
"Kenapa ramai sekali?" gumam Peter yang baru saja menapakkan kaki di lantai 4 sebuah kantor.
Orang-orang tengah berbisik padahal masih pagi. Mereka tengah membicarakan topik hangat yang sepertinya Peter belum tahu. Maka dari itu, ia mencuri dengar sembari berjalan.
"Kau tahu? Aduh kenapa mereka tidak jujur saja?"
"Bagaimana kalau dia istri simpanan CEO?"
"Astaga maksudmu hubungan gelap?!"
"Jadi, yany digendong itu anak hasil insiden satu malam?"
"Hush, jangan keras-keras nanti Pak Sean dengar!"
"Kau lupa? Pak Sean kan ada perjalanan bisnis ke luar negeri!"
"Kalau begitu, beliau tidak tahu sedang ada rumor tentang beliau di kantor?"
Wazaa~ wazaa~
Sepanjang jalan Peter hanya mendengar tentang Sean dan hubungan gelap. Ia sama sekali tak mengetahui apapun. Bagaimana bisa tokoh dalan rumor tengah pergi di saat-saat seperti ini?
"Di foto yang ditunjukkan Karen, kan? Jelas sekali perempuan itu bukanya Lucy?"
Deg!
Tanpa sadar Peter menghentikan langkahnya begitu nama Lucy disebut. Ia jadi penasaran tentang gosip yang tadinya ia tertarik. Lelaki itu penasaran apa hubungan sebenarnya antara Sean dan Lucy.
Peter pura-pura sibuk sembari memasang telinganya baik-baik. Mereka benar sedang membicarakan Sean dan Lucy. Hanya saja, ia tak tahu dari mana akarnya.
"Jadi selama ini mereka ada hubungan tersembunyi? Pantas saja selalu dekat. Yah, meskipun dia asisten pribadi, tetapi yah, masuk akal juga," ujar salah satu karyawati.
Peter terkesiap, "Hubungan gelap katanya... Lucy dan pria itu?" pikirnya.
Plak!
Seseorang menepuk punggung Peter. "Hei, kau temannya Lucy, kan?" tanyanya.
__ADS_1
Peter tak menjawab dan malah menatapnya bingung. Karyawati itu bersedekap tangan, "Lebih baik kau menjauh saja dari dia. Semua orang membicarakannya. Kalau kau tak ingin terlibat lebih baik menjauh," ujarnya.
Peter tak mengerti apapun tiba-tiba disuruh menjauh dari gadis yang ia sukai sejak SMA. Ia merasa kesal dan mengepalkan tangannya. Karyawati di depannya ini seolah memberinya nasehat.
"Kenapa...?" tanya Peter.
Karyawati itu terkejut, "Eh? Ke–kenapa? Ya, aku memperingatimu," balasnya.
"Kalau kau tidak mau ya tidak masalah. Yang penting aku sudah memberi peringatan," ujarnya kemudian pergi dari sana.
Padahal Peter bukan mendesaknya. Ia hanya ingin orang itu menceritakan apa yang sedang terjadi. Mengapa semua orang membicarakan sesuatu yang tak ia mengerti.
Awalnya, Peter tak ingin percaya. Namun, semakin siang semakin banyak yang membicarakannya. Sampai ia bertemu sendiri dengan Lucy.
"Lu—"
"Kalau kau tidak mau ya tidak masalah. Yang penting aku sudah memberi peringatan!"
Ucapan karyawati tadi tiba-tiba terngiang di kepalanya. Ia tak jadi memanggil Lucy padahal sangat ingin dengar dari gadis itu sendiri. Namun, ia hanya mematung sembari melihat punggung yang menjauh.
"Apa Pak Sean akan klarifikasi sepulang dari perjalanan bisnis? Apa beliau tidak tahu kalau 'istrinya' tengah menjadi topik hangat?"
Mereka bergosip tentang Lucy yang bahkan gadis itu tak tahu. Ia berusaha mengabaikan rumor tak berakar itu. Malah, ia mengkhawatirkan Sean yang namanya ikut tercoreng.
"Astaga, jangan pedulikan rumor itu! Teknisi akan mencari sumbernya dan memusnahkannya!" tegur Hera, direktur keuangan.
Lucy menghela napasnya, "Semoga cepat ditemukan dan rumor ini mereda. Saya takut hal ini membuat Pak Sean tidak nyaman sepulang dari perjalanan bisnis," ujarnya.
"Astaga, kau malah mengkhawatirkan dia?! Kau benar-benar cinta, ya?"
Lucy menatap nanar Hera. Wanita itu segera menutup mulutnya, "Maaf, aku hanya ingin mencairkan suasana. Sama sekali tidak bermaksud..."
Lucy menggeleng, "Lebih baik saya mengabaikan gosip dan mengerjakan pekerjaan saya. Toh, mereka akan mereda sendiri besok," putusnya.
Hera menatap sedih Lucy yang kembali ke ruangannya. "Hah, benar-benar! Anak itu malah pergi meninggalkan Lucy di kubangan rumor sampah!" gerutunya menyalahkan Sean.
Pria itu mendadak pergi kemarin malam ke negara tetangga. Kantor akan di pegang sementara oleh Hera dan petinggi lain. Sean sama sekali tak tahu ada rumor miriny tentangnya.
__ADS_1
Seorang perempuan terkikik senang di dalam toilet wanita. Ia memegang ponsel yang menampilkan foto seorang perempuan di jalan kota. Di sampingnya, seorang pria menggendong anak kecil berusia 2 tahunan.
"Aku tak tahu kau berbuat sejauh ini dengan Seanku, Lucy," gumamnya.
Entah mengapa ia yakin sekali Sean ada di foto itu. Padahal jika diamati sekali lagi, sama sekali tidak mirip Sean. Bahkan lebih tinggi pria dalam foto daripada Sean.
Karen, perempuan itulah yang tengah terkikik senang. Ia adalah dalang di balik rumor tak sedap hari ini. Perempuan itu menunjukkan pada rekannya bahwa itu adalah Lucy dan Sean.
Satu rekan bercerita pada yang lain, begitulah rumor menyebar. Karen pikir, ia hanya menunggu gadis itu selesai dihabisi rumor. Ia bahkan mengingat bagaimana raut wajah Lucy tadi.
"Ahahah, lucu sekali. Kenapa mereka tidak mengumumkan pernikahan, ya? Jangan-jangan hanya cinta semalam?" pikir Karen.
Karena ide itulah, ia mencetuskan rumor pada orang lain. Ia benar-benar berpikir kalau Sean dan Lucy terlibat insiden semalam. Dan anak yang digendong itu adalah hasilnya yang selama ini ditutupi.
"Aku tidak menyangka, padahal di luar sempurna ternyata busuk juga," ujarnya sembari melihat foto Lucy.
"Itu sebabnya kau tidak menjauh dari Sean, ya? Dasar kurang ajar! Bisa-bisanya melibatkan Sean dalam cinta semalammu!" rutuknya.
Seorang gadis tengah menekuk wajah begitu ia keluar dari kantor. Pekerjaan memang sudah selesai dan ia tak lagi mendengar rumor miring itu. Namun, ia jadi ragu dengan ucapannya sendiri.
Masih ada hari esok untuknya kembali bekerja. Lucy diam-diam takut untuk menghadapinya. Ia tak pernah menyangka akan menjadi tokoh utama gosip hari ini.
Ia tahi siapa yang menyebarkannya. Hanya saja, ia tak ingin menuntut selagi bisa dibicarakan baik-baik. Ia berharap waktu dapat menghapus rumor miring tentangnya dan juga Sean.
"Sebenarnya, apa tujuan orang itu melibatkan Pak Sean dalam gosip? Bukankah itu menambah runyam dirinya sendiri yang ingin mendekati Pak Sean?" pikir Lucy.
Ia berjalan dengan helaan napas berulang kali. Ia tak tahu apa motif Karen padanya. Ia juga sudah menjelaskan berulang kali bahwa mereka tak ada hubungan apapun selain bisnis.
"Mengapa tidak juga mengerti?" helanya.
Ia kembali berpikir tentang fotonya yang ada di ponsel Karen. Padahal itu adalah ia dengan Arzen yang tengah jalan-jalan sore. Anak itu adalah Loofyn, bukan ia dengan Sean.
Namun, ia juga tak bisa menyangkalnya dengan alasan seperti itu. Ia tak ingin melibatkan makhluk dunia lain. Ia mengatakan hal jujur pun mana ada orang yang akan percaya padanya.
"Bisa-bisa aku dianggap gila kalau membicarakan bahwa lelaki dalam foto itu adalah manusia serigala," gumamnya.
"Kenapa?"
__ADS_1