Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
CEO dan Nona Lucy


__ADS_3

Lucy menolak, "Sudah kubilang tidak bisa. Aku tidak mau ke dunia lain," ujarnya.


"Sudahlah, aku harus bekerja. Aku tidak akan kembali sampai jam 3 sore. Rapat mungkin akan lama," katanya sembari melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.


"Kau bisa tahu sekarang di waktu apa? Bagaimana?" tanya Arzen.


Lucy menghela napas, "Secara garis besar, manusia menemukan jam dan jam itu dipakai untuk menunjukkan waktu. Aku tidak ada banyak waktu untuk menjelaskan," ujarnya singkat lalu pergi keluar.


Arzen bersandar pada tembok. Ia mengeluarkan sesuatu dari sihirnya membuat ia tak lagi terlihat. Diam-diam ia keluar setelah Loofyn kembali tidur.


"Ah, nona Lucy apa Anda keberatan jika makan siang bersama kami? Rapat kali ini akan lama, saya tidak mau mendengar suara perut keroncongan selama 2 jam ke depan," ujar seseorang yang menarik perhatian Arzen.


Ia melinguk seketika nama Lucy disebutkan. Arzen menemukan gadis itu berada di kumpulan orang-orang berjas hitam. Lucy mudah ditemukan karena ia memakai kemeja berwarna peach dan celana panjang hitam.


Gadis itu tersenyum dan mengangguk, Kalau begitu, izinkan saya ikut. Terima kasih sudah menawari saya, pak," ujarnya.


Rombongan pekerja itu melewati Arzen. Pria itu hanya mengamati gadis berkemeja peach yang ikut melewatinya. Ia berjalan paling depan dekat seseorang yang tingginya hampir menyamai Arzen.


"Siapa? Siapa yang mengajak manusia itu bicara?" batin Arzen karena ia tak sempat melihat wajahnya.


Ia mengekor dalam mode tak terlihatnya. Mencuri dengar sesuatu yang rombongan pekerja itu diskusikan. Sesekali ia melihat Lucy tertawa bersama seorang pria di sampingnya.


"Saya orangnya selalu sibuk jadi tidak ada waktu untuk makan-makan dengan perusahaan sendiri. Lain kali, akan nona Lucy atur jadwal untuk saya, ya?" ucap pria yang menjabat sebagai CEO itu.


Lucy terkekeh, "Ternyata bapak juga ingin makan-makan dengan kami. Saya sempat berpikir bapak adalah CEO, jadi tidak bisa sembarangan kami undang," balasnya.


Keduanya kembali tertawa dan mengobrol ringan sampai ke kantin di lantai bawah. Lucy terkejut ketika ia tahu bahwa orang nomor 1 di perusahaan membooking satu kantin hanya untuk ia dan orang-orang yang diajaknya. Karena kalau tidak demikian bisa heboh dan membuat suasana menjadi tidak nyaman.


"Astaga, bapak sampai melakukan ini untuk kami?" ujar seorang perempuan, Hera, direktur keuangan di perusahaan.

__ADS_1


Makan siang dihadiri oleh jajaran penting perusahaan. Bisa dibilang semacam tangan kanan, mereka ada di bawah CEO langsung. Lucy jadi merasa sungkan sebelum CEO itu menawarinya.


"Benar, sayang sekali CFO kita tidak bisa ikut hari ini. Istrinya sakit dan harus menyusul ke rumah sakit," ujar pria itu. Meski ia adalah orang paling dihormati di sini, sikapnya yang selalu rendah hati mau mengakrabkan diri dengan anak buahnya.


Ketika mereka sedang asyik memesan menu, seseorang memicing dari meja samping mereka. Lebih tepatnya, orang itu menatap Lucy yang duduk paling dekat dengan CEO setelah Direktur Keuangan. Siapa lagi kalau bukan Arzen dengan tangan yang bersedekap di dada.


Ia berpangku tangan, melihat bagaimana Lucy lebih ceria daripada tadi dan tadi pagi. Ia benar-benar mengamati suasana hati manusia di sekitarnya. Meski banyak kata-kata asing, Arzen berusaha untuk memahaminya.


"Apa itu mantra sihir di dunia manusia?" tebaknya.


Arzen lebih terkejut ketika melihat apa yang mereka pesan. "Kenapa semuanya hijau? Mereka selalu saja makan tumbuhan. Padahal daging lebih enak," cebiknya.


Ia tak mengetahui menu bernama salad sebelumnya. Arzen tak mengerti bagaimana para manusia itu menikmati salad. Ia meringis melihat hanya ada daging dengan potongan kecil.


"Apa perlu aku berburu setiap hari agar manusia itu bisa makan daging?" pikirnya saat melihat Lucy.


Ia menggeleng. Pertama dan terakhir kalinya ia membawa burung jenjang membuat perempuan itu mengomel. Ia tak ingin hal itu terjadi lagi.


Ia kembali mengamati bagaimana manusia bercengkerama satu sama lain. Ia berpikir mereka semua selalu bersenang-senang. Pertikaian di dunia magis membuatnya berpikir berbeda tentang manusia.


"Apa di dunia ini tak ada yang namanya perang?"


Arzen berpikir itu tak benar tetapi juga tidak salah. Daripada perang fisik, manusia memakai emosi mereka. Ia menyimpulkannya setelah mengingat kejadian Karen beberapa jam yang lalu.


"Kenapa mereka tidak langsung melawannya? Sekali pukul juga sudah selesai, bukan?"


"Benar, pak! Nona Lucy sangat cekatan, saya suka caranya mengumpulkan data dan menyusunnya dengan rapi," ucap Hera antusias membuat Lucy malu-malu.


Ia melambaikan tangannya, "Tidak, tidak... itu sudah menjadi tugas saya. Saya tidak keberatan dan sudah terbiasa, ahaha," katanya.

__ADS_1


Arzen menyipitkan matanya, "Hm? Aku melihatmu gusar sendiri malam-malam sebelumnya karena mengeluh," batinnya yang tentu ia tak bisa ucapkan pada mereka.


"Kenapa manusia itu berbohong? Mereka senang sekali menyembunyikan kebenaran, ya?"


CEO itu tersenyum, "Benar, tidak salah saya mengangkatnya sebagai sekretaris CEO. Mohon bantuannya, Nona Lucy," ucapnya.


Lucy mengangguk sopan, "Saya yang sangat berterima kasih karena bapak memberikan saya kepercayaan untuk bekerja langsung di bawah bimbingan bapak," balasnya sedikit terbata.


"Nyenyenye. Aku penasaran bagaimana kalau pria itu tahu bahwa kau terkadang mengeluh dan merutuki pekerjaan di rumah," cebik Arzen.


Ini berbeda dengan dunia magis tempat asalnya. Mereka tak memiliki sihir atau fisik yang super seperti dirinya. Mereka hanya mengandalkan kecerdasan dan emosi atau perasaan.


"Kehidupan di sini sangat jauh dari duniaku," gumam Arzen.


Di dunia manusia lebih damai dari dunia magis. Tak ada peperangan setiap tahun sepanjang hari. Tak ada bangunan yang rusak atau orang-orang yang menderita karena terluka.


"Padahal mereka tak membuat gaduh, tetapi kenapa duniaku yang terasa sepi?"


"Wah, memang sepertinya bapak menyimpan rasa pada Nona Lucy," celetuk Hera bercanda.


Lucy melambaikan tangannya, "Astaga, Nona Hera tidak boleh seperti itu. Beliau ini orang nomor 1 di sini," ucapnya sungkan.


Mereka semua bergelak tawa melihat bagaimana Lucy menanggapi candaan yang dilontarkan oleh Hera. Ia sendiri juga ikut tertawa dan menganggap ini sekedar lelucon. Lalu, ketika mereka kembali tenang, Hera mengamati bagaimana tatapan CEO itu pada Lucy.


Arzen sedari tadi merenungi sesuatu. Ia hampir melewatkan banyak pembicaraan para manusia itu. Ia menutup mulutnya yang menguap menahan kantuk.


"Jujur saja, bapak suka sama Nona Lucy, kan?" tebak Hera dengan terang-terangan. Direktur Keuangan yang satu ini memang orang yang ceplas-ceplos dan jujur.


Arzen memutuskan untuk beranjak dari sana karena Loofyn menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Ia juga jenuh mengamati interaksi antara manusia di depannya. Apalagi setelah pertanyaan yang dilontarkan oleh Hera.

__ADS_1


"Konyol. Aku belum pernah melihat manusia itu dekat dengan lelaki selain aku dan Loofyn di rumah," decihnya.


"Bapak jatuh cinta sama Nona Lucy, kan?"


__ADS_2