akan melihat cahaya bulan untuk satu tahun lamanya," gumam Arzen.
"Lucy benar-benar menjadi manusia suci, seperti orang itu," celetuk Venus menarik perhatian Arzen.
Lelaki itu menoleh dan meminta penjelasan dari sang adik. "Apa maksudmu, Venus? Kau mengetahui sesuatu tentang Lucy? Kenapa kau menyembunyikannya dariku?!"
Venus merasa bersalah, "Aku tak bermaksud melakukannya, kak. Aku takut aku salah menduga makanya kusimpan sendiri," balasnya.
"Tetapi tak kusangka Lucy menampakkan dirinya hari ini."
"Kau salah besar melawanku gadis kecil." Galven menggertak Lucy yang menyerangnya dengan tombak matahari.
"Hell Calamity..." Galven berubah wujud menjadi menyeramkan. Di belakangnya ada sosok lebih menyeramkan tinggi besar berwarna merah. Dia adalah iblis yang disegel oleh ibunya 5000 tahun yang lalu.
__ADS_1
"Blaze!"