Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
End The Doom


__ADS_3

"Bukan! Jangan berani kau menyebut nama ibuku dengan mulut kotormu, Iblis!"


Lucy langsung menyerang mata kanan Iblis Merah dengan sihir kejutnya. "Helio Javeline!" Tombak cahaya itu seketika menembus mata dan membuat monster itu mengerang kesakitan.


"Kau sama gilanya dengan Lumine ternyata!" erangnya memegangi matanya yang mengeluarkan miasma.


Lucy menutup hidungnya dengan jubah. Bau busuk miasma sangat menyengat. Mungkin manusia biasa bisa pingsan atau bahkan meninggal dengan mudahnya. Iblis Merah memiliki miasma yang sangat beracun dan berbahaya.


"Little Lily Summon!" Galven menyeru dan tanah tiba-tiba berguncang.


Lucy dibuat tercengang melihat apa yang baru saja keluar dari sana. Sekumpulan bunga lily yang seharusnya indah malah senang memangsa manusia. Apalagi dengan bau dan racun yang mampu menyesakkan paru-paru makhluk hidup yang lemah.


"Sial, dia berencana membunuh seluruh makhluk di sini," batin Lucy. "Helio Dust!" Tornado yang sangat besar itu setidaknya mampu memukul mundur monster bunga lily.


"Fire Spear! Kerahkan seluruh kekuatanmu wahai iblis! Ini gunanya aku melakukan perjanjian denganmu agar bisa merebut kekuasaan kaisar bodoh itu!" seru Galven.


Ia tersenyum melihat Lucy yang kewalahan menghindari serangan tombak api. "Coba kau lebih tenang sedikit, aku bisa menjadikanmu ratu di kerajaanku yang baru," ucapnya.


Lucy mendesis mendengarnya. Ia bahkan bergedik ngeri hanya dengan mendengarnya. Galven benar-benar gila sekarang.


"Kau gila?! Kau pikir menyatu dengan makhluk keji itu bisa membantumu menguasai dunia?!" pekiknya yang tentu saja tidak dihiraukan oleh makhluk itu.


Ia berhasil menghindari serangan selanjutnya. Lucy dengan gesit berpindah tempat dan membuat monster itu kelelahan. Energi iblis itu semakin terkuras karena serangan ugal-ugalan Galven yang satupun tak mengenai Lucy.


Lucy memicingkan matanya, "Itu dia Zamrud yang dimaksud!" gumamnya ketika ia melihat sesuatu berwarna hitam menyembul dari jantung Galven.


Gadis itu berhasil mendarat di salah satu bukit paling tinggi. Tebing di sebelah kanannya sangat curam. Bahkan terdapat lautan miasma yang mendidih sampai hitam.


"Aku harus segera mengakhirinya atau manaku semakin terkuras...!" pikirnya. Ia tak sembarang berlari sana-sini dan menyerang titik vital.


Semua yang ia lakukan membutuhkan mana yang tidak sedikit tentunya. Lucy harus pintar melangkah dan menyusun rencana selanjutnya. Galven masih menghujaninya dengan serangan ribuan tombak api.


"Maaf, bu. Jubah kebanggaanmu malah kotor begini," gumamnya memperhatikan beberapa bagian terkena serangan.

__ADS_1


Ia mengencangkan ikat rambutnya. Ditancapkannya tombak pohon kehidupan ke tanah. Di bawah perisai anginnya ia merapalkan sesuatu.


Shinre Jade-nya menyala dan bersinar. Itu menghubungkannya pada Arzen dan Loofyn yang agak jauh dari tempatnya saat ini. Bahkan pasukan kekaisaran terlihat seperti kumpulan anak ayam yang siap diterjang kapan saja.


Arzen yang merespon itu langsung mencari keberadaan Lucy. Ia menoleh ke sana kemari melihat di mana gadis itu berada. Cukup jauh darinya bahkan jika ia berlari pun tak akan sempat melindungi Lucy dari serangan Galven.


"Kenapa ini menyala? Apa terjadi sesuatu?" pikirnya gelisah.


Ia memegangi dadanya yang terus memancarkan nyala merah Shinre Jade. Kepalanya menggeleng berulang kali karena memikirkan sesuatu yang buruk mungkin terjadi pada gadis itu. Ia terus berusaha mengerahkan kekuatan yang tersisa untuk meronta dan berlari.


"Tidak, kau tidak boleh pergi meninggalkanku, Lucy...!"


"Yang Mulia Kaisar! Jangan banyak bergerak, Anda masih dalam penyembuhan!" ucap seorang penyihir.


Arzen mendelik, "Kau menyuruhku untuk diam?! Kau menyuruhku untuk diam saja melihat gadisku dalam bahaya?!" sergahnya.


Kalau saja ia memiliki banyak mana saat ini mungkin ia bisa menyerang penyihir yang menyembuhkan dirinya. Penyihir itu bergedik ngeri meski tetap harus melakukan tugasnya. Arzen tak bisa diam di tempat tetapi mereka semua menahannya.


Bahkan Venus sampai harus memukul tengkuknya. Ia juga bersiap menggunakan Paralyze untuk melumpuhkan Arzen sementara waktu. Seperti saat ini, Venus kembali dari mengomando pasukan bersama Micellia.


Arzen membuang muka, "Jangan menatapku seperti itu, Venus. Seharusnya kau bisa melindungi Lucy saat ini dan bukan di sini," ujarnya.


"Lucy saja mengusirku," balas Venus.


"Dari mana ia mendapatkan kekuatan itu, Venus? Apa dia juga melakukan perjanjian dengan malaikat untuk melawan iblis?" tanya Arzen lirih.


Venus menghela napasnya, "Akan lebih baik kalau kakak mendengarnya sendiri dari gadis itu," katanya.


Arzen kembali menghembuskan napas. Lukanya tak kunjung sembuh meski darahnya bisa merecovery diri sendiri. Luka yang ia terima terlalu besar dari Galven.


"Bagaimana bisa keparat itu mendapatkan artefak terlarang?!" geramnya.


Ia merasa tidak berdaya sekarang. Ia merasa terlalu meremehkan lawan mereka kali ini. Ia hanya tak menyangka musuh akan menggunakan segala cara untuk merebut kekaisaran.

__ADS_1


Tangan pria itu mengepal kuat, "Bisa-bisanya dia mau merebut tatanan kedamaian yang susah payah leluhur ciptakan...!" gerundelnya.


BLARR!


"Mundur!" seru Micellia ketika monster bunga lily yang dipanggil Galven mulai menyerang.


Bunga itu memang cantik luarnya, tetapi senang menyemburkan miasma. Siapa saja yang kena pasti tak akan selamat. Entah sudah berapa banyak pasukan yang terkena miasma monster bunga itu.


Di depan kekaisaran, Micellia tengah memimpin pasukan melawan monster bunga lily. Sementara itu di atas bukit, Lucy sedang menyibukkan Galven dan Iblis Merah. Mereka terus mencari cara untuk menyudahi kekacauan ini.


"Micellia, biar aku yang tangani bunga busuk ini," ujar Venus dari arah belakang.


Ia sudah mengubah wujudnya menjadi serigala putih besar. Cakarnya dipertajam dan siap menerjang lawan. Sementara itu, Micellia pergi mengalahkan pasukan mayat hidup yang tak ada habisnya.


"Padahal aku sudah memberimu kesempatan untuk menyelamatkan nyawamu, wahai bocah!" pekik Galven sembari memegangi lengannya yang melepuh.


Ia mengamuk setelah terkena panah matahari Lucy. Gadis itu meski ia kalah ukuran tak gentar keberaniannya melawan Galven. Bahkan tombak petirnya sudah ia lontarkan lagi mengenai mata kirinya.


"Aarghhh...! Sialan! Kau akan menanggung akibatnya!" pekik Galven dan mulai limbung.


Ia menguatkan seluruh otot tubuhnya. Ia mulai mengalirkan mana Iblis Merah ke seluruh tubuhnya. Bertambah besar dan semakin ganas.


"Bahahahaha! Kau akan tahu akibatnya menantangku, kroco! Kau akan menerima akibat yang pedih!" seru Galven semakin menguatkan topan apinya.


Bahkan dampaknya sampai memusnahkan pasukannya sendiri. Micellia dan pasukannya mundur setelah melihat pasukan undead itu hancur mencari tanah. Sementara itu Venus baru saja selesai menghabisi monster bunga lily dan tak lagi bermunculan.


"Dasar j*l*ng! Padahal kau tidak perlu membuang manamu untuk hal sia-sia!" seru Galven menunjuk wajah Lucy.


Gadis itu tersenyum miring, "Bukankah kau sendiri yang sedang membuang mana berhargamu, iblis?!" tantangnya.


Galven mengangkat kedua alisnya tak percaya. "Apa?!"


Lucy menghela napasnya. Ia menancapkan tombak pohon kehidupan di atas tanah. Matanya terpejam dan cahaya putih mulai mengelilingi dirinya.

__ADS_1


"Eclipse Heliosa!"


__ADS_2