
Keduanya tengah sibuk memanggang daging burung di halaman belakang. Malam yang dingin sedikit hangat dari kayu-kayu yang terbakar. Lucy mulai meletakkan daging yang sudah terbumbui itu di atas panggangan.
Sudah lewat jam 10 malam, tetapi mereka masih sibuk memasak makan malam. Sebenarnya, Lucy melakukannya untuk Arzen. Ia hanya ingin menghargai usaha pria itu setelah berburu.
"Ini masih panas, kau tunggu sebentar," perintahnya pada Arzen.
Pria itu duduk di kursi dengan meja di sampingnya. Ia melihat bagaimana daging panggang itu mengeluarkan aroma yang lezat. Warna yang mengkilat itu menggoda nafsu makannya.
"Apakah masih lama?" tanya Arzen yang sudah tidak sabar.
Lucy tak menoleh sebab sibuk membolak-balikkan daging. "Kalau sudah tidak terlalu panas, kau bisa memakannya," katanya.
"Tidak. Aku bertanya padamu, apa kau masih lama melakukan itu?" tanya Arzen sekali lagi.
Kali ini Lucy menoleh, "Kau ingin aku berhenti memanggang?" Arzen mengangguk sebagai jawaban.
"Ya, sebenarnya ini sudah akan selesai, aku bisa simpan sisa daging marinasinya untuk besok," ucap Lucy.
Arzen mengernyit, "Kau suka makan bangkai, ya? Manusia aneh," katanya.
"Ha? Apa kau tak tahu kalau daging yang sudah dibumbu seperti ini masih bisa disimpan?" tanya Lucy.
"Lagipula, manusia tidak makan bangkai. Aku akan menyimpannya di lemari pendingin agar lebih tahan lama."
Ia menghampiri Arzen setelah mengecilkan api untuk mereka menghangatkan diri. Pria itu menyuruhnya untuk duduk di depannya. Lucy hanya menurut dan duduk di sana.
"Ada apa?"
Arzen menyodorkan sepotong kecil daging burung. "Kau coba dulu," pintanya.
Lucy tersenyum nakal. "Oho, kau ternyata peduli pada manusia," sindirnya.
"Jangan terlalu percaya diri. Aku ingin kau merasakan apakah ada racun atau tidak," sahut Arzen yang kembali angkuh pada Lucy.
Gadis itu membola matanya, "Kau mengorbankan nyawaku hanya untuk ini!? Dasar!" gerutunya.
Meski begitu, ia tetap menerima sebagian itu dan memakannya. Matanya berbinar ketika ia tahu masakannya kali ini tidak buruk hasilnya. Bumbu benar meresap dan terasa empuk dikunyah.
"Hm, aku memang jenius," ucapnya riang memuji diri sendiri.
Lucy kembali ke dalam rumah. Ia mengambil seperangkat teko dan cangkir berisikan teh hangat. Ia menuangkannya untuk Arzen dan dirinya.
"Ini cocok untuk makan daging," katanya.
__ADS_1
"Ada aroma pahit, apa ini racun?" tanya Arzen curiga.
Lucy menghembuskan napasnya kesal. "Pantaskah kalimat itu dikeluarkan oleh orang yang ingin aku memeriksa racun dalam makanan?! Dasar serigala!"
Arzen menggunakan garpu perak yang ada di dekatnya untuk mendeteksi teh hangat. Tak ada perubahan warna di ujungnya. Hal itu menandakan tak ada racun di dalam sana.
"Kau tidak takut perak?" tanya Lucy saat melihat Arzen memegang garpu.
Arzen menggeleng, "Tidak ada mantra yang melekat di garpunya, jadi tidak apa-apa," ujarnya.
Lucy tersenyum licik, "Baguslah, aku akan merapalkan doa-doa di setiap peralatan perak."
Arzen mendelik, "Kau ingin mencelakai Loofyn?!"
Lucy tertawa membuat pria itu menatapnya bingung. "Astaga, kau ini serius sekali," ujarnya.
"Padahal kupikir, peralatan perak saja sudah cukup untuk membunuh manusia serigala," lanjutnya.
"Jadi, kau berniat melenyapkan Loofyn?" tanya Arzen penuh selidik.
Lucy menggeleng, "Aku sama sekali tidak ada niatan seperti itu. Karena, aku tak tahu kalau Loofyn anak serigala. Dia berwujud manusia saat terlantar di depan pintu rumahku," katanya.
Arzen menghentikan makannya ketika ia mendengar pernyataan dari Lucy. Matanya menatap kosong ke arah api yang masih menyala untuk memberi hangat. Ia terpikirkan pada dua sosok yang ia rindukan.
"Apa kau melihatnya?" tanya Arzen.
"Siapa yang membawa Loofyn ke rumahmu?"
Lucy menggedik, "Aku tidak melihat siapapun selain Loofyn yang berada di dalam keranjangnya."
Jawaban itu membuat Arzen terlihat putus asa. Lucy menyadari itu, ia juga menghentikkan makannya. Suasana mendadak canggung dan berat.
"Kenapa kau menelantarkan anakmu di sini?" tanya Lucy.
Entah dari mana ia mendapat keberanian untuk bertanya demikian. Padahal ia tahu itu adalah topik sensitif bagi Arzen. Pria itu diam termenung di kursinya.
"Aku tidak menelantarkannya. Aku sedang bertugas di istana saat itu," katanya.
"Apa kau tidak mengingat bagaimana keadaan Loofyn saat itu?" Lucy bertanya lagi.
Arzen menggeleng, "Aku menyuruh ibunya membawa ia pergi dari tempat kejadian," ujarnya.
"Kalau begitu, di mana ibunya sekarang? Aku kira kau kemari dengan istrimu untuk menjemput kembali anakmu," ucap Lucy.
__ADS_1
Saat itu, Lucy menyadari kebodohannya. Ia seharusnya tak membahas tentang masalah yang dialami oleh keluarga serigala itu. Ia sadar telah memasuki privasi orang lain.
Lalu sekarang, ia merutukinya dalam hati. Keduanya membiarkan daging menjadi dingin. Arzen terlarut dalam lamunan tentang kejadian hari itu, sementara Lucy menyesal dalam hati.
"A–anu, maafkan aku. Anggap aku tak pernah berbicara apapun sebelumnya."
Lucy akhirnya buka suara setelah beberapa lama mereka hening. Arzen terbuyarkan lamunannya dan mengangguk. Gadis itu membersihkan sisa makan malam yang tak seluruhnya tersentuh.
"Hei, manusia," panggil Arzen.
Lucy jengah, "Aku memang manusia, tetapi aku punya nama," ujarnya sedikit kesal.
Arzen tak mempedulikan hal itu. Ia menatap langit berbintang tengah malam. Langitnya tetap sama meski ia berada di dunia yang berbeda.
"Di sini itu di mana?" tanya Arzen.
Lucy kembali duduk di kursi sembari menghirup aroma teh. "Di sini ya di rumahku, di bumi," katanya ragu.
Tak ada sahutan dari Arzen membuat Lucy mengerti bukan itu yang dimaksud. "Ah, ini dunia manusia, aku tak tahu kalian menyebut dunia ini apa, tetapi aku yakin ini dunia manusia," ujarnya.
"Memangnya kau dari mana?" tanya Lucy.
"Dunia magis, ada manusia juga di sana," katanya.
Lucy membelalak, "He? Benarkah? Kukira isinya hanya bangsamu, elf, kurcaci, vampire, orc, dan sejenisnya."
Arzen menoleh, "Kau tahu mereka? Kau pernah ke dunia magis?"
Lucy menggeleng, "Sama sekali tidak dan jangan sampai. Aku hanya menebaknya karena aku pernah membaca buku dongeng tentang dunia magis," ucapnya.
"Dongeng? Kau bilang dongeng? Kau tidak lihat aku nyata ada di depanmu dan sempat menggunakan wujud asliku tadi!" Arzen berkata dengan cepat karena tidak terima dicap 'dongeng' oleh manusia.
"Kau ini kenapa mudah sekali emosi?"
Lucy menghela napas, "Aku tidak pernah memimpikan hal ini terjadi padaku. Aku tidak tahu kenapa Tuhan menakdirkan Loofyn berada di rumahku dan dirawat olehku."
"Aku tidak menyangka kalau dia manusia serigala. Ini terlalu tidak wajar sampai aku tak tahu harus bereaksi bagaimana untuk menanggapinya," jelasnya panjang lebar.
Ia menatap Arzen, "Apalagi kau yang tiba-tiba berubah wujud dari serigala menjadi pria setengah telanjang."
"Nalar manusia tak akan sampai. Karenanya, mereka menganggap ini adalah imajinasi," ujar Lucy.
Ia menyeruput tehnya yang masih hangat. Arzen menatapnya tak mengerti. Ia belum puas dengan apa yang dikatakan oleh Lucy.
__ADS_1
"Apa kau benar tidak melihat siapa yang membawa Loofyn kemari?" tanya Arzen sekali lagi.
Lucy menggeleng, "Sayangnya, tidak sama sekali."