Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Rumor Mereda dan Sikap Asing Lucy


__ADS_3

"Kenapa?"


"Eh?"


Lucy mengerjapkan matanya menatap lingkungan sekitar. Rupanya ia sudah sampai di depan rumahnya sendiri. Di belakang gerbang, Arzen tengah menatapnya bingung.


"Aku sudah sampai rumah terjyata," batinnya.


Arzen menatapnya, "Lucy, ada apa?"


Lucy menggeleng, "Tidak apa-apa," gumamnya.


"Terjadi sesuatu di tempatmu bekerja, ya?" tebak Arzen tepat sasaran.


Perempuan itu sedikit terkejut tetapi ia menghela napas. Ia menduga kalau pria itu memata-matainya lagi hari ini. Ia segera masuk tanpa menjawab pertanyaan Arzen terlebih dahulu.


"Kau mau aku menjadi saksi untuk apa?"


Lucy menoleh, "Kau membaca pikiranku?"


Arzen menggeleng, "Kau sendiri yang bilang," sahutnya.


"Lupakan saja," ucap Lucy sembari mengibaskan tangannya.


Arzen mengikuti Lucy masuk ke rumah. "Aku tahu sudah terjadi sesuatu di sana, bukan? Aku tak akan bertindak macam-macam," ujarnya malah dihadiahi tatapan tidak percaya Lucy.


Pria itu mengangkat kedua tangannya, "Baiklah, aku tak akan melakukan apa-apa dan tak akan bertanya," putusnya.


Lucy menghela napas. Ia merebah di sofa masih lengkap dengan blazer kerjanya. Arzen memangku tangan di sandaran sofa sembari mengamati Lucy.


"Mama!" Tiba-tiba Loofyn datang dari kamar langsung menghambur gadis itu.


"Loofyn jangan dekat-dekat Lucy dulu, Lucy lelah baru saja pulang," ujar Arzen memperingati anak kecil itu.


Loofyn cemberut mendengarnya. Ia yang sudah duduk di paha Lucy segera enyah dari sana. Menatap Lucy dengan berkaca-kaca.


"Hei, aku tidak memarahimu," ujar Arzen.


Lucy melepas blazernya, "Sebentar, ya. Lucy mandi dulu," katanya.


Loofyn mengangguk kecil. Gadis itu merentangkan tangannya, "Mau mandi bersama Lucy?"


!!!


Arzen membelalak mendengarnya. Wajahnya memerah sempat ia tutupi dengan lengan. Ia berpikir bagaimana Lucy bisa mengatakannya seringan itu.


"T–tunggu, kalian mau—"

__ADS_1


Arzen tak dapat melanjutkan kalimatnya. Loofyn yang berada dalam gendongan Lucy menoleh. Lucy juga menatap pria itu dengan bingung.


"Papa! Fyn mandi," kata Loofyn.


Arzen mengangguk, "Iya, setelah Lucy kau bisa mandi. Biar papa mandikan, ya?"


Loofyn menggeleng, "Mandi mama!" Ia bersikeras ingin bersama Lucy.


"Tidak boleh!" Arzen hampir meninggikan suaranya membuat Loofyn terkejut.


"Sudahlah, tidak apa-apa. Kenapa kau memarahinya?" Lucy berusaha menengahi.


"Loofyn itu laki-laki, Lucy. Kau mengajaknya mandi bersama?"


Lucy menyahut, "Dia masih anak kecil. Apa kau mau bilang dia serigala yang bisa menerkamku kapan saja?"


Arzen mengangguk, "Benar."


Lucy tak memusingkan argumen Arzen. Ia tetap membawa Loofyn mandi bersamanya. "Loofyn kan anak yang baik. Tidak sepertimu, wlek!" ejeknya sambil menjulurkan lidahnya.


Arzen menatap tak percaya pintu yang sudah tertutup itu. Ia mengusap rambutnya sedikit frustasi. Ia tak menyangka Lucy akan mengejeknya seperti anak kecil.


Ia membayangkan bagaimana Loofyn di dalam sana bersama gadis itu. Berada dalam bak mandi yang sama. Arzen menutupi mulutnya dengan telapak tangan.


"Ma–mandi bersama..." gumamnya.


Ia memilih untuk duduk di lantai dan bersandar di sofa. Wajah sampai telinganya memerah. Berulang kali ia menjambak rambut sendiri karena frustasi.


"Loofyn... anak itu benar-benar!"


...>>><<<...


Sudah tiga hari ini, Lucy diterpa isu miring oleh orang-orang kantor. Sepertinya sudah mereba dan suasana kembali kondusif. Mereka seolah lupa apa yang baru saja mereka gosipkan.


Lucy menghembuskan napasnya pelan. Ia lega masa-masa isu miring itu sudah berakhir. Namun, hari ini Sean sudah kembali ke kantor.


Ia ragu apakah bisa menghadapi atasannya setelah mendengar isu buruk. Ia takut citra CEO itu jatuh karena dirinya. Lucy berharap Sean tak mendengar apapun dari kabar itu.


"Tidak apa-apa! Isu itu tidak benar dan aku adalah profesional!" batinnya menyemangati diri sendiri.


Gadis itu mencoba memperbaiki diri dan citra baiknya di hadapan orang-orang. Ia berusaha untuk menjaga sikap profesionalnya sebagai sekretaris. Tanpa sadar, ia membuat seseorang kebingungan dengan sikapnya.


"Selamat pagi, nona Lucy." Sean menyapa Lucy yang baru saja keluar dari lift.


Lucy menampakkan senyum tipisnya. "Selamat pagi, pak." Ia melenggang begitu saja.


Kebetulan ia tak ada email untuk Sean, jadi ia tak perlu berlama-lama. Sean mengernyit, biasanya Lucy akan bertanya bagaimana kabarnya atau sekedar basa-basi. Ia juga merasa Lucy jadi sedikit lebih berbeda dari biasanya.

__ADS_1


Sean mencoba berpikir positif. Ia akan mencari kesempatan lain untuk berbicara dengan gadis itu. Mungkin Lucy sedang banyak tugas sampai tidak sempat menyapanya lebih lama.


Tadinya seperti itu, tetapi sampai rapat siang ini Sean masih merasa ada kecanggungan. "Padahal aku hanya pergi 3 hari," batinnya.


Lucy tak banyak senyum padanya seperti biasa. Lebih tepatnya, ia merasa sedang dijauhi oleh gadis itu. Padahal Lucy satu-satunya orang yang memiliki akses langsung padanya.


Hanya gadis itu sekretaris dan orang kepercayaannya di sini. Seperti tangan kanannya secara langsung. Kalau begini, ia jadi bingung harus mengobrol bagaimana agar tidak canggung.


"Kau pasti bertanya-tanya kenapa gadis itu menjauhimu," ujar Hera yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya.


Keduanya mengamati Lucy yang tengah berbicara dengan klien. Sean mengangguk, "Bagaimana kau tahu? Sebenarnya apa yang terjadi selama aku di luar negeri?"


Hera menghela napas, "Aku dapat dari teknisi dan keamanan yang mengawasi kantor selama kau tak ada." Ia mengeluarkan tablet dan menunjukkan sesuatu pada Sean.


"Ada isu yang mengatakan gadis itu adalah istri simpananmu," bisik Hera.


Uhukk!


Sean hampir tersedak salivanya sendiri. Ini lebih mengejutkan daripada sikap Lucy hari ini. Ia membelalak melihat laporan Hera padanya.


"Istri simpanan...?" ucap Sean terbata-bata.


Ia juga melihat foto yang beredar. "Apa mereka buram? Pria ini tak ada mirip-miripnya denganku," ujarnya pada Hera.


Direktur keuangan itu hanya menghela, "Hah, selagi punya mulut, orang bebas mengatakan apa saja," ujarnya.


"Ini mengerikan. Tetapi gadis ini benar Lucy," gumamnya.


"Satu-satunya cara untuk memastikan adalah bertanya langsung pada gadis itu," ujar Hera.


Keduanya kembali mengamati Lucy. Gadis itu sangat tertutup mengenai kehidupan pribadinya. Tak pernah mereka dengar cerita tentang keluarga atau sanak saudaranya.


"Aku memang tahu alamat Lucy di mana tetapi tak sampai mengunjunginya," ujar Sean.


Hera mengangguk, "Benar. Gadis itu sepertinya tak ingin banyak orang tahu tentang kehidupannya," katanya.


"Kalau memang sudah menikah seharusnya bicara pada bagian HR untuk diganti statusnya. Gajinya juga akan ditambah sekian persen karena sudah berkeluarga," ujar Sean.


"Pasti ada alasan mengapa ia melakukan itu," timpal Hera.


Wanita itu menyenggol lengan Sean. "Astaga, apa kau cemburu?"


Sean menatapnya tajam, "Sudah kubilang, Lucy kuanggap sebagai adik sendiri!" tampiknya.


Hera terkikik, "Yah, orang-orang melihat kalian berbeda. Kalau kau tak bicara padaku, aku pasti tetap menduga kalau kau menaruh hati pada gadis itu," katanya.


Ia tersenyum menanggapi kegundahan Sean. "Yah, untuk sekarang apa yang akan kau lakukan sebagai 'kakak' untuk Lucy?"

__ADS_1


__ADS_2