Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Percakapan Saat Sarapan


__ADS_3

"Kau tidak bekerja hari ini?" tanya Arzen yang melihat Lucy masih berada di rumah meski sudah pagi.


Gadis itu menggeleng, "Aku libur hari ini," jawabnya.


"Kenapa?"


"Kenapa bagaimana? Aku mendapat cuti tahun baru dan akan masuk tanggal 5 bulan depan," sahut Lucy menjelaskan.


Arzen hanya ber-oh ria mendengarnya. Ia menyimpulkan bahwa gadis itu tak akan ke mana-mana selama beberapa hari ini. Itu berarti ia bisa meninggalkan Loofyn di rumah.


"Kalau begitu, aku bisa pergi ke dunia magis sebentar," celetuknya.


Lucy reflek menoleh, "Sebentar katamu? Sehari di sana sama dengan tiga hari di sini. Kau pergi ke sana tidak bisa lebih dari dua hari," ujarnya.


Ucapan Lucy ada benarnya. Arzen kembali mempertimbangkan rencananya untuk pergi ke dunia magis. Bisa-bisa ia lupa waktu dan malah kembali beberapa bulan lagi.


"Kalau begitu, kau ikut saja untuk mengingatkanku tentang batas waktu," ujarnya.


Lucy menggelengkan kepalanya. "Tidak." Ia menolak.


"Aku manusia belum tentu bisa beradaptasi dengan hawa di dunia magis," sambungnya.


Lagi-lagi benar, Arzen kurang memperhatikan tentang hal itu. Keduanya hening saat Lucy pergi teras depan. Arzen yang merenung di sofa itu dikejutkan dengan Loofyn yang menangis.


Batita itu berusaha turun dari keranjangnya yang sudah tak muat. Melihat itu, Arzen berpikir untuk membawakannya keranjang yang lebih besar. Ia segera menggendong batita yang baru bangun itu dan keluar dari sana.


"Kau sudah besar jangan sering menangis," ucapnya pada Loofyn.


Pria itu membawanya ke luar di mana Lucy berada. Terdengar gemericik air dari Lucy yang tengah menyirami tanaman. Ia membawanya pada Lucy.


"Loofyn sudah bangun," katanya.


Lucy hanya menoleh dan kembali menyirami tanaman. Arzen dan Loofyn berdiri di ambang pintu. Keduanya saling pandang dan memperhatikan Lucy.


Mereka seolah menunggu gadis itu untuk menghampiri. Namun Lucy tengah fokus dan tak terlihat seperti ingin diganggu. Kalau begitu Loofyn bisa bosan dan mengamuk.


"Ada apa?" tanya Lucy tanpa menoleh.


Ia tahu lelaki itu ingin mengatakan sesuatu padanya. Arzen akan terus berdiri di sana kalau Lucy tak segera menyahut. Gadis itu akhirnya menoleh dan menghela napasnya.


"Mama!"


Seperti yang diduga, Loofyn mengangkat tangannya agar disambut oleh Lucy. Anak itu sangat lekat dengan Lucy daripada Arzen. Bahkan dengan Arzen pun ia akan mencari Lucy.


"Kau tidak masak?" tanya Arzen.

__ADS_1


"Ah, benar. Ayo kita sarapan dulu seadanya," sahut Lucy lalu masuk ke dalam rumah.


Ia menggendong Loofyn di punggungnya. Kemudian mengeluarkan bahan makanan dari rak penyimpanan. Ia mulai mengolah masakan yang cukup untuk porsi 3 orang.


"Apa kau selalu di rumah kalau libur?" tanya Arzen.


Lucy mengangguk, "Tentu saja. Aku tidur untuk mengganti jam tidurku yang kurang," katanya.


Arzen bangkit dari duduknya. Ia menghampiri gadis itu, "Loofyn, ikut denganku dulu. Lucy sedang memasak," pintanya pada batita di punggung itu.


Loofyn merajuk dan menarik tangannya. Ia menggeleng, "Mama! Ut mama!" (Ikut mama!) katanya.


"Tidak apa, Arzen. Kau bisa bantu aku merapikan rumah," ucap Lucy.


Pria itu mendengus mendengar penolakan Loofyn. "Dasar, memangnya selama ini dia diasuh siapa?!" gerundelnya yang mendapat senyum tipis dari Lucy.


Dua orang itu akhirnya bagi tugas di pagi hari. Lucy memasak sarapan sedangkan Arzen membersihkan rumah. Pria itu sama sekali tak membayangkan dirinya harus melakukan hal seperti ini di dunia manusia.


Gelar kaisar rasanya sudah lepas dari dirinya semenjak ia bertemu Lucy. Manusia itu selalu punya cara untuknya melakukan sesuatu. Di tengah bersih-bersih, Arzen melihat Lucy.


"Kenapa aku selalu menurutinya?" pikirnya.


Meski ia berpikir begitu, ia tetap melakukan apa yang diperintah Lucy. Ia merasa harus melakukannya saat itu juga. Arzen terkadang mendesis heran.


"Sudah selesai, menu pagi ini sedikit elit. Aku bahkan bisa makan sup di pagi hari," ujar Lucy setelah hampir 30 menit berkutat di dapur.


"Arzen, kau sudah selesai? Kau yang suapi Loofyn, ya?"


Arzen mengangguk lagi. Ia seperti robot yang diperintah, selalu menurut. Pria itu mengambil porsi kecil untuk Loofyn.


"Eh, tunggu... apa werewolf bisa makan bawang?" tanya Lucy ketika ia ingat memasukkan bawang putih dalam supnya.


Arzen menghela napas, "Kami bukan bangsa vampir," sahutnya.


Lucy hanya ber-oh ria. Ia pikir mereka sama-sama takut bawang dan matahari. Namun, Arzen terlihat baik-baik saja berlari di terik matahari.


"Kalian seperti tidak ada kelemahan," ujar Lucy kemudian menyuap sup dan roti.


Arzen menoleh ke lain arah. "Kelemahan, ya?" gumamnya.


Ucapan Lucy tidak benar. Ia sendiri memiliki kelemahan yang tak diketahui orang-orang. Tak ada yang bertanya dan tak akan ia ungkapkan juga.


"Yah, aku tak pernah melihatmu—" Lucy menggantungkan kalimatnya.


Ia teringat hari saat hujan deras itu. Arzen bersandar pada pundaknya dan terlihat putus asa. Saat itu ia yakin Arzen sedang lemah.

__ADS_1


"Melihat apa?" tanya Arzen.


Lucy menggeleng, "Tidak jadi." Ia tak ingin membongkarnya.


Ia tak ingin membuat Arzen mengingatnya. Itu sama saja mencoreng harga diri seorang pria bagi Arzen. Biarlah ia pendam saja, kecuali Arzen yang akan bercerita.


"Nanti malam ayo pergi ke supermarket," ajak Lucy.


Arzen menautkan alisnya, "Apa itu seperti toko kemarin?" tanyanya.


Lucy mengangguk, "Kali ini lebih besar dan luas. Lebih banyak barang juga dan lebih lengkap," katanya.


"Es krim juga lebih banyak," celetuk Lucy.


Nama makanan penutup itu membuat Arzen antusias. Ia bahkan tanpa sadar mengeluarkan telinga dan ekornya. Mereka berdiri menandakan semangat.


"Anjing peliharaan, kah?" pikir Lucy begitu melihat Arzen.


Ia melihat telinga dan ekor Arzen bergantian. Ia sering melihatnya tetapi sekali pun belum pernah menyentuh. Tangannya tiba-tiba gatal ingin mengetahui rasanya.


"Arzen," panggilnya.


"Apa?"


"Bagaimana rasanya telinga dan ekor?" tanya Lucy.


"Ha? Kau mau makan telinga dan ekorku?!" pekik Arzen.


Lucy menepuk jidatnya, "Astaga, apa yang kau pikirkan?! Maksudku, bagaimana rasanya kau punya telinga seperti itu dan juga ekor. Kau tahu manusia tak memilikinya," sahutnya.


Arzen menghela napas lega. Ia pikir Lucy akan memotong telinga dan ekornya untuk dimakan. Ia menggaruk pipinya yang tidak gatal, ia tak mengerti juga.


"Tidak ada yang menarik. Biasa saja," ujarnya ragu.


"Yah, aku bisa merasakan kalau ekorku bergerak. Aku juga bisa merasakan kalau telingaku menangkap sinyal bahaya dari musuh," sambungnya menjelaskan.


Lucy mengangguk-angguk. "Apa aku boleh menyentuhnya? Aku penasaran dengan bulu serigala," ujarnya.


Telinga Arzen berdiri, matanya sedikit melebar. "U–untuk apa?" tanyanya sedikit gelisah.


Lucy menggerakkan tangannya, "Entahlah, aku hanya ingin menyentuhnya. Aku tidak bawa racun kalau kau merasa terancam," ujarnya sembari memperlihatkan telapak tangannya yang bersih.


"Bukan itu, Lucy..." batin Arzen.


Ia memejamkan matanya dan sedikit menunduk di depan Lucy. Memajukan posisi duduknya agar tangan gadis itu bisa meraih kepalanya. Ia juga menyembunyikan perasaan aneh dalam benaknya.

__ADS_1


"H–hati-hati..."


__ADS_2