Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Rasa Khawatir dan Pelukan di Malam Hari


__ADS_3

"Aku tidak boleh stres," gumam Lucy sebelum ia keluar dari ruangannya.


Ia membeli minuman di mesin otomatis lantai 4 untuk membasahi kerongkongannya. Saat itulah Karen muncul dan menatap sinis. Ia melempar kemejanya yang kotor dan mengenai Lucy.


"Kau ingin bertanggung jawab, bukan? Bersihkan sampai bersih seperti semula," ketusnya.


Karen yang hendak pergi itu berhenti sejenak. "Lakukan dengan benar kalau kau masih ingin disayang oleh Pak Sean," bisiknya licik.


"... dasar penjilat..." gumamnya kemudian pergi dari hadapan Lucy.


Gadis itu terdiam dengan memegang kemeja dan minumannya. Ia tak habis pikir mengapa Karen begitu benci padanya. Sedangkan ia tak pernah sekalipun terlibat masalah dengan Karen sebelumnya.


Ia tak pernah berinteraksi dengan Karen kecuali kemarin saat presentasi. Ia tak tahu mengapa Karen melakukan hal ini padanya. Lucy hanya bisa menghela napas, ia tak suka memperpanjang masalah.


"Hah, sudahlah," batinnya.


Gadis itu kembali ke lantai 5 tempatnya bekerja. Ia mencuci kemeja itu dengan sabun seadanya. Beruntung kain kemeja Karen mudah dibersihkan meski harus ia bilas berulang kali.


Ia mengeringkannya dengan hair drayer di ruangan kerjanya. Lantainya menjadi sedikit basah karena tetesan air. Ia tak tahu apakah Karen akan menerimanya atau tidak saat ia kembalikan kemeja putih itu.


Ia menghembus kesal. Lucy tak suka melihat hasil kerjanya sendiri. Ia putuskan untuk menbawa kemeja itu pulang dan di-laundry sendiri.


"Aku akan membawanya besok," pikirnya.


Saat ini, yang harus ia lakukan adalah menyusun kembali laporan yang rusak karena tumpahan kopi. Ia memijat pelipisnya pening menatap tumpukan kertas seolah tak ada habisnya. Ia juga harus meminta tanda tangan Sean lagi setelah ini.


"Hah, Pak Sean juga marah padaku," gumamnya.


Ia merasa galau karena harus melakukan ulang pekerjaannya. Ia tak sempat memegang ponsel dan mengirim pesan. Notifikasi dari Arzen diabaikannya tanpa sengaja.


Lucy kembali berkutat setelah beberapa menit istirahat. Ia tak ada waktu untuk bersandar. Sekadar minum lalu kembali menatap monitor yang membuat matanya perih.


Baru saja satu laporan selesai, muncul surel baru. Ia membukanya dan menghela napas panjang. Tugasnya bertambah dan ia bingung harus lembur sampai jam berapa.


Gadis itu tak perlu bolak-balik ke lantai 4 untuk memindai dokumen. Ia bersyukur mesinnya sudah diperbaiki kemarin. Lucy bekerja sendirian di ruangannya.


Ia menahan gugupnya ketika harus menemui Sean untuk membubuhi tanda tangan. Pria itu duduk di kursinya dan menatap ke arah pintu. Lucy berdiri di sana dan sedikit gemetar untuk mendekat.

__ADS_1


"I–ini laporan yang sudah saya ganti, pak. Si–silakan diperiksa ulang," ucapnya kaku.


Sean hanya diam tak berkata. Ia membacanya dan memeriksa ulang. Lucy takut kalau ada yang salah dan ia harus menerima peringatan lagi. Beruntung, Sean mengangguk-angguk dan menandatangani semuanya.


"Terima kasih, pak, saya permisi."


Bahkan sampai Lucy keluar pun, lelaki itu enggan bicara. Mungkin ia sedikit kecewa karena kejadian Lucy dan Karen tadi. Ia terlalu berekspetasi bahwa Lucy tidak pernah melakukan kesalahan.


Gadis itu kembali ke ruangannya. Ia menutup pintu dan menghela napas. "Hah, satu tugas selesai. Yang ini tak perlu tanda tangan tetapi harus dibawa besok...?"


Lucy kembali lemas di kursinya. Ia butuh menghirup udara segar dan memejamkan mata. Bahkan perutnya yang lapar tak ia pedulikan sebelum tugas yang baru selesai.


"Apa harus sebanyak ini?" keluhnya.


Ia kembali menggerakkan jari-jarinya untuk mengetik. Mengulir matanya untuk mencari data dan meneliti kesalahan. Kepalanya bisa jadi keluar asap saking kerasnya ia bekerja.


CTAK!


"Huah, akhirnya!" helanya lega.


Mata lelah, kantung mata hitam, bibir kering, dan wajah kusam sudah bukan hal asing. Lucy merapikan penampilannya sebelum bersiap pulang. Ia melihat jam di mejanya, sudah pukul 10 malam ternyata.


"Ah, aku menghabiskan banyak waktu di sini rupanya," gumamnya.


Ia keluar dan menaiki lift untuk sampai lantai bawah. Semua karyawan sudah pulang, hanya ia dan satpam yang sedang bertugas. Bahkan satpam itu hampir mengunci seluruh ruangan kalau ia tak menunggi sebentar lagi.


"Wah, untung saya tidak mengunci nona Lucy," candanya yang dibalas senyum hangat oleh Lucy.


Gadis itu keluar dan menyambut dingin sepinya malam. Ia menoleh kanan kiri, orang berlalu lalang sudah jarang. Ditiupnya telapak tangan untuk mencari kehangatan.


"Ah, dingin sekali. Kalau begini seharusnya aku membawa jaket tadi," gerutunya.


Drap! Drap! Drap!


"Lucy!"


"Eh?" Lucy menghadap ke depan di mana seseorang tengah memanggil namanya.

__ADS_1


Seorang pria dengan mantel bulu itu datang dengan raut wajah khawatir. Napasnya terengah-engah karena baru saja berlari sangat kencang. Ia terpaksa melakukannya karena tak ada transportasi yang aktif di malam hari.


"Arzen...?" lirih gadis itu.


Pria itu menghela napas lega. Ia pikir terjadi sesuatu karena Lucy tak membalas pesannya. Bersyukur dalam hati gadis itu baik-baik saja sekarang.


"Yah, aku ke sini karena khawatir kau tidak membalas pesanku. T–tetapi jangan risau, Loofyn aku titipkan di rumah tetangga kita yang baik itu..." ujarnya.


Arzen melanjutkan, "Ah, kau pernah melihat orangnya, jadi jangan salah paham. Loofyn juga sudah bisa mengendalikan kekuatannya jadi aku percaya padanya makanya aku menitipkannya sebentar untuk menjemputmu," bebernya panjang lebar.


"Seharusnya, kau bilang kalau akan pulang telat dari biasanya. Loofyn bisa rewel kalau aku tak memberitahu kabar tentangmu," imbuhnya.


Ia menggaruk pipinya yang tidak gatal, "Yah, selama kau baik-baik saja, aku sudah cukup lega," ucapnya.


Ia merasa aneh karena tak ada tanggapan dari gadis itu. Lucy melamun sembari menatapnya lekat tak berkedip sedikit pun. Arzen membalas tatapannya dan melambaikan tangan di depan muka.


"Hei, Lucy. Ada a—"


Bruaag!


Gadis itu tiba-tiba menghambur memeluknya erat. Membenamkan wajahnya di dada bidang Arzen. Membuat pria itu sedikit kehilangan keseimbangan dan hampir terjerembab ke tanah.


"Huwaaa...!"


"Eeh?!"


Arzen dikejutkan dengan Lucy yang tiba-tiba menangis. Gadis itu membasahi kaosnya dengan air mata. Ia menangis tersedu-sedu sembari memeluk erat tubuhnya.


Arzen yang dilanda kebingungan itu hanya bisa terdiam. Ia menunggu sampai tangisan Lucy mereda dan mau bercerita. Saat ini, yang ia bisa lakukan adalah membalas pelukannya.


"Tenanglah, aku ada di sini," bisiknya.


Lucy terus menangis sampai sesak. Ia meredam suaranya di dekapan Arzen. Tak ada orang di sana yang bisa mengganggunya melepas emosi.


Arzen mengelus-elus rambut Lucy dengan lembut. Ia tersenyum tipis, entah mengapa ia merasa senang saat Lucy tiba-tiba memeluknya. Namun, juga tersayat ketika gadis itu menangis kencang seperti sekarang.


Senyum tipisnya terlukis di wajah. Ia menghirup aroma sampo yang wangi dari rambut Lucy. "Hah, kau ini merepotkan ya, manusia..."

__ADS_1


__ADS_2