
Arzen dan Venus terkejut ketika mereka sampai di depan benteng. Banyak prajurit yang sudah terluka. Bahkan banyak dari mereka yang terluka parah.
Micellia selaku Pilar Ksatria langsung mengomando pasukan. Ia juga mengarahkan pasukan darurat untuk bersiap. Jumlah mereka lebih dari 10.000 ribu unit, berharap tidak kalah jumlah.
"Yang Mulia! Pasukan tidak mati meski sudah ditembak panah api!" lapor salah seorang prajurit.
Mendengar hal itu Arzen langsung datang untuk menyaksikannya sendiri. Ia kira prajurit tersebut meleset dalam memanah. Benar saja, salah seorang menunjukkan perkataannya dengan memanah tepat di jantung mereka.
Ajaib! Seperti yang dikatakan oleh prajurit tadi. Mereka memang tumbang danterkapar di tanah. Namun tak butuh waktu lama mereka kembali bangkit.
Mata mereka menatap kosong dan berkilat. Arzen merasakan ada yang janggal dengan pasukan itu. Mereka hanya bangkit tanpa melakukan perlawanan dengan sihir.
Prajurit menghalau mereka dengan pedang dan senjata fisik. Pasukan dari atas benteng menembaki mereka dengan panah api dan petir. Pasukan aneh itu hanya membuat prajurit kekaisaran lelah tanpa berhasil membunuh mereka.
"Dihunus pedangpun tidak mati. Sebenarnya mereka ini apa?!" decak Venus.
Arzen menatap dan fokus pada satu pasukan lawan. "Sial, mereka undead!"
Seluruh prajuritnya menatap Arzen dengan terkejut. "Apa? Bukankah mereka sudah dilarang sejak ratusan tahun yang lalu karena melanggar etika?" pekik Venus.
"Apa musuhmu peduli dengan etika seperti itu, Venus?" Arzen segera memerintahkan para prajurit untuk mundur.
Ia dan Micellia berdiskusi rencana selanjutnya. Mereka mencari tahu bagaimana cara membunuh undead. Seperti yang tercatat dalam sejarah, seharusnya tak ada lagi yang menggunakan mayat hidup sebagai pasukan perang.
"Hal tabu seperti itu pasti hanya bisa dilakukan jika melakukan perjanjian dengan iblis!" geram Micellia.
Arzen mendengus, kini ia mengerti seberapa parah musuh mereka. Padahal sebelumnya mereka hanya berani menggertak di perbatasan luar. Kali ini sampai bisa masuk ke benteng istana.
"Venus, ikut denganku mencari pemimpin mereka!" ajaknya dan Venus langsung mengangguk.
Sedangkan Micellia ia perintahkan untuk mengatur pasukan sebaik mungkin. Ia pergi ke ruangbawah tanah yang disiapkan oleh kekaisaran untuk penyelamatan warga. Micellia menyeru mereka semua untuk tetap tenang.
"Dengar! Yang Mulia Kaisar sedang bertarung melindungi kalian saat ini. Saya mohon agar kalian semua tetap tenang dan mendukung Yang Mulia," ujarnya.
Ia kembali mengumumkan, "Bagi siapa saja yang berani mengajukan diri untuk mengikuti pelatihan dan maju berperang, akan mendapat upeti besar dari kekaisaran!" serunya.
__ADS_1
Ia menjelaskan apa saja yang harus dilakukan oleh mereka. Upeti sebesar 200.000 koin emas untuk masing-masing orang apabila mereka bersedia maju. Gelar kehormatan apabila mereka menang dan kembali dalam keadaan selamat.
Tak lupa mereka akan diangkat menjadi pasukan tetap kekaisaran dan derajat keluarganya akan dinaikkan setingkat dari Baron. Para warga langsung berbisik-bisik. Ganjaran yang cukup menggiurkan untuk mereka yang bersedia.
Satu persatu dari pemuda yang kuat dan sehat mengacungkan tangan. Micellia menghela lega ketika sahutannya disambut oleh sekian banyak warga. Mereka semua berbondong-bondong mengikuti Micellia.
"Doakan agar kami berjaya!" ujar mereka pada ibu dan bapak atau keluarga mereka yang tetap tinggal.
Tak hanya dari kalangan pria, Micellia mampu menarik simpati dari para srikandi yang mau mengajukan diri. Pelatihan langsung dimulai di barak pasukan. Mereka diberi pelatihan teori dan praktik langsung.
Memang tak sedikit yang mengeluh. Rupanya upah sebesar 200.000 masih belum mampu membakar semangat mereka. Micellia hampir putus asa dan gigit jari.
Tiba-tiba datang Venus yang tiba-tiba menggaungkan seruannya. Mereka menatap setiap pasukan yang baru dilatih itu. Aura mencekam dan karismanya yang berbicara.
"Apa kalian tak ingin melindungi tempat tinggal kalian sendiri!?" pekiknya. Pria itu melontarkan beberpa kalimat pembangkit.
Awalnya mereka menundukkan kepala. Namun langsung mendongak ketika Venus menyerukan pidatonya. "Apa kalian akan membiarkan tanah yang kalian cintai ini direbut oleh musuh?!"
"Tidak, Yang Mulia!" seru mereka semuanya.
Mereka yang lesu kembali membara. Semangat membela negeri mampu memacu kekuatan mereka. Micellia berterima kasih karena Venus telah datang membantunya.
"Kalau Panglimanya saja menyerah, bagaimana nasib pasukannya?"
Venus kembali ke Arzen dan pasukan di garda depan. Sementara itu Micellia berjuang membentuk pasukan baru yang tak kalah tangguhnya. Mereka diberi senjata sesuai minat dan kemampuan mereka.
"Kalian yang berbakat dalam sihir, akan aku antarkan untuk belajar di menara!" ajaknya.
Ia tak menyangka warga di kekaisaran banyak yang memiliki bakat terpendam. Ia berencana untuk membicarakan dengan Arzen selepas perang nanti. Untuk saat ini, ia berfokus pada apa yang ada di depan.
Sementara itu di sebuah ruangan, seorang pelayan tengah membujuk nonanya. Siapa lagi kalau bukan Serena de Leux, kakak ipar Arzen dan Venus. Gadis itu malah mengurung diri di kamarnya di Istana Barat Westolf.
"Nona, ayo cepat pergi ke tempat persembunyian," bujuk pelayan itu.
Serena menolak, "Tinggalkan aku sendiri! Pengecut sepertiku seharusnya berperang saat ini tetapi malah melarikan diri!" pekiknya.
__ADS_1
Pelayan itu sudah jengah dibuatnya. Tiba-tiba seorang pelayan yang lain melintas. Ia adalah Relia Xen, kepala pelayan di Istana Timur Eastolf.
"Nona Serena, Anda diminta untuk segera mengamankan diri bersama Nona Lucy dan Pangeran Loofyn di Menara Sihir," pintanya.
Serena berdecak, "Apa kurang jelas?!" Ia bungkam ketika Relia menatapnya tajam.
Baru kali ini ada pelayan yang berani menatapnya demikian. "Nona, saya mengetahui ini dari seseorang yang sangat bijaksana," ujarnya.
"Mengamankan diri pun termasuk berperang, nona Serena!"
Perempuan itu terkesiap. Ia rasa ia tahu siapa yang memberitahu si pelayan. Serena tersenyum ironi.
"Apa Lucy yang mengatakannya padamu?" tanya Serena.
Relia Xen mengangguk, "Benar, nona. Nona Lucy sudah menunggu Anda di Menara Sihir bersama Pangeran Loofyn," ucapnya.
"Saya bersedia mengantarkan Anda ke sana."
Ia terdiam di tempat dan berpikir, "Apakah pengecut sepertiku boleh dilindungi?"
Ia selalu bertanya bagaimana kalau tidak bisa membalaskan dendam kakaknya. Bagaimana kalau ia gagal melindungi yang ia miliki sekarang. Bahkan saat inipun ia harus lari menyelamatkan diri.
Serena masih ingat bagaimana Arzen menyentaknya tadi. Padahal selama ini ia selalu meragukan Arzen dan Lucy. Padahal selama ini ia selalu membenci lelaki itu.
Ia selalu membuat masalah setiap kali datang ke istana ini. Selalu ada keributan antara ia dengan Arzen. Namun hari ini, pria itu berkata ingin melindunginya.
"Kak, apa aku tidak apa-apa lari seperti ini?" pikirnya.
Dalam bayangannya seorang perempuan cantik tersenyum. Hanya terlihat dari bibirnya berkata, "Tak apa, berlarilah. Aku tak menyuruhmu untuk membalaskan dendamku."
Serena terdiam, "Kenapa?" Pertanyaan itu tercetus di pikirannya.
Perempuan yang hanya terlihat sebagian wajahnya itu tersenyum dalam mimpi Serena. Ia tersenyum sangat lembut sampai membuat Serena menangis. Ia merindukan senyuman itu.
"Karena aku memintamu untuk hidup dengan baik di dunia yang indah ini."
__ADS_1
Relia Xen tak bertanya ketika ia melihat ke belakang. Serena berlari sambil berurai air mata. Setelah dibujuk berulang kali, akhirnya Serena mau keluar dari kamarnya dan ikut mengungsi.
"Nona pasti sangat kesulitan selama ini. Mendiang kakaknya pasti sangat dia rindukan," pikir Relia sembari tersenyum tipis.