
Badannya membesar sembari ia mengerang mengumpulkan kekuatannya. Iblis Merah yang ada di belakangnya tersenyum lebar mengerikan. Tubuhnya ikut membesar dan semakin berapi-api.
Lucy dan pasukan kekaisaran menopang tubuh mereka masing-masing karena dahsyatnya angin yang ditimbulkan. Kalau saja tidak berpijak dengn benar, mereka semua sudah terhempas jauh. Lucy bertumpu dengan tombak pohon kehidupannya.
"Datanglah...." erang Galven.
Mereka yang menyaksikan membelalak pasrah. Rakyat hanya menunggu kematian dan kemusnahan setelahnya. Bahkan kekaisaran sudah menundukkan kepalanya.
Lucy mengernyitkan dahinya geram. Ia mencari celah agar bisa menyerang kekuatan besar dalam sekali tembak. Angin dan badai pasir sudah mengelilingi Galven.
"Lihat! Dia menyatu dnegan iblis itu!" seru seseorang dari pasukan kekaisaran.
Semua orang langsung menatap ngeri. "Tamatlah sudah," kata mereka dalam hati. Werewolf itu menyatu dengan Iblis Merah setelah membuat perjanjian.
"Hell Calamity Blaze!"
Lucy menatap Galven dari balik jubahnya, "Apa dia sudah gila? Berani memakai sihir tingkat akhir seperti itu lalu bersatu dengan Iblis Merah?" pikirnya.
Ia mundur sementara dan menghampiri pasukan kekaisaran. Ia bertemu dengan Venus dan Micellia. Kata mereka Arzen terus meraung mengkhawatirkan Lucy.
"Jaga dia, percayakan padaku," ucap Lucy.
Venus mengangguk, "Kau hutang cerita pada kami nanti," ujarnya.
Venus berbalik dan memejamkan matanya. "Luminous Stellar!"
Tiba-tiba bintang besar terlukis di atas para pasukan yang terluka. Venus masih berkonsentrasi dan pentagon sihir itu mengeluarkan cahayanya. Luka-luka mereka perlahan bersih dan sembuh.
Venus tersenyum, "Sekarang sudah lebih baik. Akh..." Ia limbung dan ditangkap oleh Micellia.
"Aku percayakan pasukan padamu. Maafkan aku menjadi lemah seperti ini," bisiknya.
Micellia menggeleng, "Tidak, Pangeran. Pasukan kembali sembuh berkat Anda memberi mantra penyembuh pada mereka," balasnya.
Luminous Stellar adalah mantra penyembuh milik Venus. Pentagon sihir akan muncul di langit dan menaungi setidaknya 1000 orang di bawahnya lalu menyembuhkan mereka semua. Karena itulah mana Venus terkuras dalam jumlah banyak.
Micellia kembali pada pasukan yang telah sembuh dari luka-luka mereka. Perempuan itu kembali mengomando mereka dengan lantang. Pasukan undead tidak tinggal diam dan terus mendorong perisai prajurit depan agar bisa masuk melukai yang lain.
__ADS_1
Arzen yang melihat Lucy berada di depan pasukan itu kembali melebarkan matanya. Ia masih dalam penyembuhan karena kehilangan banyak mana sihir dan darahnya. Ia bangkit karena ingin menghampiri gadis itu.
"Tidak! Tidak! Jangan pergi, Lucy!" teriaknya.
Ia langsung disergap oleh prajurit yang diperintahkan Lucy untuk menjaga Arzen. Pria itu terus memberontak putus asa. Lucy tak menyahut panggilannya dan berbalik menghadapi badai api di depan.
"Tidak, jangan merenggut semuanya dariku lagi..." lirihnya saat ia jatuh bersimpuh.
"Yang Mulia Kaisar!" Mereka berbondong-bondong menolong lelaki itu.
Pasukan kekaisaran memberi jalan Lucy yang menerobos pasukan mayat hidup itu. Gadis itu menutup hidungnya agar tak menghirup miasma. Ia berusaha menembus pusaran angin yang semakin menjadi itu.
"Helio Dust!" Lucy menembakkan lagi serangannya tetapi tak mempan.
Gadis itu semakin masuk ke dalam pusaran. Jubahnya yang semula putih menjadi merah karena terciprat darah yang tergores dari Galven sendiri. Bersatu dengan Iblis Merah sama saja dengan mengutuk diri sendiri.
"Makhluk macam apa ini...?"
Semuanya menjadi jelas ketika pusaran angin itu berhenti. Seluruh wujud mengerikannya terkuak dan terlihat jelas. Sangat besar dan merah seperti api yang berkobar.
Di mata Galven, Lucy hanyalah kroco yang numpang lewat. Karena itu ia tersenyum lebar dan tak akan segan mengeluarkan kekuatannya. Ia merasakan dentuman di jantungnya akibat banyak mana sihir yang mengalir.
Ditatapnya Lucy yang ada di bawah sana. "Wah, apa kekaisaran waras sampai menumbalkan seorang gadis cantik seperti ini?" Kuku tajamnya menunjuk langsung tepat di depan wajah gadis itu.
Lucy hanya menatapnya datar. Namun di belakang sana, Arzen meronta-ronta meminta untuk dibiarkan menghampiri Lucy. Galven semakin bersemangat melihat musuhnya menjerit seperti itu.
"Wah, lihat banyak sekali mana sihirmu. Kau sama seperti manusia legendaris atau apalah itu. Aku tak peduli! Selama kau berguna untukku, aku akan menyerap seluruh manamu!" ujarnya mengundang tatapan najis Lucy.
"Helio Excute."
SRAATTS!
Padahal hanya sekali tebas, tetapi ujung jari Galven yang besar itu berhasil tergores oleh sihir Lucy. Meski kecil, cukup menyakitkan bagi Iblis Merah untuk menghalau sihir suci. Apalagi ia mengenali siapa Lucy dan siapa darah yang mengalir di dalam nadinya.
"Apakah dia Lumine? Kenapa mirip sekali dengan gadis sialan itu? Bukankah dia sudah mati ribuan tahun lalu?!" batin si Iblis Merah ketika melihat Lucy.
Langsung disergahnya Lucy dengan telapak tangan Galven yang besar. Serangannya meleset karena kalah gesit dengan Lucy. Gadis itu melompat mundur dan berlari menjauh.
__ADS_1
Ia sudah merencanakan sesuatu. Akan sangat berbahaya kalau ia lakukan di depan banyak orang. Mereka semua mengikuti ke mana Lucy akan memancing monster itu.
"Helio Javeline!"
BATS!!
"Sial, dia bisa menangkis tombak matahari?! Bukankah Iblis Merah takut matahari?" pikir Lucy.
"Dasar kroco!" seru Galven yang tangannya melepuh setelah menerima serangan Lucy. Dengan murka ia menghempaskan Lucy dengan keras. Gadis itu tak sempat menghindar dan akhirnya terjatuh di atas bukit yang lumayan jauh dari medan perang.
"Lucy!" berang Arzen.
Kali ini ia bisa melepaskan kekangan para prajuritnya dan berlari menuju bukit itu. Tentu saja mereka panik dan segera mengejar Arzen. Pria itu tak menyerah begitu saja dan tetap berlari dengan kakiya yang terluka.
Lucy yang selesai mendesis kesakitan itu terkejut. Galven yang sudah menyatu dengan iblis berubah arah dan ingin menyerang Arzen. Ia tahu lelaki itu tak akan bisa menghindar dengan baik dengan luka sekujur badan.
"Tidak! Heliosa Wind!" Dengan terpaksa ia menghembuskan angin dari tongkatnya untuk mendorong Arzen pergi dari sana.
Lelaki itu jatuh dan menimpa beberapa punggawa di belakangnya. Ia kembali jauh dengan Lucy. Lelaki itu menggertakkan giginya geram.
"Tidak, aku harus menyelamatkan Lucy!" tekadnya.
Venus yang baru saja terbangun dari pemulihan itu langsung bergegas menuju Arzen di sebuah bukit. "Hentikan, kak! Jangan gegabah dan percayakan pada gadis itu!" pekiknya memarahi Arzen.
"Apa kau gila, Venus?! Kau menyuruhku membiarkannya terluka melawan makhluk biadab itu?!" balasnya pada Venus. Mereka saling beradu mulut hingga Venus terpaksa memukul tengkuk Arzen untuk membuatnya lumpuh sementara.
"Apa yang kau lakukan pada kakakmu, hah?" tanya Arzen dengan terbata-bata.
"Heliosa Scars! Helio Dust! Helio Scratch!" Bertubi-tubi Lucy memberikan serangan agar Galven beralih perhatian padanya.
Dengan begitu, monster itu tak akan melukai Arzen. Galven kembali murka dan menyergah Lucy. "Flame Shoot!" Ia menembakkan api ke arah Lucy.
Dengan sigap ia menyibakkan jubahnya untuk menangkis serangan. Keduanya bertatapan sengit. Tiba-tiba Iblis Merah mengambil alih tubuh Galven untuk berbicara dengan Lucy.
"Dasar tak berguna! Kau menghabiskan manaku hanya untuk serangan kecil seperti itu, Galven!" Terdengar suara Iblis Merah dari dalam.
ZWWOOHSS~
__ADS_1
"Apa kau Lumine?"