Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Semalam Menjadi 3 Hari


__ADS_3

"Ah, benar..."


Ia beranjak setelah selesai sesi pemijatan. "Sayangnya aku tak ada waktu untuk menjenguknya. Aku harus kembali," ucap Arzen.


"Yang Mulia mau kembali ke mana?" tanya Relia Xen dengan terbata.


"Aku harus menjemput anakku."


Ia mengibaskan jubahnya dan kembali menjadi serigala. Tatapan elangnya sanggup membuat siapa saja tunduk. Bahkan Relia Xen tak sanggup menghentikannya untuk tetap tinggal di istana.


Setelah Arzen pergi, Relia Xen baru tersadar. "Eh?! Anak yang hilang berhari-hari yang lalu itu sudah ditemukan?!" ujarnya.


Pertanyaan itu membuat pelayan-pelayan yang lain ikut terkejut. Spontan mereka menoleh dan menggosip satu sama lain. Relia Xen kemudian berdehem untuk menenangkan mereka semua.


"Kita harus diam dulu sebelum berita itu benar-benar dipastikan oleh Yang Mulia Kaisar!" tegurnya.


Sementara itu, Arzen rupanya keluar menuju istana utama. Letaknya di depan istana timur, ia hanya perlu berjalan sebentar lalu sampai. Terlihat seseorang yang berdiri dengan mata terpejam di salah satu tiang.


Venus de Woove, adiknya sekaligus Pangeran Ketiga. Pria itu sedang dalam wujud manusianya, ia menunggu Arzen sejak 15 menit yang lalu. Mengetahui Arzen telah keluar dari istana timur, ia membuka matanya untuk menatap kakaknya.


"Kau mau ke mana, kak?" tanyanya pada Arzen.


Arzen menghentikan langkahnya, "Aku ingin mencari cara untuk membawa Loofyn pulang," ujarnya jujur.


Venus nampak terkejut, terlihat dari matanya yang membelalak di wajah datarnya. "Anak itu masih hidup?!"


Arzen mengangguk, "Benar, aku sudah bertemu dengannya."


"Apa kau tidak salah mengenali orang? Kakak tahu perang waktu itu, kan!? Bagaimana—"


Arzen menghela napas menyela kalimat Venus. "Kau tidak percaya, kan? Aku juga begitu awalnya, tetapi aku bisa melihat tanda yang menghubungkan setiap anggota keluarga klan Woove," ujarnya.


Venus menoleh ke arah lain dengan tatapan tak percayanya. "Di mana dia sekarang?"


"Dunia yang tidak bisa kau jangkau dengan mudah karena anomali sihirnya sangat lemah."


Selepas itu, Arzen kembali melangkah pergi. Ia tak membiarkan adiknya kembali bertanya-tanya. Venus biasanya akan masa bodoh pada hal-hal yang terjadi di sekitarnya.


"Bagaimana bisa kakak menemukan anak itu?" gumamnya.


"Sial, dia malah pergi padahal belum sampai ke pembahasan yang lebih penting dari itu," ujarnya.


Ia menyembunyikan tangannya di balik jubah. Kemudian menghela napas kasar saat Arzen sudah menghilang di depan. Karena sudah malam, Venus memutuskan untuk kembali ke ruangannya.


"Eh, tunggu dulu...!"

__ADS_1


Venus berhenti di tengah jalan ketika ia menyadari kalimat janggal dari kakaknya. Ia mulai penasaran dunia apa yang dimaksud oleh Arzen. Lalu, bagaimana caranya Arzen pergi ke dunia yang gelombang sihirnya sangat lemah.


"Apa dia tahu nama dunia yang dia tuju? Bukankah mengerikan terjebak di lorong gate kalau tidak tahu tujuan setelah membukanya?" batinnya.


Ia mulai gundah dan memutuskan untuk kembali. Venus mencari jejak Arzen melalui bau yang ditinggal. Ia mengejar sang kakak untuk mengetahui hal itu.


"Eclipse o Magical Magis Gate!"


"Kakak!"


Zwoooshh


"Venus?!" Arzen mendelik ketika ia kira adiknya akan cuek dengan masalah ini. Namun sekarang ia mendapati lelaki itu tengah berlari ke arahnya.


Ia terkeju sendiri ketika lingkaran sihir mulai menyala. "Sial, dia bisa terseret dalam bahaya!"


"Dia dengan mudah membuka gate?!" Venus berkata dalam hati dengan tatapan tak percayanya.


Arzen berdecak frustasi. "Jangan mendekat atau kau dalam bahaya, Venus!" pekiknya saat Venus mulai mendekat sedangkan ia mulai tersedot.


"Tetapi kak—"


"Paralyze!"


Mendadak tubuh Venus kaku setelah Arzen menembakkan sihir pelumpuh tingkat ringan padanya. Ia terpaku di tengah jalan bersamaan dengan Arzen yang lenyap ditelan lingkaran sihir. Tak lama kemudian, kakaknya pergi tanpa jejak.


Saat itu juga, sihir paralyze terlepas darinya. Venus hampir saja jatuh kalau tidak bisa menjaga keseimbangannya. Ia memijat area lengan yang nyeri sebagai efek samping sihir paralyze.


"Hosh... dia memakai paralyze untuk menghentikanku? Dasar saudara bodoh!"


...>>><<<...


"Sial, karena panik aku jadi menyerangnya!" rutuknya dalam hati.


Arzen meraup wajahnya gusar setelah menyadari perbuatannya. Bisa-bisanya ia menyerang Venus, adiknya sendiri dengan sihir pelumpuh. Beruntung, ia menggunakan sihir tingkat ringan yang dampaknya tidak terlalu berbahaya.


"Orang itu bisa mengomel kalau aku tahu menyerang Venus," gumamnya.


Ia kembali pada keadaan saat ini. Berdiri di atas bukit dengan pemandangan Kota Luxeas. Arzen tak mengerti, padahal ia datang dari malam tetapi begitu sampai di Luxeas malah cerah.


"Apa perjalanan dengan gate tingkat tinggi selama itu?" pikirnya.


Arzen tak memusingkannya berlama-lama. Secepat kilat ia berubah dan berlari menuju rumah Lucy. Terkesan seperti seekor anjing yang pulang ke rumah majikan.


"Kau dari mana saja?!"

__ADS_1


Arzen terkejut ketika dirinya disambut pekikan oleh Lucy. Gadis itu berdiri di depan pintu sembari menggendong Loofyn. Anak kecil itu kemudian mengangkat tangannya seolah ingin digendong Arzen.


"Apa? Bukankah aku sudah bilang kalau aku kembali ke duniaku sebentar?" Arzen menatap Lucy dengan ekspresi bingung.


Lucy menghela napasnya kasar. Ia menggeleng-gelengkan kepala dengan lelah. Jari jemarinya memijat pelipis.


"Lihat, aku hanya pergi semalam dan datang saat masih pagi. Kenapa kau—"


Lucy membelalak. "Semalam?!"


Arzen mengernyit, "Jangan meninggikan suaramu di dekat Loofyn!" tegurnya dingin.


Tak ingin mengundang kerumunan tetangga, Lucy mempersilakan pria itu untuk masuk. Ia menyeduh teh hangat selagi Arzen menidurkan Loofyn. Arzen kembali setelah Loofyn benar-benar nyenyak di dalam keranjangnya.


"Jadi, kenapa kau terkejut begitu? Apa Loofyn merengek semalaman?" tebaknya.


Giliran Arzen yang melebar matanya. "Manusia, kau merindukanku?!"


Kalimat itu mengundang emosi Lucy. Ia bersedekap tangan dan melotot tajam. Gadis itu tak mengerti dari mana Arzen mendapatkan kepercayaan diri sebesar itu.


"Tidak, dari awal dia memang angkuh dan menyebalkan! Aku tak perlu terkejut lagi!" batin Lucy.


Arzen menggeleng, "Tidak, manusia lemah sepertimu tidak boleh menyukaiku... ah, seharusnya kalian tahu diri—"


CTAK!


"Akh...!"


Sendok kayu melayang dan mengenai kepala Arzen. Membuatnya bungkam sembari tertunduk meringis. Ia mengelus-elusnya berharap rasa sakit itu pergi.


"Hei, apa-apaan kau, manu—"


"Dasar bodoh! Orang jelek mana yang merindukanmu, serigala!" Lucy meninggikan suaranya.


Ia tersenyum miris, "Hah, padahal aku sudah tahu keangkuhanmu dan seharusnya ini tidak mengejutkan. Nyatanya, kau tak lebih dari serigala yang menyebalkan," gumamnya tetapi masih dapat didengar.


Lucy menatap Arzen lekat, "Apa maksudmu pergi hanya semalam?! Aku kewalahan saat Loofyn kembali tantrum dan kau malah menghilang selama 3 hari!"


Suasana menjadi hening setelah Lucy terdiam. Ia rasa ia terlalu mengeluarkan tenaga untuk menegur Arzen. Pria itu menatapnya tak percaya


"Apa maksudmu? Tiga hari?"


Lucy menyahut, "Benar! Dan kau bilang hanya pergi semalam?! Kau mau mengelak dengan alasan itu, ha!?"


"Hee... tiga hari...?"

__ADS_1


__ADS_2