
"Benar-benar menyusahkan di luar tadi!" rutuk Arzen begitu mereka sampai di rumah.
Makan di restauran pun tidak jadi sebab banyak orang selalu memperhatikan mereka. Meminta foto atau tanda tangan seperti jumpa fans. Lucy tak ingin membuat keributan kalau Arzen sampai mengeluarkan sihirnya.
Keduanya memutuskan untuk membeli makanan untuk dibawa pulang. Acara makan di luar harus gagal sebab Arzen terlalu mencolok. Lucy sendiri mengakuinya, penampilan paripurna dari siluman serigala itu.
"Sudahlah, daripada kau membuat keributan lebih baik kita langsung pulang dan makan di rumah," sahut Lucy.
Ia mendudukkan Loofyn di kursi bayi. Ia juga menyajikan bubur untuk bayi itu makan sendiri. Sementara itu, ia menghidangkan makanan yang ia beli tadi.
"Aku kira manusia tidak makan daging," celetuk Arzen begitu ia duduk dan mengamati mangkuk berisi sup daging.
Lucy terkekeh, "Tadi itu namanya salad. Hanya berisi sayuran, kadang juga dada ayam dipotong kecil-kecil," ujarnya mengingat Arzen mengamatinya makan siang tadi.
"Memangnya makan daun saja kenyang?" sindir Arzen.
Lucy merasa ucapan barusan ada benarnya. "Ya, karena aku tidak ingin makan berat selagi di kantor. Kalau aku kekenyangan, aku akan malas melakukan kegiatan," katanya.
Kemudian keduanya duduk berhadapan di meja makan. Makanan yang tersaji itu perlahan disuap sampai habis. Sesekali Lucy membantu Loofyn merapikan makannya yang masih berantakan.
"Apa kau akan pergi ke bukit lagi?" tanya Lucy.
"Ada apa?"
Lucy menggeleng, "Tidak apa, kurasa lebih baik kau tinggal di sini sebentar. Kalau Loofyn tantrum kau sudah ada di dekatnya," ucapnya.
Arzen berpikir Lucy ada benarnya. Ia memikirkan tawaran itu. "Jadi, tidak masalah kalau aku tidur denganmu seperti hari lalu?" celetuknya ringan.
Lucy membelalak kaget. Ia lupa kenyataan hanya ada satu kamar di rumahnya. Ranjangnya juga tidak luas bukan ukuran besar.
"Kau tidak tidur di kamar," sahut Lucy.
Arzen mengernyit, "Apa?"
"Kau tidur di sofa depan televisi."
Lucy kembali menambahkan, "Ah, kau tidak tahu televisi? Nanti malam akan aku beritahu. Sekarang kau mandi dulu, aku akan memandikan Loofyn," katanya.
...>>><<<...
"Kau sudah selesai? Jaga Loofyn, giliran aku yang mandi. Kalau kau mau menyeduh teh, ambil saja di rak paling ujung," ucap Lucy kemudian menutup pintu kamar mandi.
__ADS_1
Singkat cerita, ia sudah keluar setelah 20 menit menghabiskan waktu di dalam kamar mandi. Arzen dan Loofyn menunggunya di sofa ruang santai. Mereka kompak menoleh ke belakang begitu mendengar suara langkah kaki Lucy.
Perempuan itu mendapati ayah dan anak begitu lucu. Sama-sama menatap polos lalu kembali menghadap ke depan. Kecuali Loofyn, ia selalu antusias bahkan sekarang berjalan menuju Lucy.
"Mama!" serunya.
"Sebentar ya." Lucy tak sempat menggendong Loofyn. Tangannya sibuk mencari sesuatu dari rak.
Arzen yang melihat itu menghampiri Loofyn, "Dia bukan mamamu. Ayo kembali," ujarnya.
Mereka akhirnya duduk di sofa sementara Lucy datang membawa keranjang makanan ringan. "Benda kotak itu televisi," tunjuknya.
"Kau bisa melihat sesuatu dengan itu. Ini terhubung dengan listrik. Kalau kau tidak tahu listrik itu sama dengan petir," paparnya.
Arzen mendapati hal itu sedikit menarik. "Benda itu membutuhkan sihir petir?"
Lucy tertawa kecil, "Bukan, petir terlalu besar. Yah, anggap saja listrik ini petir kecil. Tetapi bukan berarti kau bisa menghidupkannya dengan sihir petir," ujarnya.
"Dan jangan pernah menggunakannya!" Ia memberi peringatan.
Tit!
"Kau menggunakan sihir?" celetuk Arzen. Lucy mengibaskan tangannya, "Sudah kubilang bukan. Juga, tidak mungkin bagi manusia di dunia ini menggunakan sihir," katanya.
"Yah, walaupun konon katanya dulu ada manusia yang bisa menggunakan sihir. Aku tidak tahu itu mitos atau benar-benar terjadi," imbuhnya.
Arzen jadi semakin penasaran. Ia ingin tahu kisah manusia yang dimaksud Lucy. Kalau benar begitu, ia menduga kalau dua dunia bisa diseberangi dengan mudah saat itu.
"Kalau kau jadi manusia itu, apa kau juga belajar ilmu magis?" tanya Arzen.
"Sepertinya tidak atau tergantung keadaan," jawabnya tanpa mengalihkan perhatian dari televisi.
Ia bersenang-senang bersama Loofyn yang duduk di pangkuannya. Batita itu ikut melakukan apa yang ada di layar. Karakter lucu di sana memperagakan tarian kecil yang mudah diikuti.
Obrolan tentang sihir sudah berhenti. Arzen ikut mengambil camilan yang dimakan Lucy. Banyak yang ingin ia tanyakan, tetapi ia yakin kalau Lucy juga tidak akan bisa menjelaskannya dengan detail.
Arzen memilih untuk menyimpan rasa penasarannya. Ia berharap suatu hari nanti mendapatkan jawaban yang ia harapkan. Untuk sekarang, ia akan menjalaninya pelan-pelan.
...>>><<<...
"Apa yang tengah Pangeran Ketiga pikirkan hingga redup cahaya bintang di wajah Pangeran?"
__ADS_1
Seseorang yang baru saja lewat itu menghampiri Venus. Ia adalah Micellia yang baru saja sembuh dari sekarat. Gadis itu ikut memandang apa yang dilihat oleh pria di depannya.
Sampai Venus menoleh dan menatap sendu perempuan di hadapannya. "Kau sudah sembuh?" tanyanya memastikan.
"Seperti yang Pangeran lihat, saya sudah pulih berkat pertolongan Pangeran saat itu. Saya sangat berterima kasih," ucapnya sembari membungkuk sopan.
Venus mengangguk, "Baguslah, aku tidak akan mengampuni diriku sendiri kalau kau sampai tidak bangun," gumamnya.
Micellia yang mendengar itu merasa haru. Ia tersenyum tipis dan menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Wajahnya mengalih ke lain arah agar Venus tak melihatnya.
"Pangeran terlalu baik pada saya. Saya jadi sungkan," liriknya tetapi masih dapat didengar oleh Venus.
"Daripada saya, ada apa dengan Pangeran? Kenapa Pangeran termenung di sini? Di mana pengawal pribadi Pangeran?" tanya Micellia bertubi-tubi.
Venus menghela napasnya, "Aku hanya ingin berjalan-jalan sendiri tanpa pengawal," ujarnya.
Micellia menutup mulutnya dengan satu tangan. "Ka–kalau begitu saya sudah lancang mengganggu Pangeran. Saya akan pergi—"
Venus menahan tangan Micellia, "Kau tidak boleh pergi. Kau pengecualian," ucapnya.
"Aku melihat kakak berhasil membuka gate lintas dunia," celetuknya.
Kedua mata Micellia melebar, "Yang Mulia Kaisar melakukan itu?" Ia merasa takjub dan Venus mengangguk.
"Dia juga bisa menyeberangi dunia lain dengan selamat. Bahkan menemukan keponakanku," katanya.
"Menyeberang ke mana, Pangeran? Keponakan... Pangeran Muda Loofyn de Woove?!" Micellia tambah terkejut.
Venus mengangguk, "Benar, dia berhasil menemukan Loofyn di dunia manusia."
Micellia kembali mengerjap, "Ma–manusia...? Apa sihir bisa bekerja di sana? Yang Mulia Kaisar bisa ke sana semudah itu berarti ada energi sihir di sana," ujarnya.
Venus menggeleng, "Aku tidak tahu, dia tidak menjelaskannya padaku dan aku tidak sempat bertanya."
"Lalu di mana Pangeran Muda? Apa dia sudah berada di Istana Amethyst?" Micellia terlihat antusias mendengar nama Loofyn. Istana Amethyst adalah istana yang dibangun oleh pendahulu kekaisaran untuk tempat tinggal permaisuri dan anak-anaknya.
Venus kembali muram, "Dia tidak di sini."
"Eh?"
Ia menatap Micellia, "Loofyn masih ada di dunia manusia."
__ADS_1