Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Banyak 'Pertama Kali' Bersamamu


__ADS_3

Lucy langsung memeluk erat tubuh Arzen. Ia menggeleng menduselkan kepalanya ke perut pria itu. Ia tak akan membiarkan Arzen melakukannya.


"Tidak, jangan...!" ucapnya.


Arzen menghembuskan napasnya, "Aku tak mau kau menderita karena kedatanganku dan Loofyn. Aku bisa melepasnya dan kau akan hidup damai tanpa harus memikirkan kami berdua," ujarnya.


Lucy membenturkan kepalanya ke perut Arzen. "Kubilang tidak!" pekiknya.


Padahal itu adalah tawaran yang lumayan baik untuknya. Lucy juga berpikir kalau seandainya mereka berdua tidak datang akan seperti apa hari-harinya. Mungkin ia bisa berkencan dengan Sean seperti dalam rumor meski ia tak memiliki perasaan.


Mungkin ia tak perlu banyak uang untuk dibelanjakan setiap akhir bulan. Ia bisa bangun dan makan sepuasnya tanpa membagi porsi dengan dua serigala itu. Ia tak perlu bangun tengah malam untuk mengurus Loofyn.


Namun ia tak mau hari-harinya yang dulu kembali. Ia sudah lupa rasanya sendirian. Ia sudah tak ingat bagaimana rupa monokrom kesehariannya.


"Jangan pergi, kumohon," lirihnya.


Arzen tersenyum, "Kau egois ya, manusia?" candanya.


Lucy mendongak, "Kau tak menyebut namaku lagi?" tanyanya sedih.


Arzen mengusap air mata Lucy, "Diam, kau jelek kalau menangis begini," candanya lagi.


"Kau ingin pergi, Arzen?" tanya Lucy.


Arzen menatapnya lekat. Sebenarnya ia pun takut untuk bertanya tadi. Ia takut menawarkan diri untuk pergi dari Lucy.


Dalam hati ia tak ingin meninggalkan gadis itu. Terlepas dari Shinre Jade yang ia tanamkan, ia merasa ada yang lebih melekat. Ia tak ingin berpisah dengan Lucy.


"Sebenarnya Lucy, aku sendiri pun takut ketika bertanya padamu tadi," katanya.


Ia mengubah wujudnya menjadi serigala dan membawa gadis itu pergi dari sana. Ia membawanya ke tempat yang lebih sepi. Tentu saja di atas bukit yang menghadap Kota Luxeas.


"Kenapa ke sini?" tanya Lucy.


Arzen kembali menjadi manusia. Ia merebah dan meletakkan kepalanya di paha Lucy. Matanya langsung menatap Lucy berlatar langit malam penuh bintang.


"Aku juga takut, Lucy. Aku takut meninggalkanmu," ucapnya.


Kemudian ia mengalungkan tangannya ke pinggang ramping Lucy. Menenggelamkan wajahnya ke perut rata Lucy mencari kenyamanan. Meski sedikit geli bagi Lucy, gadis itu membiarkan Arzen di sana.


"Aku takut meninggalkanmu dan aku lebih takut kau meninggalkanku," ujarnya sedikit teredam karena ia menelungkup.


"Aku yakin Loofyn juga merasakan hal yang sama," imbuhnya.

__ADS_1


"Aku takut bahkan saat bertanya padamu tadi aku berharap kau menolak tawaranku," katanya.


Ia tersenyum nanar, "Egois, kan? Aku ingin kau bahagia dan bebas tetapi aku malah mengekangmu," ujarnya.


Lucy mengelus rambut hitam mengkilap Arzen. "Tidak, jangan sampai kau berkata seperti tadi. Kita berdua sangat takut, jadi jangan mengucapkannya lagi," ujarnya.


"Jujur, aku juga bingung dan kesusahan saat tahu harus merawat bayi. Aku yang belum pernah menikah ini mana tahu caranya." Ia kembali mengingat masa-masa lelahnya mengurus Loofyn.


Kembali ia pikir, apa alasan ia menerima Loofyn hari itu. Mengapa ia mau merawatnya padahal ia bisa menyerahkannya ke panti. Atau bahkan membuangnya ke tengah hutan.


Lucy tak sampai hati hanya dengan membayangkannya. Ia memang iba pada Loofyn yang ditinggal sendirian di malam yang dingin. Jadi ia putuskan untuk merawatnya sampai orang yang dimaksud datang menjemput.


Namun untuk Arzen, ia tak tahu apa alasannya untuk menerima kedatangan pria itu. Ia tak juga mengusirnya meski kesal karena sikap angkuh Arzen. Tak seperti saat menerima Loofyn, ia tak tahu apa alasan membiarkan Arzen berada di sisinya.


"Kalau dipikir-pikir, aku tak ada alasan untuk menerima atau menolakmu," ungkapnya.


Ia tak cukup terganggu sampai harus mengusir Arzen dan Loofyn. "Apa ya alasannya?" pikirnya.


Heningnya malam meliputi keduanya. Silir angin berhembus menerpa wajah mereka. Menerbangkan perasaan gelisah menggantinya dengan ketenangan.


"Arzen."


"Iya?"


Arzen langsung mendongak, "Lucy, kau-"


"Aku juga ingin tahu seperti apa di sana. Aku ingin tahu dunia tempatmu lahir dan besar selama ini," sela Lucy.


Arzen mengubah posisinya menjadi duduk di depan Lucy. Ia menatap lekat Lucy yang tengah fokus memandangi Kota Luxeas. Ia menggeleng lemah.


"Tidak, Lucy. Kau harus memikirkannya matang-matang. Aku akui tawaran itu tidak serius," ujarnya khawatir.


"Kau tak boleh membuat keputusan saat sedang sedih."


Lucy tersenyum tipis, "Selama ini aku memikirkannya, Arzen." Ia membalas tatapan pria itu.


"Aku tak tahu apakah manusia bisa melintasi portal untuk pergi ke sana," katanya.


Ia tak tahu apa yang terjadi setelah melintasi portal. Apakah ia akan sampai di sana dengan utuh atau dalam wujud lain. Apakah tubuh manusia sanggup menahan radiasi sihir dunia magis.


Baju apa yang seharusnya ia pakai untuk melindungi dirinya saat melalui portal. Apakah tubuh manusia dunia ini bisa bertahan dengan atmosfer dunia magis. Lalu bagaimana pandangan rakyat sana melihat makhluk asing.


"Kau memikirkan apa? Ah, maafkan aku. Seharusnya aku tak asal bicara," ucap Arzen.

__ADS_1


Pria itu menaruh kepalanya di pundak kecil Lucy. Posisinya seperti anak kecil yang dipangku oleh ibunya. Arzen sudah berani bermanja-manja dengan Lucy.


"Tidak, aku jadi penasaran seperti apa dunia magis," ucap Lucy.


"Seperti ada yang memanggilku," batinnya.


"Seharusnya aku memikirkan risikonya juga. Aku takut terjadi sesuatu ketika kita berhasil melewati portal," kata Arzen.


Lucy pun demikian. Ia berharap menemukan solusinya kalau hal itu terjadi. "Lalu, bagaimana caraku kembali ke sini?" tanyanya.


"Sama saja melalui portal. Selama aku punya energi sihir yang cukup, aku bisa membukanya," balas Arzen.


Ia menatap Lucy yang melamun, "Kalau kau mau bercerita, aku siap mendengarkan," ucapnya lembut.


"Aku tidak menyukai Peter maupun Sean," celetuk Lucy tiba-tiba.


"Aku bahkan tak punya hubungan seperti yang mereka maksud. Aku hanya melakukan pekerjaanku. Itu saja," pungkasnya.


Ia menceritakan apa yang selama ini terjadi di kantor. Ia menyebutkan semuanya tanpa terlewat. Arzen mengangguk walau sebenarnya ia sudah tahu siapa pelakunya.


"Aku terbiasa hidup sendiri setelah ibu dan nenekku meninggal saat usiaku masih 16 tahun," ujarnya.


"Aku harus bekerja keras untuk menghidupi diri sendiri. Aku tak mau menggunakan warisan ibuku kalau tidak keadaan darurat."


"Tak ada waktu untuk memikirkan hal lain selain bekerja, mendapat uang, makan, dan rumah."


Ia menatap Arzen, "Karena itu aku tak pernah kepikiran aku bisa berkencan dengan orang lain," ujarnya.


Ia menyadari, ini adalah pertama kalinya ia dekat dengan lawan jenis. Kedatangan Arzen membawanya pada semua jenis 'pertama kali' dalam lembaran barunya. Ia pikir ia tak akan pernah berhubungan dengan laki-laki.


"Ini pertama kali aku dekat dengan laki-laki."


Ia melihat Arzen, "Apalagi sampai tinggal serumah dengannya," ucapnya dan tersipu.


Arzen menatapnya dalam. Ia semakin mendekatkan wajahnya dan menghapus jarak di antara keduanya. Lucy jadi salah tingkah dan memilih untuk diam saja.


"Jadi, aku yang pertama memelukmu seperti ini?" tanya Arzen dengan raut wajah serius.


Lucy mengangguk. "Aku lawan jenis pertama yang dekat denganmu seperti ini?" Lagi-lagi Lucy mengangguk.


Cupp♡


"Hmmphh!"

__ADS_1


Arzen melepas ciuman dari bibir Lucy. "Apa aku yang pertama juga soal ini?"


__ADS_2