
"Kumohon sampaikan pada kakak, Arven Connecto!"
Ia memukul dada kirinya sekali hentak. Hembusan napas kecewa keluar dari mulutnya. Tak ada cahaya sebagai tanda aktifnya sihir yang ia ucapkan.
"Pangeran Ketiga, apa yang sedang—"
Pria berjubah putih itu berbalik badan. "Micellia? Tidak, kau tidak boleh bangun dulu," ucapnya cepat.
Ia berjalan dengan tenang menghampiri pasien perempuan yang hendak duduk itu. Gadis itu mengurungkan niatnya setelah menerima tatapan tajam dari si pria jubah putih. Lebih tepatnya, orang yang ia panggil pangeran.
"Hah, kau masih memanggilku dengan sebutan itu bahkan saat kita hanya berdua," ujarnya.
Wanita bernama Micellia itu menangkap aura sedih dari sang pangeran. Ia melirik arah lain karena canggung. Tubuhnya belum bisa digerakkan jadi ia tak bisa kabur dari sana.
"Hah, kau pasti membenciku karena tidak bisa melindungi—"
"Maafkan saya, pangeran. Saya hanya melakukan apa yang harus dilakukan," sela Micellia.
Ia menatap tegas pangeran yang berdiri di samping kasurnya. "Termasuk cara saya memanggil pangeran," ucapnya.
Pria itu hanya menatap datar. Bukan, raut wajahnya memang seperti itu dari ia lahir. Mata yang tajam, tatapan kosong, dan bibir yang tak pernah tersenyum adalah ciri khasnya.
Ia memang tak pandai mengutarakan perasaan. Ia tak bisa mengekspresikan emosi yang dirasakan. Orang-orang menyebutnya 'Badai Salju Bintang Kejora' karena sifatnya dan penampilannya.
"Cih, terserah apa katamu!"
Klap!
>>><<<
"Ah, Arzen?" celetuk Lucy ketika ia keluar dari kamar mandi dan menemukan Arzen bersama dengan Loofyn.
Pria itu menoleh ke sumber suara. Loofyn yang berada di gendongannya pun ikut melihat. Lucy berusaha menenangkan diri, ia tak pernah tahu dua orang bertentangan ini akan menjadi lucu di kemudian hari.
"Ah, tidak...! Menggemaskan! Loofyn sangat menggemaskan!" batinnya.
"Apa?"
"Semalam kenapa tidak mengunci pintu dulu kalau kau kembali ke bukit?" tanya Lucy sedikit kesal.
Arzen terkesiap mendengarnya. Ia susah payah menelan saliva karena gugup. Kejadian semalam yang berusaha ia lupakan malah kembali teringat.
"Tidak ada!" celetuknya tiba-tiba dan mengalihkan pandangannya.
Lucy mengernyit tak mengerti, "Apanya yang tidak ada?"
__ADS_1
Arzen menggeleng, "Lupakan. Ah, maaf soal itu. Tapi kau bisa tenang karena sihir pelindungnya aktif," ucapnya.
Lucy menghela napasnya dan duduk di meja kerja. Ia sudah tak memusingkan soal sihir dan dunia magis lagi. Entah itu bekerja di dunia manusia atau tidak, ia tak peduli.
"Tetap saja itu tidak sopan. Lain kali, bangunkan aku kalau kau mau pergi," katanya.
Arzen tak lagi menjawab. Ia tak bisa mengatakan tentang apa yang terjadi semalam. Ia sangat kesusahan malam itu.
"Ah, kau tidak ingin menjelaskan tentang semalam?" tanya Lucy tanpa mengalihkan matanya dari laptop.
Arzen membeku di tempat. Seperti ada asap keluar dari kepalanya. Wajahnya memerah, ia bingung harus menjawab apa.
"Aku tidak berbuat macam-macam, sungguh!"
"Ha?"
Ting~
Sepertinya telah terjadi kesalahpahaman di antara mereka. Kejadian yang Lucy maksud adalah saat di mana Loofyn mengalami tantrum. Sedangkan Arzen, lelaki itu memikirkan kejadian janggal akibat aroma tubuh perempuan itu.
"Tidak!" Arzen menutup wajahnya dengan telapak tangan.
Lucy menjadi curiga. Ia berkacak pinggang dan berdiri menatap penuh selidik pada lelaki itu. Membuat Arzen terkejut dan sulit mengelak.
Ia menyipitkan matanya untuk menginterogasi pria itu. Arzen segera menghindar setelah beberapa detik menatap Lucy. Ia bisa merasakan gejolak aneh dalam dadanya.
Ia memegang dada kirinya. "Apa sebenarnya dia bukan manusia biasa? Apa dia menyimpan semacam jimat?" batinnya.
Lucy semakin kebingungan melihat Arzen yang malah menghindarinya. "Kenapa dia seperti melihat hantu?" pikirnya.
"Apa kau menyimpan jimat, manusia?" tanya Arzen langsung pada intinya.
"Ha? Jimat? Untuk apa benda seperti itu?" Lucy malah balik bertanya.
"Sudah kuduga, mana mungkin ia mengaku," batin Arzen.
Lucy menyudahi kecurigaannya. Ia mendekati pria itu, "Kau ini kenapa? Aku tidak jadi menuduhmu, aku sudah melupakannya dan tidak menggubrisnya karena saat itu aku sudah mengantuk dan malas berdebat," ujarnya.
"Jangan mendekat!" bentak Arzen.
Suaranya yang dalam dan tegas membuat perempuan itu terkesiap. Ia berhenti dengan tangan yang menggantung di udara. Matanya membelalak terkejut karena tak menyangka pria itu akan membentaknya.
Sejujurnya, ia tak heran kalau Arzen akan membentaknya mengingat perilaku angkuhnya selama ini. Namun, di ruangan ini ada Loofyn, anak itu juga terkejut sampai bersembunyi di bawah meja. Ia meringkuk dan menahan tangisnya.
"Kau boleh membentakku...." Ia sengaja menggantungkan kalimatnya.
__ADS_1
Digendongnya Loofyn dengan erat. "Tetapi kau harus ingat, ada anak kecil di sini!" katanya.
Aura keibuan itu mendorongnya untuk melindungi Loofyn. Ia seperti seorang ibu pada umumnya yang tidak terima kalau anaknya dibentak. Bahkan oleh ayah atau kerabat yang lain.
"Bukan begitu," gumam Arzen terbata. Ia juga tak menyangka akan meninggikan suaranya di depan perempuan dan anak kecil.
Pria itu menyesal melihat raut wajah takut Loofyn. Padahal ia berencana membangun kepercayaan agar mudah membawanya pulang. Lalu sekarang, anak kecil itu takut untuk sekedar menatapnya.
"Tidak, bukan begitu maksudku...!"
Blam!
Arzen pergi dengan cepat dari sana. Ia hampir membanting pintu rumah Lucy. "Biarkan aku sendiri dulu. Aku akan menjelaskannya nanti," ucapnya dari arah luar.
Lucy memperhatikan Loofyn yang memeluknya erat. Ia menepuk-nepuk punggung anak itu guna menenangkannya. Ia tersenyum hangat dan berusaha agar Loofyn tidak menangis.
"Loofyn di sini dulu, ya? Lucy coba bicara sama papamu," bisiknya.
Awalnya Loofyn tidak melepaskan Lucy. Ia menggeleng kuat meminta Lucy untuk tidak menghampiri Arzen. Ia takut kalau Arzen kembali membentaknya.
"Loofyn sayang, tolong, ya? Tidak apa-apa, nanti kalau papamu jahat, Lucy bisa mengalahkannya!" ujar perempuan itu membujuk Loofyn.
Setelah sekian menit, anak 1 tahun itu akhirnya mau melepaskan diri dari Lucy. Ia menatap ragu saat duduk di kursi bayinya. Biskuit yang Lucy berikan padanya sama sekali tak disentuh.
"Tenang saja! Lucy kuat bahkan bisa mengalahkan naga!" katanya sembari memperagakan beberapa pukulan untuk meyakinkan Loofyn.
Batita itu akhirnya mengerti dan tersenyum antusias. Lucy menghela napas dan keluar dari rumahnya. Ia menemui Arzen yang terduduk di samping pintu.
"Astaga, kupikir aku akan menendangmu dengan pintu," ucap Lucy menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Ia menutup pintu dan berjongkok di samping Arzen. "Aku tak tahu sedang terjadi masalah apa padamu. Tetapi aku yakin, kau bukan tipe yang kabur dari masalah," ujarnya lembut.
"Yah, walaupun kau angkuh, aku yakin kau tidak bermaksud membentak seperti tadi. Aku sudah memakluminya, kau tak perlu merasa bersalah," katanya dengan riang.
Arzen menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. "Apa semua manusia seperti ini?" tanyanya dalam hati.
Ia menghembus singkat. "Kau akan kesulitan kalau bersikap sebaik itu pada orang lain," gumamnya.
"Hm, tak ada buruknya juga. Aku memang merasa bersalah atas hal tadi," katanya.
Raut wajahnya mendadak serius. "Ada yang memanggilku untuk kembali."
Lucy mengernyit, "Kembali ke mana?"
"Aku harus menyelesaikan sesuatu di dunia magis."
__ADS_1