
Perlahan-lahan, sang surya muncul dari tempatnya sembunyi. Sinarnya menerangi dunia seisinya. Termasuk mengusik orang-orang yang tidur di balik tirai.
Lucy menutupi wajahnya dengan tangan. Ia kembali terusik saat merasakan pergerakan di sampingnya. Seperti ada seseorang yang menggoyangkan tempat tidurnya.
Gadis itu mencoba menoleh meski masih terpejam. Matanya mulai terbuka dan samar-samar sesuatu berada di tepat di depan muka. Ia membelalak sempurna melihat seorang pria tertidur di sana.
"YAAA!" pekiknya sembari mengibaskan selimut dengan keras.
Suaranya yang memekak telinga membuat pria itu terbangun. Ia bangun dan duduk dengan keadaan setengah sadar. Tanpa rasa bersalah ia memandang heran Lucy.
"Kau berisik sekali pagi-pagi begini," ucapnya dengan suara khas orang yang baru bangun tidur.
Arzen menguap dan mengusap wajahnya. Ia menggosok matanya yang gatal layaknya anak kecil. Sedangkan Lucy sudah menepi dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Kau! Turun dari kasurku!" pekiknya.
Arzen mengernyit, "Apa maksudmu berani memerintahku seperti itu?!"
"Kau kenapa tidur di tempat tidurku, ha?!" teriak gadis itu.
"Apalagi? Memangnya kau punya kamar lain di rumah ini?" Arzen malah balik bertanya.
Ia menyadari sesuatu, mata gadis itu berkilau menahan air mata. Ia kalap dan hampir kalang kabut. Arzen masih tak mengerti apa alasan Lucy memarahinya dan malah ingin menangis.
"Hei, kau ini kenapa? Tadi kau berteriak seperti melihat hantu. Sekarang kau memarahiku kemudian—"
BUKK!
Lucy melemparkan bantal dengan keras padanya. Benda persegi berisi kapas itu mengenai tepat di dada bidang Arzen. Lucy menatapnya dengan takut dan geram pada tubuh yang tak dibalut baju.
"Pergi."
"Ha?" Arzen masih tak mengerti.
Lucy menutupi wajahnya dengan selimut. "Dasar serigala!"
Arzen memiringkan kepalanya ke kanan. Ia tak mengerti mengapa gadis itu marah padanya. Loofyn yang masih tidur itu, ia ambil dari keranjang bayi dan membawanya keluar.
__ADS_1
"Dasar manusia! Tidak jelas!" rutuknya saat melangkah dari sana.
Lucy mendengarnya. Ia lebih merutuki perbuatan pria itu yang seenaknya tidur di sampingnya. Itu berarti mereka menghabiskan malam dengan tidur satu tempat.
Wajahnya memerah karena malu, tetapi lelaki itu malah bertanya padanya. Arzen melakukannya seolah hal yang biasa saja baginya. Dengan raut wajah tanpa dosanya lelaki itu tak juga mengetahui di mana letak kesalahannya.
Ia mulai meraba-raba badannya. Memastikan tak ada luka atau tanda aneh lainnya. Ia bersyukur karena pikiran buruknya tidak terjadi.
"Haah, bajuku masih lengkap, syukurlah!" gumamnya.
Ia hampir saja menangis saat membuka mata. Jarak wajahnya nyaris tak ada 5 cm dari dada bidang Arzen. Tentu saja hal itu membuatnya terkejut dan panik.
"Apa aku melakukan sesuatu padanya saat tidur?" pikirnya.
Ia tak menyalahkan Arzen secara sepihak. Lucy mau mengintrospeksi diri sendiri, karena ia tak menjelaskan peraturan sebelum tidur. Ia merasa bersalah setelah membentak pria itu dan menyuruhnya pergi.
"Toh, biarkan saja dia pergi. Bukankah itu lebih baik? Aku tidak perlu mengurus Loofyn dan menikmati waktu cutiku yang tinggal 3 hari," gumamnya di balik selimut.
Ia mendekam di sana sembari menahan emosinya. Ia tak bermaksud marah-marah pada orang lain. Hanya saja perasaan mengganjal itu terus menusuk dadanya.
"H–hei, manusia."
"Apa?" sahut Lucy dengan ketus.
"Bagaimana cara mengurus ini?" tanya Arzen sembari mengangkat Loofyn.
Lucy menyingkap selimutnya dan menampakkan diri. Ia berbalik menatap ayah dan anak itu. Loofyn cemberut dan ingin kembali menangis sembari mengulurkan kedua tangannya.
"Mama! Mama!"
"Aku bukan mamamu," gumam Lucy hampir tak terdengar.
Ia kembali menoleh pada Loofyn yang masih memanggilnya. Rupanya popok anak itu penuh dan harus diganti. Arzen tak mengerti soal mengurus bayi, jadi ia menyerahkannya pada Lucy.
"Hah, gini saja kau tidak tahu," celetuknya sengaja agar Arzen mendengar.
Pria itu bersedekap, "Tidak ada benda seperti ini di duniaku. Bagaimana kalau itu berbahaya bagi bangsa kami? Maka dari itu, aku kira Loofyn menangis karena serangan benda itu," katanya.
__ADS_1
Lucy menghela napasnya saat mengganti popok Loofyn. "Ini namanya popok modern. Bisa menampung pipis dan kotoran bayi selama berjam-jam," ujarnya menjelaskan.
"Ha?! Tidak masuk akal, kenapa kotoran harus ditampung segitu lamanya?" tanya Arzen tak mengerti.
Ia tersenyum miring, "Dasar manusia, kotoran saja ditampung. Memang menjijikkan," ujarnya yang melirih di akhir.
Ucapan itu membuat Lucy geram. "Dasar serigala! Kau itu memang tidak tahu diri atau bagaimana, ha?!" Ia melempar popok ke dalam tong sampah khusus.
Arzen terkesiap melihat Lucy marah padanya. Gadis itu memakaikan popok yang baru pada Loofyn. Setelah itu, ia menyodorkan Loofyn pada Arzen yang kebingungan.
"Kalau kau menganggap manusia menjijikkan, kenapa masih berada di rumahku? Pulang saja ke duniamu dan jangan pernah kembali!"
Perempuan itu langsung pergi keluar dari rumahnya. Ia membanting pintu hampir melepaskan engselnya. Dentuman keras membuat Loofyn terkejut dan menangis kencang.
Arzen disadarkan oleh tangisan Loofyn yang digendongnya. Ia memang ingin membawa Loofyn pulang ke dunianya. Namun, ia lupa memberitahu Lucy bahwa Loofyn telah mengikat kontrak batin dengannya.
Ia tak bisa sembarangan membawa Loofyn atau bayi itu dalam bahaya. Makhluk magis yang sudah mengikat kontrak batin dengan manusia harus terus berada di dunia yang sama. Kalau Arzen memisahkan Loofyn dan Lucy sejauh itu, lingkaran sihir akan membahayakan Loofyn.
Makhluk magis diikat oleh ikatan sihir ketika menjalin kontrak dengan manusia. Ikatan sihir itu akan mencengkeram jantung makhluk magis jika melanggar kontrak. Hal itu juga berbahaya bagi manusia yang menjalin kontrak batin dengan makhluk magis.
"Sial, aku harus mencarinya! Dia tidak boleh berada jauh dari Loofyn atau anak ini bisa dalam bahaya!" gumamnya.
Arzen menenangkan Loofyn yang terus menangis. "Dasar... seharusnya ia tahu tentang hal ini. Apa kakak tidak menjelaskan padanya sebelum menitipkan Loofyn?!"
Ia menggendong Loofyn dan berlari keluar. Indra penciuman yang kuat dengan mudah mendeteksi aroma khas Lucy. Gadis itu berlari ke arah taman.
"Apa yang ia lakukan pagi-pagi begini di taman?" batin Arzen.
Pria itu berubah menjadi serigala dengan tabir pelindung untuk menutupi mata orang-orang. Loofyn ia gendong di punggung sembari berlari. Batita 1 tahun itu perlahan berhenti menangis ketika ia mencium aroma tubuh Lucy yang semakin kentara.
"Mama!" panggilnya.
Arzen mendengarnya. Loofyn sudah tahu aroma tubuh gadis itu. Taman perumahan semakin dekat karena ia berlari sangat cepat.
Lucy duduk di kursi yang sama saat ia pertama kali datang mengambil Loofyn. Gadis itu tertunduk dan menutupi wajahnya dengan tangan. Air mata yang kering itu berulang kali ia usap untuk dihapus.
"Hah, kenapa harus aku yang merawatnya? Kalau ayahnya sudah datang, kenapa tidak langsung pulang saja?!" gerutu Lucy.
__ADS_1
"Tidak bisa."