
"Mustahil...! Bagaimana caranya mengaktifkan Shinre Jade kalau tidak ada kesadaran pemiliknya sendiri?" tanya Micellia tidak percaya.
Venus demikian, tetapi ia berusaha mengingat apakah ada cara lain untuk itu. "Aku tak tahu persisnya, mungkin ada di kitab kuno," ujarnya.
"Tetapi Pangeran tahu sendiri kalau Pangeran Muda Loofyn masih bayi, mana bisa membuat kontrak dengan manusia. Bahkan bagi kami yang sudah dewasa pun sulit melakukannya kalau tidak ada kepercayaan pada manusia," ungkap Micellia panjang lebar. Suaranya semakin lirih di akhir kalimat.
Netra Venus membelalak lalu kembali meredup. "Kepercayaan, ya? Mungkinkah sekedar kepercayaan bisa mengaktifkan Shinre Jade?" gumamnya.
"Apa Pangeran ingin saya carikan di kitab kuno di perpustakaan istana?" tanya Micellia menawari.
Venus menggeleng, "Aku tidak ingin membacanya sekarang. Kau tak perlu mencarikannya demi aku," ujarnya.
Micellia memang terlihat mengiyakan ucapan Venus. Namun, sebenarnya ia sudah berniat dalam hati untuk melakukannya. Ia akan mencarinya ke perpustakaan manapun kalau di istana tidak ada.
"Huft... memangnya manusia kuat seperti apa yang dipilih langsung oleh pewaris tahta negeri ini?" gumam Venus.
Micellia yang mendengarnya ikut berpikir. Ia membayangkan bermacam-macam karakter. Mulai dari pria kuat atau wanita suci, tetapi sayang keduanya tak tahu seperti apa Lucy.
"Apa manusia itu bisa melintasi dua dunia?" Micellia penasaran.
"Aku tidak tahu. Terakhir aku mendengar kabar sekitar 200 tahun yang lalu ada manusia yang bisa melintasi dua dunia," ujar Venus.
Kedua mata Micellia nampak bersinar, "Wah, itu kan saat kakak Pangeran lahir! Ternyata sudah lama sekali," sahutnya.
Venus menyetujuinya, ia berpikir dan sangat yakin manusia itu sudah tidak ada lagi. Dua ratus tahun terlalu lama untuk manusia hidup. Meski bagi para makhluk magis seperti werewolf itu tidak ada apa-apanya.
Seperti kaisar sebelumnya, ayah Arzen dan Venus yang meninggal di usia ke-1000 tahun. Tepat saat bulan purnama penuh saat semuanya tengah meminta berkat Dewi Bulan. Namun, Dewi Bulan sendiri yang menjemput ayah mereka.
"Hah, aku pusing memikirkan ini..." gumam Venus.
"Kau kembalilah ke kamar, jangan sampai kelelahan," perintahnya pada Micellia.
"Apa tidak ada yang bisa saya lakukan untuk melepas penat Pangeran?" Wanita itu malah balik bertanya.
__ADS_1
Venus menghela napasnya, "Ini perintah, Micellia. Jangan membuatku khawatir," tegasnya.
Perempuan itu mengurungkan antusiasnya. Ia sedikit sedih dan kecewa sebelum akhirnya berusaha baik-baik saja. Ia membungkuk hormat sebelum pergi dari sana.
Venus masih berdiri di sana. Ia melihat Micellia sampai punggung itu tak terlihat lagi di matanya. Ia hanya tak ingin gadis itu kabur dan mengabaikan tubuhnya yang baru saja pulih.
Sejujurnya, ia sangat ingin marah ketika Micellia menggunakan Blueamme. Baginya, musuh saat itu hanya sekedar kroco. Micellia tak perlu sampai mengorbankan diri untuk itu.
Ia tak bisa marah, Venus tak bisa memarahi Micellia. Ia bingung sendiri dengan perasaannya. Terhadap dirinya maupun orang lain, bahkan Micellia, Pilar Ksatria miliknya.
"Sepertinya kesalahan aku meletakkan dia di Pilar Ksatria," pikirnya.
Ia memberikan posisi itu untuk Micellia dua tahun yang lalu. Pilar Ksatria semacam panglima tertinggi dalam kasta ksatria. Mampu membimbing prajurit dan sangat kuat dibanding prajurit yang lain.
Venus memilihnya sebab Micellia sangat kuat meski terlihat lembut. Ia memang seorang gadis tetapi semangat juangnya tinggi. Gadis itu menguasai beragam teknik perang.
Micellia lolos sekolah sihir dengan predikat terbaik. Diakui oleh penyihir agung bahkan Pilar Ksatria yang sebelumnya. Yang lebih membuatnya kagum, gadis itu sangat rendah hati pada rakyat.
"Hm... mungkin kalau aku menjadi raja kau adalah ratunya," gumam Venus tanpa sadar.
"Aku harus membantu Pangeran...!" Suara penuh tekad kuat itu berasal dari hati kecil seorang perempuan.
Ia adalah Micellia de Broof, wanita lembut yang menjadi pemimpin seluruh pasukan kekaisaran. Dua kali dalam sejarah kekaisaran mengangkat seorang perempuan menjadi Pilar Ksatria. Jika sebelumnya adalah adik dari ayah Venus, maka kali ini adalah rakyat biasa.
Micellia lahir di tengah masyarakat werewolf. Di sebuah desa kecil masih di bawah kekaisaran. Penampilannya memang sederhana dan lembut, tetapi tekad kuatnya jangan diragukan.
Micellia mulai berlatih pedang sejak umur 5 tahun. Ia tertarik dengan ilmu pertahanan dan juga sihir. Setelah orang tuanya meninggal, ia hidup mengembara hingga sampai di kota dekat wilayah kekaisaran.
Saat itu, ia sedang sial karena bertemu perampok. Tak hanya satu tetapi bergerombol. Bahkan saat itu pedangnya dirampas dan ia harus memikirkan caranya mengalahkan gerombolan itu lalu kabur dengan selamat.
Kebetulan, Pangeran Venus lewat di jalan itu dan sedang sendirian. Micellia melihat pedang yang dibawa Venus dan tanpa pikir panjang langsung direbutnya. Ia berhasil menebas seluruh gerombolan dan diserahkan pada aparat kekaisaran.
"Maaf, pedangnya jadi kotor gara-gara saya...!" Micellia bahkan bersimpuh sembari mengembalikan pedang milik Venus.
__ADS_1
Ia tak tahu siapa yang sedang ia mintai maaf itu. Ia tak tahu siapa yang pedangnya ia rebut. Warga di sekitar hanya bisa menutup mulut dan mencuri pandang dari balik jendela.
"Sungguh bodoh, siapa gadis itu!? Apa dia tidak tahu siapa yang ada di depannya?!" bisik mereka.
"Tidak sopan berpakaian compang-camping begitu di hadapan Pangeran!" sahut yang lain.
"Perempuan mana itu?! Apa dia tidak takut ditebas olehnya?!"
Begitu seterusnya sampai Venus memicing kepada mereka semua. Barulah mereka terdiam dan masuk ke dalam rumah. Venus berdeham menyuruh Micellia bangkit dari duduknya.
"Siapa namamu?" tanyanya.
Micellia kembali salam hormat, "Nama saya Micellia de Broof, dari Desa Xues di pinggir wilayah Kekaisaran Wolfeuxeas, Tuan," ucapnya lembut. Ia benar-benar berbeda dengan dirinya saat melawan gerombolan perampok tadi.
"Apa kau berkelana?"
Micellia mengangguk, "Benar, Tuan. Saya berkelana untuk belajar sihir dan ilmu pedang. Sejak orang tua saya meninggal, saya harus bisa hidup sendiri tanpa mengandalkan orang lain," ungkapnya.
Venus diam-diam mengagumi sifatnya padahal baru pertama kali bertemu. Ia tersenyum tipis kala itu. Mengambil kembali pedangnya dan disarungkan.
"Eh, pedangnya masih kotor, Tuan. Kalau Tuan berkenan, saya bisa membersihkannya sampai bersih," ucap Micellia terbata.
Venus menolak permintaan itu. "Kau ikut denganku," perintahnya.
Saat itu, Micellia mengira dirinya akan dihukum. Ia bisa saja kabur atau berpura-pura sakit agar dilepaskan. Namun, dengan hati bersihnya ia berani mengakui kesalahan kalau memang salah.
"Baik, Tuan—"
Venus menyela, "Hm? Seharusnya perempuan tidak boleh segampang itu kalau diajak oleh pria asing," katanya.
"Tuan memang pria asing yang saya temui hari ini. Tetapi saya tahu Tuan orang yang baik. Ini salah saya merebut pedang Tuan begitu saja, saya patut dihukum," jawab Micellia dengan senyumnya.
Saat itu Venus menyadari Micellia terasa berebda dengan perempuan lain. Aura kebaikannya, kesederhanaan, dan juga rendah hatinya memancar dari senyum tulus itu. Venus berbalik dan tersenyum lagi.
__ADS_1
"Baiklah, kau memang harus dihukum."