
Lucy memasang wajah heran ketika ia melihat Arzen yang diam duduk di sofa. Lelaki itu baru saja selesai meninabobokan Loofyn. Sedangkan ia baru saja keluar membeli bahan masakan yang kurang.
Lucy mencuci sayur, daging, dan ikan sembari sesekali menoleh ke belakang. Ia memastikan keadaan pria itu yang tak bergerak beberapa saat. Helaan napas mengudara, Arzen memutuskan untuk menyudahi sesi melamunnya.
"Kau mau masak apa? Ini masih sore," ujar Arzen.
Pria itu berbalik dan menyandarkan dagunya di sandaran sofa. Lucy berhenti sejenak, "Aku mau membuat menu spesial. Takutnya akan lama kalau menunggu waktu yang biasanya," jawabnya.
"Ada apa? Tidak biasanya seorang kaisar murung seperti ini," sindir Lucy dengan menekankan kata 'kaisar' dalam kalimatnya.
Arzen mendengus, "Tidak murung...!" sahutnya.
"Kalau tidak murung lebih baik bantu aku menyiapkan ruangan!" perintah Lucy.
Arzen kembali mendengus mendengarnya. Ia mulai melakukan apa yang gadis itu perintahkan. Ia memulainya dari membawa keranjang berisi baju kotor ke ruang cuci.
Setelahnya, ia mengambil pakaian yang sudah kering dan membawanya ke kamar Lucy. Gadis itu yang akan melipatnya nanti. Pria itu menjentikkan jarinya dan dalam sekejap lantai menjadi bersih.
"Kau menggunakan sihir?" tebak Lucy.
Arzen mengangguk, "Malas," katanya.
Meski ia berkata begitu, Arzen terlihat sudah terbiasa dengan aktivitas manusia. Ia melakukan bersih-bersih dan merapikan sesuatu meski dengan mengeluh. Ia sudah membaur dengan kehidupan manusia.
"Ah, mejanya tak perlu ditata. Kecilkan saja lalu letakkan dekat ruang laundry," sela Lucy ketika ia melihat Arzen hendak merapikan meja.
"Kecilkan?" Alis pria itu bertaut.
"Bukan pakai sihir, tetapi dimasukkan– ah, begini..." Ia menunjukkan bagaimana meja makan yang besar itu bisa menjadi kecil.
Lucy melipatnya hingga muat masuk ke ruang laundry. Pria itu tertegun di tempat. Matanya sedikit melebar melihat hal yang menarik di depan mata.
Ini adalah hal baru setelah beberapa lama ia tinggal di dunia manusia. Ia tak pernah tahu meja Lucy bisa dilipat seperti itu.
"Bukan sihir?" tanya Arzen. Lucy menggeleng, "Sama sekali tidak menggunakan sihir," tegasnya.
Arzen mengangguk-angguk saja. "Lalu bagaimana kita akan makan malam nanti?"
Lucy tersenyum, "Sofanya dipindah agak mundur dari tempat semula. Kita akan menggunakan meja rendah itu," ujarnya.
Ia memasang taplak meja khusus agar panci dan kompor elektrik tidak mengenai meja secara langsung. Taplak mejanya juga lebih lebar sehingga sisa kain menjuntai menyentuh lantai. Gadis itu meletakkan kompor dan beberapa alat makan.
"Kau bangunkan Loofyn, mandikan sampai bersih. Aku siapkan bajunya di kamar," ucap Lucy.
Arzen kembali menurutinya. Ia membangunkan Loofyn dengan segera. Meski sempat drama menangis, batita itu mulai tenang ketika mandi dengan air hangat.
__ADS_1
"Mama, Fyn andi...! Fyn sih, Fyn yeh ain?" (Mama, Loofyn mandi...! Fyn bersih, Fyn boleh main?)
Lucy menggeleng, "Tidak, tadi seharian Loofyn sudah main sama papa sekarang waktunya istirahat makan malam," ujarnya.
"Lucy masak-masak enak," imbuhnya ketika ia tahu anak itu hendak menangis.
Di sinilah mereka, tepat pukul 7 malam di depan televisi. Meja dengan taplak yang turut menyelimuti kaki mereka dengan hangat. Di atasnya ada kompor dan pot gerabah berisi rebusan.
Dua manusia serigala tengah duduk dengan tenang sembari menunggu Lucy selesai. Telinga dan ekor mereka seolah mengatakan bahwa mereka sudah tidak sabar. Perempuan itu meletakkan telunjuknya di bibir dan duduk di samping mereka.
"Apa kau melakukan ulang tahun?" tanya Arzen.
Lucy mengibaskan tangannya, "Bukan, ini adalah caraku merayakan malam pergantian tahun," jawabnya.
"Lagipula, ulang tahunku sudah lewat," tambahnya.
Arzen tidak tahu tentang itu, "Kapan?"
"Pertengahan tahun kemarin, lima bulan yang lalu tepatnya tanggal 11," sahut Lucy.
Saat itu Arzen dan Loofyn belum datang ke sini. Pria itu mengatupkan bibirnya, ia melewatkan hari ulang tahun Lucy. Padahal gadis itu baru saja merayakan ulang tahun Loofyn.
"Hari ini kita akan melihat siaran di luar sana saat ini. Malam ini akan ada kembang api!" ujar Lucy antusias saat ia menekan tombol saluran televisi.
Arzen tersenyum tipis melihat riangnya Lucy. Karenanya, Loofyn juga ikut senang sampai mengibaskan ekornya dengan semangat. Anak itu tersenyum lebar menyaksikan acara televisi.
Blubub~ blubub~
Ia membuka pot gerabah berisi rebusan. Ia sudah menyediakan makanan bayi untuk Loofyn. Sedangkan ia dan Arzen akan menyantap hot pot.
"Ini pedas, lho~" bisik Lucy.
Arzen tak masalah dengan itu. Malah, indra penciumannya mungkin terlatih untuk membau aroma tajam seperti cabai dan lada. Ia juga tertarik menyantap makanan yang terlihat merah itu.
"Manusia makan neraka?" celetuk Arzen membuat Lucy tertawa.
Hot potnya memang masih mendidih ketika ia mengecilkan api. Warnanya juga merah membara, pantas saja Arzen menyebutnya neraka. Lucy membagikannya pada Arzen dan mengajari bagaimana cara memakannya.
"Ini makanan khas benua timur. Apa kau pernah ke sana sebelum ke rumahku?" tanya Lucy.
Arzen menggeleng, "Aku tidak berpikir untuk keliling dunia karena mengkhawatirkan Loofyn," ucapnya kemudian menyuap potongan telur rebus.
"Pedas, tetapi enak juga," gumamnya membuat Lucy senang.
"Lihat, itu namanya kembang api." Lucy menunjuk ke arah televisi yang sedang menampilkan siaran langsung.
__ADS_1
Loofyn saking senangnya sampai melompat-lompat. Telinga dan ekornya bergerak-gerak. Bahkan tergelak tawa, hampir melepaskan sihirnya.
"Hampir saja..." hela Lucy.
"Itu juga bukan sihir?" tanya Arzen.
Lucy menggeleng, "Aku tidak tahu bagaimana mereka membuatnya. Tetapi mereka terbuat dari elemen yang mudah meledak. Seperti batu atau pasir khusus," paparnya.
"Batu dan pasir yang meledak?" Dalam pikiran Arzen adalah luapan gunung berapi di dunia magis yang dijaga oleh naga merah.
Lucy menatapnya datar, "Aku tak tahu apa yang sedang kau bayangkan. Tetapi aku yakin tidak seperti itu," katanya.
Keduanya lanjut makan sampai pot gerabah bersih tanpa sisa. Loofyn sudah terkapar di sofa sejak tadi. Ia sudah bersih karenanya diperbolehkan tidur oleh Lucy.
"Enak, aku bisa memakannya sampai kenyang. Terima kasih, Lucy," ucap Arzen saat ia membantu cuci piring.
"Baguslah, kupikir serigala tidak bisa makan rempah-rempah," kata Lucy.
"Sudah kubilang kami bukan bangsa vampir..."
Mereka kembali duduk menyandar sofa. Menonton acara kembang api dan hitung mundur pergantian tahun. Di samping Lucy, Arzen memangku Loofyn agar tidur dengan nyaman.
"Apa di duniamu juga ada kembang api?" tanya Lucy.
Arzen mengangguk, "Saat perayaan itu hal yang biasa. Ada juga yang untuk perang," ujarnya.
"Ah... perang, tentu saja," batin Lucy.
"Apa kau juga merayakan pergantian tahun dengan makan-makan?" Arzen mengangguk, "Dulu sangat megah saat kaisar sebelumnya masih hidup," ujarnya sedikit lirih dengan tatapan sendu.
Lucy merasa dirinya salah bicara. Namun, pria itu melanjutkan ceritanya tentang pergantian tahun di dunia magis. Lebih tepatnya apa saja acara yang ada di istana.
Ia seperti membaca dongeng fiksi secara langsung. Bahkan saat ini ia masih merasa kalau Arzen adalah tokoh fiksi. Ia tersenyum tipis menatap pria itu.
"Yah, mungkin sudah semua aku ceritakan," pungkas Arzen.
Lucy mengangguk, "Begitu, ya? Jadi, menurutmu yang tadi kurang mewah, hm?" candanya.
"Bukan begitu, Lucy... di sini... di sini juga tidak kalah menyenangkan," sahut Arzen setengah bergumam.
Lucy membuat ekspresi wajah usil, "Apa? Tidak dengar, tuh!" godanya.
Arzen menyembunyikan semburat merah di wajahnya. "Ah, kau menjahiliku lagi, ya?!" gerutunya membuat gadis di sampingnya tertawa.
"Sudahlah, aku mengantuk!" Arzen mengalihkan topik.
__ADS_1
Lucy menepuk bahunya, "Kalau begitu coba bersandar di pundakku."