
"Kalau begitu, kami pergi dulu, Tuan. Silakan menikmati minumannya," ucap karyawati itu seusai menyuguhkan minum dan camilan pada Arzen.
Mereka sudah selesai bercerita tentang Lucy selama di kantor. Arzen mendengar banyak dari mereka. Ternyata masih banyak yang tak percaya dengan gosip itu.
"Dia punya rekan kerja yang baik rupanya," gumamnya.
Saat ini jam istirahat dan giliran shift pekerja. Arzen hanya menyesap minuman berwarna hitam itu. Americano yang pahit kurang ia sukai hari ini.
Terlihat Lucy, Hera, dan Sean menuju ke arahnya. Lucy tampak menjelaskan sesuatu pada mereka sebelum benar-benar sampai di depannya. Mereka nampak antusias melihat Arzen.
Terutama Lucy yang lebih dulu menghampiri. "Bersikaplah seperti yang aku beritahu di rumah tadi," bisiknya.
Lucy kembali menghadap Hera dan Sean. "Arzen, kenalkan ini pak Sean dan ibu Hera. CEO dan Direktur Keuangan di perusahaan ini," ucapnya memperkenalkan dua orang itu pada Arzen.
Sean mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Tanpa disangka Arzen membalasnya seperti yang Lucy perintahkan di rumah tadi. Mereka saling pandang meski dalam tatapan Arzen sedikit tajam.
"Senang bertemu dengan Anda, saya Sean."
Arzen mengangguk, "Saya Arzen—"
"Uwaa, tampan sekali pak Arzen!" seru Hera tiba-tiba membuat kedua pria melepas jabatan tangan mereka.
Hera juga menyalami Arzen, "Ternyata kau suami Lucy yang selama ini tidak dipublikasikan? Tampan juga, memang cocok dengan Lucy!" pujinya senang.
"Ekhem, kak..." celetuk Sean menegur Hera.
"Ah, maaf, saya Hera Renderson. Direktur Keuangan di sini," ucap wanita itu memperkenalkan dirinya.
Meski begitu, ia menyudahi sambutan formal itu dan bertingkah seperti Hera biasanya. "Astaga kenapa kau baru bilang kalau sudah menikah dan bersuami tampan seperti ini?!" pekik Hera tertahan.
"S–s–su–suami....?!" Lucy membelalak mendengarnya.
"Iyah, anu bu—" Ia tak dapat melanjutkan kalimatnya karena pipinya diunyel-unyel oleh Hera.
"Saya tahu ini terlambat, tetapi saya ingin mengucapkan selamat atas pernikahan Anda dengan nona Lucy," ucap Sean.
Lucy semakin terkejut mendengarnya. "Tidak, aku tidak menikah dengannya...! Astaga kenapa jadi salah paham seperti ini?!" batinnya.
Ia melirik meminta bantuan Arzen. Pria itu malah tersenyum dengan tersipu. Lucy tambah syok, "Apa maksudnya dia ini?!" batinnya menjerit.
Lelaki itu menatap Lucy dengan senyum jahil. Ia menarik Lucy dari Hera dan membawanya ke pelukan. "Terima kasih sudah menjaga istri saya selama di kantor," ucapnya pada Hera dan Sean.
__ADS_1
"Eekh...?!"
Hera menutup mulutnya, "Aaa, memang pengantin baru itu sangat manis!" ujarnya antusias.
Sean hanya menatap mereka dengan perasaan senang. Rasanya seperti melepas adiknya yang sudah menikah. Sedangkan Hera merasa seperti seorang ibu yang anak perempuannya sudah menikah.
"Apa maksudmu!?!" Tatapan Lucy seolah berbicara demikian.
Arzen hanya tersenyum padanya. Mereka berbincang ringan mengenai proyek. Perkumpulan mereka menarik perhatian karyawan dan karyawati di sekitar.
Apalagi saat tangan Arzen posesif di pinggang Lucy. Hera ingin menjerit kalau tidak ingat posisinya sebagai orang penting di sini. Ibu satu anak itu memang gemar membaca novel romansa.
Lucy membiarkannya sementara daripada mereka bertanya-tanya tentang siapa Arzen. Ia juga tak bisa terus beralibi dengan tenang. Namun entah mengapa jantungnya berdegup kencang saat ini.
Apalagi saat Lucy mengingat kalimat yang diucapkan oleh Arzen tadi. Ia rasa wajahnya seperti terkena uap, memanas dan memerah. Ia bisa meninju perut Arzen kalau Sean dan Hera tak ada di depan mereka.
"Hah, Lucy bahkan sudah menikah. Kau kapan, hah?!" Hera menyenggol lengan Sean.
"Kak kau tahu aku sedang menjalankan perusahaan yang lagi di puncaknya saat ini," sahutnya membuat Hera kesal.
"Kalau begitu silakan bersantai saja dan luangkan waktu di sini. Saya permisi dulu," pamit Sean pada mereka.
Namun, Arzen menolak karena ingin mengajak Lucy ke suatu tempat. Hal itu dihargai oleh Sean dan akan mengajaknya lagi di kesempatan lain. Kini keduanya tengah berjalan keluar dari ruangan tadi dan berada di koridor yang sepi.
"Hm, apa di sini memang tidak ada CCTV, ya?" batin Lucy sembari celingukan ke langit-langit.
"Atasanm sepertinya menyukaimu," celetuk Arzen.
Lucy langsung menoleh, "Apalagi ini?" batinnya.
"Apa maksudmu? Kan aku sudah bercerita—"
"Aku tahu, tetapi bukan seperti rasa sukaku padamu. Lebih tepatnya ia menyukaimu seperti seorang adik atau sahabat lama," sela Arzen menjawab Lucy.
Lucy mengernyit, "Seorang adik? Hmm, rasanya Bu Hera pernah menyinggung soal itu. Jadi– heh, tunggu! Apa maksudmu rasa sukanya berbeda denganmu?!" pekiknya tertahan.
Arzen berhenti di selangkah di depan Lucy. Ia berbalik dan menatap lekat, "Apa kurang jelas?"
Ia mendekat dan memojokkan Lucy ke dinding koridor di sebelahnya. "Aku menyukaimu, Lucy," bisiknya lembut.
Suara dan aroma maskulin Arzen benar-benar memabukkan. Lucy sudah memerah seperti habis minum anggur. Ia salah tingkah sampai tak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1
"Be–berhenti, astaga Kupikir jantungku akan copot. K–kau tadi juga kenapa mengiyakan ucapan mereka berdua?!" Ia mencoba mengalihkan topik dan berusaha terlihat marah.
"Yang mana?"
Lucy jadi malu sendiri untuk mengatakannya. "Ka–kalau kita pasangan... padahal kau hanya perlu bilang kau partner-ku..." lirihnya.
"Hm? Memangnya kenapa kalau kita menikah? Kau tidak mau menikah denganku?" tanya Arzen ringan.
Lucy melongo menatapnya. Arzen tersenyum jahil, "Kenapa, hm? Aku menyukaimu dan kau memang milikku, Lucy," bisiknya membuat tengkuk Lucy merinding.
"M–milikku...?!" Lucy tak habis pikir. "Sejak kapan aku menjadi milikmu!? Huh, dasar serigala!" pekiknya.
Ia mendorong Arzen yang terlalu dekat dengannya. Khawatir akan ada orang lewat dan melihat mereka. Nanti akan muncul rumor lagi yang lebih menyusahkan.
"Seorang sekretaris GX Company diduga melakukan... ah, aku tidak mau itu sampai terjadi," pikirnya.
"Kau menolakku?" tanya Arzen dengan mata memelas.
Lucy memijat pelipisnya. "Hah, bukan itu maksudku, Arzen. Ah, sudahlah, ayo cepat kita cari makan! Waktu istirahatku tidak sebanyak itu!" katanya.
"Kau terus marah-marah begitu jadi menyita waktu," ujar Arzen.
Lucy menatapnya garang, "Jadi, kau menyalahkanku, ha!? Kau yang mulai duluan!" Ia mulai memukul perut dan dada bidang pria itu.
Sepanjang lorong yang sepi hanya berisi suara pukulan Lucy pada Arzen. Manusia serigala yang kuat itu sama sekali tak merasakan apa-apa. Ia hanya menerimanya sembari sesekali mengejek Lucy.
"Ugh! Berhenti mengejekku, serigala besar!" pekik Lucy.
Arzen tertawa mendengarnya. Ia suka sisi kekanakan Lucy saat sedang kesal seperti ini. Tanpa basa-basi ia langsung menangkap kedua tangan itu.
"Kau semarah itu, hm?" Lucy mencebik.
Arzen tersenyum. Diraihnya pinggang ramping Lucy. "Kalau kau seperti ini terus, aku tidak tahan untuk terus memelukmu, Lucy," bisiknya.
Gadis itu kemudian menghentikan aksinya memukuli Arzen. Pria itu tersenyum senang dan mengelus kepala Lucy. Ia terkekeh melihat Lucy yang buang muka karena malu-malu.
"Kalau begitu ayo cari makan. Kau mau ke restoran mana?"
Lucy menoleh, "Memangnya kau mau makan apa hari ini?"
Arzen lagi-lagi menyeringai jahil. "Aku mau makan dirimu saja malam ini."
__ADS_1