
Bruk!
Serena terkejut sampai terbangun dari tidurnya. Ia mendengar suara benda terjatuh menghantam lantai. Ia tambah tercengang melihat Lucy yang terkapar di lantai perpustakaan.
"Astaga, Lucy!" pekiknya membuat gadis yang terkapar itu terusik tidurnya.
Ia berulang kali mengerjapkan matanya dan perlahan terbuka. Ia menyadari dirinya sudah berada di lantai. Dalam pandangannya Serena tengah panik dan memanggil pelayan.
"Nona Serena, aku tidak apa-apa," lirihnya khas orang baru bangun tidur.
Ia melirik ke sekitar dan menyadari bahwa ia masih berada di perpustakaan. Langit yang ia lihat dari jendela itu sudah semburat jingga. Pertanda sudah menjelang sore dan ia menghabiskan setidaknya dua jam tidur siang.
Serena segera menyodorkan air untuk Lucy minum. Ia sampai duduk bersimpuh menatap cemas Lucy. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Serena.
Lucy mengangguk dan meminum airnya, "Terima kasih," ucapnya.
Serena urung berdiri karena melihat kain yang ada di pangkuan Lucy. "Itu apa? Apa kau tadi membawa selimut ke sini?" Raut wajahnya heran.
Lucy melihat apa yang ada di pahanya. Ia membelalak segar seketika rasa kantuknya lenyap. Tergesa-gesa ia menggelar kain itu.
"Jubah milik ibu," gumamnya tak percaya.
Serena semkain mengernyit, "Ibu siapa?"
Lucy tiba-tiba beranjak dari duduknya. "Nona Serena tolong jaga Loofyn. Aku harus menemui Algre," ujarnya lalu pergi dari sana.
Serena kalah cepat sehingga tak bisa mengejar Lucy untuk meminta penjelasan. Lucy terlihat panik dan serius tadi. Saat ini ia sedang merengkuh Loofyn yang juga baru bangun.
"Mama ke mana?" tanya Loofyn begitu membuka matanya.
Serena menggeleng, "Bibi tidak tahu. Mamamu sangat terburu-buru pergi," ujarnya.
Lucy berlari menyusuri lorong gelap. Ia mencari keberadaan pemimpin menara di sana. Mereka semua sedang sangat sibuk sampai tak seorang pun ia temukan di jalan.
Hingga ia menemukan sebuah ruangan di ujung. Ia yakin Algre ada di sana meski ia harus menunggu. Ia harus segera melakukan sesuatu.
__ADS_1
"Algre! Aku sangat membutuhkanmu, kumohon!" teriaknya dari depan pintu.
Tak butuh waktu lama orang tua itu membukakan pintu. "Oh, ada apa nona sampai mencari orang tua ini?" tanyanya.
Lucy menatap Algre. Hanya dengan itu orang itu tahu ada yang harus mereka bicarakan di dalam. Kini kedua orang itu saling duduk berhadapan.
Lucy meletakkan jubah milik ibunya di atas meja. "Algre, bantu aku menggunakan kekuatan tersembunyiku," pintanya dengan raut wajah serius.
"Hm? Apa itu nona?" tanya Algre.
Gadis itu melebarkan jubah milik ibunya. "Algre, aku tahu kau pasti mengenali sesuatu dari jubah ini," ucapnya dan seketika raut wajah pria tua itu berubah terkejut.
"Tunggu, dari mana nona mendapatkannya? Apa beliau ada di sini? Jadi, itu bukan sekedar legenda?" berondongnya dengan suara parau.
Lucy mengangguk. Ia menceritakan semua yang terjadi di mimpi pada Algre. Dengan begitu, ia pasti bisa menerimanya dengan mudah.
Gadis itu tak perlu berbelit-belit menjelaskannya dengan cara lain. Ia yakin Algre bisa memahaminya melalui cerita dalam mimpi itu. Mimpi yang sekaligus perjalanan spiritualnya ke alam roh bertemu sang ibu.
Algre kembali terduduk karena lemas. "Hah, aku tak percaya ini. Kau benar-benar diberkahi oleh Dewa dunia ini, nona!" ujarnya senang.
Algre menggeleng membuat Lucy kecewa. "Tidak ada yang bisa mengajarimu kecuali nona sendiri yang mengenalinya," ujarnya.
"Tetapi... kenapa, Algre? Jubah ini akan sia-sia kalau aku tak bisa menggunakan kekuatannya," keluh Lucy.
Orang tua mengambil buku yang mungkin Lucy butuhkan. "Mungkin ini bisa membantumu. Ini ditulis oleh penyihir agung terdahulu yang pernah bertemu dengan ibumu," ujarnya.
Lucy membaca seksama buku itu dan meresapnya. Ia berharap ada sedikit cahaya untuknya melangkah. Huruf-huruf yang tak ia kenali itu membuatnya frustasi.
"Aku tak bisa membacanya," keluhnya. Algre mengangkat alisnya, "Benarkah? Coba kau bayangkan sesuatu. Bayangkan dan yakinkan dirimu kau adalah keturunan manusai suci. Aku yakin darah ibumu yang mengalir di tubuhmu bisa mengenalinya," tuturnya.
Gadis itu kembali mencoba bahkan sampai matanya berair. Ia berusaha sekuat tenaga mengenali sesuatu. Ia tak mudah menyerah, tak ada waktu untuk memikirkan hal lain.
Saat ini ia harus fokus dan emncari cara untuk menolong Arzen di medang perang. Ia harus mendapatkan kekuatan itu secepatnya sebelum hal yang lebih buruk terjadi. Meski ia harus belajar mati-matian dari awal, ia akan melakukannya sampai mendapat titik terang.
"Algre... aku berhasil membacanya," uajr Lucy di kemudian hari.
__ADS_1
Algre tersenyum mendengarnya. Butuh waktu setidaknya tiga hari untuk Lucy mampu memahami apa yang tertulis di sana. Bahkan Algre sendiri pun juga kesulitan membacanya.
"Jadi, apa yang tertulis di sana, nona?"
Lucy menjelaskan apa yang ia dapat dari membaca buku itu. Langkah pertama untuk mengenali bakat sihir bagi manusia adalah dengan bermeditasi. Ia harus mengasingkan diri di menara sihir selama beberapa hari lamanya.
"Aku akan melakukannya sekarang juga. Sudah tidak waktu kalau harus menunggu besok, Algre," katanya.
Orang tua itu mengangguk, "Kalau begitu lakukan apa yang ingin kau lakukan. Aku sangat yakin kau bisa menempuhnya."
"Sebenarnya dari awal aku melihatmu, aku sudah menebaknya. Kau bukan manusia biasa seperti pada umumnya," ujar Algre. Ia seperti melihat seberkas cahaya kebiruan ada di jantung hati gadis itu.
Hal yang tidak biasa itu membuatnya tertarik. Algre mencari tahu dengan semua pengetahuan dan pengalaman yang ia miliki. Ia terus menduganya sampai saat Lucy datang padanya dan mengatakan kebenarannya.
Algre benar-benar sangat lega saat itu. Ia menghela napas lega. Manusia suci yang konon katanya hanya legenda itu benar-benar ada.
Hanya saja kekuatan terpendam Lucy belum muncul. Ia tak bisa langsung ke medan perang seperti ibunya. Ia bahkan tak bisa menembakkan sihir angin golongan rendah.
Gadis itu mulai mengurung diri setelah berpamitan dengan Serena dan Loofyn. Setiap satu jam Loofyn memang merengek mencari Lucy. Namun Serena selalu berhasil menenangkannya dan memberitahu Loofyn.
"Mamamu adalah orang yang hebat. Kau harus menunggunya dan memberikan dukungan dari sini bersama bibi," tuturnya.
"Loofyn anak yang baik, bukan? Mama selalu cerita pada bibi kalau Loofyn anak yang baik."
Loofyn mengangguk meski sambil menangis. "Baik. Tetapi rindu mama," isaknya sembari memeluk Serena.
Mulai malam itu, Loofyn tidur bersama Serena di ruangan lain. Sedangkan Lucy berada di atas untuk melakukan meditasinya. Awalnya memang sangat sulit sampai ia mual dan muntah.
Tubuh manusia modern-nya merasa tidak cocok dengan metode tradisional seperti ini. Jika biasanya ia akan bermain ponsel ketika waktu luang, kali ini harus dihabiskan dengan meditasi untuk membuka gelombang sihir. Lucy benar-benar kesulitan sendirian di puncak menara.
Ia menatap jubah milik ibunya. Terselip sebuah gelang yang terbuat dari ranting pohon kehidupan. Lucy yang penasaran langsung memakainya.
"Apa benda ini memang kubawa sejak terbangun dari mimpi?" gumamnya.
Ia beristirahat sejenak dari meditasinya. Perhatiannya teralihkan oleh gelang ranting daun itu. Ia memakainya di tangan kanan lalu seberkas cahaya muncul di hadapannya.
__ADS_1
CRANG!