
"Tidak..."
Arzen berlutut di tengah hutan yang rindang. Air mata yang bersembunyi itu akhirnya mengalir. Menetes pada jejak darah yang mengering.
Beberapa jam yang lalu, pria itu bangun dari tidurnya. Ia memeriksa Loofyn dalam keranjang dan pergi mencari Lucy. Ia melihat gadis itu berada di taman belakang tengah membersihkan gudang.
Firasatnya mulai aneh saat ia pikir lebih jauh. Ia ingin pergi ke bukit mungkin untuk berburu. "Manusia, aku akan pergi sebentar. Loofyn masih tidur di keranjang," pamitnya.
Arzen pergi sebelum Lucy sempat menyahut. Perempuan itu hanya geleng-geleng kepala. Ia mengatakan Arzen seperti kucing yang tiba-tiba pergi tiba-tiba datang.
"Padahal dia serigala," batin Lucy.
Arzen tengah berada di luar rumah Lucy. Ia menoleh ke lingkungan sekitar. Entah mengapa atmosfer kali ini terasa lebih sejuk dari biasanya.
Ia membuka sihir koneksinya dengan Venus. Tak ada sinyal apapun, ia menyimpulkan tak ada hal darurat yang terjadi di dunia magis. Ia menggeleng, bukan ini yang ia rasakan.
"Apa mungkin aku kembali dulu ke sana? Siapa tahu Venus memerlukan bantuan," pikirnya.
Ia memutuskan untuk pergi ke bukit. Jalannya yang melalui hutan itu membuatnya sekarang berada di sini. Tengah berlutut di samping bekas darah yang sudah mengering.
Ia mengenali baunya, ia tahu siapa pemiliknya. Meski sebagian terkubur debu dan tanah, ia masih bisa tahu. Tragedi apa yang sudah terjadi tak dapat ia bayangkan.
"Kak... katakan ini tidak benar....!" gumamnya sedih.
Ia tak ingin mempercayai apa yang ia bayangkan. Namun, kenyataan memaksanya untuk membuka mata lebar-lebar. Luka lama terbuka lagi kali ini bertabur garam.
Ia menyesali darah yang mengering itu. Darah tanpa wujud jasad tetapi meninggalkan sosok berharga. Dendam dan kesedihan seperti bercampur aduk berdesakan ingin keluar.
"Tidak, kak... tidak... aku tak ingin percaya," gumamnya lagi.
Cling!
Sebuah benda kecil berkilau menarik perhatiannya. Arzen segera memungutnya dan membersihkannya dari gumpalan tanah. Sebuah kalung dengan liontin bulan sabit semakin menguatkan dugaannya.
"Kak Carenine... apa yang sebenarnya sudah terjadi...?"
Ia memeluknya dan mengantonginya. Air mata penyesalan itu tumpah menghapus jejak. "Kau meninggalkan Loofyn di malam itu, kan? Kau yang menyambungkan shinre jade pada Lucy, kan?" tanyanya pada sisa-sisa tragedi.
__ADS_1
"Aku tahu tanah di samping Kak Hize itu kosong. Tetapi aku tak pernah membayangkannya seperti ini."
Perang besar itu merenggut anggota keluarganya. Saudara yang paling ia hormati, kakak pertama telah gugur dalam medan perang. Ia dimakamkan di pemakaman keluarga kekaisaran yang sangat dirahasiakan keberadaannya.
"Kenapa kau melakukannya, kak? Apa kau tak percaya sedikitpun padaku?" Arzen kembali meracau.
Ia bisa dikira orang gila kalau ada penduduk yang lewat di sana. Arzen meraba-raba tanah dan mengingat bau yang ia kenal. Sudah pudar sangat lama, lebih tepatnya sejak Loofyn datang ke dunia manusia pertama kali.
"Siapa yang mengambil jasadmu, kak?" Arzen memicingkan matanya.
Seseorang muncul dalam pikirannya. Ia sangat membenci orang itu karena dia adalah dalang di balik semua ini. Saking bencinya, ingin sekali ia cekik sampai menemui ajalnya.
"Kenapa... kenapa harus terjadi? Sebenarnya apa yang dia cari, kak? Kalian tak pernah memberitahuku dan Venus. Selalu saja menyembunyikannya dengan berkata baik-baik saja..." Ia terisak.
"Aku seperti orang bodoh yang percaya pada ucapan itu..."
Tak ada yang mengira kalau Arzen bisa serapuh ini. Bahkan sendirian di dalam hutan di bawah langit yang mendung. Awan-awan gemuk itu sudah siap menangis bersama Arzen.
"Siapa yang mereka maksud, kak? Seandainya kalian memberitahuku, mungkin ini tidak akan terjadi..."
Zraaasshh....
"Sialan! Perang bodoh seenaknya merenggut mereka dariku!" raungnya.
Ia memejamkan matanya rapat, "Sosok seperti apa dirimu yang menyebabkan semua ini?!" erangnya.
Ia membiarkan tubuhnya basah kuyup oleh hujan deras. Ia berharap hujan bisa menghapus jejak kesedihannya. Sayang sekali, hujan hanya menghapus jejak darah bukan kenangan pahitnya.
Ia merenung menatap tanah yang kini ia pijak. Matanya menatap kosong, ia melamun cukup lama. Sampai hari ingin berganti malam, ia putuskan untuk berbalik.
Jalannya lesu, langkah kakinya bukan Arzen yang biasanya. Ia terlihat seperti mayat hidup, berjalan tanpa tujuan. Ia membiarkan ke mana langkah kakinya ingin pergi.
Tak terasa, ia sampai di depan rumah Lucy. Tak semegah istananya di dunia magis, tetapi terasa sangat hangat. Padahal gadis itu hanya tinggal seorang diri tetapi seperti ribuan orang memelukmu dengan tulus.
"Lucy..." gumamnya. Ini adalah kali pertama ia menyebut nama gadis itu.
Ia menatap kosong ketika sampai di depan pintu. Suara gradak-gradak terdengar sampai depan. Ia tahu gadis itu pasti sedang menghadapi Loofyn yang rewel.
__ADS_1
"Ah, iya... iya, Loofyn ini Lucy di sini. Kau mau susu? Iya, sini Lucy buatkan tolong sembunyikan taringmu, ya?"
Ia ingin tersenyum mendengar suara Lucy barusan. Ia membayangkan bagaimana paniknya manusia itu ketika Loofyn menunjukkan wujud setengah serigalanya. Itu tak pernah terjadi di istana megahnya.
Tangannya yang ia urungkan untuk menarik knop pintu itu berada di samping tubuh. Ia berpikir untuk apa masuk. Ia tak ingin mengganggu Lucy maupun Loofyn.
"Kenapa aku kembali ke sini...?" gumamnya.
Cklak!
"Ah, Arzen? Kenapa tidak masuk kalau sudah pulang?" Lucy membuka pintu dan langsung bertemu dengan Arzen.
Pria basah kuyup itu masih tak bergeming. Ia menatap sendu Lucy yang ada di depannya. Gadis itu terus mengadu apa yang Loofyn perbuat padanya.
"....aku takut kalau sampai tetangga melihat. Arzen? Hei, kenapa malah melamun?!" tegur Lucy sembari melambaikan tangannya di depan wajah pria itu.
Ctak!
"Eh?" Lucy menghadap ke belakang dan Loofyn sudah berada dalam kotak sihir. Itu adalah tempat bayi sama seperti yang dibawa Arzen saat ke kantornya beberapa waktu lalu.
"Ah, baguslah kau bisa menggunakan kotak itu... ah, kukira aku bakal digigit atau dicakar," ucap Lucy dengan lega.
Ia kesal karena Arzen terus diam sedari ia membuka pintu. Ia mendongak dan menatap mata kosong Arzen. Tangannya melambai sekali lagi untuk membuyarkan lamunan pria itu.
"Astaga, kau basah kuyup rupanya! Jangan bilang kau berburu sambil hujan-hujanan?!" pekik Lucy panik.
Ia celingukan mencari handuk di sekitar tetapi tak menemukannya. "Hah, aku tak tahu serigala bisa sakit atau tidak. Kau harusnya segera masuk dan mandi lalu mengenakan baju yang hangat!" omelnya pada pria yang mematung itu.
Alisnya mengernyit. Ia berkacak pinggang sebal omongannya tidak digubris. "Hei, tuan! Apa kau mendengar—"
Pluk!
Arzen tiba-tiba menjatuhkan kepalanya di bahu Lucy. Ia membenamkan wajahnya di sana dan mencari ketenangan. Tubuhnya yang basah oleh hujan itu ikut membasahi piyama Lucy.
"Hei, kau masih basah. Astaga, ini bukan waktunya untuk bercanda. Kau, apa yang kau lakukan dengan bersandar di bahuku, hah?! Dasar serigala mesumm!" pekiknya sembari mencekal lengan kekar Arzen.
"Sebentar saja..."
__ADS_1
Lucy tak mendengarnya dengan jelas, "Apa...? Kau mengatakan ses—"
"Sebentar saja, biarkan aku menyandar seperti ini, Lucy."