
Gelap. Sunyi. Senyap. Tenggelam. Melayang.
"Apa aku sudah mati?" Pertanyaan terlintas dalam benaknya ketika ia merasakan tubuhnya kaku.
Samar-samar ia melihat seorang wanita tengah tersenyum. Ia heran karena merasa tengah terpejam matanya. Sesosok itu tak lain adalah Lumine, ibunya.
"Kau belum saatnya berada di sini, anakku," ucap wanita itu dengan lembut.
"Pergilah, seseorang yang mencintaimu sangat merindukanmu," katanya.
Lucy mengernyitkan dahinya bingung. Ibunya kembali tersenyum, "Kau memang anakku yang paling cantik. Ibu mencintaimu selalu," tuturnya.
Tiba-tiba kepalanya terasa berat. Badannya mulai bisa digerakkan meski sedikit pegal tiap sendinya. Ia meraba-raba sekitar dan memegangi kepalanya.
"Nona, Anda sudah sadar? Anda bisa mendengar suara saya?!" pekik seseorang.
Lucy membuka matanya perlahan. Seberkas cahaya membuatnga silau. Rupanya beberapa orang penyihir berada di sampingnya.
Mereka mengharapkan respon dari Lucy. Para penyihir itu terus memberikan sihir penyembuh. Lucy merasa dirinya lebih ringan daripada sebelumnya.
"Apa aku belum mati?" celetuk Lucy.
"Tentu saja belum, nona! Nona berhasil mengalahkan musuh dan menyelamatkan satu kerajaan– tidak! Satu dunia, nona!" seru salah satu penyihir yang merawat Lucy.
Gadis itu berusaha mengubah posisinya menjadi duduk menyandar. Ia masih lengkap dengan jubah milik ibunya. Bahkan di sampingnya masih ada tombak dari pohon kehidupan.
"Mana Anda sepertinya sudah pulih. Kami sangat khawatir karena tiba-tiba nona mengeluarkan banyak sekali mana," ujar penyihir itu.
Lucy tahu apa yang sudah terjadi. Beberapa saat yang lalu ia melawan musuh yang menakutkan. Ia sendiri tak pernah membayangkan hal itu sebelumnya.
"Di mana Ar– Yang Mulia Kaisar?" tanya Lucy lirih.
"Ah, Yang Mulia Kaisar sedang tidak ingin diganggu. Yang Mulia ada di atas bukit dekat kekaisaran," jawab penyihir itu dengan ragu-ragu.
SRAKK!
Lucy tiba-tiba beranjak dari duduknya. Ia segera membawa tombak pohon kehidupan itu bersamanya. Para penyihir khawatir karena gadis itu belum sembuh sepenuhnya.
"Nona harus istirahat dulu! Yang Mulia juga sedang tak ingin diganggu," ujar mereka.
Lucy tetap bersikeras, "Terima kasih sudah merawatku. Aku harus menemuinya," pungkasnya lalu pergi dari sana.
Drap! Drap! Drap!
"Aku harus menemuinya!" tekadnya dalam hati.
__ADS_1
Dunia magis benar-benar gelap gulita. Langitnya hitam seperti malam enggan pergi. Bahkan bulan dan bintang tenggelam sinarnya.
Meski begitu, Lucy masih dapat melihat sekitar karena bantuan mana sihir yang mengalir. Jubahnya juga bersinar lebih terang daripada benda-benda di sekitarnya. Makhluk-makhluk dengan mana rendah redup sinarnya.
"Apa ini semua perbuatanku?" gumamnya kala ia teringat pada mantra gerhana matahari.
Ia menunduk, "Tidak... ini adalah risiko demi menumpas monster itu!" putusnya.
Ia sempat melihat Venus dari kejauhan. Pria itu penuh mana yang dapat membuatnya terlihat di mata Lucy. Ia yang pernah menelan debu bintang itulah yang membuat mananya bersinar.
"Apa tidak ada yang bisa kulakukan untuk menghentikan efek mantra ini?" pikir Lucy.
Ia kembali berlari sampai napasnya terengah-engah. Jalan yang dilalui naik turun dan dingin. Ia yakin para rakyat tengah bergedik dan bersembunyi di rumah mereka masing-masing.
"Ini terlalu gelap...!" batin Lucy.
Drap! Drap! Drap!
KLANG!
"Akh...!" Ia menjatuhkan tombak pohon kehidupan.
Lucy berhenti sejenak dan mengambilnya. Saat itu juga ia merasa secercah cahaya muncul dari arah lain. Tepatnya di atas sebuah bukit dengan pohon yang mulai berguguran daunnya.
"Arzen...?"
Ia kembali berlari lebih cepat. Jalanan menanjak menuju bukit tak menyurutkan tekadnya untuk menemui lelaki itu. Serigala besar itu tengah terluka di sekujur tubuhnya.
Hosh! Hosh! Hosh!
Crak...!
Gadis itu menggunakan tombaknya sebagai tongkat. Ia bertumpu untuk membantunya berjalan menaiki bukit. Sampai akhirnya ia berhasil mencapai puncak di mana Arzen berada.
Tiba-tiba serbuk bintang menghujani langit gelap Dunia Magis. Kini Lucy bisa dengan jelas melihat serigala besar yang ada di hadapannya. Arzen mendongakkan kepalanya menatap dedaunan yang mulai gugur.
"Kenapa kau tak menurut untuk diobati dan malah bermalas-malasan di sini, Arzen?" tegur Lucy dari belakang pria itu.
Telinga Arzen bergerak merespon. Ia menoleh ke belakang dan melebarkan matanya. "Lucy kau masih hidup?" celetuknya.
Lucy menyipitkan matanya, "Tentu saja, dasar bodoh!" sahutnya kesal.
Arzen menatap tak percaya. Ia kira yang datang hanyalah arwah gadis itu. Ia berpikir demikian sebab beberapa saat yang lalu gadis itu memejamkan matanya tak merespon.
"Kau masih... akh...!" Arzen mendesis kesakitan saat ia mencoba untuk berdiri.
__ADS_1
Rupanya, bagian kaki depan hingga punggung masih banyak luka. Apalagi luka dalam yang ada di paha lelaki itu sangat menyiksanya untuk sekedar berdiri. Ia kembali terduduk dan membuat Lucy khawatir.
Gadis itu segera mendekat dan bersimpuh di samping Arzen. "Apa yang kau lakukan?! Lihat kau terluka tetapi malah mengusir para penyembuh!" omelnya.
"Aku tak lebih penting darimu, Lucy," gumam Arzen.
Lucy tak menggubrisnya. Ia segera merapalkan mantra penyembuh dan mengarahkannya ke luka dalam itu. Cahaya sihir mulai mengobati dari dalam.
"Jangan mengeluarkan mana dulu, kau baru pulih Lucy," tegur Arzen.
Lucy mendelik, "Aku tak percaya orang sakit yang mengatakan itu padaku. Apalagi dia sangat membandel begini!" katanya.
Arzen terkekeh mendengarnya. Ia tersenyum tipis dan membiarkan Lucy melakukan apa yang gadis itu ingin lakukan. Ia bahkan lebih cepat melakukan pemulihan setelah lukanya disembuhkan oleh Lucy.
"Sudah selesai, tetapi masih banyak yang belum sembuh," ucap Lucy sembari melihat titik luka di tubuh serigala itu.
"Aku bisa melakukannya sendiri," ujar Arzen.
Ia menatap Lucy, "Terima kasih," gumamnya.
Mereka kembali terdiam dalam heningnya Dunia Magis. Saling menatap satu sama lain pada netra yang berkelip indah. Tatapan sendu menjadi pengganti kalimat sapa ketika bertemu.
"Maafkan aku."
Ucapan itu yang tercetus mengusir sunyi. Arzen menunduk setelah mengatakannya. Sedangkan Lucy masih berdiri dengan memegang tombak pohon kehidupan.
"Maafkan aku yang tidak berguna ini. Seharusnya ini menjadi tanggung jawabku tetapi aku malah menyerahkan semuanya padamu," ujarnya lirih.
Ia seperti menghindari tatapan Lucy. "Maafkan aku yang tidak tahu apa-apa tentang dirimu. Jujur aku terkejut melihatmu maju melawan Galven," katanya.
Ia terus merutuki dirinya selama Lucy berperang tadi. Arzen merasa menjadi pria paling tidak berguna di muka bumi. Pria mana yang membiarkan gadisnya berjuang sendirian di medang perang, begitu pikirnya.
"Terima kasih sudah mau melindungi segenap kekaisaran... tidak, kau bahkan melindungi seluruh dunia ini," ucap Arzen dengan tulus.
Kali ini ia berani menatap mata Lucy. Gadis itu juga tengah menatapnya sembari mendengarkan apa yang tengah Arzen bicarakan. Angin berhembus menerbangkan surai halus keduanya.
"Apa kau takut padaku, Arzen?"
Kedua bola mata Arzen melebar sejenak. Ia menghembuskan napasnya, "Sangat takut. Aku sangat takut kehilanganmu tadi," ujarnya.
"Saat kau tak sadarkan diri sampai badanmu lemas tak berdaya. Aku sangat takut hal itu terjadi. Aku tak akan pernah memaafkan diriku kalau sampai hal mengerikan terjadi padamu," jelasnya kemudian melirih di akhir kalimat.
"Kenapa kalau aku menghilang dan pergi darimu?" tanya Lucy membuat jantung Arzen mencelos.
"A–apa maksudmu, Lucy? Tentu saja itu menjadi mimpi buruk abadi bagiku. Kau tidak berencana melakukannya, kan...?" Nada bicara Arzen terdengar sedih seolah hatinya tersayat.
__ADS_1
Lucy menghembuskan napasnya. Ia berjalan selangkah dua langkah mendekati serigala itu. Menatapnya lekat dan hanya menemukan keresahan di balik binar mata kelabunya.