Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Lucy vs Arzen Loofyn: Rumah dan Dua Serigala


__ADS_3

Lucy mengelap peluh yang mengalir di dahinya. Ia baru saja turun dari halte dan berjalan menuju rumahnya melalui gang. Pekerjaan hari ini sangat spartan, ia harus mengerjakan banyak laporan dalam satu hari.


"Hah... aku kembali ke rutinitas awal rupanya," gumamnya.


Ia melirik jam di ponselnya, sudah menjelang malam. Lucy berangkat sangat pagi dan pulang hampir malam. Ia menghembuskan napasnya lelah.


Dari luar, ia melihat lampu dari dalam menyala. Lampu di kamarnya pun menyala. Alisnya bertaut heran sebelum akhirnya ia membuka pintu.


Ia terkejut melihat rumah yang berantakan seperti habis dimaling. Lucy selalu merapikan rumah sebelum pergi dan mengunci pintu. Ia berjalan lagi setelah melepas sepatu di depan.


"Astaga..." gumamnya sembari menutup mulut dengan tangan.


Ia melihat dua ekor tergeletak di lantai. Satu besar dan kemilap perak. Sedangkan satunya lagi gembul dan lebih kelabu.


Rupanya Arzen dan Loofyn tengah duduk di belakang sofa. Mereka memakan sesuatu yang sepertinya diambil dari kulkas Lucy. Sekotak es krim vanila mulai habis hampir setengahnya.


"Ah, aku lupa ada dua makhluk lain di rumah ini," ujar Lucy.


Kedatangannya menarik perhatian mereka berdua. Sontak mereka menoleh bersamaan dan menatap Lucy dengan tatapan polos. Lucy seperti memergoki pencuri es krim di rumahnya.


"Apa yang kau lakukan, Arzen?" tanya Lucy.


"Kau tidak pernah bilang ada makanan seenak ini di... lemari?" kata pria itu kebingungan menyebut kulkas.


Lucy menoleh ke arah kulkas, "Lemari pendingin. Kulkas namanya. Abaikan itu, aku bertanya padamu apa yang sudah kalian lakukan selama aku tidak ada di rumah?" Lucy bersedekap tangan.


"Tidak ada."


Lucy mencelos sedikit mendengarnya. Bagaimana bisa tidak melakukan apa-apa tetapi rumah seperti kemasukan maling. Ia menghela napasnya lelah.


Gadis itu pergi ke kamar dan meletakkan tasnya. Kemudian ia keluar lagi dan mengambil es krim itu dari mereka. Loofyn sudah ingin merengek tetapi berhenti ketika melihat raut wajah Lucy.


"Tidak ada es krim untuk pelaku pengacak-acak rumah!" katanya dan pergi mengembalikan es krim ke dalam kulkas.


Arzen membawa Loofyn pada Lucy. "Kenapa kau mengacaukan pesta kami?" protesnya.


Gadis itu menyipit, "Kenapa kalian mengacak-acak rumahku?!" tanyanya balik.


Arzen dan Loofyn kompak cemberut. Telinga mereka menangkup ke depan dan ekor turun ke bawah. Tatapan mereka seolah memelas pada Lucy.

__ADS_1


"Apa-apaan mereka mau menyerangku dengan tatapan lucu itu, ha?!" batinnya.


Ia mengelak, "Tidak akan mempan! Bantu aku bersih-bersih baru boleh makan dan tidur!" omelnya.


Lucy pergi ke gudang dan mengambil peralatan kebersihan. Pertama, ia menyuruh Arzen untuk membersihkan sisa es krim di wajahnya dan wajah Loofyn. Kedua, ia menyuruh pria itu memunguti barang dan mengembalikan ke tempatnya semula.


"Kenapa hanya aku yang melakukannya?" tanya Arzen ingin protes lagi.


Lucy melotot, "Kau tahu aku baru saja pulang kerja dan masih lelah. Kalian di rumah seharian tidak boleh protes!" sahutnya.


Arzen menggerutu sepanjang ia mengembalikan barang-barang. "Dasar manusia! Memangnya dia bicara pada siapa?!" gerutunya.


Rupanya Lucy menangkap keluh kesah itu. "Ekhem! Kau boleh raja di duniamu, tetapi ini rumahku! Pemilik rumah yang berkuasa dan kau sebagai tamu harus mematuhi pemilik rumah!"


Arzen tak lagi melawan. Ia masih menekuk telinganya berharap belas kasih Lucy. Sayangnya itu tidak terlalu mempan.


Lucy bertindak tegas hari ini. Di depannya, Arzen dan Loofyn berdiri. Jujur saja Lucy cukup terganggu dengan telinga dan ekor manusia serigala di depannya.


Meski begitu, ia harus memberi mereka pengajaran dan peringatan untuk menjaga rumah tetap rapi dan bersih. "Kau tahu ini bukan istanamu," ucap Lucy.


"Kau tahu tidak ada pelayan satupun di sini yang bisa memanjakanmu dan melakukan apa yang kau mau. Rumah berantakan dibersihkan sendiri, piring kotor dicuci sendiri, lapar masak sendiri. Mengerti?" tuturnya.


"Sekarang pergi mandi berdua. Air hangatnya sudah kuatur. Jangan lama-lama karena aku juga akan mandi," ucapnya.


Loofyn tiba-tiba berjalan menuju ke arahnya. Ia berdiri di depan kaki Lucy dan mendongak. Tangan kecilnya berusaha menggapai tangan Lucy.


"Ada apa Loofyn? Kau mau merayuku karena hal tadi?" Lucy berlutut agar tingginya setara dengan batita itu.


"Maa! Awawaw! Mama!" ocehnya sembari terus mengatungkan tangan.


"Aduh, aku tidak mengerti..." gumam Lucy.


Loofyn berkali-kali melakukan hal yang sama. Lucy berusaha memahami tetapi tidak bisa. Hingga akhirnya Arzen turun tangan.


Pria itu ikut berlutut di depan Lucy. Tangannya menyentuh kepala Loofyn dan membuatnya menunduk. "Katakan dengan benar, Loofyn," bisiknya.


"Apa yang kalian lakukan—"


"Dia ingin minta maaf padamu karena takut kau marah," sahut Arzen yang ikut menunduk menyembunyikan matanya di balik anak rambut yang mulai panjang.

__ADS_1


"Mama... uwawawa maa!" Loofyn kembali mengulurkan tangannya.


Lucy mendapati gemasnya anak kecil itu. Ia menyambut tangan kecil itu dan tersenyum. "Hm, Lucy maafkan," ungkapnya lembut.


"Mamama!" Loofyn menghambur memeluk Lucy.


Di balik itu, Lucy tersenyum jahil. "Apa kau tak ingin melakukan apa yang Loofyn lakukan?" sindirnya.


Semburat merah berada di pipi Arzen. Lelaki itu mengalihkan wajahnya. "K–kau pikir aku siapa, hah?!" ketusnya.


Lucy terkekeh, "Apa dia malu-malu kucing?"


"Aku serigala kalau kau lupa!"


"Hei, papamu kalah denganmu, Loofyn. Kau berani minta maaf duluan karena tahu kau salah," ucap Lucy sembari menoel hidung Loofyn.


Arzen berdecak kesal. Ia merasa sedikit tercoreng ketika dibandingkan dengan Loofyn yang masih anak kecil. Lucy menahan tawanya gemas.


Puk!


Gadis itu menyentuh dan mengelus puncak kepala Arzen. Membuat pria itu sedikit menegang satu badan. Ia tak berani bergerak tetapi juga penasaran apa yang Lucy lakukan.


"Kali ini aku maafkan. Lain kali kau harus minta maaf dengan benar," ujarnya lembut.


Ia terus mengelus-elus rambut lembut milik Arzen. "Kau tahu, meminta maaf lebih dulu itu sangat keren. Meski bukan kau yang salah, minta maaf lebih dulu itu perbuatan yang baik," tuturnya.


"Manusia aneh, untuk apa minta maaf kalau tidak salah?!" gerundel pria itu.


Lucy masih belum selesai mengelus kepala Arzen. "Tatap aku kalau sedang bicara," pintanya.


"Kau sudah menjaga Loofyn dan rumahku. Terima kasih," ucapnya lembut.


Suara yang menenangkan disertai senyuman hangat membuat Arzen terpaku. Ia tak sadar kalau pupil matanya melebar. Ia kembali tertunduk menyembunyikan bibirnya yang ingin tersenyum.


"Hah... ini sangat berbahaya," gumamnya.


"Sudah sana kalian berdua mandi, aku akan rapikan sisanya," ujar Lucy.


Ia meninggalkan Arzen dalam perasaan yang tidak karuan. Gemuruh asing memenuhi benaknya dan menjadi sesak. Arzen menggendong Loofyn dan segera pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


"Hah... Loofyn, orang yang kau panggil mama itu cukup berbahaya."


__ADS_2