Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Salju Pertama Arzen Bersama Lucy


__ADS_3

"Dadah, adik kecil!"


Riri dan ibunya melambaikan tangan sebelum pergi. Hari semakin malam dan jarum jam menunjuk pukul 9 lebih beberapa menit. Jalanan sudah mulai sepi dari orang-orang.


"Mama, yang?" (Mama, pulang?) tanya Loofyn.


Anak itu memeluk kaki Lucy dengan erat. Lucy menarih tangan kecilnya. "Loofyn mau pulang?" tanya Lucy.


Loofyn mengangguk, ia menguap tanda sudah mengantuk. Arzen menggendongnya agar bsia tidur di pundaknya. Mereka kembali ke tempat duduk di samping mesin otomatis.


"Hah... sebenarnya aku tak ingin pulang dulu," ucap Lucy.


Ia melihat Loofyn yang sudah memejamkan matanya. "Yah, kalau dia sudah mengantuk apa boleh buat...?" katanya.


"Kalau begitu, kita di sini dulu sebentar," ujar Arzen.


Keduanya menghela napas sembari menyandarkan punggung. Taman serasa milik mereka, tak ada orang dari jarak dekat. Lampu sekitar taman saja yang menyala.


"Apa kau benar tak ingin pergi ke duniaku?" tanya Arzen membuka keheningan.


Lucy menoleh, "Aku malas berdebat, Arzen. Sudah kubilang, tidak," jawabnya lelah.


Arzen menghela napas. "Loofyn mungkin membutuhkanmu dalam waktu lama," ujarnya.


"Ah... apa kau belum menemukan caranya membawa dia pulang?"


Arzen menunduk, ia menggeleng ragu. "Aku sudah menemukannya, Lucy. Tetapi entah mengapa..." batinnya.


"Ya sudah cepat temukan. Makhluk dunia lain tak bisa lama-lama di dunia yang lain pula. Berbahaya," tukas Lucy.


Arzen melirik, "Kenapa beranggapan seperti itu?" Ia penasaran.


"Hm?" Lucy menggedikkan bahunya, "Entahlah, ibuku pernah bilang seperti itu dulu. Aku tak tahu apa maksudnya tetapi mungkin saat itu sedang membicarakan buku dongeng," ujarnya.


Sejujurnya, ia tak merasa yakin dengan perkataan ibunya kala. Ia anggap kebetulan karena situasinya tepat untuknya yang bertemu Arzen. Lucy menghela napasnya lelah.


"Ibu...?"


Lucy mengangguk, "Iya, sudah meninggal sejak aku berumur 7 tahun. Aku tinggal bersama nenek sampai nenek meninggal saat aku masuk SMA. Kalau tidak salah waktu itu aku baru 16 tahun," ungkapnya.


"Maaf, aku tidak tahu..." sahut Arzen lirih.


"Tidak masalah. Kejadiannya sudah lama," ujar Lucy.


"Bagaimana denganmu?" Ia ingin mendengar cerita Arzen juga.


Arzen mengambil napas panjang dan menghembuskannya pelan. "Ceritaku membosankan," celetuknya.


"Akan kudengarkan sampai habis," sahut Lucy.

__ADS_1


"Ayah dan ibuku sudah tiada sejak lama."


Kaisar dan permaisuri sebelumnya gugur dalam peperangan besar. Arzen tak ingat bagaimana detailnya tetapi semua tertulis dalam sebuah kitab. Ia hanya menceritakan sedikit keadaan saat itu.


"Aku tidak ingat kapan itu terjadi, yang jelas adikku masih kecil," ujarnya.


Lucy sedikit terkejut, "Kau punya adik? Kau anak pertama rupanya," sahutnya.


Arzen menggeleng, "Aku anak kedua."


Lucy sedikit heran. Kalau Arzen anak kedua mengapa bisa menduduki tahta kekaisaran. Ia pikir keluarga kerajaan akan mewariskan tahtanya pada anak tertua dalam keluarga.


"Kau pasti berpikir bagaimana aku bisa jadi kaisar sekarang," tebak Arzen tepat sasaran.


Ia menghela singkat, "Kakakku meninggal saat perang."


Lucy kembali tercengang mendengarnya. Ia berpikir lingkungan dunia magis penuh peperangan. Rakyat pasti hidup sangat keras sehari-harinya.


"Mau tidak mau aku yang melanjutkan."


Lucy langsung menyahut, "Terus kalau kau ke sini siapa yang mengurus wilayahmu?!" selorohnya.


"Adikku sudah bisa diandalkan," ucap Arzen dengan senyum bangga.


"Dia ini tampangnya saja ya yang galak? Aslinya sayang adik," pikir Lucy.


Sebenarnya Lucy ingin bertanya tentang Loofyn dan ibunya. Hanya saja ia takut menggores lebih dalam luka lelaki itu. Mendengar cerita orang tua dan kakaknya saja sudah menyedihkan.


"Baiklah, maaf aku malah mengingatkanmu tentang kesedihan yang sudah berlalu. Kita sudahi saja ceritanya," ucap Lucy.


Mereka kembali bersandar pada kursi. Lucy memasukkan koin dan mengambil minuman hangat. Ia menyodorkan cokelat panas untuk Arzen.


"Terima kasih," ucap Arzen kemudian menyesapnya perlahan.


Sraaa~


Tiba-tiba angin berhembus pelan dan dingin. Kepingan salju mulai turun perlahan-lahan. Salju pertama jatuh di gelas Arzen.


Mengambang lalu menghilang.


"Salju?" celetuk Arzen.


Mendengar hal itu, spontan Lucy mendongak ke langit. Ia melihat banyak kepingan salju turun perlahan. Mereka mulai menyelimuti benda-benda di bawah menjadi putih.


"Wah, benar turun salju pantas saja tadi dingin," gumam Lucy.


Ia berdiri dari duduknya berlari kecil ke agak tengah taman. Ia memastikan sekali lagi bahwa benda putih di tanah adalah salju. Mereka lembut dan dingin lalu menghilang ketika disentuh.


Salju hari pertama belum tebal tetapi sudah dingin. Mereka membuat benda-benda menjadi putih. Lucy tak dapat membendung senyum senangnya melihat salju.

__ADS_1


"Lihat, ini benar salju!" serunya pada Arzen.


Pria itu tengah membenahi tudung jaket Loofyn agar salju tak mengenainya langsung. Ia berdiri dari kursi dengan menggendong Loofyn. Lucy yang sempat memegang ponsel itu langsung memotretnya.


"Kira-kira warga dunia magis bingung tidak ya melihat lembaran foto?" batinnya.


Ia akan mencetaknya beberapa untuk kenang-kenangan. Ia juga berencana memberikannya pada Arzen pada Loofyn saat mereka pulang suatu hari nanti. Entah mengapa mengingatnya membuat perasaannya tidak nyaman.


Ia mengantongi ponselnya dan kembali melihat Arzen. Lelaki itu tengah membiarkan kepingan salju jatuh di telapak tangannya. Tatapan sendunya sama dengan raut wajah Lucy saat ini.


"Aku tak pernah tahu salju di dunia manusia setenang ini," celetuk Arzen.


"Hari bersalju sangat keras bagi rakyat yang harus mencari bahan pangan. Sangat keras bagi kami prajurit yang harus berjaga siang malam yang dingin. Sangat keras karena api pun terkadang tak ingin menyala," bebernya.


Suasana bersalju di dunia manusia jauh berbeda di dunia magis. Mungkin saat ini di dunia magis juga sedang turun salju. Ia tak tahu apakah bisa sedamai ini atau sebaliknya.


Musuh memang mundur dan tidak ada peperangan di musim bersalju. Siapa yang mau menerjang badai salju? Hanya orang bodoh yang melakukannya.


"Kau tidak ingin pulang?" tanya Lucy.


Arzen menatap nanar gadis itu. Ia bimbang, seorang kaisar menemui kegelisahannya memutuskan perkara. Akhirnya, ia menggeleng pelan.


"Aku percaya pada adikku. Selama dia tidak mengirimiku pesan, semua akan baik-baik saja," katanya.


"Sebenarnya aku yang tidak ingin pergi, Lucy..." batinnya.


"Maaf Venus, kakakmu ini pengecut. Ia tak ingin kembali ke istana hanya karena seorang gadis manusia," batinnya lagi.


Lucy tersenyum tipis, "Begitu, kah? Kalau kau ingin pulang, pulang saja tidak apa-apa. Loofyn aman bersamaku di sini sampai kau kembali," ujarnya.


Sret!


Arzen menarik Lucy dalam dekapannya. Gadis itu hampir saja limbung kalau tidak sigap. Ia bertumpu pada dada bidang pria itu.


"Ada apa—"


"Sebentar saja, sebentar saja seperti ini," bisik Arzen tepat di samping telinga gadis itu.


Ia memeluknya sangat erat. Membiarkan salju menghujani mereka yang berbalut mantel hangat. Arzen tak peduli kalaur badannya dipenuhi putih salju.


"Kalau diingat-ingat, ini salju pertamaku denganmu," gumam Lucy.


Arzen mengiyakan dalam hati. Ini juga salju pertamanya dengan Lucy. Ia tak mengira kalau momen salju pertama bisa sehangat ini.


"Baru kali ini, salju pertamaku begitu damai," gumam Arzen.


Lucy membalas pelukan Arzen. Membuat lelaki itu membelalak tekerjut tetapi juga merasa senang. Ia tak tahu berpelukan seperti ini bisa membuatnya nyaman.


"Suatu saat nanti, salju pertamamu di duniamu pasti akan damai."

__ADS_1


__ADS_2