
"Apa harus bersih-bersih di pagi hari seperti ini?!" gerutu Arzen yang baru saja bangun tidur.
Pria itu duduk di sofanya dan menatap Lucy yang sibuk memegang vacum cleaner. Gadis itu memelototi Arzen. Ia tengah sibuk tetapi pria itu malah bersantai.
Ia kalah dari Loofyn yang tengah memasukkan mainannya ke kotak. Lucy akan menghukumnya kalau ia tidak cepat. Tidak akan ada es krim untuknya lagi seminggu ke depan.
Mulai jam 6 pagi, Lucy sudah sibuk bersih-bersih. Ia mulai dengan mengelap, menepis debu dengan kemoceng, dan saat ini mulai membersihkan sudut lantai. Arzen yang sudah mencuci muka itu pergi membuang sampah.
Dalam waktu tiga puluh menit, ruangan telah bersih. Pekerjaan yang berat menjadi lebih ringan dengan bantuan beberapa orang. Lucy mengelap keringat yang mengalir di dahinya.
"Baguslah. Sekarang kita sarapan sederhana dulu. Aku sudah ada roti panggang dan krim buah," ujarnya.
Mereka bertiga duduk di kursi masing-masing sembari menyantap sarapan. Khusus untuk Loofyn diberi roti yang masih empuk. Batita itu mulai bisa makan sendiri. Lucy sedikit kagum, mungkin anak siluman lebih cepat berkembang daripada anak manusia.
Apalagi gen bangsawan, Loofyn anak kaisar langsung pewaris tahta. Mungkin ada gen superior yang diwariskan padanya. Karena itu, Lucy tak lagi terheran-heran.
"Kenapa kau bersih-bersih sepagi ini?" tanya Arzen.
"Besok sudah tahun baru. Rumah harus bersih dan nyaman untuk menyambutnya," jawab Lucy.
Ia membersihkan piring bekas di wastafel. Sedangkan Arzen membawa Loofyn untuk dibersihkan mulutnya dari sisa krim. Mereka sangat sibuk pagi ini.
Lucy duduk dan bersandar di sofa, "Aah, beruntungnya aku sudah menyelesaikan semua tugas. Tak ada lagi deadline yang menghantui," helanya.
"Ah, itu alasan kau bekerja sampai larut malam?" Lucy mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Arzen.
"Aku akan beristirahat sampai nanti sore. Kau boleh pergi ke bukit atau taman untuk Loofyn bermain. Jangan mengacaukan rumah," ujar Lucy.
Gadis itu pergi mandi dan bersantai. Ini adalah kegiatan berendam paling hangat dan nyamannya selama setahun ini. Gadis itu sangat jarang berendam dan memanjakan diri.
"Kenapa lama sekali di kamar mandi?" tanya Arzen yang mengetuk pintunya dari luar.
"Aku sedang nyaman di sini, jangan ganggu!" sahutnya dari dalam.
Arzen mendengus mendengar respon Lucy. Ia memutuskan untuk pergi keluar bersama Loofyn. Mereka pergi ke bukit untuk bermain-main dalam wujud serigala.
__ADS_1
Hanya ada gelak tawa batita itu sampai lelah sendiri. Loofyn dan Arzen merebah di hamparan rumput yang luas. Mereka menatap langit yang cerah, tak begitu panas, tak juga mendung.
"Mama... ann..." (mama... kangen...) gumam Loofyn.
Arzen menghela napas, "Padahal aku ingin ketenangan tetapi bosan juga tidak ada manusia itu," katanya.
"Papa, ain tan tan tan!" (Papa, main taman taman taman) ajak Loofyn dengan antusias.
"Kita tidak bisa menggunakan wujud ini kalau mau main di taman," ujar Arzen.
Saat itu juga Loofyn mengubah wujud dirinya menjadi manusia. Ia menyembunyikan telinga dan ekornya. Menutupinya dengan hoodie pemberian Lucy.
"Papa, aaa uuu iaa!" (Papa, telinga ekor tidak ada!) celotehnya.
Anak itu paling bersemangat untuk bermain. Ia dengan senang hati menyembunyikan ekor daj telinga yang menggemaskan itu agar bisa bermain di luar. Lucy mengajarinya dengan baik sampai anak itu mengerti.
"Selain itu, apalagi yang Lucy ajarkan padamu?" tanya Arzen.
Loofyn tersenyum lebar menunjukkan taringnya. Memang butuh beberapa detik untuknya menyembunyikan taring tajam. Arzen bertepuk tangan kecil untuk mengapresiasi usahanya.
Arzen mengangguk, "Benar juga."
Lucy juga memberitahunya untuk tidak menggunakan sihir selain di rumah atau di bukit. Lagi-lagi Loofyn mengerti dan menurutinya. Selama ini ia bermain dengan baik bersama manusia.
"Kau jadi menyatu dengan manusia kalau begini terus. Kita harus kembali ke dunia magis. Sampai saat itu terjadi, apa kau bisa melawan manusia yang berbuat jahat padamu?" tanya Arzen.
Sepertinya pertanyaan pria itu terlalu berat untuk dicerna anak usia 2 tahun. Loofyn hanya memandangnya dengan mata bulat lucu. Ia memiringkan kepalanya tanda tak tahu.
Arzen menghela napas, ia akan melupakan masalah ini sementara. Ia langsung menggendong Loofyn dan mengajaknya pergi ke taman dekat rumah. Ada banyak orang di sana yang mayoritas ibu dengan anak-anaknya.
"Banyak orang. Apa kau mau pulang saja?" Loofyn menggeleng, ia tetap ingin bermain.
"Wah, kau yang tinggal di ujung perumahan itu, ya?" sapa seorang ibu anak satu.
Arzen menurunkan Loofyn, "Benar, ka– Anda siapa, ya?"
__ADS_1
Ibu itu tersenyum, "Saya tetangga dari rumah nomor 3 sebelah kiri rumahmu. Ini anak laki-laki saya, umurnya baru 4 tahun," ujarnya.
"Ternyata papanya Loofyn masih muda, ya. Ahaha, gadis itu punya selera yang bagus. Jarang ada kabar, tahu-tahu sudah menikah," imbuhnya.
Arzen mengernyit, "Kenapa bisa tahu nama Loofyn?" Ia tidak ingat pernah bertemu ibu ini dengan Loofyn.
"Eh? Istrimu pernah membawanya bermain ke taman sini juga. Loofyn dan anak saya akrab, lho. Iya, kan, Moya?" sahut ibu itu.
Arzen sedikit mencelos mendengarnya. "I–istri... siapa yang istri...? Ditambah selera, apa maksudnya? Selera makan Lucy?" pikirnya bingung.
Mau dipikirpun ia tak paham tanpa ada Lucy yang menjelaskannya. Ia memutuskan untuk duduk di kursi yang kosong. Matanya selalu awas pada Loofyn yang bermain pasir dengan Moya.
"Jadi, selama ini ia selalu mengajaknya ke sini..." batin Arzen.
Ia mengerti alasan Loofyn mempelajari teknik menyembunyikan wujud silumannya. Anak seusianya ingin bermain dengan banyak orang. Apalagi Loofyn sangat aktif dan senang bermain.
"Manusia di sini berbeda sekali dengan dunia magis. Mereka hanya tahu cara berperang. Berbeda sekali dengan di sini, banyak taman bermain daripada pemakaman," batin pria itu.
Ia memikirkan bagaimana Loofyn nanti ketika kembali ke dunia asalnya. Dunia yang lebih suram dan keras, ia penasaran apakah anak itu bisa mengikuti lingkungan yang penuh peperangan daripada bermain pasir. Ia terlalu banyak berpikir sampai Loofyn menghampirinya untuk mengajak pulang.
"Ah, benar ini sudah sore. Mari pulang dan bermain lagi besok," ujar ibu Moya.
Mereka pulang dengan berjalan bersama. Loofyn digandeng oleh Moya dan berjalan di depan. Sedangkan Arzen dengan ibu Moya mengawasi dari belakang.
"Loofyn sangat beruntung memiliki papa yang selalu perhatian padanya. Saya bisa melihatnya dari tatapan Anda yang lembut pada anak itu," ujar ibu Moya memecah hening.
Arzen hanya mengangguk untuk menanggapi. Ia tak terbiasa berbicara dengan manusia selain Lucy. Ia membiarkan ibu itu bercerita dan dirinya menjadi pendengar yang baik.
"Lucy juga sangat beruntung, tidak... Anda berdua sama-sama beruntung memiliki satu sama lain," pujinya. Arzen hanya mengangguk meski tak mengerti apa maksudnya.
"Di umur segini, peran orang tua sangat penting bagi Loofyn. Papa dan mamanya harus selalu ada dan mendampingi setiap langkahnya," tutur ibu Moya.
Ia bercerita panjang lebar tentang mengasuh anak. Arzen mendengar dan menyimaknya sungguh-sungguh sepanjang jalan pulang. Ibu Moya dan Moya berpamitan ketika Arzen dan Loofyn sampai di depan rumah mereka.
"Yah, saya senang ada tetangga yang baik seperti Anda, pak Arzen. Kami pamit pulang, titip salam untuk Lucy." Tak lama setelahnya, mereka berdua pulang.
__ADS_1
Ia masuk setelah Loofyn selesai melambaikan tangan pada Moya. "Kau senang sekali berteman dengan manusia," ucap Arzen.