
"Yang Mulia! Saya menemukan sesuatu yang janggal," ucap salah seorang prajurit.
Ia membawa sebuah kelereng berwarna merah. "Ini kami temukan saat berhasil menembus jantung pasukan undead itu. Ini sangat keras dan tak bisa dipecahkan, Yang Mulia. Tetapi begitu kelereng ini keluar, makhluk itu hancur menjadi debu," jelasnya.
Arzen memegang kelereng itu, "Menarik. Bawa ini untuk diselidiki menara sihir," perintahnya.
Mereka mengangguk dan langsung pergi. Arzen sedang menjalani perawatan memulihkan sihirnya sekarang. Menggunakan tombak besar tadi membutuhkan banyak mana.
Ia meminum ramuan yang diracik oleh penyihir di menara. "Sepertinya ini sudah cukup," pikirnya.
Ia melihat Venus masih dirawat. Adiknya itu memang sempat terkena tombak api dari pihak lawan. Ekornya hampir terbakar sehingga ia harus dirawat lebih lama.
"Maafkan aku, kak," rintihnya. Arzen hanya mengangguk, ia tak menyalahkan Venus. Keadaan seperti ini bukan saatnya saling memaki.
Ia pergi keluar dari barak. Lelaki itu mencari siapa saja yang bisa ia tanyai tentang Lucy. "Apa ada surat dari menara?" tanya Arzen pada seorang prajurit.
Prajurit itu menggeleng, "Tidak ada, Yang Mulia. Tetapi yang saya dengar, mereka semua berada di tempat yang aman," ujarnya.
Arzen menyuruh mereka berlalu. Sebenarnya ia belum lega dengan berita barusan. Pikirannya selalu tertuju pada gadis itu dan juga Loofyn.
"Yang Mulia, berita buruk!" Micellia berlari dari arah gerbang benteng.
"Pasukan mayat hidup itu terus bertambah dan tak terkendali!"
Arzen langsung bergegas bersama pasukan yang lain. Ia mengikuti Micellia menuntun mereka. Pasukan depan memang sudah berhasil menghalau dan menekan musuh sampai benteng luar.
Namun, tetap saja musuh tak tinggal diam. Mereka membuat keributan di benteng luar istana. "Dirikan barak di dekat sana. Kita pindahkan beberapa pasukan di benteng luar!" perintah Arzen.
"Baik, Yang Mulia." Micellia langsung pergi melaksanakan perintah.
Tepat setelah Venus menyusul keluar, Arzen mengajaknya untuk menyerbu Galven langsung. "Sepertinya aku tahu sesuatu mengenai undead itu," kata Arzen.
Mereka bergegas menuruni bukit tempat istana berada. Mereka turun ke daerah rumah-rumah warga di tanah yang lebih landai dari tempat kerajaan didirikan. Arzen tercengang melihat banyaknya bangunan yang sudah menyatu dengan tanah.
"Apa mereka berniat membumihanguskan kekaisaran?!" decaknya.
Beruntung rakyat sudah diselamatkan ke tempat yang lebih aman. Di bawah bukit terdapat ruang bawah tanah yang cukup untuk menampung mereka. Sisanya berada di pemukiman penyihir di bukit sebelah utara bukit kerajaan.
"Ayo Venus!"
Keduanya menyergah Galven yang baru saja muncul itu. Tentunya Galven dengan segala persiapannya tak hanya diam saja. Tiba-tiba segerombolan pasukan immortal itu menyerbu mereka.
__ADS_1
Arzen dan Venus terkepung oleh ribuan pasukan undead. Mereka tak bergerak atas kesadaran sendiri karena hanya tinggal jasad. Tentu saja Galven yang mengendalikan mereka semua.
"Bagaimana dia bisa mengendalikan mereka semua?!" keluh Venus.
"Selen o Dust!" Tornado debu bulan Arzen menyapu sebagian pasukan. Mereka hanya bisa membuat satu jalur keluar. Sisa pasukan itu tetap mengejar mereka.
Pasukan undead itu menyibukkan Arzen dan Venus agar tak sampai ke kereta Galven. Mereka sengaja menghambat perjalanan dua orang itu untuk menyerang Galven. Beruntung pasukan bantuan datang sebelum Arzen dan Venus kewalahan.
Keduanya mendarat di salah satu bukit agar lebih dekat melihat Galven yang terbang dengan kereta perangnya. Arzen pun tahu kalau kuda yang dipakai juga bukan kuda perang biasa. Melihat dari kilat mata, mereka juga dikendalikan oleh sihir.
"Ckckck! Apa kalian sudah kelelahan?" sindir Galven melihat Arzen dan Venus.
"Padahal ini baru permulaan, tetapi kalian sudah mau beristirahat. Lebih baik kalian kembali pulang dan menyusu pada ibunda permaisuri yang kalian sayangi itu," ledeknya.
Arzen meraung murka, "Kurang ajar!" Ia tak terima ketika ada yang memabwa-bawa nama ibunya. Apalagi dibuat bercandaan seperti Galven mengolok-oloknya.
"Boost Selen o Lightning!"
BLAARRR!
Petir tiba-tiba menyambar salah satu kuda kereta perang Galven. Kereta itu hampir saja terjatuh karena kurang seimbang. Kusir kereta dengan cekatan mengendalikan kendaraannya.
Arzen dan Venus melompat pergi dari bukit itu ke tempat yang lebih landai. Galven menyerang mereka membabi buta. "Ini yang harus kalian terima karena berani melawanku!" pekik Galven.
"Pengecut itu hanya berani duduk manis di keretanya dan mengandalkan undead ini untuk menyerang kita," gerundel Venus saat ia berlari.
"Venus, gunakan pelindung dan tornado untuk mengalihkan mereka. Kita harus mundur untuk menyusun rencana!" perintah Arzen.
"Stellar o Dust!" Tornado debu bintang langsung menghantam pasukan itu setelah Venus mengucap mantra.
Keduanya berhasil lari tanpa dikejar. Pasukan itu sibuk menyelamatkan diri dari puing-puing yang menghantam mereka. Galven berhasil dibuat geram karenanya.
"Dasar bodoh! Cepat kejar dua orang itu!" teriaknya.
Sayangnya, Arzen dan Venus sudah hilang dari jangkauan mereka. Keduanya menggunakan pelindung agar tak dapat dideteksi musuh. Mereka berhasil selamat sampai di benteng dalam istana.
"Hampir saja kita menjadi santapan mayat hidup," hela Venus.
Keduanya kembali ke wujud manusia. Arzen mendapat luka gores di kaki dan tangannya. Namun dalam sekejap ia berhasil memulihkan tubuhnya.
"Darah penyembuh dari ibu ternyata berguna juga," gumamnya.
__ADS_1
Ia tak perlu berlama-lama diobati untuk luka kecil. Ia duduk di sofanya dan bersandar sejenak. Para pelayan menyiapkan kain lap dan air minum untuk Arzen dan Venus.
"Selanjutnya, kita harus merebut kalung yang ada di leher Galven," bisik Arzen.
Venus mengernyit, "Kalung? Apa ini ada hubungannya dengan undead?" Arzen mengangguk.
Ia merasakan aliran sihir dari sana. Anehnya sihir itu sangat panas ketika dirasakan. "Aku curiga sihir apa yang brengsek itu gunakan," gumamnya.
"Benar, entah bagaimana dia bisa mendapatkan sihir untuk membangkitkan undead," timpal Venus.
Penyihir dari menara pun belum menyampaikan pesan. Meneliti hal magis bukanlah hal mudah. Mereka membutuhkan waktu yang cukup lama.
"Hah, semoga cepat menemukan jawaban," hela Arzen.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sembari menunggu itu? Pasukan kita tetap saja kewalahan untuk menghalau undead," ujar Venus.
Arzen memejamkan matanya. Ini memang bukan waktunya tidur. Ia hanya melepas lelah dan berharap ada rencana yang muncul di kepalanya.
"Bagaimana ini? Semuanya mengandalkan aku sedangkan diriku tak sehebat yang mereka bayangkan," pikirnya.
"Kalau seperti ini, apa yang akan terjadi selanjutnya?" gumamnya.
Ia memutar otak mencari cara agar menembus pertahanan undead yang menghalangi mereka menembus Galven. Kerajaan Hwooxeas memang tak sebesar Kerajaan Wolfeuxeas.
Namun rupanya kekuatan mereka tak main-main. Bahkan sampai menggunakan undead yang sudah dilarang ratusan tahun lalu. Arzen masih geram mengingat hal itu.
Drap! Drap! Drap!
"Yang Mulia, pasukan dari Kerajaan Eleuxeas sudah mulai bergerak. Mereka akan tiba dan membantu kita sesegera mungkin!" ujar Micellia menyampaikan surat bala bantuan.
Arzen ingin bernapas lega saat mendengarnya. Mereka adalah kerajaan bangsa werewolf yang sangat terkenal dengan kekuatan petirnya. Beruntung mereka berada di pihak kekaisaran.
"Bagus, bagaimana dengan pasukan yang lain? Apa tak ada kerajaan lain yang mau membantu kita seperti Eleuxeas?" tanya Arzen.
Micellia mengecek kembali suratnya, "Sepertinya masih ada beberapa, Yang Mulia. Mereka belum mengirimkan balasan," ujarnya kecewa.
"Baiklah, kau pandu mereka ketika datang nanti."
"Siap, Yang Mulia!" Micellia kembali keluar menuju pasukannya.
"Ah, aku harus berterima kasih pada ayah karena sudah memperluas relasi dan wilayah kekaisaran."
__ADS_1