
Lucy mendapati Arzen yang tiba-tiba beda dari beberapa saat yang lalu. Ia mengamatinya setelah masuk ke ruangan sekretaris. Arzen sama sekali tak menolehkan kepalanya dan fokus pada Loofyn.
Biasanya pria itu akan mencercanya dengan pertanyaan atau sindiran. Kalau tidak begitu mungkin tatapan memicingnya. Namun kini mereka hening kecuali Loofyn yang mulai merengek.
"Jangan diberi banyak susu, dia bisa kembung," ucap Lucy.
Gadis itu mulai merapikan mejanya setelah ia rapat. Jas hitam yang ia kenakan ia sampirkan di gantungan. Tumpukan berkas sudah kembali ke tempatnya masing-masing.
Arzen masih tak menghiraukannya. Lucy mengerti kalau pria itu sibuk dengan Loofyn. Ia menyeduh teh dan menghidangkan camilan untuk mereka makan.
"Apa serigala tidak bisa makan cokelat?" tanya Lucy setelah suguhannya didiamkan oleh Arzen.
"Apa kau akan menikah?"
Uhuk!
Hampir saja Lucy menyemburkan teh yang diminumnya. Ia mengusap sudut bibir sembari melotot ke arah Arzen. Tiba-tiba saja lelaki itu melontarkan pertanyaan tentang menikah.
"A–apa maksudmu?! Kenapa tiba-tiba kau bertanya tentang itu?" tanya Lucy.
Arzen menghela napas menatap malas Lucy. "Orang tadi, dia suka padamu, kan?" katanya.
"Orang tadi... oh, CEO? Eh?! Bagaimana kau bisa tahu tentang itu? Kau membuntutiku sepanjang hari?"
Arzen mengangguk, "Memangnya kenapa? Aku hanya ingin tahu sistem kehidupan dunia manusia," ketusnya.
"Kau meninggalkan Loofyn sendirian di ruangan ini?!" Arzen mengangguk, "Aku memasukkannya ke dalam sini," katanya sembari menunjukkan benda yang ia maksud.
"Seperti box bayi, kan?" batin Lucy.
Arzen kembali menatap Lucy, "Jadi, aku akan menikah?" tanyanya sekali lagi.
Lucy menggeleng buru-buru. Ia menyilangkan tangan di dadanya pertanda ketidaksetujuannya. "Apa maksudmu? Tentu saja tidak," tegasnya.
"Kenapa? Pria itu menyukaimu, bukankah kalau saling suka berarti akan menikah?" tanya Arzen.
Lucy menghela napas, "Sepertinya enak hidup di dunia magis. Kalau suka tinggal menikah saja, segampang itu," ungkapnya.
"Itu berbeda di sini. Suka bukan berarti akan menikah."
Arzen kembali mengetahui sesuatu yang asing di dunia yang asing ini. Padahal ia sudah di sini selama seminggu. Terlalu banyak yang tak ia ketahui.
__ADS_1
"Kenapa?" desak Arzen.
Lucy kesulitan menjelaskannya dengan bahasa yang mudah dipahami. Ia tak ingin menyinggung keterbatasan kosakata yang dimiliki makhluk dunia lain. Sebenarnya, ia juga ragu penjelasannya akan tepat.
"Kenapa, ya...? Karena memang begitu adanya. Perasaan mudah berubah-ubah, kita harus memastikannya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menikah dan hidup bersama," ujarnya.
Arzen menduganya dengan benar. Perasaan makhluk bernama manusia itu mudah berubah-ubah. Ia bertambah yakin dengan kejadian Lucy selama satu hari ini.
Pagi tadi ia kesal karena si nenek tetangga. Kemudian ceria saat mulai bekerja dan cuek menghadapi orang yang menganggapnya saingan. Lalu tertawa bersama orang lain lagi.
"Kau sendiri, bagaimana?" tanya Arzen.
Lucy bingung, "Bagaimana apanya?"
"Menurutmu, pria itu bagaimana? Apa kau akan menikah dengannya?" Lucy menggeleng ragu karena ia tak paham ke mana arah pembicaraan ini.
"Kenapa dia memilih topik yang berat, sih?! Sepulang kerja aku ingin berleha-leha, bukan malah membahas masalah pelik," geram Lucy dalam hati.
"Tidak tahu karena aku belum pernah menikah. Aku sepertinya tidak ada waktu untuk memikirkan asmara. Kekasih saja tidak punya, untuk apa memikirkan menikah?" tukasnya kemudian berdiri guna mengisi kembali gelasnya yang sudah kosong.
"Sudahi pembicaraan ini. Terlalu berat untuk kupikirkan karena baru saja selesai rapat. Aku butuh istirahat," imbuhnya.
Ia menoleh sekilas, "Kau makanlah itu sedikit. Itu mahal karena hanya hadiah dari rekan kerjaku," perintahnya pada Arzen agar lelaki itu mau menghabiskan sepotong kue yang disuguhkan.
Ia memberikan pilihan style untuk Arzen. Awalnya, pria itu menolak karena menganggap baju-baju itu aneh. Pada akhirnya, ia menerima setelah ditekan tatapan horor Lucy.
"Apa kau mau manusia menyerang Loofyn kalau mereka tahu kau serigala?!" katanya.
Arzen menghela napas, "Baiklah. Aku pilih yang santai saja," katanya.
Setelah itu, Lucy mengajaknya pergi ke toko baju yang sesuai dengan dompetnya. Ia membeli beberapa potong baju ukuran Arzen. Kalau lelaki itu ingin berada di sini cukup lama, ia harus menyesuaikan diri dan berbaur dengan manusia.
"Kau bisa memakai jubah dan rompimu itu di dunia magis. Kau harus menurut peraturan di dunia ini," ucap Lucy.
Arzen sudah akan protes tetapi ia teringat pada sebuah pepatah. Di mana bumi berpijak di situ langit dijunjung. Itu artinya, ia harus mematuhi peraturan di dunia yang ia kunjungi.
"Yah, bentuknya tidak jauh berbeda dengan dunia magis," ucapnya saat ia berganti di toilet umum.
Lucy memintanya untuk berganti sebelum mereka keluar. Sementara itu, ia menggendong Loofyn. Batita itu mengenakan hoodie untuk berjaga-jaga kalau telinganya keluar.
"Sudah."
__ADS_1
"Baguslah, kita pergi—"
Lucy menggantungkan kalimatnya ketika ia berbalik menghadap Arzen. Lelaki itu tampak cocok dengan pakaian manusia. Ia memilihkan ukuran yang tepat untuk besar dan tinggi Arzen saat dalam wujud manusia.
Tatapannya terpaku pada Arzen. Binar di matanya tak bisa berbohong. Ia berdecak kagum melihat penampilan pria di hadapannya.
"Kenapa melamun?" tegur Arzen membuat Lucy gelagapan dan tersadar kembali.
"Tidak apa-apa, syukurlah kau cocok menggunakan itu," pujinya membuat Arzen semakin besar kepala.
Ia tersenyum miring dan terlihat bangga. Membuat Lucy menghela napas memaklumi hak yang biasa terjadi itu. Keduanya berjalan menyusuri toko-toko di tepi jalan.
Banyak pasang mata melihat mereka dengan kagum. Pesona seorang Arzen memang tidak biasa. Ia tampan dengan rambut mulletnya dan kulit yang sedikit eksotik.
"Berani sekali mereka menatapku begitu?! Kau sengaja menyuruhku memakai pakaian ini untuk ini?!" omel Arzen.
Lucy memutar matanya malas, "Kau ini! Jangan anggap sama dengan duniamu! Jangan hiraukan tatapan mereka, itu saja kau emosi!" balasnya.
Arzen mengusap gusar tengkuknya. Tentu saja itu semakin mengundang jeritan para gadis yang lewat. Lucy tak pernah mengalami dirinya berjalan dengan serbuan pasang mata ke mereka.
"Mama! Papa! Buuu~"
Loofyn mulai berceloteh dengan bahasanya. Tangannya melambai seperti ingin menunjukkan sesuatu. Lucy menanggapinya dengan mencium pipi Loofyn gemas.
"Yah, sudah punya anak..."
"Kukira masih single, duh..."
"Eh, ternyata dia jalan dengan istrinya... astaga beruntung sekali suaminya setampan itu..."
Lucy merasa tertekan dengan bisik-bisik mereka. Arzen juga tak menanggapinya. Lelaki itu sepertinya benar-benar risih.
"Lagipula, kita bukan sepasang suami istri!" batin Lucy.
"Ba–bagaimana kalau kita pergi ke restaurant ramah anak saja?" tanya Lucy menawari.
Arzen hanya mengangguk, "Kau bertanya padaku pun aku tidak paham. Terserah asalkan Loofyn aman. Sial, aku sudah tidak tahan dengan para manusia di sini!" gerutunya.
"Minta waktunya sebentar, boleh? Kami ingin memotret Anda untuk keperluan karya seni." Seseorang tiba-tiba menghampiri keduanya.
"Kami dari klub seni Luxeas Art. Sebenarnya, kami ingin melukis Anda untuk lukisan potret. Tetapi kami tahu Anda tidak punya banyak waktu untuk itu. Bagaimana kalau kami memotret Anda dengan digital?"
__ADS_1
Lucy sudah ingin menolak tetapi mereka kembali menawari. "Lukisannya akan kami kirim ke alamat rumah Anda dengan gratis," ujarnya.
"Mau apa mereka? Apa perlu dibasmi?" bisik Arzen yang langsung mendapat sorot mata tajam dari Lucy.