Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Rencana Selanjutnya


__ADS_3

Keduanya duduk berhadapan di meja taman belakang. Saling merenung tentang sistem ruang dan waktu yang tidak masuk akal ini. Helaan napas mengudara selama mereka duduk 15 menit lamanya.


"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Lucy.


"Aku masih belum menemukan cara yang tepat untuk membawa Loofyn kembali ke dunia magis dengan aman. Aku juga tidak bisa membiarkan anak itu tinggal di bukit karena terlalu rentan," ujar Arzen putus asa.


Lucy juga frustasi, "Aku juga tidak bisa selamanya mengurus Loofyn. Besok aku sudah harus masuk kerja," ujarnya.


Arzen langsung menoleh padanya. "Apa? Kenapa kau tidak bilang padaku?" tanyanya.


"Bilang pun, memangnya kau menemukan caranya dalam waktu singkat?" cetusnya tepat sasaran.


Arzen kembali menundukkan kepalanya. "Kalau begitu, kau harus ikut aku ke dunia magis," celetuknya.


Lucy membelalak, "Apa maksudmu?! Kau dengar aku, kan?! Aku harus ker– ha...?"


Arzen menatapnya serius, "Kau akan tinggal di sana sampai keadaan benar-benar aman. Saat itu aku juga akan mencari cara dan melepaskan ikatan kalian," paparnya.


Lucy menggelengkan kepalanya sebagai penolakan. "Tidak! Aku tidak tahu dunia apa yang kau maksud. Aku tidak mau ke sana, aku takut tidak bisa kembali dan terjebak di sana selamanya. Ini sangat tidak masuk akal!" tolaknya tegas.


Ia terus menjelaskan alasan lain pada lelaki itu. Makhluk lain tak seharusnya ikut campur sampai menyeberangi dua dunia. Keduanya terus berdebat sampai kembali merenung.


Helaan napas berulang kali terdengar. Di taman belakang rumah Lucy kepala mereka mengepul mencari solusi. Lucy akhirnya berdiri dan menyudahi keheningan.


"Kau yang harusnya tinggal di sini demi Loofyn!"


"Apa?! Sudah kubilang tidak bisa. Aku harus kembali ke sana kalau mereka memanggilku untuk perang!" sahut Arzen tidak terima.


Ia memegangi kepalanya pusing, "Hah, ini pasti sudah hari kedua di sana. Bagaimana aku bisa tidak tahu tentang perbedaan waktu dua dunia?!" sesalnya.


Keduanya sama-sama mempermasalahkan perbedaan waktu yang cukup banyak itu. Sehari di dunia magis sama dengan tiga hari di dunia manusia. Itulah mengapa Arzen kerap merasa lelah ketika berpindah tempat.


"Sepertinya aku sudah pernah bilang padamu kalau Loofyn tak bisa berada jauh-jauh darimu, manusia," ujar Arzen.


Lucy memutar bola matanya malas, "Apa susahnya memanggil nama? Kau butuh bantuan begini pun masih angkuh di depanku!?" gerutunya dalam hati.

__ADS_1


Arzen ikut berdiri, "Baiklah, aku akan berada di sini beberapa hari tanpa balik ke sana sebisa mungkin," putusnya.


"Ah, apa tempat bernama kantor itu jauh dari rumahmu?" tanyanya.


"Lumayan, paling tidak 20 kilometer dari sini dengan bus," ujar Lucy.


Ada lagi istilah yang Arzen tidak mengerti. Ia memiringkan kepalanya sebagai reflek. Lucy menghembuskan napasnya melihat hal itu.


"Dasar! Kalau sudah begini pasti dia tidak tahu apa yang aku ucapkan!" batinnya.


"Kilometer itu satuan jarak di sini. Bus adalah kendaraan yang akan membawamu ke tempat tujuan," ujar Lucy.


Arzen masih menatapnya. Lucy mengerti, lelaki itu masih belum paham dengan apa yang ia ucapkan. Gadis itu meninggalkan Arzen yang termenung meresapi penjelasan Lucy.


Keesokan harinya, Lucy dikejutkan oleh Arzen yang tiba-tiba kembali dari bukit. Pria itu berdiri di ambang pintu menjelang subuh. Kebetulan ia baru bangun tidur dan akan menyiapkan sarapan.


"Kenapa kau ke sini jam segini?" tanya Lucy.


"Tentu saja menjaga Loofyn. Katanya kau mau pergi kerja," balas lelaki itu dengan santai.


Lucy mengangguk-angguk saja. Ucapan Arzen ada benarnya, sekarang ia mempersilakan lelaki itu masuk. Kemudian ia menyeduh dua teh hangat dan menyajikannya sepotong roti.


Lucy mendelik, "Ini sarapan, bukan pesta makan!" ketusnya.


"Tidak, maksudku apa kau cukup dengan ini? Manusia tidak makan daging?" Arzen heran.


"Terlalu berat untukku makan daging sebagai sarapan," sahut Lucy lalu mulai menyantap sarapannya.


Arzen tak mengerti apa yang dimaksud oleh Lucy. Ia tak lagi bertanya karena gadis itu terlihat buru-buru menghabiskan makanannya. Ia akhirnya ikut menyantap sarapan yang Lucy buat.


"Ini sama dengan duniaku, mentega," celetuknya saat melihat benda kuning di atas roti panggangnya.


Ketika ia menggigit ujung roti yang renyah, ia merasakan sesuatu yang familiar. "Ini roti? Kenapa lembut sekali berbeda dengan dunia asalku," ujarnya.


Hari masih pagi, tetapi Lucy sudah harus mendengarkan keheranan seorang werewolf yang menyantap sarapan di dunia manusia. Bahkan ia tak lagi terkejut ketika ekor dan telinga Arzen mencuat. Lelaki itu merasa sedikit antusias dengan hal-hal baru yang ada di sekitarnya.

__ADS_1


"Seperti anjing," celetuk Lucy.


Arzen mendelik padanya, "Aku bukan bangsa anjing! Aku serigala!"


"Iya, terserah kau saja."


"Oh iya, manusia. Aku akan mengikutimu sampai ke kantor," katanya.


Lucy hampir tersedak teh mendengar ucapan itu. "Kau stalker– penguntit, hah?! Untuk apa kau melakukan itu? Kau tak perlu memberiku sihir pelindung atau apalah itu," tukasnya.


"Aku ingin tahu sejauh apa tempatmu dari sini. Tentu saja, aku akan membawa Loofyn untuk berjaga-jaga shinre jade aktif. Kau tidak mau mati konyol, kan?"


Lucy terkesiap mendengar kata 'mati' dari serigala di depannya. Ia tak pernah menduga akan terlibat dengan hal yang sangat membahayakan hidupnya. Ia pikir hanya sekedar repot mengurus anak kecil, ternyata nyawa juga dipertaruhkan.


"Hah, tentu saja. Memangnya siapa yang mau mati konyol?" gumam Lucy.


Setelah itu, Lucy membereskan piring-piring dan bersiap untuk merias diri. Ia mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Kemudian berpakaian rapi dan siap membawa tasnya untuk berangkat.


Di belakangnya, Arzen menggendong Loofyn yang masih tertidur. Lucy tersenyum canggung ketika salah seorang tetangga lewat di depan rumah. Ia adalah seorang nenek dengan senyum ramahnya.


"Astaga Lucy kau sudah menikah dan punya anak rupanya?!" celetuk nenek itu.


Lucy hanya tersenyum pura-pura tidak dengar. Bukannya berlalu, nenek itu malah menghampiri mereka. Ia tersenyum dan menepuk lengan Lucy.


"Astaga, suamimu tampan sekali. Bahkan anakmu lucu," ujarnya.


"Ini bukan suami saya," sahut Lucy. Tak ingin membuat nenek itu salah paham, ia mencari alasan lain.


"Ini kakak saya... ahaha, iya kakak sepupu saya dari kota lain," katanya.


"Aduh, begitu, ya? Maaf, ya." Nenek itu baru pergi dari sana.


"Benar juga, mana mungkin ada yang mau sama perawan tua yang gila kerja? Kupikir ia hamil di luar nikah karena akhir-akhir ini bersama dengan bayi. Rupanya kakaknya," gumam nenek itu tetapi masih dapat didengar oleh Lucy.


Perempuan itu berusaha untuk tidak mendengar. Padahal dalam hati sangat sakit sampai ingin menyumpah serapahi si tetangga. Ia berusaha mengabaikannya selama ini.

__ADS_1


Arzen mendapati Lucy memendam emosinya. Ia tahu nenek itu berkata buruk tentang Lucy. Sejujurnya, ia sudah geram sejak nenek itu datang menghampiri mereka.


"Begitu, ya?"


__ADS_2