Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Putri Lin dan Putri Xua


__ADS_3

"Seperti yang telah saya katakan sebelumnya. Saya Panglima Pilar Kstaria di bawah Yang Mulia—"


"Tidak perlu berpura-pura!" sentak Putri Xua memotong kalimat Micellia.


Gadis berbaju zirah itu sedikit terkesiap. Tiba-tiba Putri Xua menjinjing gaun cokelatnya dan berdiri. Matanya menatap kesal dan berjalan mendekat menginterogasi Micellia.


"Kau pikir aku bodoh?! Berkali-kali kunjungan ke sini, aku selalu melihatmu berada di samping Yang Mulia Pangeran!" bisiknya penuh penekanan.


Micellia mengernyit, ia merasa itu hal yang wajar bagi seorang pengawal berada di samping tuannya. Putri Xua menunjuk langsung wajahnya, "Dasar tidak tahu diri! Kau pikir kau sederajat dengan kami?!" sentaknya.


"Tak ada yang bisa mendekati Pangeran Venus kecuali seorang bangsawan," ujarnya.


"Xua, sudahlah. Dia tidak akan mengerti apa kata kita," ujar Putri Lin.


Ia turut melenggang dan menghadapi Micellia. "Kasta bawah tidak akan mengerti apa yang orang elit bicarakan, Xua," hinanya pada Micellia.


"Apa kau tak malu terus menjilat Pangeran Venus seperti itu selama bertahun-tahun, Micellia?" sindir Putri Lin dari balik kipas tangannya.


Ia menatap tajam Micellia, "Selama ini, tak pernah kulihat Pangeran Venus dekat dengan putri bangsawan lain. Kenapa, ya?" Ia berjalan memutari Micellia.


Putri Xua melipat tangan di depan dada. "Beri dia pelajaran, Lin," ujarnya.


"Aku penasaran, apa kau menggunakan sesuatu untuk memikatnya?" tanya Putri Lin.


Micellia tak mengerti apa yang mereka maksud. "Maaf, Tuan Putri Lin, saya sungguh tidak mengerti apa—"


"Aku belum berhenti bicara, Micellia. Aku tak tahu bagaimana kau berani menyelaku. Kau pikir kau siapa?" sergah Putri Lin.


Micellia tak ingin mendebat dua tamu kehormatan istana ini. Namun, mereka terus memojokkan dirinya yang tak mengerti harus berkata apa. Ia hanya bisa menunduk dan merenungi setiap ujaran.


Ia sebenarnya sudah tahu bahwa banyak putri bangsawan yang tak bisa mendekati Venus. Ia kira mereka takut pada Venus, tetapi ternyata karena ada dirinya di samping pria itu. Micellia mengerti sekarang.


"Jangan-jangan dia menggunakan sihir terlarang, Lin!" celetuk Xua.


Micellia merentangkan tangannya, "Saya tidak memakai apa-apa tentant sihir yang putri maksudkan. Tuan Putri bisa memastikannya sendiri," ujarnya.

__ADS_1


"Cih! Mana sudi kami menyentuhmu! Kau pembawa sial bagi Pangeran Venus!" decih Lin menanggapi Micellia.


Gadis pemimpin prajurit nomor satu di istana itu tercengang. Ia tak menduga ucapan itu terlontar untuk dirinya. Keduanya menatap nyalang pada Micellia yang terdiam.


"Karenamu, dia jadi sulit didekati! Mereka takut kau akan memenggal kepala setiap putri bangsawan yang datang untuk Venus!" sergah Lin pada Micellia.


"Apa kau sadar kau telah melakukan kesalahan besar?!" bentaknya.


Putri Lin mengangkat dagu Micellia dengan jari lentiknya. "Aku tak pernah melihat panglima perempuan sebelumnya. Jadi, aku ragu kalau kau tak ada niat lain untuk menggoda Pangeran Venus," ujarnya.


Krieet!


Kedua putri bangsawan itu langsung berdiri dengan anggun ketika Venus membuka pintu. Mereka kembali bersikap seperti datang tadi. Tersenyum manis pada Venus yang menatap mereka datar.


Micellia masih termenung membelakangi arah Venus datang. Sedangkan dua perempuan itu membungkuk hormat pada Venus. Pria itu jalan mendekat.


"Apa kalian menikmati jamuan kecilnya? Aku sudah memberi balasan untuk surat ayahmu. Dan itu akan dikirim melalui merpati pribadiku," bebernya.


Ia melirik ke arah Micellia yang sedari tadi diam. Putri Lin segera mengalihkan perhatian Venus padanya. "T–terima kasih, Yang Mulia. Ayahanda pasti senang mendapat kabar bahagia," ungkapnya.


Setelah berbincang sebentar, keduanya memutuskan untuk pamit. Sebelum itu, Venus mencegah mereka berdua. Ia memanggil pelayan untuk membawakan sesuatu.


"Ini adalah hadiah untuk kalian dan Yang Mulia Raja," ujarnya saat pelayan menyerahkan sekotak besar hadiah.


Mereka berbinar dan menatap satu sama lain. "Ah, berikan ini pada Yang Mulia Raja," pesannya.


"Ah, satu lagi sebelum pulang." Ia sengaja menggantungkan kalimatnya.


Venus berdiri di sebelah Micellia. Tangannya merangkul gadis itu membuat dua putri yang menyaksikannya tercengang. Mereka sampai melupakan etika seorang bangsawan dan menganga lebar.


Venus tersenyum miring, "Jangan pernah berani mengganggunya, dia milikku yang berharga," ucapnya.


"Sama berharganya dengan regaliaku."


Regalia adalah harta suci yang dimiliki oleh kaisar maupun pangeran. Hanya mereka yang terpilih untuk bisa memegang regalia langsung dari dewa-dewi. Saat ini, pria itu memegang lebih dari 10 regalia Dewi Bulan berupa tombak dan guci roh.

__ADS_1


Putri Lin dan Putri Xua kompak menutup mulut mereka dengan tangan. "Dia memeluknya!" batin mereka.


"Pilihan kalian hanya satu." Tatapannya berubah tajam. "Turuti perintahku atau jangan lagi menginjakkan kaki di wilayahku," bisiknya penuh penekanan.


Dua bangsawan itu mati gaya. Mereka hanya bisa mengangguk-angguk dan membungkuk sopan. Kaki mereka buru-buru lari menuju kereta kencana unfuk pergi pulang.


"Dasar wanita licik! Dia pasti merayu Pangeran Venus segala cara!" gerutu Lin di dalam kereta.


Ditimpali oleh Xua, "Benar! Apa istimewanya wanita itu sampai kita tak boleh menginjakkan kaki di sini?!" batinya.


Xua menggeleng, "Ugh, bahkan disamakan seperti regalia! Pangeran terlalu melebih-lebihkan cerita saja!"


Keduanya sangat menaruh benci dan dendam pada Micellia. Sudut bibir terangkat sebal. Hidung mendengus dan memikirkan berbagai cara menyingkirkan Micellia.


Sementara itu di istana, Micellia masih saja diam. Venus berdecak melihat kereta milik tuan putri itu menjauh. Ia sangat geram ketika ada yang menghina Micellia.


"Micellia? Apa kau mau jadi pilar sungguhan?" sindir Venus.


Gadis itu tak bergeming. Venus berada di depannya, mencari wajah cantik yang tertutup sebagian rambutnya. Rupanya gadis itu tengah memejamkan matanya menahan tangis.


"Maaf, seharusnya aku langsung menyergah mereka daripada mendengarkan," ucapnya.


Pria itu sudah agak lama sebelum akhirnya ia membuka pintu. Venus menyimak dari luar apa yang para gadis itu katakan pada Micellia. Ia sakit hati, tentu saja Micellia juga demikian.


"Maaf, Micellia... aku akan—"


"Pangeran... hari ini saya lelah, boleh saya libur latihan pedangnya?" potong Micellia.


"Micellia, percaya padaku kau tidak seperti yang mereka katakan! Apa kau lebih percaya pada omong kosong daripada diriku?!" tanya Venus.


Micellia menggeleng, "Bukan begitu, Pangeran. Saya sungguh tidak memikirkan apa-apa. Saya hanya lelah, saya butuh istirahat dari latihan. Terima kasih," sahut Micellia yang suaranya semakain parau.


Ia menahan tangis sedari tamu Venus pulang. Ia merenungkan semua yang mereka katakan. Ia sekarang takut pada Venus , ia takut membawa sial bagi tuannya.


Ia menangkata kedua tangan ke depan. Meminta agar pria itu tak mendekat, "Saya akan kembali ke kamar. Tuan bisa panggil punggawa yang lain," racaunya.

__ADS_1


Venus mencekal tangan Micellia. "Tatap aku kalau bicara, Miscent."


__ADS_2