
Angin sejuk membuat rambut Miki berterbangan dengan mata yang melebar masih tidak percaya bahwa Hiro memiliki seorang dokter psikiater atau psikolog.
Memang Hiro sakit apa sampai harus menggunakan dokter seperti itu?
" Dari tampangmu sepertinya kau tidak tahu ya. " Yoko melipat kedua tangannya di atas dada " Aku dari New York untuk melihat keadaan Hiro, dan benar dia memang sudah mulai membaik. "
" Hiro, kenapa? " khawatir Miki.
" Kau ingin tahu? Nanti saya akan memberi pesan tempat bertemu, itu terserah apa kau ingin tahu atau tidak. Tapi yang terpenting, jangan memberitahu Hiro. " kata Yoko seraya menghentikan taxi dan memasukinya.
Tak lama kemudian, Hiro datang dengan mata panda yang sangat terlihat. Miki mengigit bawah bibirnya, cemas dengan keadaan Hiro.
Sebenarnya Hiro kenapa? Apakah dia memiliki penyakit gangguan mental sampai harus menemui dokter?
Tangan Miki terkepal, ia memberikan senyum kepada Hiro dan menyapa " Pagi Hiro. "
Sebuah sapaan yang membuat senyum Hiro kembali terlihat, hanya sedikit sapaan dari Miki itu sudah membuat dirinya bahagia.
" Pagi Miki. " balasnya berjalan berdampingan dengan Miki memasuki gedung sekolah.
Keduanya mulai berbincang kembali tanpa merasa canggung sedikitpun, bukan Miki tidak canggung ia hanya berusaha untuk lebih memperhatikan Hiro.
Mungkin ada suatu rahasia yang sampai detik ini belum Miki ketahui.
__ADS_1
Rahasia yang menyakiti Hiro.
...
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, dan pekerjaan Miki sudah selesai. Ia juga tidak perlu melatih club basket karena hari ini adalah hari untuk beristirahat.
Tangannya terus memegang ponsel, Miki menunggu kabar dari Yoko.
Teng-
Sebuah pesan dari nomer yang tidak dikenal, Miki segera membacanya " Ini saya Yoko, bertemu dengan saya di Cafe Here jam 5. "
Pesan singkat yang diberikan oleh Yoko membuat Miki langsung bersiap-siap, ia mengambil baju dari lokernya tetapi yang terlihat adalah baju olahraga.
Miki tidak mempunyai baju yang bagus, sedangkan Yoko terlihat sangat elegan.
Tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada Rei, ia membuka loker baju Rei dan terlihat pakaian yang cukup bagus untuk dipakai.
Dengan tergesa-gesa, Miki berlari menuju kamar mandi untuk mengganti baju dan menggunakan riasan agar tampak lebih cantik.
Ia juga memakai high heels yang ukurannya tidak sesuai dengan kakinya sehingga Miki harus memaksakan kakinya untuk masuk ke dalam high heels milik Rei.
" Aw. " Miki meringis kesakitan, tetapi pada akhirnya kakinya masuk ke dalam high heels itu.
__ADS_1
" Hei, kamu tahu pelajaran. "
Terdengar seorang siswi yang memasuki kamar mandi membuat Miki langsung berlari ke dalam toilet mengumpat sebentar agar tidak ketahuan.
Jika ada siswa atau siswi yang mengetahui bahwa guru olahraga tampak seperti wanita pada umumnya, mereka akan menertawakan Miki dan itu sangat memalukan.
Dan 30 menit kemudian, para siswi-siswi itu sudah keluar dari kamar mandi.
Tring-tring-tring
Telepon memasuki ponsel Miki, ia segera menjawab " Halo? "
" Dimana? " tanya Yoko yang sudah sampai ditempat tujuan.
" Sedang berada di jalan, sebentar. " jawab Miki
" Baiklah, saya sudah menunggu. " Yoko menutup panggilan dan Miki berjalan dengan perlahan karena tidak terbiasa menggunakan high heels.
Untung saja sekolah sudah sepi sehingga ia tidak perlu mengumpat agar tidak ketahuan oleh siswa-siswi atau guru lainnya karena berpakaian sangat rapih.
Namun, sebuah takdir memang sudah mengharuskannya bertemu dengan lelaki yang saat ini sama sekali tidak ingin ia temui.
__ADS_1
Dia Hiro.
" Mau kemana? "