
"Hm? Bahumu kecil nanti kalau aku bersandar berat," ujar Arzen.
Lucy menggeleng, "Coba saja dulu," desaknya.
Pria itu menurut, ia menyandar pelan-pelan. Ternyata memang senyaman itu bersandar di pundak orang lain. Ia bisa bersantai malam ini sembari menonton siaran kembang api.
"Bagaimana?"
Arzen mengangguk, "Hm, tidak buruk juga."
"Hei, apa maksudmu?! Kalau nyaman bilang saja dengan jujur," tukas lucy dan membuat lelaki itu tersenyum.
"Kalau seperti ini aku jadi mengantuk," kata pria itu. Ia memang berulang kali menguap menahan kantuk.
"Kau mau tidur sekarang? Aku bisa memindahkan Loofyn ke kamar," tanya Lucy.
Arzen menggeleng, "Malas berpindah untuk saat ini," katanya.
Ia sudah nyaman dengan posisi duduk menyadarnya saat ini. Punggungnya bersandar pada sofa dan kepalanya berada di pundak kecil Lucy. Di antara kakinya ada Loofyn yang tertidur.
"Aku tak pernah duduk dengan posisi seperti ini. Kalau diingat lagi, aku hampir tak pernah duduk karena harus memimpin perang," paparnya. Arzen mulai bercerita.
"Duduk tenang saja tak pernah apalagi menyandar di pundak seseorang seperti ini," lirihnya.
"Sama sekali tak terlintas dalam pikiranku..."
Lucy yang mendengarkan itu turut sedih. Di balik sikap angkuhnya, Arzen hanyalah serigala yang kesepian. Ia memang dikelilingi banyak prajurit, tetapi mereka tidak tahu seberapa luas ruang kosong di hati Arzen.
"Kau banyak menunjukkan hal baru, Lucy."
Lucy memegangi pipinya yang terasa hangat. Pria itu tahu cara mendobrak hatinya. Ia hanya bisa melamun dalam diamnya.
Sudah larut malam bahkan jarum jam kompak menunjuk angka 12. Layar televisi masih menyiarkan puncak pergantian tahun. Sedangkan Arzen dan Loofyn sudah terlelap, menyisakan Lucy yang terdiam menatap kosong arah depan.
Di luar sana bising kembang api dan sorak riang orang-orang. Rumah Lucy tetap tenang dan damai. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mematikan televisi dan tidur.
"Jangan tinggalkan aku. Ayah, ibu, kakak, rakyatku semuanya sudah pergi..."
Lucy mengurungkan niatnya untuk berdiri. Ia terkejut mendengar gumaman barusan. Kedua mata Arzan masih tertutup, itu artinya ia mengigau.
__ADS_1
Lucy berpikir apa yang dipikirkan oleh Arzen sampai terbawa dalam mimpi. Ia bisa melihat bagaimana lelahnya ia selama ini. Napasnya yang tenang belum tentu menggambarkan jiwa dan hati yang tenang pula.
Lucy kembali pada posisinya bersandar. Ia melebarkan selimut yang ada di sofa. Memastikan dirinya dan dua serigala di sampingnya tetap hangat sepanjang malam.
Telinga Arzen yang mengenai pipinya itu ia menekuk lesu. Mulutnya memang bisa berbohong, tetapi tidak dengan telinga yang menangkup. Lucy tersenyum saat memijatnya pelan.
"Lembut sekali..." ujarnya setelah yang kedua kalinya menyentuh telinga Arzen.
Setelah puas mengunyel-ngunyel, ia ikut tidur menyandar sofa. Mereka terlelap di atas karpet ruang tengah yang hangat. Di malam penuh berisik kembang api, mereka berkelana di alam mimpi.
...>>><<<...
Sudah 3 hari sejak tahun baru, Lucy kembali ke rutinitas awal. Ia mulai bekerja seperti biasa dari pagi hingga sore. Namun, sepertinya tidak berjalan dengan lancar di hari pertama.
Ia memijat pelipisnya yang pening. Melihat tumpukan file awal tahun yang menggunung. Rasanya, ia ingin meminjam sihir api Arzen untuk membumihanguskan mereka semua.
"Astaga, apa aku harus lembur? Oh, ternyata tidak seburuk itu," ujar Lucy ketika ia melihat tenggat waktu tugasnya masih lama.
Ia akan mengerjakannya dari yang tenggat waktunya dekat. Kemudian memilah dan membawanya pulang untuk diselesaikan di rumah. Selama ini, caranya berhasil memudahkan pekerjaannya.
Ia anti dikejar deadline dan berujung stres di hari libur. Lucy menyelesaikan semuanya, selagi hari ini bisa maka hari besok sudah bebas. Saat ini ia tengah bersiap menuju lantai 5 untuk mengajukan laporan.
Ia tak tahu, seseorang bersembunyi di balik tembok menunggu kedatangannya. Seorang perempuan berambut panjang dan senyum menyeringai. Ia membawa segelas kopi yang sudah agak dingin di tangannya.
Bruk!
"Kyaah...!"
Bukan Lucy yang memekik, ia sudah terjerembab di lantai. Memejam takut kalau tumpukan dokumen mengenainya. Di depannya, seorang perempuan ikut terduduk di lantai.
"Kau tidak apa, Karen?" tanya Lucy.
Yang menabraknya barusan adalah Karen. Karyawati bagian pemasaran di kantor ini. Perempuan itu menatap melas pada Lucy.
Keduanya jadi pusat perhatian orang-orang yang berkerumun. Lucy baru sadar bajunya terkena tumpahan kopi. Namun, Karen yang paling banyak terkena dan yang paling gawat, kemejanya berwarna putih.
"Saya minta maaf, akan saya cu—"
Karen berdecak kesal, "Aduh~ ini kan baju baruku! Aduh, gawat padahal setelah ini ada pertemuan dengan klien...!" ucapnya dengan nelangsa dibuat-buat.
__ADS_1
Ia menyembunyikan senyum liciknya, "Aduh~ bagaimana ini? Kau seharusnya berhati-hati, nona Lucy. Lihat, dokumenmu terkena imbasnya..." kelakarnya menambahi drama.
Orang-orang bukannya membantu melainkan mengamati mereka. Saling berbisik mencibir Lucy berdasarkan omongan Karen. Mereka tak menduga kalau Lucy seceroboh ini.
"Saya minta maaf, akan saya bersihkan dan ganti—"
"Ah~ padahal ini dibelikan pacarku dari luar negeri. Aduh, bagaimana kalau dia tahu? Ini pasti mahal sekali," sela Karen dengan menekankan kata di kalimat akhir.
Lucy berusaha untuk tetap tenang. Ia tak memusingkan apakah Karen hanya berdrama atau benar terjatuh. Yang jelas, ia harus minta maaf dan bertanggung jawab atas kejadian barusan.
"Nona Karen, saya minta maaf atas kejadian yang tidak disengaja ini. Akan saya ganti kemeja dan kopinya, nona bisa memberikan kemejanya apda saya untuk dibersihkan," ucap Lucy.
Karen tak terima begitu perhatian teralih pada Lucy. "Suasana hatiku buruk! Nona Lucy tahu beberapa menit lagi akan ada pertemuan dengan klien! Ah, kacau sudah aku bisa dipecat~" Ia mulai memanas-manasi permasalahan.
"Saya benar-benar tidak tahu kalau ada nona Karen dari arah depan. Saya minta maaf dan akan bertanggung—"
"Kenapa kalian berkerumun di jam kerja?"
Suara itu membungkam semua orang di sana. Termasuk Lucy dan Karen, bedanya, Lucy tidak menyeringai. Yang datang barusan adalah Sean, orang nomor satu di kantor ini.
"Pak Sean, bagaimana ini? Nona Lucy menabrak saya dan menumpahkan kopi di kemeja baru saya. Padahal sebentar lagi ada pertemuan dengan klien, mana sempat saya pulang ganti baju..." rengek Karen melihat Sean sampai di depan mereka.
Lucy menunduk ketika pria itu menatapnya. "Saya sudah minta maaf padanya, pak. Saya juga akan bertanggung jawab mengganti kemejanya," ungkapnya.
Karen mendengus, "Bagaimana dengan itu?! Nona membiarkan dokumen-dokumen penting itu?!"
Lucy membelalak melihatnya. Butuh waktu berjam-jam menyelesaikan 5 tumpuk dokumen. Waktu dan kerja kerasnya hancur dalam sekejap oleh tumpahan kopi.
Sean melihat dokumen itu sangat penting. Bahkan tenggat waktunya besok pagi. Ia menghembuskan napasnya, "Nona Lucy, saya tidak tahu mengapa ini bisa terjadi. Lain kali tolong berhati-hati. Silakan kembali ke ruangan untuk mengganti dokumen-dokumennya," ucapnya tegas, ia seperti menahan marah dan kecewa.
Karen menahan senyumnya. Dalam hati ia berteriak puas melihat Lucy membuat kecewa Sean. Saat gadis itu pergi, ia kembali memasang raut sedihnya.
Sean menatapnya lekat, "Nona Karen seharusnya juga berhati-hati. Jangan sampai terulang kembali. Saya akan menyuruh seseorang untuk membelikan nona kemeja yang baru," ujarnya tak kalah tegas.
Karen menggertakkan gigi-giginya. "T–tetapi, pak...!"
"Sudah, kembali bekerja bukan berkerumun! Nona Karen tak perlu cemas, klien barusan menelepon resepsionis bahwa mereka akan datang sedikit terlambat," sela Sean.
Ia menambahkan, "Masih ada waktu untuk nona membersihkan diri dan berganti pakaian yang lebih rapi," katanya lalu pergi dari sana.
__ADS_1
Gadis itu masih berdiri di sana setelah semua orang bubar. Kedua tangannya mengepal kuat di samping badan. Menggigit bibir bawah menjadi hobinya sekarang.
"Ck...!"