
Ia menyembunyikan wajah sembabnya di bahu kecil Lucy. Memeluk pinggang rampingnya sampai gadis itu terkunci dalam dekapan. Arzen tak mengizinkan sedikitpun gadis itu pergi.
"Aku melihatnya..." gumam Arzen.
Lucy menyahut, "Melihat apa?" tanyanya ragu.
"Aku tahu siapa yang membawa Loofyn padamu," ujar Arzen.
Lucy tersenyum, "Baguslah, kenapa dia tidak kau ajak ke rumah? Di mana dia? Akhirnya Loofyn bisa bertemu dengan orang tua—"
"Tidak bisa." Arzen menggeleng.
"Eh?"
Saat itu, ia tahu suasana sedang buruk. Arzen tak seperti biasanya yang selalu angkuh dan kuat. Ia malah seperti bayi yang merengek minta dipeluk oleh ibunya.
Lucy membalas pelukan itu dengan menyentuh lengan Arzen. "Arzen," panggilnya lirih.
Ia dapat merasakan basah di bahu kirinya. Bukan karena bekas hujan yang membuat pria itu basah kuyup. Melainkan hangat air mata kesedihan yang ia bisa rasakan.
"Apa yang sudah terjadi?" Lucy bertanya dan suasana terasa semakin sendu.
Ia tak mengira seorang Arzen akan menangis di hadapannya. Ia tak pernah membayangkan manusia setengah serigala itu menunjukkan sisi lemahnya. Tangan kekarnya kembali memeluk erat tubuh Lucy.
"Sudah pergi... sangat jauh," lirihnya gemetar.
Detik itu juga, Lucy paham apa yang sudah terjadi. Apa yang menimpa Arzen dan Loofyn hingga turut membuatnya sesak. Lucy menahan isaknya agar ia bisa menguatkan Arzen.
"Ayo masuk dulu," ajaknya pada Arzen.
Ia membawa Arzen ke taman belakang. Rasanya ini seperti pernah terjadi sebelumnya. Taman belakang bukan sekedar taman dan gudang, tetapi tempat untuk bercerita.
Lucy menyodorkan handuk bersih untuk Arzen bersihkan basahnya. Hujan sangat deras sudah reda tetapi gejolak batinnya belum. Ia merenung setengah melamun sembari memegang handuk itu.
Lucy bergegas menyeduhkan teh hangat. Ia juga membawa pengering rambut untuk Arzen. "Ini mungkin asing bagimu, tetapi aku akan mencobanya," ujarnya sebelum ia menggunakan itu pada Arzen.
"Panas," celetuk Arzen.
Lucy kemudian mendekat dan mengeringkan rambut Arzen sampai kering. "Ini akan membantu mengeringkanmu dengan cepat," katanya.
__ADS_1
Ia terus mengelus dan menggunakan pengering itu pada rambut Arzen. Setiap usapannya membuat Arzen sedikit mengantuk. Ia memang tahu manusia bukan makhluk kasar, tetapi ia baru tahu ada yang selembut ini.
"Enak, kan? Ini dibuat manusia bukan dari sihir," ucap Lucy karena ia tahu setiap benda akan dikira sihir oleh Arzen.
Lelaki itu mengangguk, "Iya. Rambutku kering sangat cepat," katanya.
Lucy melakukan hal lain. Ia bolak-balik ke dalam rumah mengambil ini itu. Mulai dari handuk, pengering rambut, teh hangat, dan juga baju bersih.
Merasa ditatap, Lucy berhenti dan bertanya, "Apa kau ingin mengatakan sesuatu?"
Arzen menunjukkan wajah ragunya. Lucy menghela napas, "Aku tidak akan menanyaimu macam-macam. Aku tidak ingin merecoki suasana hatimu," katanya.
"Tetapi, kalau kau butuh tempat untuk bercerita, aku bisa menjadi pendengar yang baik. Aku akan mendengarmu sampai kau selesai bercerita," ungkapnya.
Sesuatu yang berat seperti lepas dari benak Arzen. Pria itu terus menatap Lucy, ia tak tahu apa yang tengah ia rasakan sekarang. Perempuan itu seperti membawa harapan baru baginya.
"Kalau kau membutuhkanku, aku bisa mendengarkanmu," ucap Lucy.
Ketika Lucy berbalik badan dan hendak beranjak, tiba-tiba Arzen berdiri dari duduknya. Ia menahan lengan Lucy agar gadis itu tidak jadi pergi. Tatapannya sama seperti saat pulang tadi, sendu.
"Kau mau berce—"
Pria itu kembali membenamkan wajahnya di pundak Lucy. Membuat gadis itu hampir jatuh karena menjaga keseimbangan. Arzen tak menopanganya sebab kedua tangan berada di samping tangan.
"Maafkan aku. Tolong jaga Loofyn untuk beberapa waktu lagi," ujarnya.
Lucy mengangguk saja walau ia tahu sepertinya akan sulit. Ia tak ada pengalaman sebagai seorang ibu. Di satu sisi bayi yang ia rawat adalah anak serigala.
"Aku akan mencari cara untuk melepaskan Shinre Jade secepatnya..." ujar Arzen yang melirih di akhir kalimat.
Lucy mengangguk saja mendengar apa yang Arzen katakan. Ia tak akan menyela atau memberi komentar. Ia tak tahu apa yang mereka bincangkan di dunia magis.
"Sebenarnya, aku sudah tahu. Aku merasa sesuatu menyuruhku untuk diam saja," ucap Arzen dalam hati.
Tanpa ia duga, Lucy menyentuh kepalanya. Mengelusnya lembut seperti sihir penenang. Darah berdesir di sekitar hati dan wajahnya.
"Kenapa rasanya nyaman? Apakah ini tanda bahaya berkedok rasa nyaman?" pikirnya.
Ia tahu ia akan semakin berbahaya jika masih di posisi sekarang. Apalagi feromon Lucy semakin meruak. Ia bisa membaunya dengan jelas karena sangat dekat.
__ADS_1
Arzen bangkit dan memegangi kedua lengan Lucy. Memandangi gadis itu lekat-lekat seperti ingin menginterogasi pelaku kejahatan. Lucy juga menatapnya, ia adalah gadis-gadis seluru syuting drama.
"Apa kau sudah—"
Arzen menggeleng, "Tidak. Maaf, aku belum bisa bercerita. Terlalu rumit sampai aku bingung dimulai dari mana yang harus kusampaikan," ujarnya kemudian pergi dari sana.
"Ah, aku pinjam untuk mandi," celetuknya dari arah kamar mandi sebelum i tutup pintu.
Lucy tersenyum melihatnya. "Sebentar lagi dia akan kembali seperti Arzen yang biasanya," ucapnya.
Sedangkan di dalam sana, Arzen bersandar pada pintu kamar mandi. Ia menahan sudut bibirnya untuk tersenyum. Sembari tangannya menutup dan meraup wajah dengan gusar.
"Argh, sial!" erangnya dalan hati.
"Apa ini? Aku tak pernah tahu sebelumnya..."
Ia berjongkok di sana, "Kenapa aku merasa kesal dan senang dalam waktu yang sama?! Kenapa ini tidak bisa kujelaskan?!" racaunya sembari memukul dada.
Beruntung, tembok kamar mandi dibuat kedap suara. Ia tak pernah merasa sangat frustasi seperti ini. Banyak hal di sekitar yang tak dijelaskan dan membuatnya bingung.
"Hah... terlalu banyak masalah sampai aku bingung yang mana yang harus kuselesaikan dulu?"
Selama mandi, ia tidak merasakan lepasnya penat. Malah terasa lebih penat sebab ia terus memikirkan masalah. Ia menyudahi mandinya dan pergi melihat cermin.
"Apa yang sedang kau cari sebenarnya,?!" omelnya saat pikiran tertuju pada musuh yang berkeliaran di kepala.
...>>><<<...
"Yang Mulia! Apa yang harus dilakukan pada seonggok mayat tak berharga ini?"
Seorang pria tidak nampak sebagain wajahnya tertutup oleh bayangan. Ia tersenyum, lebih tepatnya menyeringai. Batang berasap itu ia letakkan di sebuah asbak.
"Jangan kalian berbuat macam-macam. Kurung saja di kamar sihir" perintahnya yang kamu .
Ia kembali tersenyum miring ketika para pelayannya undur diri. Di tangannya melempar-lempar buah apel lalu memakannya. Helaan napas mengudara dari oria itu.
"Dasar... kau pikir aku akan tingal diam saja?" gumamnya.
Kemudian ia menembakkan panah sihir pada lukisan potret di hadapannya. Seorang pria gagah terlukis di sana. Lalu pria dalam bayangan itu memegang panah sihir.
__ADS_1
"Kau pikir kau bisa melawanku, ha? Dasar bodoh..."