Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Jalan Pulang Lebih Sejuk Bersamamu


__ADS_3

Arzen membuka tabir tak kasat matanya. Ia menampakkan diri bersama Loofyn dalam gendongannya. Lucy menoleh ke arah dari mana angin berhembus dan langsung menemukan pria itu.


Di bawah pohon peneduh dekat halte, Arzen menatap tak suka pada Lucy. Gadis itu berjalan mendekat ke arahnya. Ia menyapa Loofyn terlebih dahulu.


"Loofyn! Lucy pulang!"


"Mama!"


Setelah menciumi Loofyn, ia beralih pada Arzen yang masam. "Hei, kau ini kenapa lagi?" tanyanya.


"Kenapa kau tidak pulang dengan pria tadi?" ketus Arzen.


"Untuk apa? Arah rumah berbeda, lagipula dia rekan kerja. Kenapa aku harus pulang dengannya?"


Arzen masih menatap sebal, "Pria itu terlihat senang denganmu," katanya.


Lucy tak mengerti, "Senang? Yah, kami bercanda seperti rekan kerja lainnya. Apa kau tak pernah bercanda dengan rekanmu di dunia sana?"


Bukan itu yang Arzen maksud. Lucy tidak peka atau Arzen yang sulit mengutarakan perasaannya. Ia hanya memperhatikan gadis itu bermain dengan Loofyn.


"Kenapa kau diam saja? Sudah lama menungguku, ya?" tanya Lucy.


Arzen menggeleng, "Tidak juga. Siapa yang menunggu?"


Padahal jelas-jelas ia menggunakan mode tak terlihatnya selama satu jam. Ia yang sangat antusias mengajak Loofyn bersiap menjemput Lucy. Suasana hatinya sedang baik sampai ia melihat Peter bersama Lucy.


"Mama! Inini!" (Disini!)


"Sial, orang itu menghancurkan suasana saja," gumam Arzen merutuki Peter yang sudah pergi sejak tadi.


Lucy tak mengerti apa yang dimaksud oleh Arzen barusan. Ia juga tak begitu jelas mendengar gumaman lelaki itu. Hanya helaan napas dan senyuman kilas yang ia perlihatkan.


"Apa kau mengambek karena ancamanku tadi, hm?" tebaknya langsung mendapat tatapan Arzen.


Lelaki itu menyipitkan matanya, "Kau suka mengancam, ya? Kau berani mengancam seorang kaisar, ha?!" ketusnya.


Gadis itu tertawa melihat respon dari Arzen. Ia seperti seorang anak yang takut mainannya direbut. Arzen mencebik melihat Lucy yang menertawainya.

__ADS_1


"Tahu begitu tak perlu aku datang ke sini!" gerutunya.


Lucy menyudahi tawanya dan menyeka air di sudut matanya. "Maaf... astaga kau ini! Aku hanya bercanda," ujarnya.


"Terima kasih sudah menungguku. Aku hanya bercanda soal es krim. Kau boleh memakannya sampai kau bosan," ucapnya.


Mendengar hal itu netranya langsung berbinar. Arzen menyembunyikan senyum senangnya. Makhluk magis yang satu ini tidak dirancang untuk bisa berbohong.


"Tidak mempan!"


Lucy tersenyum, "Jadi kau tidak mau? Ya sudah..."


Arzen kembali menatapnya, "Kau mengerjaiku?!" protesnya mengundang tawa Lucy lagi. Mereka melupakan Loofyn yang terbengong menyaksikan obrolan mereka.


Gadis itu menepuk pundak Arzen. "Kau ini mudah sekali marah. Sudahlah, ayo kita pulang," ajaknya.


Hari sudah malam dan jalanan mulai sepi. Lampu-lampu mulai dimatikan dan hanya lampu jalan yang menerangi. Keduanya berjalan menyusuri trotoar menjauhi kerumunan orang.


"Apa kita mau jalan kaki sampai rumah? Aku tidak mau berjalan lambat seperti kau," omel Arzen.


Lucy menghela napas, "Sesekali kau harus berjalan kaki. Kau terlalu mengandalkan sihir," ucapnya.


Lucy menoleh dan berhenti sejenak. "Kalau kau terus bergantung pada sihir kau tidak akan bisa berkembang," ucapnya tepat di hadapan muka pria itu.


"Ada banyak hal menarik yang hanya bisa dilakukan tanpa sihir," katanya.


Arzen mendengar ujaran itu. Ia berpikir hal apa yang lebih seru dan menakjubkan daripada sihir. Apalagi sihirnya sudah mencapai tingkat tinggi meski tak sebesar penyihir agung.


"Ck, itu hanya kalimat penenang bagi kalian para manusia karena tak bisa bakat sihir," sarkasnya.


Lucy menggedikkan bahu, "Yah, kau akan tahu sendiri. Kau akan tahu bagaimana rasanya hidup tanpa kekuatan abnormal dan sihirmu," ujarnya santai.


Keduanya kembali berjalan menyusuri jalanan kota. Di depan gedung-gedung yang mulai tutup dan dimatikan lampunya. Lucy berjalan di depan dan Arzen di belakangnya dengan Loofyn yang tertidur di punggung.


Semilir angin berhembus menerpa mereka. Lucy berjalan lebih santai demi menikmati sejuknya malam. Arzen berhenti melangkah dan memperhatikan apa yang dilakukan oleh gadis itu.


Mungkin kali ini ia sedikit mengerti apa yang dimaksud oleh Lucy. Ia tak akan bisa menikmati pemandangan saat ini kalau berjalan dengan sihir anginnya yang sangat cepat. Ia tak akan tahu rasanya sejuk angin di malam hari seperti saat ini.

__ADS_1


Arzen tersenyum tanpa Lucy tahu. "Inikah yang dia maksud?" gumamnya.


Lucy menoleh, "Apa kau mengatakan sesuatu? Kenapa kau berhenti berjalan?" Ia bertanya dari agak jauh.


Arzen menggeleng dan kembali berjalan. Rasanya jalanan kota malam ini milik mereka berdua. Terkadang berhenti menikmati gemerlap lampu hias, terkadang sekedar menghirup napas.


"Wah, aku tak pernah merasa sesegar ini sepulang bekerja," ujar Lucy.


Biasanya ia akan pulang dengan kucel. Pakaian kusut, mata panda, rambut seperti terkena listrik statis, dan juga rasa lelah yang menumpuk di pundak. Hari ini sangat jauh berbeda dari hari biasanya.


Ia menoleh pada Arzen lalu berpikir sejenak. Apakah karena selama ini ia hanya jalan sendirian karenanya terasa bosan? Apakah selama ini tak ada yang menunggunya dan menjemputnya pulang bekerja?


Kesehariannya berubah ketika dua siluman serigala itu datang dan tinggal di rumahnya. Bahkan sekarang, Arzen tak lagi harus pergi ke bukit untuk tidur. Ia bisa menggunakan ruang depan televisi untuk tidur.


Tanpa sadar ia tersenyum sendu menatap Arzen. Lelaki itu penasaran apa yang membuat gadis itu tersenyum sendiri. Daripada tersenyum senang, seperti ada yang kosong dari tatapan matanya.


"Ada apa?" tanya Arzen.


Lucy menggeleng, "Aku hanya merasa ada yang berubah dariku," katanya.


"Tidak, maksudku kehidupan sehari-hariku. Kau tahu sebelumnya aku tinggal sendirian. Aku merasa aneh karena tiba-tiba ada Loofyn, tiba-tiba kau datang dan tinggal," bebernya.


Ia mulai menceritakan sekilas tentang hari-harinya dulu. Bagaimana ia menjalani pekerjaan dan pulang sendirian sebelum ada Arzen dan Loofyn. Kaisar Wolfeuxeas menjadi pendengar yang baik malam ini.


"Aku selalu melakukannya sendiri," ujar Lucy.


Ia menatap Arzen langsung pada netra kelabunya. "Sejak kau datang, aku jadi lupa rasanya sendirian."


Woooshh~


Angin berhembus sepoi-sepoi. Menerpa wajah dan menyibak rambut-rambut. Arzen seolah terkunci dengan tatapan dalam Lucy.


"Rasanya sendirian...?" batin Arzen.


Ia jadi ingin menggali pikiran Lucy. Ia penasaran apa yang gadis itu rasakan sekarang. Ia ingin tahu lebih lagi tentang semua yang ada pada Lucy.


Baru kali ini ia merasa penasaran dengan manusia. Sebelumnya, ia hanya menganggap mereka makhluk jenis lain yang lebih lemah dari bangsa werewolf. Ia tak pernah tahu bagaimana manusia hidup dan bagaimana cara mereka memandang hidup.

__ADS_1


"Apa kau—"


Lucy menyela kalimat yang belum sempat terucap. "Arzen, terima kasih sudah menjemputku hari ini. Aku senang kau menungguku," ucapnya dengan senyum lembut.


__ADS_2